
Prak....
Tak....
"Astagfirullah ... " Irana terkejut bukan main. Matanya membulat, shock menatap handpone miliknya yang retak menampakkan potret foto putri satu-satunya yang sedang tertawa. Mata itu perlahan berkabut, sebelum teriakannya memenuhi ruang tamu. "ABI!!!"
Sang suami, datang dari dalam dapur sambil membawa secangkir kopi panas, untuk dinikmati di waktu subhu setelah sholat. Sejenak Daud terdiam dan berpikir, menduga-duga hal yang sudah terjadi? Turut memperhatikan kondisi istrinya yang hampir menangis dan benda elektronik pipih yang tergeletak retak layarnya di bawah kaki, Irana.
"Astagfirullah. Ada apa, Umi? Loh, loh. kok, hp Umi bisa sampai pecah begini?" Daud meletakkan cangkir kopinya di meja, berjalan menghampiri Irana setelah memungut ponsel istrinya. "Umi bisa jelaskan?" Daud meminta penjelasan.
"Afra, Abi ..., hiks ..., Anak kita .... " Irana bergerak memeluk erat suaminya dan terisak keras di dadanya. "Hati Umi gak tenang Abi. Ayo kita jemput anak kita."
"Hust ..., tenang Umi, tenang. Lebih baik berpikir Husnudzon dulu, jangan langsung mengambil tindakan. Ingat kan janji, Afra? Dia akan pulang hari ini. Kita tunggu sampai siang, jika dia tidak datang ...," Daud menjeda sejanak. "kita jemput anak kita."
"Hiks ... Umi gak tenang, sekarang saja jemput dia Abi. Ayo!" Irana melepas pelukan dan menarik tangan Daud menuju pintu rumah.
"Um ...."
"Assalamualaikum."
Ucapan Daud terhenti saat pintu rumah di ketuk dan terdengar seseorang memberi salam dari luar. Ini masih suasana Subhu belum pagi, tapi mereka sudah kedatangan tamu? Siapa?
Irana, segera menghapus air matanya dan berjalan cepat ke pintu, untuk membukanya. Daud mengikuti istrinya dari belakang.
"Waalaikumsalam." Irana menjawab bersamaan dengan pintu yang terbuka lebar. "Ya Allah, Nak Ziran?" Irana cukup kaget mendapati calon suami Afra, sedang berdiri di depan pintu dengan senyum hangat dan menenangkan. Serta oleh-oleh buah dan kue yang di bawa Ziran, sudah diulurkan untuk di berikan kepada calon ibu mertuanya.
"Maaf, Umi, Abi. Ziran tidak sempat kabari jika akan mampir hari ini." Ziran beralih menyalami Irana dan Daud, secara bergantian kemudian tersenyum. "Umi, Abi, Hm ..., Afra ada?"
Malu Ziran, mencari putri orang yang belum di halalkan. Tapi dari kamarin ini niatnya, dan harus ditunaikan segera agar perasaannya tenang. Sejak dua hari yang lalu, mereka hilang kontak. Ziran berusaha menguhubungi atau mengirim pesan berharap ada balasan dari, Afra. Nihil, tidak ada sama sekali!
Pagi nanti, dia akan ada rapat dengan salah satu perusahaan penting. Itulah mengapa Ziran datang bertamu ke rumah calon, pagi-pagi buta begini.
"Masuk dulu, Nak. Umi buatkan minum, Ayo!" Titah Umi kepada Ziran.
Di dalam rumah.
Ziran menyeruput sesekali Teh yang baru di buat Umi Irana. Masih panas. Tak sanggup meminum karena panasanya, cangkir itu kembali di letakkan ke meja. Matanya menangkap kegelisahan Umi saat saling tatap dengan Suaminya seperti berbicara lewat isyarat mata, Ziran dia tidak paham.
Saat Ziran akan bersuara, Irana mendahuluinya. "Begini, nak Ziran."
"Iya, Umi?"
