
"Berikan dasinya."
Ziran memutar arah menghadap Afra yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dia tertegun beberapa detik menatap istrinya sangat cantik dengan pakaian yang di kenakan di tambah wajah natural itu, menggemaskan. Ziran tersenyum seraya mengulurkan dasi di genggamannya pada istrinya.
Afra mengambil kain panjang itu.
"Kamu sangat cantik dan imut dengan gamis pink ini, kayak Baby .... " mengambil kesempatan mengecup pipi merona Afra.
Afra memajukan bibir berusaha menahan malu. Tangannya bergerak mengalutkan dasi pada kerah baju Ziran, "jangan digombal dulu, ini gak bisa fokus pasanginnya." Menghidari tatapan hangat Ziran, perutnya tergelitik saat memandang mata itu.
Ziran pun diam membiarkan Afra memasangkan dasinya hingga selesai, dan seperti biasa Afra selalu merapikan setiap sudut pakaiannya yang kurang rapi.
"Terima kasih," Ziran tersenyum seraya mengukurkan tangan, "Ayo, kita berangkat sekarang."
Uluran itu di terima manis oleh Afra, "Tidak bisakah aku ke kedai saja?"
Ziran menggeleng tegas, "kita ke kantor Sayang!"
Sepertinya tidak ada harapan. Dia tetap harus ikut ke kantor Ziran pagi ini, "Baiklah..." pasrah, berusaha untuk tersenyum.
"Ayo Sayang."
-
Cuaca pagi ini sedikit mendung dan tanda-tanda bumi akan basah mulai terlihat dari rintik-rintik hujan yang jatuh menghantam tanah. Mobil yang Ziran dan Afra pakai membelah jalan raya yang padat kendaraan dan manusia menghiasi setiap sudut kota. Jalanan kota tak pernah sepi, meski hujan tak menyurutkan semangat semua orang bekerja demi melangsungkan hidup. Manusia memang butuh itu.
Jendela kaca mobil, Afra turunkan sedikit membiarkan rintik hujan menerpa wajahnya. Dia mengukir senyum tipis saat merasakan air hujan yang dingin.
"Sayang, tutup jendelanya. Lihat, hijabmu basah dan kamu bisa sakit." Titah Ziran yang tidak mendapat respon dari Afra.
Gadis itu sibuk mendengar suara hujan yang makin kencang turun memantulkan airnya di kaca mobil.
Ziran mengigit bibir dalamnya, kesal karena dirinya di acuhkan.
Seittt
Bunyi kaca jendela mobil yang di tutup. ya, Ziran sendiri yang harus turun tangan menutup kaca jendela itu, Afra sama sekali tak mendengarnya.
Dan Afra pun tersadar saat air hujan tak lagi menerpa wajahnya. Jendela mobil telah tertutup, sepertinya dia tahu ini perbutan siapa.
"Kak Ziran .... " Afra mendelik kesal ke arah Suaminya yang berbalik menatapnya sejenak, kemudian kembali lagi fokus pada jalan.
Sebelah tangan Ziran mengambil tisu di atas dashboard dan tangannya yang lain menyetir, "Dekatkan wajahmu, aku akan mengelap air itu."
"Biar aku saja, fokuslah menyetir." Tangan Afra hendak merampas tempat tisu, namun Ziran lebih sigap mengambil benda itu dan di sembunyikan di balik punggung.
"Tidak, tidak! Kemarikan wajahmu, Sayang." Sudut bibir Ziran terangkat melihat kepasrahan Afra mengikuti perintahnya.
Afra lupa. Dia itu pemaksa, percuma saja melawan.
Afra mendekat dan Ziran mulai menyeka wajah Istrinya dengan tangan kanan yang memegang tisu, tangan kirinya yang mengemudi. Fokus pandangannya terbagi, tapi semua berjalan baik-baik saja. Ziran sudah ahli membagi apapun menjadi 2 atau 3 pekerjaan sekalipun dalam waktu yang sama pula. Hebat bukan?
__ADS_1
"Awas, Kak!"
Cittt
Bunyi ban mobil Ziran yang beradu dengan aspal ketika me-rem mendadak kendaraannya terdengar mendebarkan. Ziran terkejut ketika akan menabrak sesuatu itu, namun lebih terkejut lagi mendengar jeritan istrinya.
"Astagfirullahalazim .... " Afra beristigfar dengan mengusap dada. Kaget ketika Ziran hampir saja menabrak seekor kucing yang hendak menyebrang jalan.
Afra mengamati hewan itu beberapa detik. Untung masih sempat, hampir saja. Hatinya lega melihat kucing itu masih berdiri di sana dengan bulunya yang basah kunyup, sehingga terlihatlah tubuh kecilnya yang ringkih, itu kucing kecil.
