
Nyatanya, kau sudah menjadi bagian hidupku sebelum kata Sah terucap. Apa kita telah terikat? -ilewaing-
•••
Dua hari di hutan, afra dan ke enam teman lainnya berencana besok akan kembali ke kota, mengakhiri hari-hari kesenangan. Selama dua hari itu, terhitung dua kali mereka berganti lokasi menetap, dan hari terakhir besok seharusnya di gunakan untuk perjalanan pulang.
Namun, rencana alam lebih dulu terkabul!
Malam ini hujan turun lebat membasahi bumi, begitupun hutan yang didiami geng petualang, Afra. Derasnya hujan seperti ingin menerobos masuk ke dalam tenda milik mereka. Afra, Farsya, Debi dan Mila, mereka berempat ada dalam tenda Tunel yang berdiameter lebar dan cukup besar. Sedangkan Bika, Reza dan Joy mereka tepat ditenda sebelah, tenda Dome yang tidak lebih luas dari tenda milik perempuan. Hujan telah turun sejak sore tadi, dan Bika memutuskan agar teman-temannya terus berada dalam tenda.
Afra dan ke tiga teman perempuannya, meringkuk kedinginan dalam satu selimut tebal, milik Farsya. Afra tahu betul, farsya memiliki keantisipasian yang sangat tinggi, jadi apapun yang dianggapnya penting akan di bawa seperti selimut lebar bergambar Hello kitty ini.
"Aku kangen rumah, kangen ibu, ayah dan ... Kelinciku." Debi kembali membuka bungkus roti yang ke dua dan melahapnya sambil membayangkan yang di rinduinya.
"Kita berdoa saja semoga hujannya berhenti dan besok kita bisa pulang." Afra menyemangati Debi yang wajanya murung. Debi mendekat dan memeluk Afra, mengaminkan ucapan itu dalam hati.
Farsya mencemot coklat di dalam roti milik Debi dan menjilatnya. "Foto dulu, yuk! biar hari ini, terabadikan." Farsya sudah memegang kamera, duduk di tengah, dan memberi intruksi pada ketiga temannya agar merapat padanya.
Cekrek!
Kamera lebih dulu dirampas Mila,
" Nah, kecantikanku bertambah dua kali lipat di kamera" Puas dengan hasil foto dirinya, kamera di kembalikan kepemiliknya. "Nanti kirimin, yah, Syah."
"Okedeh!"
"Tidur, yuk. Besok kita harus kuat fisik dan mental. Melewati hutan setelah hujan seperti ini, lebih banyak butuh tenaga karena jalannya pasti licin." Afra mengeratkan genggaman di selimut, tatatapan matanya lurus ke depan. "Apapun yang terjadi besok, kita harus kembali!"
Yah, benar. Afra sudah berjanji kepada orangtua-nya! Dia harus pulang dengan segala resiko! Tak ingin membuat mereka khawatir atau malah orangtua-nya sampai memberitahu Ziran, jika dia pergi berpetualang di hutan.
Oh, tidak! Itu tidak boleh sampai terjadi!
"Iya, betul, kita harus pulang! Ah, aku benci perasaan tidak enak ini. Kenapa selalu seperti ini! " Debi menekan dadanya kuat, perasaannya gelisah. Seperti sebuah firasat buruk akan terjadi.
"Jangan gitu dong, Deb. Jangan seperti peramal masa depan!" Farsya ikut gelisah jika Debi berkata seolah-olah memang akan terjadi bahaya pada mereka.
"Tetap positif! Kita pasti pulang dengan selamat." Mila memberi semangat ke teman-temannya.
Mereka mengangguk, meski perasaan ragu kental menyelimuti hati Afra. Apa benar mereka dalam bahaya?
***
"Semua sudah siap?"
Udara pagi hari itu, masih berselimut dingin dan kabut. Nyanyian burung semakin menambah kesan khas hutan yang damai. Basahan seluruh hutan membuat tanah yang dipijaki menjadi berlumpur. Rintikan air dari dedaunan mengingatkan tentang hujan deras tadi malam. Tak ada kehangatan, bahkan sang raja panas dunia, malu-malu ingin menerobos tirai kabut dalam hutan lebat itu.
