Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 11 : JATUH HATI


__ADS_3

Afra menunggu gelisah dalam kamarnya. Mordar-mandir dengan jantung berdebar keras. Menggigit ibu jarinya mencoba menghilangkan kegugupan. Sesaat dia berhenti melangkah, duduk di atas ranjang, menenangkan kedua kakinya yang gemetar.


"Ya ampun. Tenang hati, ini baru awal belum besoknya!" Dia menepuk-nepuk dadanya merayu agar gemuruh hebat di sana bisa tenang dan normal kembali. "Ya Allah, beri kekuatan pada Hambamu ini."


Jam 5 sore, sehari sebelum pernikahan.


Masih ingat janji Ziran beberapa hari lalu? Yah, tepat di hari ini sosok itu akan datang membawakan hapalan Surah An-Nisa dan mendengarkannya untuk dirinya. Apa kabar Afra? Jangan di tanya! Adakah jubah transparan agar dia tidak terlihat? Cukup dia yang melihat, jangan kalian!


Resah, cemas, gugup, semuanya tercampur aduk dalam satu rasa!


Afra bangkit, menyibukkan diri kembali berjalan ke sana kemari. Meremas-gemas gamis hitamnya, menyalurkan rasa gelisahnya. Instingnya meningkat lebih tajam, mendengar suara knok pintu kamarnya di putar, menoleh cepat melebarkan pupil matanya, menunggu siapa yang datang?


"Dek, ini abang Adam dan Rian. Boleh kami masuk?"


Ternyata kedua saudara Afra, kakak dan adiknya. Afra berlari membuka pintu dan langsung menubruk memeluk kakaknya. Adami terkejut namun tetap mengelus lembut punggung adiknya.


"Di dalam yah, jangan di sini." Pinta Adami di balas anggukan kecil dari Afra yang belum melepas pelukan. Adami membawa adiknya ke dalam kamar dan duduk di atas ranjang. Rian malah asik dengan ponsel Adami, bermain game di sana ikut duduk di samping Afra.


"Gimana perasaan kamu?" Adami bertanya pada Adiknya. Gadis itu sebenarnya ingin sekali menangis, namun ditahannya sekuat tenaga. Dia harus kuat! Afra perlahan melepas pelukan.


"Abang mau tau gimana debar jantung Afra berdetak seperti apa?" Manik mata Afra melebar menatap sang kakak.


"Memang seperti apa?" Adami ikut bermata polos menanti jawaban adiknya.


"Seperti ini." Kedua telapak tangan gadis itu menempel di kedua sisi pipi Adami. Kemudian memukul pipi Adami mengikuti irama kencangnya detakan jantungnya. "Deg-deg-deg-deg."


"Aw-aw-aw. Sakit, Dek .... " Mau tak mau tamparan pelan namun sakit itu, membuat Adami terpekik hingga Afra menghentikan aksi mempraktekkan detak jantungnya pada pipi kakaknya.


"Upss! Maaf kak, maaf. Kakak sih minta contohin!" Afra malah menarahi Adami, mencebikkan bibir, bersedekap tangan di dada, dan mendengus pelan.


Adami geleng-geleng kepala, mengelus kedua pipinya, dan melakukan senam wajah ringan merilekskan otot kakunya akibat ulah sang adik.


"Sekencang itu? Wah, kayaknya obesitas deh, Ra." Kata Adami coba melawak, tapi malah mendapat tatapan flat adiknya. "Butuh Dokter ini mah ... minta resep obat cinta gih. Hahaha .... " kali ini Adami mendapat serbuan cubitan yang berubah menjadi gelitikan dari Afra.

__ADS_1


"Abang, gak usah bercanda!" Afra duduk bersila di kasur mengambil batal guling dan memeluknya. Wajahnya kembali muram, terlihat kegundahan di sana.


