
Langit sore menemani Zanira masuk ke sebuah toko buku yang ada di pusat kota. Dia tidak mengajak Afra karena adik iparnya itu sedang tidak enak badan, dan mau tak mau Zanira berangkat sendiri menaiki bus kota pergi ke toko buku.
Di dalam toko buku Zanira sedang berdiri di depan rak-rak yang berjejer memajangkan banyak buku. Dia seperti orang kebingungan terlihat dari tingkahnya yang nampak berpikir dengan jari yang menepuk pelan bibirnya.
"Aku mau beli buku bergenre action romantis, tapi sebelah mana ya?" Gumamnya pada diri sendiri. Sejenak Zanira menggaruk tengkuk, tak lama dia mengelung kecil rambut panjangnya yang di biarkan terurai begitu indah.
Padahal ada penjaga toko dan dia bisa bertanya di sana, tapi dari sananya memang Zanira tidak berpikir demikian.
"Minggir!"
Zanira berjengkit kaget dan menggeser tubuhnya ke samping karena refleks. Pandanganya bertemu dengan manik hitam yang dia kenal siapa pemiliknya.
"Kiki!" Ups! Saking senangnya Zanira sampai memekik, lupa jika dia sedang berada di toko buku.
Alki mengernyit kala nama panggilan yang Afra berikan padanya di kenakan oleh gadis yang tidak di kenalnya. Siapa?
"Anda siapa? Apa kita saling kenal?" Tanya Alki dengan nada biacara penasaran. Seingatnya, mereka belum pernah berjumpa.
Tak cukup sampai di situ, wajah bahagia Zanira tak bisa lagi di sembunyikan. Tangannya menjabat spontan tangan Alki, "Kenalkan saya penggemar beratmu, Zani." Ucapnya di selingi senyum manis.
Dengan cepat Alki melepaskan jabatan tangan itu.
"Oh, maaf aku lagi buru-buru, lain kali saja kenalannya. Permisi." Dan segera berlalu begitu saja meninggalkan wajah melongo Zanira yang mendapat perlakuan dingin seperti itu.
Alki sekarang sibuk memilih buku-buku di rak ujung.
"Huh, dasar! Aku kan mau CCP, kok malah pergi sih!" Kesalnya menyentak kakinya ke lantai. Setelah itu otak berliannya pun berputar memikirkan cara untuk memulai awal yang bagus untuk masa depannya.
Yah, Alki sudah di cap calon suaminya Zanira. Only Zanira.
"AYO ZANIRA, PEPET TEROOSSS!" Pekiknya nyaring mengepalkan tangan ke udara.
"Ekhm, Mbak? Eemm, maaf ini toko buku bukan pasar." Ujar penjaga toko buku sebegai tanda peringatan dini untuk Zanira.
"Yee, aku juga tau kali. Mataku belum rabun!" Sinis Zanira lantas pergi menuju ke arah Alki.
__ADS_1
Zanira berjalan pelan tapi pasti, dengan mata melirik laki-laki incarannya sesekali, kemudian kembali menatap jejeran buku di depannya saat dirinya balik di lirik oleh Alki.
"Aduh Zanira, Zanira ... jangan malu-maluin dong. Buat kesan cantik, anggun, dan menawan di depan Calon, ihh."
Zanira mengambil acak satu buku, membuka halaman tengah dan membenamkan wajah di sana. Antara malu dan gugup melakukan tindakan pendekatan seperti ini. Bukan karena apa, nanti kalau mengulur waktu lebih lama jodohnya bisa di rebut orang! Zanira tidak akan rela.
Selangkah deni selankah Zanira mendekat.
"Em, Kak ... boleh minta nomor HP nya nggak? Ehe, siapa tau kan kita bisa saling kenal gitu terus lanjut ke hubungan serius dan nikah ... "
"Sebenarnya kamu itu siapa? Kita tidak pernah bertemu sebelumnya, jangan sok-sok dekat!"
Zanira terperanjat mendengar penolakan langsung itu. Dia menggigit bibir sebelum melepasnya lagi dan ingin angkat bicara tapi sebelum itu Alki kembali berbicara.
"Aku lagi sibuk, jangan menganggu!"