__ADS_1
Lelaki itu setengah Dag dig dug, menunggu kelanjutan ucapan Umi Irana, menatapnya setengah sayu. Ziran berusaha menerka-nerka, ada hal apa ini? Meski kini, hanya kebungkaman lagi yang dia dapat dari sosok, Irana.
"Nak Ziran, sebenarnya Nak Afra sedang tidak ada di rumah. Dia pergi sejak dua hari lalu." Daud memutuskan bercerita menggantikan Irana yang tak kuasa.
Calon menantunya berhak untuk tahu.
"Pergi, Abi? Kemana?" Ziran bahkan lupa menurunkan nada suaranya saat berbicara, saking terkejutnya mengetahui kebenaran Afra tidak ada di rumah.
Daud menghela napas berat. "Kami minta maaf karena sebelumnya, hal sepenting ini tidak diberitahukan kepadamu. Afra adalah gadis yang suka kebebasan dan mencintai hobi berpetualang sejak kecil. Saat sekolah dulu, dia dan teman-temannya selalu mencari tempat-tempat petualangan baru untuk ditaklukkan bersama, hingga sampai saat ini. Dan kali ini, Mereka tengah berpetualang di hutan. Kabar baiknya dia sudah akan kembali sebentar. Namun...,"
Daud menatap istrinya. Air mata wanita itu kembali mengalir deras membasahi wajah sayunya. Tak sanggup, Irana segera berlari masuk ke dalam kamar meninggalkan kedua laki-laki itu.
"Perasaan Umi-Afra, sejak tadi resah memikirkan putrinya itu. Ah, Kita sama-sama tahu bukan? Perasaan seorang ibu lebih terhubung dengan seorang anak. Insting wanita selalu tepat dan jarang meleset. Itulah yang menjadi masalah. Umi takut telah terjadi sesuatu dengan, Afra "
Itu Jawaban yang membuat jantung Ziran berdetak tak berirama. Ziran kehilangan kata-kata, dan tak bisa berpikir jernih. "Jadi, maksudnya .... "
Ziran segera tersadar dan berdiri dari duduknya. "Hutan mana, Abi? Hutan mana yang menjadi tempat Afra berpetualang?"
Daud tersenyum tipis melihat reaksi pemuda yang resmi bertunangan dengan putrinya. "Kamu mau ke mana?" Sejujurnya Daud telah tahu apa yang akan Ziran perbuat. Hanya memperjelas.
"Aku akan menjemput Afra, dan membawanya pulang. Maaf telah lancang Abi, tapi seorang gadis berada di dalam hutan itu tidaklah bagus. Bahaya di sana, sudah pernah aku rasakan sebagai seorang lelaki pecinta hutan, dan bagi seorang gadis tidak akan sanggup menghadapinya. Meskipun dia bersahabat baik dengan alam, tidak menutup kemungkinan hutan masih menganggapnya teman! Teman itu antara kawan dan lawan. Kita tidak tahu hutan yang di tempati Afra berpetualang, berada di pihak mana."
Penjelasan calon menantunnya, membuat Daud mulai paham siapa pemuda di depannya. Ternyata dia benar. Putrinya tidak salah berjodoh dengan Ziran. Keduanya memiliki kesamaan yang serupa, meski dia melihat sisi keposesifan Ziran yang tinggi. Tapi itu tidaklah penting, kalian lihat bagimana sigapnya Ziran akan menjemput putrinya tadi? Ah, Daud merasa lelaki ini telah pantas diberikan tanggung jawab untuk menjaga putrinya.
Ziran mengerutkan alisnya tajam. Maksud dari kata-kata Abi terlalu sulit dia pahami. Dia hanya memita izin menjemput Afra dan membawannya pulang pada mereka. Namun perkataan Abi seolah adalah peringatan untuknya.
"Kenapa masih di sini?" Abi menyentak lamunan Ziran yang kalut dengan perkataan Abi Daud barusan.
"Eh, i-iya, Abi. Ziran berangkat sekarang titip salam sama Umi. Assalamualaikum." Lupakan, pikirkan itu nanti saja. Saat ini, Afra harus segera di temukan, memastikannya baik-baik saja dan membawanya kembali pada orangtuanya.