Adami menghela nafas pendek, mendekat memeluk dan mencium sayang puncuk kepala adiknya. Adami berbisik pelan. "Abang tau, Afra adalah gadis kuat. Abang juga tau Afra gadis hebat. Namun, sekarang itu bukan yang utama. Berani, dek, itu paling penting! Kamu menerima lelaki itu karena berani menyanggupi dua persyaratanmu gantian, kini kamu yang harus berani menerima semuanya."


"Seharusnya kamu bangga, Ziran datang membawakan mahar terindah untukmu. Hapalan Qur'an Surah An-Nisa akan kamu dengarkan dari calon suamimu. Itu salah satu pengorbanannya mendapatkan kamu, Afra. Dan patut kamu syukuri! Abang saja bangga padanya. Yakin dia adalah imam terbaikmu dan kamu adalah bidadari terindahnya."


Afra diam termenung mendengarkan seksama setiap perkataan kakaknya. Pikiran Afra terbuka. Benar, Seharusnya dia bersyukur! Tapi kenapa dia sampai melupakan nikmat dari Allah yang sudah memberinya jodoh sehebat Ziran?


Astagfirullah ....


"Terima kasih bang. Afra akan mencoba berani!" Kini Afra yang memeluk Adami. Dia pun bangga memiliki sosok kakak seperti Adami.


"Sama-sama, adikku. Gitu dong!" Balas memeluk adiknya sayang, setelahnya Adami turun dari ranjang.


"Ya sudah siap-siap. Setelah ba'da Magrib Calon suami kamu akan datang. Ingat, Afra kuat, hebat, makanya harus berani! Semangat!"


Adami memberi penyemangat, hormat kecil, kedipan satu mata, dan terakhir senyum lebarnya. Dia beralih menggendong Rian yang sedari tadi bermain game tidak terganggu sama sekali. Aduh anak ini. Rian memang bercita-cita menjadi Gamer's! Fokus, sampai tidak peduli pada sekitarnya.


"Kakak keluar, ya. Assalamualaikum"


Kini Afra bisa tersenyum. Binar matanya kembali berseri-seri. Sekarang dia lebih berani untuk menghadapi kenyataan. Dia ingat! Allah itu menciptakan sesuatu atas kehendaknya, mungkin inilah takdirnya.


***


Suasana dalam ruang tamu tampak hangat dan ceria. Ziran datang bersama kedua orangtuanya. Semua orang tersenyum menampakkan rona bahagia. Apalagi sosok Ziran, lelaki itu tak berhenti untuk menampilkan senyum termanisnya di depan semua orang. Afra yang melihatnya geleng-geleng kepala, apa Ziran tidak lelah tersenyum terus? Yah, tidak salah sih. Afra yakin, lelaki itu sangat-sangat bahagia karena besok adalah hari pernikahan mereka. Mungkin Afra juga harus belajar dari Ziran, untuk terus tersenyum.


"Kita semua ke kamar Musholah atas. Di sana kita langsungkan pembacaan Surah Al Qur'an yang Nak Ziran janjikan sebagai mahar pernikahan besok." Daud, Abi Afra mengawali pembicaraan. Semua tampak mendengarkan dalam diam. Dalam rumah Afra ada satu kamar khusus di sediakan untuk tempat sholat. Biasanya di gunakan sholat berjamaah sekeluarga. "Adam, antar Nak Ziran ambil air wudhu, terus langsung siap-siap di Musholah."


Ziran dan Adam bersama menyahut, "Baik Abi." Sontak menjadi tawaan sekeluarga. Keduanya pamit lebih dulu naik ke lantai atas, pergi ke ruang Musholah.


Jantung Afra sudah mulai bereaksi. Makin kencang setiap dia menaiki undukan anak tangga, menuju ruang Musholah bersama keluarganya dan Ziran. Uminya menoleh padanya, tanggannya yang digengam Umi terasa menenagkan.


"Ini adalah Mahar yang kamu minta. Maka, dengarkan baik-baik calon imanmu membacakan ayat suci Al Qur'an ini untukmu, nak. Lelaki yang baik adalah untuk wanita yang baik pula. Semoga kalian memang berjodoh." Ucap Uminya peluh kelembutan. Tangan Afra masih terus digenggam menuju ruang Mushola.

