Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 21 : MOMENT


__ADS_3

Byurr ....


Sepasang kekasih yang duduk di atas pohon kelapa rebah itu, terperanjat kaget akibat guyuran air yang tiba-tiba datang membuat pakaian mereka basah. Mereka tak lain adalah Ziran dan Afra. Mata membulat, sejenak saling tukar pandang dalam kebingungan. Apa-apa'an ini? Dan sadar saat mendengar suara anak-anak panti tergelak puas menikmati hasil perbuatannya.


Tentu saja, ini adalah ulah para bocah nakal itu.


"Haha ..., maaf Kakak." Rizki mewakili teman-temannya meminta maaf dengan cengengesan. "Ayo kak Tinggi, kita main kejar-kejaran!"


"Kak Afra juga ikut, ya. Kejar kami, Kak!" Risa mengajak Kakak kesayangannya dengan mata berbinar, meloncat-loncat di tempat.


Mau tak mau Afra pun melupakan kejahilan semua anak itu telah membuat baju yang di kenakannya bersama Ziran terkena air laut. Dia mengangguk antusias layaknya anak kecil. Sepertinya seru! "Tentu, ayo!"


Berbeda dengan Ziran yang merespon dengan galak dan melototkan mata berpura-pura marah. "Dasar bocah penggangu! Awas ya, kalian!" Sangat kesal mengingat acara berduaannya dengan Afra di usik.


Menyebalkan, mengganggu waktu sayang-sayangnya saja!


Ziran dan Afra beranjak berdiri tegak di atas pasir pantai. "Ayo Istriku, kita balas perbuatan bocah-bocah nakal itu!" Ziran mengenggam tangan Afra dan membawanya berlari mengejar anak-anak penggangu itu.


"Kabur ...! " Namun mereka telah lebih dulu berlari dengan berteriak histeris menjauhi Ziran dan Afra yang terus mengejar.


Riski berbalik arah berlari mundur, memeletkan lidahnya mengejek Afra dan Ziran. "Wleee, ayo kejar!"


"Haha ..., kejar mereka, Suamiku." Afra tertawa lepas di susul Ziran yang juga ikut tertawa melihat Istrinya. Mereka masih sama-sama berlari.


"Siap, Istriku!"


Akhinya, terjadilah kejar-kejaran di bibir pantai di sore hari itu. Terbagi menjadi dua geng. Ziran & Afra (ZiRa) vs Anak-anak Panti (AAP), sedangkan Dinda memilih beristrahat di tenda, tidak ingin ikut campur dan menyaksikan dari kejauhan. Setelah lelah bermain kejar-kejaran berlanjut menjadi perang air. Baju basah kuyup, namun semangat bermain tak surut tuk segera berhenti.


Itu semua bohong tentang aturan Ziran pada anak-anak, tidak ada waktu sebentar. Ziran dan Afra bahkan ikut bermain layaknya sosok orangtua yang bersenang-senang bersama anaknya. Timbul satu kenangan di hati Anak yatim piatu itu,  pertama kalinya merasakan kebahagian  seperti memiliki orang tua. Mengajaknya bermain, tertawa bersama, Seperti inikah rasanya? Bahagia yang tak terkira. Bahkan tawa anak-anak itu beda dari biasanya.


Kini mereka semua tengah duduk dia atas pasir pantai menghadap ombak laut dengan penampakan sinar jingga matahari yang ingin kembali tidur di barat. Anak-anak mencari celah untuk mendapatkan tempat terbaik berdekatan dengan Afra dan Ziran. Pada akhirnya bos selalu menang, Rizki di pangkuan Ziran dan Risa di pangkuan Afra, tak ada yang protes karena yang lain pun mendapatkan tempat bagus di sisi Afra dan Ziran.


"Oh, bangun-bangun!" Rizki bangkit dari pangkuan Ziran, memerintah untuk bangun.


Afra dan Ziran saling bertukar pandang seraya mengangkat bahu. Bingung apa yang akan Rizki lakukan? Saat mereka akan bangkit dari duduk, Rizki malah berteriak lagi. Bertambahlah kebingungan pada pasangan itu.


"Yah, yang suruh kak Afra dan kak Tinggi bangun siapa? Sekarang baring!" Rizki memerintah galak.