Afra tetap tersenyum menyambut pagi, tetap bersyukur dengan hujan yang usai. Dia menatap Bika yang bertanya tadi.
__ADS_1
"Lapor, kami siap berangkat ketua!" Dengan ceria Afra yang menjawab pertanyaan pemuda itu.
Bika ikut tersenyum melihat tingkah Afra. "Senang sekali ingin pulang. Hayo, ngaku ada apa?" Bika mencoba menebak. "Aha! Pasti gak sabar ketemu Doi, kan? Eh, jangan dong, gimana aku-nya?"
"Dasar! Huu ...." Farsya, Debi, Mila, Reza, dan Joy, ramai-ramai menyoraki.
Afra tertawa melihat wajah kusut Bika. "Senang, karena janji aku pulang hari ini gak diingkar. Taukan Umi dan Abi gimana marahnya kalau sampai telat." Afra ingat, ketika dia dan teman-temannya kena semprot Umi, Abi, karena terlambat satu hari pulang dari penjelajahan goa, tahun lalu. Sampai menyerah meminta izin untuk ikut Arum Jeram sebagai penjelajahan selanjutnya. Untungnya mereka berhasil membujuk dan mendapat Reztu pergi, dengan syarat tidak boleh terlambat pulang.
Teman-temannya bergidik sekaligus terkekeh mengingat kemarahan Umi Afra.
"Yusudah, ayo kita berangkat agar cepat keluar hutan dan sampai ke kota secepatnya." Bika tak ingin lagi telat mengantar putri orang kembali ke rumahnya. "Semua aman, nggak ada yang tertinggal?" Lanjut Bika bertanya.
"Aman!" Teriak anggotanya.
"Aku ingatkan sekali lagi, resiko keluar hutan setelah hujan, akan lebih besar akibatnya. Maka dari itu, hati-hati!" Kalimat itu, telah berkali-kali Afra dan temannya dengar.
"Kami tahu!" Kompak semuanya menjawab.
Sebelumnya, Abika telah meminjam kompas milik Afra untuk menuntun mereka keluar hutan agar tidak tersesat.
Mereka berangkat pukul 7 pagi.
Perjalanan pulang telah memakan waktu hampir satu jam lebih. Abika berjalan paling depan sebagai pemandu jalan, dan Reza sebagai penjaga di belakang. Sesekali Bika berhenti untuk melihat keadaan teman-temannya. Namun, tidak! Semangat perempuan di belangkanya, terlihat paling nyata dari teman laki-lakinya. Menandakan kebahagian yang tidak tersembunyikan, ingin cepat-cepat sampai di rumah.
"Istrahat!" Sepertinya tidak akan ada istrahat jika menunggu keluhan para gadis. Maka, Bika yang berinisiatif sendiri menyuarakan keputusan.
"Iyanih, masih kuat. Nanti istrahatnya di rumah saja!" Debi bersuara setuju dengan Afra.
"Yah, terserah kalian saja. Aku sama Mila ngikut." Farsya menyahut biasa. Mila mengacungkan jempol tanda setuju.
"Seperti biasa, aku sama Reza tergantung keputusan ketua. Afra dan Debi, kalian jangan sok kuat, deh. Kita bukan robot, istrahat dulu!" Terdengar kesinisan dari perkataan lelaki itu. Afra menatap Joy malas.
"Tapi, kita haru ...."
"Nggak! Pokoknya istrahat dulu, dan gak ada bantahan!" Bika lebih dulu memotong ucapan Afra.
Seperti keputusan terakhir ketua. Mereka akan istrahat 15 menit untuk mengembalikan tenaga, makan, minum, rebahan - terserah.
Afra duduk di batu besar dan membuka catatan buku kecilnya. Menulis apapun yang diingkan dan bereksplorasi tanpa batas dengan otak kecilnya. Saat asik menulis, telinganya yang tajam menangkap teriakan yang sangat dikenalinya. Dia ....
"DEBI!"
Tak memperdulikan barang-barangnya, instingnya dengan cepat tahu keberadaan gadis itu. Kakinya berlari cepat, dan pergerakan mata lincahnya menangkap sosok gadis itu tengah bergelantung di tanaman rambat di bawah tebing.
Astagfirullah!
