Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 6 : BAHAGIA YANG PERGI


__ADS_3

Berani ikhlaskan bahagia sama dengan menjemput bahagia selanjutnya! -Ilewaing-


•••


Tin Tin Tin


Itu suara klakson mobil.


Buru-buru Afra memakai tas Carrier (tas khusus untuk penjelajahan, mendaki gunung, atau berkemah) berisi lengkap barang-barang keperluan berpetualangnya. Dan tangan kirinya menenteng tas Survival Kit, berisi satu set lengkap benda-benda peralatan keamanan diri, yang di gunakan untuk bertahan hidup di hutan nanti. Berada di hutan liar sana, tidak bisa di prediksi bahaya yang akan di hadapi, membuat dia dan teman-temannya harus mempersiapkan segala sesuatu, walau yang kecil sekalipun. Perlu mengantisipasi!


Langkah Afra menuruni tangga begitu semangat. Di pintu utama, dia melihat Umi dan Abinya menyambut Reza dan Mila. Afra melambai dengan senyum cerah pada kedua temannya yang menjemputnya.


"Umi, Abi, kami langsung berangkat, yah. Nanti keburu siang, teman-teman lain juga belum di jemput." Afra mengamit tangan kanan Irana dan menyalaminya, begitupun dengan Abinya.


"Barang-barang kamu sudah di cek semua? Nggak ada yang ketinggalan, nak?" Abi bertanya dan meneliti putrinya dari atas sampai bawah. Afra turut memperhatikan penampilannya. Dia memakai baju kaos panjang tebal dan longgar, celana panjang berbahan kain, sepatu Vans, jilbab segitiga panjang, tak lupa kaca mata santai yang menambah fasion petualangnya semakin keren, seluruh yang di pakainya berwarna hitam.


Sepertinya lengkap!


"Lengkap Bos!" Afra memberi hormat dengan senyum yang sangat manis. Abinya mengangguk mantap dan mengecup kening putrinya sesaat.


"Jaga diri kamu baik-baik. Abi memberi izin pergi bukan berarti untuk memberimu kebebasan penuh. Abi tidak ada di sana, jadi abi sudah menelpon Farsya untuk turut menjaga kamu nanti, dia gadis yang paling abi kenal di antara semua teman kamu." Perkataan Abinya membuat Reza angkat bicara.


"Abi, kami juga ada, kok. Afra akan kami jaga dan pastikan dia baik-baik saja juga, pulang dengan selamat dan sehat walafiat." Tekan Reza sangat jelas, Mila mengangguk meyakinkan. Abi menatap pada dua teman Afra kemudian tersenyum penuh wibawah.


"Abi percaya!"


Senyum Afra bertambah lebar, memeluk abinya dengan perasaan sangat senang. Dalam pelukan itu Daud berbisik pelan pada putrinya, jelas dan penuh penekanan. "Ingat, hanya tiga hari!" Anggukan sekali Afra menjadi jawaban mantap. Pelukan itu terlepas.


Kini giliran Afra memeluk Uminya erat sebelum pergi. Ada rasa tidak rela yang terpancar dari manik sendu Irana. Terdengar bisikan lembut nan jelas itu terucap dari Uminya. "Yakin, kamu tidak ingin beritahu Tunangan kamu tentang ini? Dia juga berhak mengetahuinya, Nak ...," Umi menjeda ucapannya sesaat. "Kalau begitu, biarkan Umi yang memberitahunya. Setidaknya dia tidak akan khawatir berlebih pada calon istrinya ini."


Afra menggeleng pelan dalam pelukan, "Tidak perlu memberitahunya. Ini hanya tiga hari, Umi. Afra janji akan pulang dengan selamat." Afra menimbang sesuatu. "Namun, Afra juga tidak tahu ke depannya seperti apa. Tapi ..., jika sampai Afra melewati batas hari, Umi boleh memberitahunya." Ucapnya tak menggugurkan senyum, berniat membuat tenang Uminya.


"Sayang, sebaikanya kamu tidak usah per .... "


"Umi ...," Afra memotong ucapan Uminya yang masih akan melarangnya pergi. Sungguh, dia akan baik-baik saja. "Afra mohon ..., mungkin ini yang terakhir kalinya." Nada sedih itu tersemat di akhir kalimatnya.