__ADS_1


"Amiiinn. Semoga, Umi." Afra cukup mengaminkan dalam hatinya.


Di dalam ruangan Mushola. Sosok lelaki itu sedang duduk menghadap kiblat dengan Al-Quran di hadapannya terletak di atas rekal/sandaran berupa kayu. Ziran terlihat tampan di bawah terpaan sinar bulan yang lolos dari kaca jendela, sengaja di biarkan tak berlapis horden. Anak rambutnya yang basah lolos dari Kopiah hitam yang di kenakannya. Tadi dia memakai celana panjang dan baju kemeja, namun kini telah berganti menjadi sosok remaja muslim yang sering menggenakan sarung dan baju kokoh putih.


Semua keluarga duduk bersandar di tembok menghadap Ziran.


Apa Afra terkagum? Sudah jelas sekali. Sedari tadi Afra selalu mencuri-curi pandang menatap Ziran diam-diam. Tidak boleh melampaui batas. Dia malu menatap terus sosok itu, karena status mereka masih belum mahrom. Insyaallah jika Allah berkehendak, besok mereka telah sah menjadi suam istri. Amiinn.


"Silahkan di mulai, Nak Ziran." Ucap Abi Afra.


Ziran mengangkat pandangan sejenak menatap satu persatu setiap orang dalam ruangan itu. Tatapannya berhenti paling lama menatap calon istrinya, senyumnya paling lebar untuk Afranya. Afra segera menundukkan pandangan menyembunyikan rona merah wajahnya. Adami lurus menatap Ziran, kemudian berdehem keras menghentikan perbuatan lelaki itu. Adami kasihan menatap adiknya yang malu di tatap terus.


"Baik Abi."


Ziran berdehem kecil menormalkan suaranya. Cukup deg-degan. Jantungnya pun tak kalah bertaluh kencang mengalahkan kesenyian ruangan itu. Kembali Fokus. Dia harus percaya diri! Setelah berhari-hari, dan mati-matian belajar pada sosok Ustadz yang di temuinya di pesantren, setulus hati mengajarkannya cara tepat dan cepat untuk menghapal Al-Quran.


Kata Ustadz "Membaca, menghafal, atau mengamalkan Al-Quran semata-mata haruslah karena Allah. Jangan menjadikan sesuatu selain DIA sebagai patokan dalam beribadah. Karena perbuatan itu sama dengan menduakan Allah/Syirik. Dan tidak akan membawa keberkahan melainkan kemurkaan dariNYA." Itulah pesan sang Ustadz saat dia memulai untuk belajar menghapal AlQuran. Ziran mengambil pelajaran dari itu semua untuk merubah dirinya menjadi lebih baik. Intinya, semua karena Allah.


Ziran kembali Fokus. Mangambil napas dalam-dalam sebelum telunjuk kanannya mengarah ke lembar suci yang telah menampakkan bacaan Surah An-nisa di depan matanya. 'Bismillahirahmanirahim'


Dalam hati dia meminta kemudahan pada Allah.


Dan bacaan ayat-ayat Quran itu akhirnya terdengar.


Semua terdiam. Membeku.


Suara yang membaca syair ayat-ayat Al-Quran itu terlantum syahdu, mengudarakan Asma Allah yang suci.


Tersentuh.


Hati Afra bergetar. Tubuhnya terpaku. Di matanya muncul bening kristal, yang akan terjatuh saat kelopak itu menutup. Ziran membacakan Surah An-Nisa bermakna 'Wanita' itu pelan dengan sangat Merdu. Penuh penghayatan, dari relung terdalamnya. Detik ini, dia yakin.


Afra telah jatuh hati! Dia jatuh hati pada pemilik suara merdu itu. Jika di perkenankan bersatu, Afra ingin Ziran membacakan ayat suci Al-Quran dengan merdu saat ingin tidur, juga menjadi tempatnya bersandar ketika dia lelah.

__ADS_1


Amiinn....


-To be continue-


__ADS_2