Ziran melototkan mata hendak memberi protesan. Pasti akan membuat ulah lagi, tidak ada habis-habisnya otak licik itu menghasilkan kejailan. Perasaan tadi mereka juga sudah berbaikan? Apalagi ini? Batin Ziran menajamkan mata, bersikap waspada, "Jangan bilang mau ngerjain lagi? Awas ya, kamu!"


Rizki berkacak pinggang, "Diam saja Kak! Aku Bos di sini!" Balas melotot galak.


Astagfirullah. Sabar Ziran, sabarkan hatimu! Bibir Ziran menipis menahan tangannnya mencubit pipi anak itu. Gemas rasanya.


"Tenang, Kak Ziran." Afra tertawa geli melihaat ekspresi Suaminya. Dia mengelus-elus lengan itu menenangkan. "Rizki memang anaknya seperti itu, tapi kejailannya tidak pernah kelewatan batas."


Ziran menoleh pada Afra dan merubah wajah menjadi tersenyum, "Bocah ini bisa tak terduga, suka berbuat aneh-aneh. Pasti kita di kerjain lagi."


Risa bangkit dari duduknya di pangkuan Afra memilih duduk di pasir samping Kakak kesayanganya. Matanya menatap malas Adiknya dengan menopang dagu di lutut. Dia sudah malas mengerjai Kedua Kakaknya, kasihan. Menyiram air ke Afra dan Ziran yang tadi itu juga, atas dasar kemauan adiknya yang super jahil, Rizki.


"Kita lihat saja, ayo baring." Afra baring di pasir lebih dulu, melihat Ziran belum bergerak mengikutinya, dia menarik lengan suaminya ikut berbaring terlentang. Pandangan mereka sekarang pada langit, masih biru dengan awannya yang putih.


"Ingatkan aku untuk membalasnya jika memang kejailannya melampaui batas, Sayang."


Afra menutup mulut dengan punggung tangan dan tertawa pelan. "Ini pasti seru."


"Ayo kalian cepat bangun," kedua kalimya Rizki memerintah, tertuju pada teman-temannya. Dia menarik tangan Reno berdiri.


"Ngapain sih, bos?" Tanya Reno membantu teman-teman yang lain berdiri. "Jangan kerjain Kak Afa lagi ya, bos."


"Apasih! Ikutin saja apa kataku!" Rizki mencebikkan bibir, kesal. Kali ini perhatiannya pada Kakak perempuannya yang lahir beda 7 menit itu. "Risa, bangun gak, minggir situ!" Menarik-narik tangan Risa agar menyingkir dari samping Afra.


"Jangan kerjain lagi lah, kasihan Kakaknya!" Risa sekarang sudah berdiri menatap adiknya memohon.


"Bukan di kerjain. Makanya ikutin saja apa yang ku katakan biar cepat selesai." Rizki menggaruk kepala, frusrasi. Sedikit jengan melihat semua orang seperti menghakiminya akan berbuat yang tidak-tidak lagi. "Kita buat kenangan!"

__ADS_1


Semua mengernyit keheranan baik Afra maupun Ziran sedikit bangun dari baringan menatap bocah itu. Maksudnya?


"Aaa, sudahlah. Minggir semua! Reno, cepat cari kayu!" Kali ini Rizki serius. Reno yang masih belum paham, tak bergerak melaksanakan perintah Bosnya. "Tidak bisa di andakkan sekali!"


Rizki pun pergi mencari sepotong kayu dan kembali lagi ke tempat semula. Semua orang masih sama, memandang Rizki aneh dengan tingkahnya.


"Dari pada kalian berdiri kayak patung hidup di situ, bantu aku cepat!" Buku kuduk Reno berdiri lari terbirit menghadap bosnya.


"Siap menerima perintah, Bos." Reno hormat di depan Rizki.


Rizki memotong kayunya menjadi dua patahan, sebelahnya di berikan pada Reno. "ini gunakan untuk gambar sepotong hati di sebelah kak Afra, aku gambar yang sepotongnya lagi di samping Kak Tinggi. Kita buat bentuk hati yang melingkari kedua Kakak itu. Paham tidak?"


Reno angguk-angguk kecil. "Ide bagus Bos, oh kayak yang film sweet-sweet gitu ya?"