"Baiklah. Hati-hati."


Barulah Afra bernafas laga, melepas pelukan, mengecup pipi Irana kanan dan kirinya, juga meloncat kecil di tempat. "Makasih Umi, Makasih!"


"Iya, jangan lupa sholat dan ngajinya. Di hutan itu banyak hantu, takutnya kamu di apa-apain, sayang." Uminya mencoba melucu dan membuat Abi ikut terkekeh, dia mengerti keresahan hati istrinya.


"Siap komandan! Kami berangkat, Assalamualaikum." Afra kembali menyalami punggung tangan kedua orang tuanya, bergantian dengan kedua temannya, Reza dan Mila.


"Waalaikumsalam. Ingat hati-hati!" Lambaian tangan dan senyum kedua orang tuanya itu pasti Afra akan sangat dia rindui selama waktu petualangannya di hutan nanti.


Afra dan semua temannya sudah lengkap berkumpul di dalam mobil bermerek Kia Grand Sedona, itu. Mobil yang cukup besar, bisa memuat sampai 11 orang dan juga banyak barang-barang, kapasitasnya lebih besar di banding mobil lainnya. Aturan duduknya Afra, Debi dan Farsya di kursi tengah. Reza dan Bika di kursi depan, dan kursi belakang di isi oleh Mila dan Joy, katanya mereka mau tidur-tuduran jadi memilih di belakang. Di dalam mobil, terdengar kekocakan 7 pemuda-pemudi yang asik bernyanyi tidak karuan kejelasannya. Afra sangat menikmati moment bersama teman-temannya itu. Perjalanan sudah menghabiskan waktu hampir 3 jam lamanya. Sekarang, waktu menunjukan pukul satu siang, mereka sudah beristrahat sekaligus sholat di mesjid yang ada di perbatasan kota.


Sekarang, mobil anak petualang telah memasuki perkampungan pertama yang cukup sepi. Jalannya sempit dan karena tidak di aspal, maka jalan tanah ini rusak dan banyak berlubang. Reza yang mengemudi, harus ekstra hati-hati agar ban mobil tidak terselip kerikil atau batu besar. Masuk ke perkampungan kedua, nampak berjejer rapi rumah-rumah warga yang sederhana. Lingkungan yang asri karena pepohonan, maka kualitas udaranya bagus dan tidak tercemar banyak polusi udara, seperti di kota-kota.


Reza berkali-kali melirik ke arah teman-temannya, dan di tangkap oleh Afra yang asik menikmati jalan.

__ADS_1


"Kenapa, Za?" Tanya Afra bingung.


"Kayaknya, tinggal kampung terakhir deh, tuh paling depan sana." Reza menunjuk dengan dagunya ke arah kampung yang mulai terllihat benteng perbatasannya dengan kampung kedua tadi.


"Di sana kita turun, dan mulai jalan kaki ke dalam hutan. Mobil kamu titip ke rumah warga kampung saja." Bika memberi pendapat.


"Okedeh!" Reza setuju. "Eh, Af, bangunin teman-teman." Titah Reza pada Afra.


Afra menyatukan jari telunjuk dan jempolnya, membentuk tanda "Oke." Dia membangunkan Farsya Dan Debi terlebih dahulu, kemudian Mila dan Joy. Tapi karena Joy susah bangun, Afra menyerah, maka di bantu oleh Mila. Gadis itu mengambil alat make-up nya dan memakaikan lipstik merah ke bibir Joy. Barulah pemuda itu bangun dan menyadari perbuatan Mila pada bibir erotisnya. Joy menjerit histeris, membuat semua temannya geleng-geleng kepala, turut tertawa.


***


Mobil diparkir di rumah kepala kampung yang bernama, Pak Mudin. Orangnya ramah dan Mereka sempat ditawari untuk istrahat dan besok baru melanjutkan perjalanan. Tapi karena waktu mereka hanya tiga hari, Bika, selaku ketua memutuskan untuk tidak membuang waktu lagi. maka, mereka akan segera berangkat masuk ke Hutan sebelum malam tiba. Sekarang, waktu masih menunjukan pukul 2 siang, dan mereka punya waktu untuk menjelajahi hutan serta mencari tempat yang pas untuk membangun tenda dan bermalam. Pak Mudin, hanya berpesan untuk tidak terlalu masuk jauh ke dalam hutan, dan berhati-hati. Kompak geng petualang itu mengangguk dan berpamitan pergi.


