
Gelap dan dingin masih membungkus rapat seluruh bumi. Bintang pun masih betah berteman dengan bulan di langit, Sedangkan cahaya kuning sang mentari masih tertidur lelap di barat. Burung pun enggan bernyanyi, sebab Show Time nya masih beberapa jam lagi.
Itu untuk mereka,
Tidak untuk Ziran yang sejak tadi telah terbangun dari sang peraduan. Penampilannya rapi, bersih dan sangat segar bugar. Bau harum parfum Vanila lembut menguar dari tubuhnya. Sekarang dia duduk di bibir ranjang, di sebelah sang istri yang masih tertidur lelap.
Tangan Ziran mengelus lembut surai hitam panjang Istrinya. "Sayang, ayo bangun." Tangannya beralih mencubit gemas sebelah pipi itu. "Uh, manisnya." Bergumam pelan dan mencomot hidung Afra.
Ziran terus mengusik tidur istrinya.
Namun, nampaknya tidak berhasil. Lelaki itupun terkekeh pelan melihat istrinya malah bergumam tidak jelas, semakin menenggelamkan tubuh ke dalam selimut.
"Aduh, dasar istriku ini!" Ziran menggigit bibir bawahnya lucu.
Rutinitas baru sepasang suami istri sejak tiga hari berlalu setelah pernikahan mereka. Ziran selalu bersikap romantis saat membangunkan sang istri untuk sholat tahajjud bersama.
Afra selalu berpesan di waktu malam agar di bangunkan sholat jika Ziran Bangun lebih dulu, tentu saja dengan senang hati Ziran mengabulkan. itulah yang dia lakukan saat ini.
Ziran ingat tentang satu hadis yang Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda;
“Allah merahmati seorang suami yang bangun di malam hari lalu shalat dan ia membangunkan istrinya kemudian istrinya shalat. Bila menolak maka ia perciki wajah istrinya dengan air. Dan Allah merahmati seorang istri yang bangun di malam hari lalu shalat dan ia membangunkan suaminya kemudian shalat. Bila suaminya menolak ia perciki wajahnya dengan air,“ (HR Ahmad, Abu Daud, al-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Ziran berjanji untuk memulai semuanya dengan belajar, walau semua harus di mulai dari nol.
Ziran tersenyum singkat. Perlahan mendekatkan wajah ke telinga kanan istrinya dan berbisik, " Istriku ayo bangun. Allah sudah menunggu kita." Di kecupnya kening sang istri penuh sayang. "Apa kamu mau membuat Allah menunggu? Kan kata kamu, kita tak boleh menunda-nunda beribadah pada Allah." Nadanya sangat lembut.
Berhasil.
Afra perlahan tergaja, mengerjapkan mata karena pandangannya masih pekat. Dengan rasa kantuk yang belum hilang Afra balas menjawab, "Aku bersih-bersih dan ambil Air wudhu dulu, ya, kak."
Afra turun ranjang dan berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Takut istrinya jatuh, Ziran sigap membantu Afra melangkah normal. "Hati-hati. Aku tak mau kesayanganku terluka."
"Apasih, Kak." Tidak terlalu mendengar ucapan Ziran, Afra segera masuk ke kamar mandi.
Selepas melaksanakan sholat tahajjud, mereka menunggu hingga waktu sholat subhu tiba dan kembali sholat. Setelah usai, Afra duduk di samping Ziran menemani suaminya yang sedang mengulang-ulang hafalannya. Afra mati-matian menahan kantuk, apalagi di tambah saat Ziran melafalkan Quran dengan suara merdunya rasanya ingin sekali tertidur.
__ADS_1
Ziran berhenti sejenak, tanpa menoleh dia meraih kepala sang istri membawanya bersandar di pundaknya. "Tidurlah, aku siap menjadi sandaranmu, Istriku."
Afra selalu terpesona dengan kelembutan Ziran, hatinya pun telah lama jatuh pada lelaki itu. Ziran selalu peka. "Terima kasih, Suamiku."