"Terserah! Sudah sana cepat!" Mendorong bahu Reno.


Keduanya pun mulai menggambar sepeotong hati yang di sambungkan menjadi satu. Teman-teman yang lain yang melihat itu, mulai paham jika yang Rizki lakukan kali ini bukanlah kejahilan. Mereka pun ikut membantu setelah di beri arahan oleh Rizki menggambar love-love kecil di luar dan di dalam gambar hati besar itu. Mata mereka berbinar senang melihat hasil karyanya.


"Wah, cantik-cantik. Kak Afa dan Kak Tinggi kayak pacaran gitu, ya. Bagusnya kalau ada bunga nih, kita taburin di dalam love itu, romantis." Risa bertepuk tangan riang.


Rizki yang melihat semua teman dan saudaranya terpesona, mendengus sombong membagakan diri dalam hati. Siapa dulu, dong. Aku gitu, lo.


Afra menoleh pada Ziran,"Masih anggap kalau kita sedang di jailin Rizki, Suamiku?" Tanya Afra mengerkingkan mata lucu.


"Mungkin belum, Istriku. Kita harus tetap waspada, bocah ini penuh siasat!"


Tak bisa di bendung lagi, Afra pun tertawa lepas. Ziran begitu lucu di matanya, dia seperti seorang detektif yang mencurigai Rizki adalah pelaku kejahatan.


Terakhir, Rizki beralih ke atas kepala Ziran dan Afra. "Nama Kak Tinggi siapa?"


Ziran mendogak ke atas melihat Rizki tebalik, "Mau apa?"


"Banyak tanya, cepatlah!" Mata Rizki me-laser Ziran.


Ampun aku! Seumur hidup, aku belum pernah bertemu dengan bocah segalak, selicik, sesombong, dan sok memerintah ini. Tenang Ziran, ini ujian. Ziran beristigfar dalam hati.


"Penjang amat! Pendeknya apa?" Suara Rizki tak pernah lembut.


Ziran bersabar lagi, "Ziran!" Sedikit menaikkan suara karena kesalnya sudah di ubun-ubun.


"Oke!"


Rizki menulis nama Ziran dan Afra dalam gambar hati itu, sangat serius. Senja hampir tiba, suasana alam sangat damai menanti malam berteman kegelapan. Randa selesainya tujuan Rizki terdengar dari decakan kagumnya.


"Selesai. Gimana menurut kalian?" Tanya Rizki pada teman-temannya.


"Bravo!" Reno salam tinju bersama Rizki. "Mantap, Bos!"


"Cantik! Nanti kalau aku punya cowok, mau buat seperti ini juga." Risa membuat wajahnya imut.


"Gak boleh pacaran tahu!" Rizki menoyor pelan dahi Risa dan mendapatkan picingan mata sang kakak.


Rizki gak peduli," Kak Ziran, pinjam Cekrek dong!"


Ha? Semua menganga. Apa lagi maksud ucapanmu Rizki?


"Ituloh yang buat Foto!" Tegas Rizki membuat semuanya angguk kepala sambil tertawa.


Handpone!


Ponsel itu Ziran berikan tanpa banyak komentar, "Ini namanya, Ponsel atau Hp, jangan bilang cekrek atau benda untuk Foto, ya, nanti di tertawain." Hanya sedikit menjelaskan.


"Hm," Rizki tak berselera menjawab.


Afra tertawa cekikan melihat Ziran menahan kekesalan.

__ADS_1


Bocah sombong.


"Yah, gak keliatan tulisannya kalau foto gini, aku terlalu pendek." Rizki bernapas lelah saat mengarahkan kamera ponsel pada objek. "Oh, Reno sini!"


Reno mendekat, menunggu perintah.


"panggilkan kak Dinda!"


Tak menunggu lama setelah Reno ergi dia datang dengan membawa Dinda ikut serta bersamanya.


"Ada apa?" Sejenak Dinda memandang keadaan Afra dan Ziran yang terlihat seperti pajangan. "Korang nih, kenapa?"


"Mau foto preweeding, Din. Bantu foto, ya." Ucapan Ziran mendapat gelak tawa dari Afra dan Dinda. Ada ada saja.


"Oke."