"Barang-barang gak ada yang ketinggalan, kan?" Bika sudah siap dengan tas gunung yang menggantung di pundaknya. Sebagai ketua, dia harus memeriksa kembali kelengkapan anggota dan barang-barang bawaan mereka.


"Lengkap, Bos!" Sahut Joy sambil memakai kupluk jacketnya ke kapala.


"Oke. Yang lain, aman nggak?" Kembali Bika bertanya. Sedari tadi matanya menangkap pergerakan Afra yang nampak kereporatan dengan barang bawaannya.


"Afra, siniin tas Survival Kit kamu. Aku yang bawa." Bika meminta tas perlengkapan milik Afra untuk di bawa.


Afra menaikkan pandangan ke arah pemuda itu sesaat, kemudian dia memakai topi coklat yang dari tadi dipegangnya. Afra menggelang pelan.


" Nggak perlu, aku bisa sendiri." Balasnya mantap. "Ketua fokus saja ke jalan. Nanti kesasar aku minta tanggung jawab, loh." Sedikit Afra bercanda, membuat Bika terkekeh.


"Siap tuan putri." Afra memutar bola mata melihat Bika mengedipkan sebelah mata padanya.


"Yang lain tetap fokus dan jaga satu sama lain! Terutama yang Cowok, jaga yang cewek, jangan kebalik! Reza, kamu paling belakang pantau teman yang di depan. Joy, di tengah lihat sekeliling kamu. Aku paling depan memimpin jalan dan menentukan apa-apa. Jadi, jika ada teman yang butuh istrahat atau apapun, beri tahu aku. Paham?" Ketua selesai memberi arahan dan menatap serius ke teman-temannya. Bika, termasuk orang yang teliti dan banyak pertimbangan. Cocok menjadi seorang pemimpin, contohnya seperti yang dia lakukan sekarang ini.


"Sebelum berangkat ada baiknya kita berdoa dulu, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan nantinya. Berdoa di mulai."


"Amiinn .... "


Setelah berdoa, mulai mereka berjalan melewati jalan setapak perkampung dengan ciri khasnya yang beraspal tanah berdebu. Perjalanan untuk sampai di hutan menghabiskan waktu lebih dari 20 menit. Mereka berhenti saat waktu Sholat Asar tiba, melihat sebuah musholah kecil di ujung kampung di sanalah mereka rehat sejenak. Setelah melaksanakan kewajiban seorang muslim, tak membuang waktu lagi mereka kembali berjalan, langkah demi langkah terlukis jejak hingga tiba di pinggir hutan. Mereka mengamati sekeliling dan mencoba menerka-nerka dalamnya Rimba, pasti banyak pepohonan rimbun, semak belukar, dan tanaman lainnya. Itu sudah di ketahui semua orang.


Hutan adalah alam bebas. Banyak kemungkinan hal yang tidak pernah di liat sebelumnya ada di sana. Banyak bahaya yang tidak bisa dianggap remeh. Hutan tidak memandang kawan atau lawan jika kita tidak menerapkan teori kehati-hatian untuk bisa bersahabat dengan Rimba. Jangan mengusik, mencemari atau bahkan sampai merusak alam jika tidak ingin mendapat balasan dari hukum Rimba. Kita bebas ingin melakukan apa? Namun, jangan sampai kebebasan itu yang menghantarkan ke dalam bahaya. Intinya, kenali lingkungan dan jaga diri.


"Seperti yang sudah-sudah. Sebelum memulai petualangan, ada kalahnya kalian harus konsentrasi, fokus pada sekeliling. Saat menepaki jalan lurus, mendaki, ataupun terjal, perhatikan langkah kalian, banyak tragedi yang membahayakan penjelajah karena hal sekecil itu." Ucap Bika penuh peringatan dan keseriusan di setiap perkataannya.


Afra terkejut saat Debi tiba-tiba memeluk lengan kirinya erat dan bergetar ketakukan. Afra tahu, gadis itu pasti berpikir yang tidak-tidak tentang keadaan mereka nanti ke depannya. Afra mengelus-elus surai hitam gadis itu yang di ikat menjadi satu, dia berbisik pelan.