"Maafkan aku Istriku ..., " Ziran menatap istrinya dengan pandangan bersalah. "Lain kali aku akan lebih hati-hati."
Inillah yang Afra takutkan, Ziran menyepelekan hal besar seperti tadi hingga hampir membahayakan nyawa seekor hewan.
"Huff ..., sudahlah, Kak. Buka pintunya, aku ingin melihat kucing itu." Afra tidak ingin memperpanjang masalah.
"Biar aku saja, tunggu di sini." Namun, Ziran lebih dulu keluar mobil setelah mengambil payung di jok belakang mobil untuk melindungi diri dari derasnya hujan. Lagi-lagi Ziran tak akan membiarkan istrinya terkena hujan atau berbuat hal yang bisa membuat istrinya sakit atau apa. Ziran lebih mengandalkan dirinya sendiri, apalagi ini adalah kesalahannya.
Afra mengehela napas memperhatikan Ziran yang sedang berjongkok di depan mobil beberapa saat, dan ketika berdiri kucing kecil itu sudah ada dalam genggamannya. Ziran membawa hewan itu ke dalam mobil.
"Kemarikan kucingnya, dia kedinginan." Afra mengulurkan tangan meminta kucing dalan genggaman Ziran.
Namun yang Afra dapatkan beruba gelengan tanda Ziran tidak mengizinkan. "Jangan menyentuhnya, bulu kucing ini basah dan mudah menempel, kamu bisa saja sakit. Tolong ambilkan sapu tangan dalam saku celanaku."
Afra patuh dan mengikuti kata Suaminya, mengelurkan sapu tangan dari saku celana Ziran. Afra melebarkan sapu tangan itu di telapak tangannya dan meminta Ziran meletakkan kucing itu di sana, setelah selesai Afra membungkus hewan kecil itu dan menimangnya seperti bayi.
"Kenakan tisu agar tanganmu tidak terkena bulunya, Sayang." Ziran mengulurkan benda lebar tipis dan putih itu ke hadapan Afra.
"Aku bisa mencuci tanganku saat sampai di kantormu. Ayo jalan, kamu bilang akan ada rapat penting pagi ini, kan?" Afra mengalihkan perhatian Ziran dengan kata-katanya jika tidak, aturan dan perintah Ziran padanya takkan ada habisnya tentang ini dan itu.
Afra menatap ziran, mengangguk dan tersenyum. "Iya, Suamiku."
Mobil kembali membela jalanan kota yang ramai di tengah hujan, kali ini laju kendaraan Ziran di bawah kecepatan sedang, takut terjadi sesuatu yang bisa membahayakan mereka. Sudah ada peringatan dini saat dia hampir menabrak seekor anak kucing. Hingga akhirnya mobil Ziran sampai pada tujuan, memasuki parkiran dalam gedung dan di parkirkan di lantai 4.
Ziran keluar mobil dan bergegas membuka pintu untuk Afra. Mereka berjalan bersama menuju Lift kantor yang menghubungkan langsung ke lantai atas tempa Ziran bekerja. Dalam Lift, Afra hanya diam dan terus menunduk mengelus-elus bulu kepala kucing yang mulai terlihat kering. Ziran juga tak membuka suara, dia lebih suka memperhatikan wajah istrinya.
Kali ini Ziran memperhatikan Arloji di lengan kirinya.
15 menit lagi rapat akan di mulai. Masih ada waktu. Batin Ziran bergumam dan pandangannya kembali lagi memperhatikan Afra. Ziran menerka-nerka apa yang ada di pikiran istrinya, hingga sekarang masih asik memanjakan si kucing. Dia sedari tadi di acuhkan, tentu ada rasa cemburu menyergapnya.
Ting
Bunyi Lift mengalihkan fokus keduanya. Ziran langsung menganggam sebelah tangan Istrinya yang kosong dan membawanya menuju ruangannya. Perjalan menuju ruang kerjanya, para karyawan bersambungan menyapa dirinya dengan sopan, Ziran hanya membalas seperlunya atau hanya dengan senyum tipis. Karyawannya tak perlu lagi mempertanyakan siapa wanita di sampingnya, kabar tentang pernikahan sederhananya tetap menjadi buah bibir yang melesat cepat ke arah manapun orang membicarakannya.
Kabar pernikahan Ziran membawa patah hati wanita yang menantikan jika dirinyalah yang harusnya bersanding dengan pak direktur tampan itu, bukan siapapun. Namun, apa boleh buat? Janur kuning telah melengkung. Ziran telah menjadi milik Afra seorang.
"Pak Ziran."