"Waalaikumsalam. Abi akan kirimkan lokasi hutan tempat petualang Afra, melalui pesan."
"Baik, Abi."
Ziran pergi meninggalkan rumah setelah menyalami Abi. Lincah saja dia mengendarai mobil dengan tangan kanan, dan sebelahnya lagi meraih ponsel di saku celana bahannya, mencari kontak sekretris kantornya, lalu menelpon.
Dering kedua, telponnya sudah di angkat oleh Fano, sekertarisnya.
"Halo, pak? Selamat ..., pagi." Sapa Fano di seberang telpon. Nada suaranya sedikit heran. Apa gerangan bosnya menelpon pagi-pagi buta seperti ini?
"Ambil alih Pimpinan rapat hari ini, urus semuanya. Dan untuk hasil rapat nanti, kirim ke emailku." Putus Ziran secara sepihak.
__ADS_1
Fano, tentu saja terkejut bukan main. "Tapi pak, ini rapat penting dengan perusahaan Angkasa, membahas tentang proyek pembangunan hotel kemarin. PT angkasa sendiri sudah mengirimkan lokasi lahan yang akan di banguni hotel ke email anda dan tinggal menunggu persetujuan dan tanda tangan dari Bapak."
"Setujui proyek itu, Fano. Sebentar akan akan mengecek semua email yang masuk, dan untuk tanda tangan proyek, akan ku lakukan setelah urusanku selesai. Paham?"
"Tapi pak ...."
"Jangan banyak tapi, laksanakan!" Nada tegas Ziran membuat Fano, terdiam.
"Baik pak, akan saya lakukan." Lelaki itupun pasrah atas perintah bosnya.
"Baiklah Fano, aku tutup. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, pak."
Sambungan telepon lebih dulu di akhiri oleh Ziran.
Tiba di lokasi hutan tempat Afra dan teman-tenannya berpetualang, dia segera melepaskan jas hitamnya dan menggulung kemeja biru mudanya sampai ke siku. Ziran, terlebih dulu mengambil kompas dan pisau lipat di Dashboard mobilnya dan mengantonginya, sebagai antisipasi jika tersesat. Ziran sudah berpengalaman berada di hutan, tapi tidak boleh menganggap remeh resiko jika dia masuk ke hutan tanpa pembekalan.
Sama saja bunuh diri!
Ziran telah masuk kedalam hutan. Tak letih mencari tanda-tanda keberadaan gadis itu. Memperhatikan lebih teliti sekelilingnya, mencari petunjuk atau jejek yang dilewati para penjelajah yang di antaranya adalah Tunangannya.
"Afra di mana kamu?" Tanya pada dirinya sendiri.
Langkah lebarnya membawanya masuk lebih dalam ke hutan, menjurus kemudian telinganya menangkap teriakan yang lumayan samar di pendengarannya, namun dia yakin itu adalah suara perempuan.
AFRA?!
Hanya itu yang dia pikirkan. Apa perempuan itu benar, Afra? Takut terlambat sedetik saja gadis itu akan dalam bahaya, Ziran berlari mengandalkan instingnya secepat mungkin. Sejenak dia berhenti melangkah, mencoba menajamkan pendengaran.
Arah timur!
Kembali lagi Ziran berlari, berlari, dan terus berlari. Hingga kakinya berhenti seketika, terpaku menatap dua sosok gadis di depannya. Memperhatikan gadis bersurai panjang sedang menangis hebat sambil memeluk erat gadis berhijab Maroon.
Namun perhatiannya hanya pada satu objek, gadis berhijab itu. Ziran meneliti keadaanya, seketika itu juga matanya membulat shock. Lengan kanan itu terluka dan di penuhi lelehan darah segar.
Dia ... Terluka!
Dan Ziran tak mungkin salah menebak! Gadis berhijab itu adalah ....
"AFRA!!!"
__ADS_1
-To be continue-