Berkedip-kedip agar matanya tetap terjaga, Afra menikmati setiap ayat yang di lafalkan suaminya. Afra kembali teringat sesuat yang telah lama dia simpan dalam otaknya. Afra ingin tahu alasan Ziran menerima 2 syaratnya dulu. Kalian pun pasti penasaran kan?
Afra duduk tegak.
"Kakak sudah sudah hafal berapa?" Tanya Afra memecah dua suara dalam ruangan.
Gerakan mulut Ziran terhenti. Dia berbalik menatap Afra, sedikit memijat tengkuknya yang kaku terlalu lama menunduk.
"Alhamdullillah, aku sudah hafal 2 Juz, istriku. Maaf ya sedikit lama menunaikan janjiku. InsyaAllah, secepatnya aku akan melunasinya." Ziran tersenyum kikuk.
Subhanallah...
Reaksi Afra terpesona sekaligus perasaannya penuh sesal. Binar mata itu berkaca memancarkan rasa bersalah. "Kenapa kakak mau menerimanya?" Kata itu keluar berat. Sebenarnya dia tak ingin mengungkit, tapi rasa penasarannya melebihi apapun.
Ziran tidak bodoh, dia tahu jalan cerita ini kemana. Dia sempat berpikir beberapa detik mengenai wanita yang suka sekali mengungkit hal yang sudah lewat! Istrinya juga melakukan itu. Apa bagusnya mengungkit masa lalu? Bukannya masa sekarang dan masa depan yang lebih penting untuk di tanyakan?
"Tapi aku mau tahu alasannya kak sekarang." Afra tetap ngotot ingin tahu. Dia menggoyang-goyangkan bahu Ziran agar di respon.
"Karena aku suka tantangan." Jawab Ziran sedikit tidak berselera.
"Bukan begitu maksud aku, Kak." Afra memberenggut memijit kepalanya pusing.
"Kakak tampan dan juga mapan. Banyak di luar sana wanita lain yang lebih cantik daripada aku dan mau sama kakak. Aku itu kalah jauh dari mereka. Seharusnya kak Ziran bahagia menikah dengan wanita yang tak meminta hal-hal aneh sebagai syarat menikah. Tak perlu repot juga menghafal seperti ini. Kak Ziran boleh hidup bebas, sebebas-bebasnya tanpa ada janji yang harus di tunaikan." Rentetan kata itu lebih menunjukan rasa bersalah seoarang Afra. Sungguh, dia benar-benar bersalah meminta Hafalan 30 Juz Al-Quran. Dia salah, sangat bersalah telah membebani hidup orang!
Ziran berkedip. Tatapannya meneliti wajah Afra yang nampak emosi campur aduk. Di raihnya pundak istrinya, membawanya untuk bersitatap dengan mata cokelat hangat miliknya.
"Hal aneh apa maksudmu? Dengarkan istriku, dengarkan aku baik-baik. Sedikitpun itu, tak pernah terbesit dalam pikiranku menghafalkan seluruh isi Al-Quran adalah beban. Aku malah merasa sangat bersyukur, lewat kamu dan dua permintaanmu itu yang membuatku lebih dekat kepada-NYA." Ziran meraup udara sejenak.
"Apa kamu pikir aku laki-laki yang baik? Oh tidak, kamu salah Afra. Sudah ku katakan aku bukan lelaki sempurna! Aku ini orang yang fasik agama, tidak punya iman yang kuat, dan bukan lelaki yang pantas untukmu. Aku lebih tidak ada apa-apanya di bandingkan lelaki di luar sana. Karena itu, Allah mengirimkan hidayah lewat dirimu agar aku bisa belajar menjadi lelaki yang baik dan suami yang pantas. Dan aku bisa menggenggam tanganmu hingga ke Jannah-NYA nanti." Ziran langsung merengkuh Afra dalam pelukan hangatnya.
Air mata itu menetes juga. Afra tidak bisa membendung haru. "Kenapa harus aku?"
__ADS_1
"Antara takdir dan keinginanku, aku tidak tau apa yang lebih mendominasi. Karena di satu sisi takdir mendungkung keinginanku menjadikanmu milikku." Jawaban ambigu, membuat Afra kembali bertanya.