"Nggak akan terjadi sesuatu hal buruk pada kita semua, percaya sama aku. Afra akan jagain Debi, oke?" Suara Afra penuh kelembutan, membuat Debi berhenti bergetar dan timbul rasa aman seketika. Debi mengangguk dalam pelukan.


"Kita terapkan metode lambat asalkan selamat! Oke!" Lanjut Bika mendapat respon anggukan kecil dari teman-temannya. "Atur posisi kalian berjejer lurus kebelakang, aturannya seperti yang tadi aku bagikan. Reza, aku percayakan keamanan teman-teman dari belakang. Beritahu aku jika terjadi sesuatu."


Reza bersorak semangat. "Baik kapten, laksanakan!"


"Oke, kita langsung masu .... "


"Tunggu dulu!" Farsya merentangkan tangan di dapan tubuh Bika yang ingin beranjak dari pijakan sebelumnya. "Kalian lupa rutinitas kita? Kita harus foto-foto dulu, mengabadikan setiap moment kebersamaan! Udah, buruan baris yang cantik, senyum manisnya juga jangan lupa!"

__ADS_1


Ah, iya, saking semangatnya mereka sampai lupa. Rutinitas mereka yang keseringan ini sudah mendarah daging di jiwa, setiap petualagan pasti harus ada duplikat wajah mereka di kamera.


CEKREK!


Geng petualangan membuat pose beraneka ragam, dari yang nomal sampai non normal. Afra mengikut, tapi memilih berjauhan dengan lawan jenisnya. Maka, dia menyerempet berdiri di tengah-tengah antara Debi dan Mila, merangkul dua gadis itu sambil tersenyum lebar ke kamera. Sedangkan Farsya memegang kamera pocket, Sony Cyber-shot DSC-RX100 III, miliknya yang selalu di bawah karena kecil dan muat di kantung celana kainnya.


Sesi pemotretan selesai.


"Bismillahi Rahmani Rahim ...." Rapal Afra sebelum melangkahkan kaki masuk ke dalam hutan.


Posisi geng petualang ; Bika yang paling depan itu karena dia Pemimpin, kemudian Farsya, Debi, Afra, tentu dia harus di belakang Debi karena berjanji untuk menjaga gadis itu, setelah Afra ada Joy, terus Mila, dan terakhir Reza yang mendapat mandat dari Bika, menjadi pemantau leser keadaan dari belakang.


Kondisi hutan yang menjelang petang hari nampak sejuk dan penuh dengan ramai nyanyian burung yang hendak kembali ke sarang masing-masing. Alam sibuk menyiapkan diri menyambut kedatangan sang malam yang sebentar lagi menggelapkan langit biru. Cahaya keemasan sang matahari sudah menyusut menjadi kehangatan yang membawa kedamaian bagi siapapun. Pepohonan bersiul mengudarakan nada merdu sebab diterpa sang angin. Begitu bahagianya alam, menyambut hari seperti hari-hari sebelumnya.


Tak terasa mereka telah berjalan menjelaajahi hutan hampir 2 jam lamanya. Jalan yang mereka lalui penuh rintangan, saat di hadapkan jalan terjal mereka harus mengurangi kecepatan melangkah dan mencari pegangan di pohon atau akar-akar tanaman belukar yang ada. Saat menemukan jalan mendaki menjadi hal tersulit, lutut yang gemetar karena lelah berjalan harus kembali di kuatkan menaiki tumpukan tanah tinggi dan berbatu tajam. Jika tidak hati-hati mereka pasti akan berguling jatuh ke bawah dan terjadi tragedi hutan pada kelompok petualang mereka. Untunglah mereka telah di ajarkan sewaktu penjelajahan Kemping sekolah dulu, jangan memaksa tubuh untuk melampaui batas kesanggupan, jika lelah STOP!


"Aku capek!" Rengek Debi bermanja di lengan Afra.


"Sama aku juga ... udah gak tahan ...." Farsya turut merengek di lengan Afra yang satunya. "Afra gendong!" Minta Farsya dengan manja.