Anak-anak panti sedikit menjauh dan duduk saling berdempetan menyaksikan Dinda yang beberapa kali telah mengambil Foto Ziran dan Afra. Layaknya seorang fotografer, Dinda menyuruh ini dan itu, berganti dengan beberapa gaya baring, duduk, atau berdiri.


Ziran akhirnya sadar jika Rizki si bocah angkuh itu berniat baik, membuat beberapa moment dirinya dan Afra. Sungguh, dia mengira akan di jahili tadi.


"Hei, ayo kemari!" Ziran sedikit berteriak memanggil semua anak-anak panti mendekat. Yang lain langsung bergerak ke Ziran, tapi Rizki malam berdiam di tempat dan alisnya terangkat sebelah. "Rizki cepat, kemari!" Memanggil kedua kali.


Masih diam.


"Rizki, kemari sayang." Namun langsung bergerak setelah Afra memanggil dengan nada lembut. Afra menoleh pada Suaminya, "sifat Rizki yang sedikit nakal itu, harus di lembuti. Bukankah jika kutub magnet selatan dan selatan di dekatkan kedua sisinya tidak akan mendekat dan saling tarik menarik? Harus selatan dan utara barulah cocok. Iya, kan?"


Ziran tertawa malu mendengar nasihat Istrinya, "aku paham sekarang. Terima kasih, Istriku." Tangannya mengusap kepala Afra.


Sekarang Rizki telah ada di depan orang yang memanggilnya, wajahnya datar.


Ziran meraiknya dan memeluk pundak bocah itu "Kita akan berfoto bersama, terima kasih bocah. Kamu anak baik." Ziran mengacak rambut Rizki.


Semua anak panti berdiri di depan afra dan Ziran. Mereka akan berfoto bersama, layaknya sebuah keluarga bahagia. Anak-anak yang lain terlihat bahagia ingin di foto, namun tidak dengan Rizki, wajahnya cemberut.


"Rizki, Kakak akui kamu memang nakal dan banyak tingkah. Tapi kakak bangga, kamu paling dewasa di antara yang lain. Mulai sekarang, anggap Kakak adalah Ayah kamu dan Afra adalah Ibu kamu. Kita semua satu keluarga." Afra tersenyum mendengar ucapan Ziran.


Anak yatim piatu sangat butuh kasih sayang dan keluarga. Betapa menyedihkannya anak sekecil mereka tak punya orang tua? Tak mendapatkan kasih sayang?


Pelan-pelan mata Rizki dan anak panti lainnya berkabut, mereka mendogak menatap dua sosok di atasnya," Benarkah? Boleh kami panggil kalian Ayah dan Ibu?"


Rizki telah lebih dulu memangis, dia memeluk Ziran erat.


Ziran beralih menggendong bocah itu, "Tentu saja. Mulai sekarang panggil aku Ayah." Ziran tersenyum manis sampai Afra pun terpana melihatnya, terharu.


"Ayah!" Rizki langsung memeluk leher Ziran sambil menangis kencang.


Semua juga ikut menangis tapi tidak sehisteris Rizki. Yang lain memeluk Afra, menangis bahagia. Kini mereka punya orang tua.


"Anak pintar. Ayo semua foto dulu, kita buat moment ini di abadikan." Ziran melihat Rizki lebih tenang dan melepas pelukan. Dia menutunkan anak itu lagi ke bawah. "Ayo semua hadap kamera." Tangan Ziran di sampirkan di pundak Istrinya.


Dinda tak mampu berkata, dia turut bahagia menyaksikan moment ini. "Siap ya?" Dinda bersiap memfoto.


"SIAP!" Semua menyahut.


Tersenyum sebentar pada Ziran, Afra menghadap ke depan dan memberi aba-aba menghitung mundur angka lima sebelum berkata,


"Ayo kita katakan, kimci."


"KIMCI."


CEKREK!


Terlihatlah hasil jepretan yang menampilkan objeknya tersenyum sangat lebar.


Alam pun memotret moment keluarga bahagia itu, diiringi deru ombak, nyiur angin pantai, dan bukan langit biru lagi yang menemani, melainkan senja menyambut dengan sinar jingganya di ujung barat.

__ADS_1


-TO BE CONTINUE-


__ADS_2