Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 51 : KOMA


__ADS_3

Berbagai tatapan berbeda menyambut Farsya keluar dari ruang perawatan Afra. Suasana yang tidak begitu menyenangkan bagi gadis tersebut. Kepalanya menunduk menghindari tusukan tajam dari banyak orang padanya. Mungkin mereka telah mengetahui kejahatan yang telah Farsya perbuat pada Afra.


Itulah pikiran Farsya saat ini.


Dengan cepat gadis itu menghentikan langkah, takut untuk bergabung dengan keluarga Afra. Bahkan untuk berdiri bersama teman-temannya dia tidak berani. Rasa ketakukan membentengi dirinya agar menjauh dari mereka semua. Dia tepat berdiri di samping pintu rawat.


Zanira dan Bika sama-sama mengunci mulut atas perbuatan tercela Farsya pada Afra. Menyimpan rahasia tersebut rapat-rapat agar suasana tidak bertambah panas. Belum waktunya. Ada saatnya si rubah bermuka dua tersebut mendapat balasan!


Orang yang paling menantikan hal tersebut adalah Zanira. Apalagi saat Ziran tahu, hm, gadis itu pasti akan tamat.


"Huff ... " helaan napas berat keluar dari bibir pucatnya. Kepalanya terasa berat dan kilasan perbuatan kejinya seperti rekaman yang terus di putar di otaknya. Farsya mengusap lengan kanannya yang masih terasa nyeri, akibat tusukan jarum setelah melakukan transfusi darah. Yah, Farsya telah mendonorkan darahnya pada Afra. Satu-satunya cara untuk menebus kesalahannya.


"Pasien atas nama Afraza Humairan di nyatakan telah melewati masa kritisnya,"


Farsya mendogak menatap seorang dokter wanita yang telah berdiri di sampingnya. Farsya tidak menyadari keberadaan dokter tersebut yang tiba-tiba datang.


semua atensi tertuju pada si Dokter.


"Alhamdulillah .... " Berbagai syukur terucap di bibir masing-masing. Farsya ikut tersenyum dengan mata perih mendengar kabar bahagia tersebut.

__ADS_1


Kecuali kedua orang tua Afra, mereka tak ada di sana. Umi Afra masih belum sadar, mengharuskan sang suami harus menunggu istrinya siuman terlebih dahulu. Abi Daud hanya menitip pesan pada Ziran menjaga putrinya dan menginformasikan kondisi Afra.


"Tapi ... " Sayangnya kata 'tapi' dari sang dokter menyurutkan buncahan bahagia semua orang.


"Tapi apa, Dok!" Ziran paling tak suka dengan perkataan gantung tak bisa bersabar untuk tidak membentak. Dia maju lebih dekat pada sang dokter.


"Kami telah melakukan yaang terbaik, Pak Ziran. Namun, setelah kami melakukan pemeriksaan lebih lanjut rupanya cedara berat pada kepala pasien mengakibatkan pembengkakan juga pendarahan pada otak, sebab itu pasien kini mengalami tidur panjang yang tak berwaktu. Pasien Koma." Semua diam membeku. Getaran mata mengundang air mata yang akan jatuh membasahi wajah.


"Koma?" Tanya Ziran tidak percaya.


"Benar Pak, pasien koma!" Ulang si dokter sangat jelas.


Namun sepertinya Ziran tidak menerima kenyataan tersebut, malah menendang kursi tunggu dan mengacak rambut hitamnya. Zanira paham apa yang di rasakan adiknya saat ini, dia pasti sangat marah pada dirinya sendiri. Zanira juga yakin, Ziran belum mengetahui penyebab kecelakaan Afra, yang ternyata di sebabkan oleh dia sendiri.


Namun sebelum Ziran masuk ke dalam, si dokter kembali berkata, "Pak Ziran, istri bapak adalah wanita yang kuat. Sewaktu jantungnya melemah tadi, saya pikir dia tidak akan bertahan. Namun, atas kuasa Tuhan dan perjuanganya dia berhasil melewati masa kritisnya. Anda sekarang harus bersabar menanti istri Bapak sadar dari koma, itu juga ujian dalam berumah tangga." Tak ada sahutan dari lawan bicaranya membuat si dokter salah tingkah.


"Ah, maaf. Saya terlalu banyak bicara, ya?Silahkan temui istri Anda." Akhirnya langkah dokter yang menjauh pergi memutuskan segalanya.


Ceklek...

__ADS_1


Seiring dengan itu, pintu ruang rawat Afra pun tertutup dari dalam.


"Ini sudah malam, kalian semua boleh kembali ke rumah. Kalian lihat, kan? Sepertinya Adikku tak akan memberikan izin siapapun untuk menjenguk istrinya." Zanira mengambil perhatian semua yang ada di sana.


"Iya, Mbak. Kalau begitu, saya dan anak-anak nih nak pulang dulu. Besok akan saya usahakan datang jenguk Afra. Permisi semua." Dinda berpamitan pada semua. Setelahnya, diapun pergi bersama tiga anak panti yang terus merengek ingin tetap berada di tumah sakit menunggu Afra sadar.


"Kami juga ingin pamit pulang, Kak. Kalau ada perubahan pada kondisi Afra, boleh Kakak beritahu kami?" Reza memutuskan untuk berbicara setelah melihat teman-temannya hanya diam saja.


"Akan saya kabari. Sebelumnya, terima atas kunjungan kalian semua." Senyum kecil Zanira terbit. Lama dia menatap Bika yang masih berwajah datar sampai pemuda itu membalas senyumnya. "Terima kasih." Ulangnya teruntuk khusus untuk Bika.


"Sama-sama, Kak. Ayo!" Reza mulai berjalan di susul Joy, namun kembali berhenti. Mila, Debi dan Bika malah belum bergerak terus menatap Farsya yang diam bak patung di tempat semua.


"Far, ayo pulang sama-sama!" Ajak Debi mengulurkan tangan.


Melirik pun Farsya enggan. Dia terus menatap lantai rumah sakit.


"Ehem, Rez. Kamu bisa pulang bawa teman-teman yang lain. Biar Farsya pulang sama aku saja." Putus Bika cepat. Semua temannya menyetujui dan segera pulang kala Reza memanggil.


Setelah semua pergi, Bika berjalan menuju Farsya dan menarik tangan gadis itu. Bulu kuduk Farsya meremang sewaktu melewati Zanira, tatapan tak bersahabat dan penuh amarah masih terpancar di mata kakak Ipar Afra itu. Farsya sangat takut.

__ADS_1


Dengan rasa kecewa, Bika membawa Farsya pergi dengan mobilnya. Ada banyak hal yang akan dia tanyakan pada gadis itu. Tentang ini dan itu yang membuat dia tidak habis pikir dengan perbuatan Farsya pada temannya.


-To Be Continue-


__ADS_2