Sedih hati Zanira, niatnya ingin lebih dekat tapi malah di usir menjauh. Apa dia tidak punya kesempatan mengenal lebih jauh laki-laki itu? Rupanya ini tidak semudah menggoreng tempe.
Menghela napas berat, Zanira mulai menjauhi Alki. Dia ingat tujuannya ke toko buku untuk apa, mencari Novel. Dia pergi dengan langkah gontai.
Kini Zanira fokus pada satu buku yang terletak di rak atas bagian kedua, Zanira pun meloncat-lontak untuk bisa mengambil buku tersebut. Namun, jaraknya cukup jauh mengharuskan dia memanjat lewat undukan rak bawah. Dan jadinya, sepatu yang di kenakannya tergelincir karena rak tersebut licin.
"Akkkh! Tolongggg!" Jeritnya saat pegangan tangan pada rak terlepas, tubuhnya sebentar lagi akan menghantam lantai keras.
Blas!
Zanira berkedip lucu kala matanya bersistatap dengan laki-laki incarannya. Tak lupa senyum yang dia lebarkan hingga menampakkan gigi kelincinya.
Alki menyelamatkan Zanira. Di tatapnya gadis itu dengan wajah datar.
"Ah, pahlawanku, penyelamatku!" Ucap Zanira membangga-banggakan Alki.
Puk!
"Adudu mamaaaa! Sakit!" Namun, yang terjadi Alki malah melepas paksa pelukannya. Akibatnya Zanira benar-benar jatuh ke lantai.
__ADS_1
"Kalau gak sampai di sana ada tangga, Ceroboh! Dan tadi itu hanya ketidaksegajaan, jangan baper!" Alki pun pergi setelah mengatakan kaliamat itu. Hati Zanira tercebik mendengarnya. Baru saja dia bahagia di tolong pahlawannya, namun kata-kata seolah itu merontokkan semua.
"Aih, susah bener cari calon suami!" Zanira bangkit berdiri dan melakukan saran Alki tadi. Mengambil tangga dan memanjat untuk mendapatkan buku Novel yang cocok untuknya.
Berhasil!
Matanya melirik ke sana kemari mencari keberadaan Alki namun tak kunjung terlihat di matanya. Mungkin saja sudah pulang.
"Haruskah aku menyerah?" Tanyanya pada diri sendiri.
"Ah, sebal! Dulu saat aku belum mau nikah banyak yang mau, sekarang aku sudah mau, tapi malah gak ada yang mau. Huaa, padahal aku juga sudah pengen nikah!" Nasib Zanira.
"Padahal aku suka sama Kiki, tapi di tolak terooss! Inginku teriak! inginku menangis! Tapi air mata sudah habis!"
Celotehan Zanira tak kunjung habis. Dia frustasi dengan takdir cinta yang tak lagi memihak padanya.
Perjuangan cintanya bukan seperti Afra dan Ziran, yang mana mereka bisa langsung menyukai satu sama lain. Kenyataannya cinta Zanira bertepuk sebelah tangan, miris.
"Eh, mbak, ngapain melamum?" Penjaga toko yang memperingati Zanira tadi memukul pelan bahunya.
"Yeee, mau-mau aku, dong! Tolong ini di bungkus bukunya." Zanira langsung memberikan buku dalam genggamamnya.
"iya, mbak tunggu sebentar!" penjaga itu segera pergi untuk membungkus buku dengan perasaan sabar, mengingat Zanira itu pembeli yang tidak tau diri.
Zanira telah keluar dari toko buku, meneliti sekitar berharap ada kendaraan umum yang lewat. Saat menoleh ke kanan matanya membulat melihat sang pujaan hati masih duduk di atas motor sport mengenakan helm.
Zanira berjalan mendekat, mencoba sekali lagi tak apa kan? Pikir Zanira.
Dia bukan gadis yang mudah menyerah.
"Siapa tau dia jadi pangeran baik hati yang menawarkanku pulang bereng." Gumam Zanira sangat berharap.
Namun selangkah lagi dia sampai, Alki telah melajukan motornya melaju kencang di jalan raya. Dan Zanira hanya mampu memaki dalam hati atas kekejaman Alki yang benar-benar tidak memberinya kesempatan.
Zanira ingin menangis saja.
__ADS_1
-To Be Continue-