Panggilan itu menghentikan langkah Ziran yang akan membuka pintu ruangannya. Pasangan itu berbalik menghadap pemanggil itu,
"Ya, Fano?"
__ADS_1
Fano membungkuk hormat dan tersenyum kaku pada Ziran dan juga wanita di samping Bosnya, walaupun dia tidak pernah melihat langsung Istri Ziran, Fano sudah menduga jika wanita itu adalah Istrinya, terlihat dari sikap Ziran yang hangat pada wanita itu, tidak salah lagi.
Afra memandang sejenak lelaki di depannya dan beralih menatap Suaminya. Dia ingin bertanya siapa lelaki itu pada Ziran, tapi dia tak mungkin bertanya di saat seperti ini kan? ya, mungkin lelaki itu salah satu kepercayaan Ziran di kantor.
"Kenalkan Fano, ini Istriku, Afraza Humairah." Ziran lebih dulu memperkenalkan Afra pada Fano, "dan Sayang. Ini Fano, sekertarisku."
Oh, sekertarisnya. Hati Afra menjawab.
Betulkan tebakanku, wanita ini Istri Bos. Bangga Fano dalam hati saat tebakannya tepat, tidak meleset.
"Selamat pagi, Nyonya Algaza." Sapa Fano kembali menundukkan kepala sopan.
"Ahaha ..., tidak perlu kaku begitu, panggil Afra saja." Terdengar aneh ketika panggilannya seperti itu.
Fano menggeleng cepat tidak setuju, "itu sangat tidak sopan Nyonya. Izinkan saya tetap memanggil anda seperti itu."
Bibir Afra terangkan hendak membalas, tapi Ziran sudah memutuskan lebih dulu.
"Ekhm ..., biarkan Fano memanggilmu seperti itu, Istriku. Kamu hanya perlu santai jangan di pikirkan." Ziran berkata enteng seakan itu bukan masalah.
Santai bagaimana? Panggilan itu sangat berlebihan! Ingin Afra meneriaki itu, tapi tidak, itu memalukan, diapun hanya memendamnya dalam hati.
Afra memejam tak ingin merespon, tangannya sibuk mengelusi kucing di tangannya. Kini Afra pun mendapat elusan dari Ziran.
"Apa ada yang ingin kamu sampaikan, Fano?" Atensi Ziran beralih pada sekertarisnya.
Fano langsung tersadar dan fokus pada tujuan utamanya bertemu dengan Bosnya, "Bahan untuk meeting hari ini sudah saya siapkan, Pak. Saat ini, semua sudah menunggu di ruangan rapat."
Ziran mengangguk, "Aku akan mengantar Istriku ke ruangan setelah itu, aku akan segera ke sana."
"Baik pak,"
Ziran meraih kembali tangan istrinya dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Baru selangkah masuk ke dalam, mata Afra sudah menari-nari mengamati setiap sudut ruangan, sampai Ziran berhenti di kursi kebesarannya, Afra menyudahi acaranya.
Afra terduduk di kursi kerja Ziran
"Kamu duduk yang manis di sini, aku akan segera kembali. jangan pergi kemana-mana!" Ziran memegang pundak Afra dan menatapnya serius, "Dan di sana ada ruang tidur, kamu istrahat jika lelah, paham?" Ziran menunjuk pintu di sudut ruangan.
"Iya, aku tau." Afra hanya angguk-angguk kepala dengan senyum. "Rapatmu akan di mulai, cepatlah jangan sampai terlambat. Tidak usah khawatir, aku bisa urus diriku di sini." Menepuk-nepuk tangan kanan Ziran di pundaknya.
"Istriku pintar, aku pergi ya." Ziran mengucup kening Afra sebelum pergi, "Assalamualaikum." Ziran mengucap salam sebelum membuka pintu dan benar-benar pergi.
"Waalalaikumsalam. Semangat Suamiku!"
Ziran tertawa mendengar kalimat penyemangat Istrinya, ah manisnya, seakan Ziran ingin beralama-lama bersama-sama istrinya jika seperti ini, namun dia harus menunaikan tuagsnya sebagai suami, Bekerja keras untuk rumah tangganya.
"Energiku sudah terisi Full berkat penyemangatmu. Terima kasih Istriku." Berkedip satu mata dan melambai.
Afra membalas lambaian itu dan tersenyum sebelum lelaki itu menghilang di balik pintu.
"Ziran memang hangat, perhatian dan sangat romantis." Afra gemas melihat tingkah Ziran, hingga tangannya tak sadar meremas pelan kucing di pangkuannya sampai terdengar jeritan 'meong-an' dari kucing itu.
__ADS_1
"Push, Push, Maafkan aku."
-To Be Continue-