Afra balik menatap horor ke dua temannya yang bergentung di lengannya seperti monyet hutan. Afra tersentak kaget dan langsung membungkuk ke depan saat berat di pundaknya bertambah 2 kali lipat. Itu Mila, datang dan memeluk leher Afra mencari tumpuan dengan bergelantung di pundak temannya. Afra tidak bisa lagi bertahan, di kondisinya yang kini lebih berat beban daripada berat tubunya, akhirnya terjatuh ke depan.


"Aduh, kalian ini ..., Sakit tau! Lepas-lepas!" Omel Afra pada ke tiga teman perempuannya. "Mila, lepasin tangan kamu! Beratttt!" Mila langsung melepas tangannya dari pundak Afra dan berbaring ke tanah yang beralaskan tumpukan tebal dedaunan tua.


Afra, Debi dan Farsya ikut tidur-tiduran enak membayangkan kasur empuknya di rumah. Mereka berempat menutup mata, melepas lelah yang ada.


"Aku lelah, gak sanggup, aku mau mati. Ayang Reza gendong aku .... " Mila meracau tidak jelas dengan mata tertutup tak sanggup terbuka itu.


"Astaga, Cinta, bangun di situ kotor!" Reza menegur dan menarik tangan Mila untuk bangun, tapi gadis tetap tidak mau bergerak.


Bika berbalik menghadap teman-temannya dengan wajah penuh bulir keringat dan napas memburu. Tapi itu tidak seberapa karena tenaga seorang leleki memiliki power yang lebih kuat di banding perempuan. Dia menatap ke empat perempuan yang sudah tumbang tiduran di tanah. Pertanyaannya, bagaimana lelahnya seorang teman perempuanya saat ini? Itu yang Bika, khawatirkan. Bika membentuk isyarat dengan tangannya yang di pahami semua oleh temannya, 'Tanda Berhenti dan Istrahat'


"Hari sudah mulai gelap dan sebentar lagi akan magrib. Aku putuskan kita stop di sini dan bangun tenda untuk bermalam. Aku akan lihat keadaan sekitar dan mencari sumber mata air atau sungai terdekat." Bika memberi instruksi jelas dan di tanggapi anggukan lemah teman-temannya.


"Aku ikut...," Joy membanting tasnya ke tanah dan berlari kecil ke arah Bika. "Siapa tau nemu air terjun mau langsung mandi, gerah gila banget gan!" Semprot Joy mengibas-ngibaskan tangan kewajah seperti kepanasan.


"Yaudah, ayok! Reza, titip teman-teman, yah. Jangan langsung tidur kalau udah selesai bangun tenda kamu, bantuin bangunin tenda yang cewe." Ketua memberi mandat lagi kepada Reza, di balas dengusan keras.


"Nggak mungkin aku tega!" Reza melotot merasa di hina secara halus.


"Ya kali ...." Duet suara Bika dan Joy langsung bergegas pergi.


Malam itu, di habiskan dengan cerita mereka di hutan rimba yang jauh dari kebisingan dan huru-hara kehidupan kota. Malam di hutan, hanya di temani kesunyian dan kedamaian. Di nyanyikan lagu oleh serangga malam yang saling bersahut-sahutan menyampaikan maksud tertentu. Semilir angin serasa menyengat seperti salju yang menusuk kulit. Ke tujuh manusia penjelajah itu semakin memeluk diri dan merapatkan jacket yang dikenakannya. Mereka semua berkumpul di depan api unggun yang menyala, menghangatkan tubuh dan asik bercerita berbagai hal menarik.


Di sudut sana, Afra tersenyum simpul. Sesaat memilih diam menyaksikan kehangatan keluarga petualangannya. Dia beralih memangku dagu di kedua tangan yang membingkai wajah teduhnya dan ditumpu pada kedua lutut yang ditekuk.


Afra bahagia!


Sekarang dia siap melepas hobi berpetualangnya. Sebab, bahagianya sudah didapatkan penuh olehnya saat ini. Jika besok adalah pernikahannya, Afraza Humairah, tidak akan lari lagi. Dan jika setelah menikah Ziran, meminta dia meninggalkan segalanya, dia sudah sangat siap untuk itu.


Bahagianya sudah dinikmati, tak masalah jika bahagia itu pamit untuk pergi suatu hari nanti.

__ADS_1


"Benar, Afra. Kamu hanya perlu menikmati kebahagian detik ini, sebelum detik selanjutnya dia pergi."


-To Be Continue-


__ADS_2