"Kenapa memilihku?" Tangannya mencengkram lengan baju Ziran.
Sambil menepuk bahu Afra, "Aku memilihmu bukan tanpa alasan, tapi maaf, aku belum bisa memberi tau alasannya sekarang. Bila saatnya tiba, kamu akan tau sendiri siapa aku, siapa kita, siapa dia. Tolong jangan menyesali aku yang menjadi suamimu. jangan tanyakan juga kenapa aku yang menjadi Suamimu? Cukup itu menjadi rahasiaku dan Allah saja."
Lagi-lagi Ziran tidak memberi alasan yang jelas dan malah membuat teka-teki baru untuk Afra pecahkan. Kenapa sesulit ini masalahnya? kenapa semisterius ini kehidupannya? Apa tidak ada jawaban yang bisa mewakili kebingungannya? Ah, Afra juga tidak pernah melupakan kata-kata Kiki kemarin. Lelaki itu sama misteriusnya dengan Ziran.
Afra menghela napas lelah.
"Sudah jangan pikirkan yang lain. Kamu lupa ya? Hari ini kita akan pindah ke rumah pribadi, ayo siap-siap."Ziran menangkup wajah istrinya hingga sadar dari lamunan.
"Oh, iya, lupa. Tunggu ya kakak, aku beres-beres pakaian dulu." Afra mengesampingkan rasa penasaranya, bangkit berdiri untuk mempersiapkan kepindahannya ke rumah pribadi Ziran.
Kemarin Ziran meminta izin ke orang tua Afra untuk pindah ke rumah yang dia miliki dari setahun yang lalu. Sebenarnya Afra ingin tinggal di rumah orang tua Ziran dahulu untuk lebih akrab dengan mertuanya, tapi Ziran mengatakan orang tuanya jarang menetap di rumah utama mereka lebih sering keluar kota dan negri karena urusan bisnis. Afra pun hanya mengikuti kata suami.
Mereka berada di dalam mobil milik Ziran, setelah tadi berpamitan pada orang tua Afra dan Mertua Ziran.
Epilognya menghasilkan tangis kesedihan Umi Irana karena melepas pergi sang putri mengikuti suami. Afra terus berkata akan sering datang ke rumah sebagai kata penenang. Abi Daud, sosok lelaki yang sulit di tebak. Wajahnya tetap tenang dan tidak terlihat sedih di bola matanya. Afra paham, lelaki jarang menunjukkan kesedihan sesulit apapun itu. Tapi ketika mereka sendiri itulah waktu yang tepat untuk mengikuti sifat wanita, mereka juga menangis karena punya air mata.
Abi hanya berkata, "Jaga putriku, dan pulangkan jika kau tak sanggup!" Itulah pesan yang Ziran ingat betul.
Ziran dan Afra berangkat pagi, tapi bukan langsung ke rumah mereka. Ziran mendapat telfon mendadak dari Fano, sekertarisnya di kantor. Katanya, ada rapat penting yang harus di hadiri. Ziran turut mengajak Istrinya ikut dengannya namun di tolak.
"Aku ingin ke kedai saja." Alasan Afra agar tidak ikut ke kantor Ziran. Kantor terlalu membosankan, batin Afra.
"Tapi .... "
Afra tahu Ziran akan mengeluarkan jurus jitunya, yaitu memaksa. Tapi tenang, Afra akan mencoba merayu. "Suamiku, sayang. Boleh ya?" Mengatupkan tangan di depan wajah dengan menunjukkan eye adorable-nya. "Yah, ya, ya... Pliss."
Ziran mengatup rapat bibirnya, menahan diri untuk tidak melayangkan tangan mencubit pipi istrinya karena gemas. Tenang Ziran, tenang.
"Huff ..., baiklah. Tapi ingat! Jangan kemana-kemana dan tetap di situ. Aku akan menjempumu setelah urusan kantor selesai." Akhirnya Ziran luluh dengan memberi amanat pada sang istri.
"Jangan dekat-dekat dengan laki-laki lain!"
__ADS_1
-To Be Continue-