"DEBI! CEPAT RAIH TANGANKU!" Afra tengkurap di tanah berlumpur itu dan mengulurkan tangan kebawah. Dia melihat deraian air mata Debi yang terus mengalir deras. "Debi, jangan menangis. Tidak, tidak, tidak, jangan lihat kebawah. Lihat aku. Lihat mataku, Debi!" Nada suara Afra naik karena khawatir. "Ayo Debi, jangan diam saja. Ulurkan tanganmu!"
__ADS_1
Namun, Debi tak merespon. Malah, tangisannya semakin terdengar menyayat hati seorang, Afraza Humairah.
Oke, jalan satu-satunya adalah tenang, tenang, tenang, dan tetap TENANG! jangan PANIK!
"Debi...,"Afra mencoba manarik arah tatapan Debi untuk menatapnya. Dan berhasil. "Maaf." Mata Debi membulat perlahan. "Maaf karena gagal jaga kamu. Aku minta maaf."
Debi semakin terisak dalam.
"hiks ... hiks ... egh, Huaa ...." Suara Debi tersendat-sendat karena tangisan kencangnya.
"Tenang Deb, jangan panik. Ayo cepat ulurkan tanganmu, aku akan menarikmu naik ke atas." Afra mengulurkan satu tangannya lebih panjang ke bawah dan satunnya lagi berpegang pada akar pohon besar di sampingnya , mengakibatkan hampir setengah tubuhnya ke bawah tebing bebatuan.
Debi menatap ragu ke tangan Afra yang mengeluarkan darah segar, entah karena apa? Mungkin, karena terbentur di batu karena saking paniknya melihat dia tergelantung di tebing curam ini. "Tangan kamu..."
Ctaaak...
Satu tanaman rambat yang digunakan Debi menahan berat tubuhnya telah terputus dan gadis itu menjerit histeris. Mata Afra membola tak memperdulikan bahaya, dia memberi dorongan tubuhnya ke bawah dan menangkap sebelah tangan Debi.
"Eeeeh .... " Afra manahan berat tubuh Debi sekuatnya. "Bantu aku, Deb. Pijakkan kaki kamu kebebatuan tebing di depanmu dan cobalah berjalan naik ke atas perlahan. Ayo Deb, kamu pasti bisa! Ingatkan saat petualangan kita manjat tebing? Seperti itu Debi, kamu paling senang manjat tebing, kan?"
Debi berhenti berteriak tapi masih sesegukan.
Afra, benar! Pelan tapi pasti, sifat keberanian Debi muncul. Kakinya mencari-cari pijakan pada batu tajam, sebelah tangan mencari pegangan yang pas, lalu berjalan hati-hati di bantu Afra yang menarik satu tangannya ke atas.
Tangan afra kembali bergesekan dengan batu tajam. Bagian lengan sampai punggung tangan kanannya lecet, bajunya sobek dan kulit itu mengelupas mengeluakan tetesan darah yaang membasahi baju Debi di bawah. Afra tak merasakan apapun. Di pikirannya, temannya harus selamat!
"Alhamdulillah." Kedua gadis itu berbaring ke tanah kotor dan meraup udara dengan rakus. Debi berhasil di selamatkan.
Afra bangun untuk duduk.
"Afra ... hiks ...," Debi menubruknya, memeluknya dan menangis sejadi-jadinya. "Terima kasih."
Afra tersenyum tipis. "Ini bukan hanya soal janjiku untuk menjaga. Kita kan teman, teman sepetualang! Tentu aku akan menolong temanku." Afra mengusap kepala debi dengan tangan kiri. Kini dia baru merasakan sakit, tangan kanannya terasa perih dan sepertinya patah." Sudah, yah."
"Maaf, aku terlalu ceroboh." Sesal Debi.
"Lain kali harus lebih hati-hati!" Tersenyum manis, Afra menyudahi pelukan itu. Mereka berniat kembali ke tempat perkumpulan, yakin yang lain tengah sibuk mencari dirinya dan Debi.
"AFRA!!!"
Namun sebelum itu terlaksana, lebih dulu Afra menangkap suara teriakan panggilan namanya dari lelaki bermanik coklat sehangat mentari senja.
Apa? Siapa? Apa dia tidak salah lihat? lelaki itu adalah ....
ZIRAN?
-To Be Continue-
__ADS_1