
Setelah bertanya pada resepsionis rumah sakit, akhirnya Alki tau ruang rawat tempat dimana gadis yang di carinya itu berada. Ruangan ICU No.123 menjadi tujuannya saat ini. Dia pun segera menelusuri rumah sakit tersebut untuk menemukan kamar rawat itu.
Kini Alki telah sampai di tempat tujuannya. Meremas tangannya sendiri kala ruangan yang di carinya telah tertangkap jelas oleh matanya. Sesuatu yang dia bawa dalam genggamannya ikut remuk kala itu. Alki pun segera sadar dan menormalkan reaksinya yang tiba-tiba datang.
Dengan perasaan campur aduk, dia mendekatkan wajah ke arah pintu kayu yang memiliki kaca bulat bening seluas kepala itu. Seketika itu pula jantungnya terasa berdenyut nyeri saat pandangannya tepat pada dua sosok yang berada dalam ruangan.
Di sana, dia melihat Ziran tengah duduk di samping istrinya dan membacakan Al-Quran sambil sebelah tangannya terus mengelus ubun-ubun Afra.
Alki mundur selangkah sembari menekan kuat dadanya. Menggeleng lemah kemudian dia berkata, "Dia memang bukan untukku, sejauh apapun aku berusaha Afra memang bukan takdirku. Aku tak sebaik Ziran, aku pun tak bisa seperti Ziran. Cinta Ziran bahkan lebih besar untuk Afra dibandingkan aku." Bibirnya merapat dengan sorot penyesalan di bola matanya.
"Ya, ini sudah benar. Aku datang hanya untuk pamit dan menghilang dari dunia mereka. Biarkan detik ini yang menjadi saksi jika aku telah menyerah!"
Dengan tegar Alki membuka pintu ruangan ICU. Menguatkan diri untuk mengakhiri segalanya. Karena cinta dua lelaki itu telah mendapat pemenangnya. Saatnya yang kalah mulai belajar ikhlas melepas.
Ceklek....
Pandangan Ziran kontan terangkat tertuju pada sosok yang baru membuka pintu. Tak lama keningnya mengerut menimbulkan kerutan halus di dahinya. Ziran mengakhiri bacaan dan menyimpan Al-Quran tersebut di samping tubuh Afra.
"Mau apa kau ke sini?" Tak perlu basa-basi Ziran langsubg bertanya dengan nada tak suka. Gejolak permusahannya sangat kentara pada rivalnya tersebut. "Pergilah, saat inu aku tak ingin membuat keributan!" Imbuhnya mengusir.
Namun, Alki tidak memperdulikan segala perkataan Ziran. Dia malah berjalan ke arah nakas dan berniat mengganti bunga mawar pink Ziran dalam vas dengan bunga Lily ungu yang di bawanya.
Ziran mengepalkan tangan ketika tangan Alki telah menyentuh bunganya, "Sentuh saja, maka akan ku patahkan tanganmu!" Geramnya memicingkan mata.
__ADS_1
Tangan Alki berhenti dengan jarak sesenti dari bunga. Memutar mata sembari mengehela lelah, di pikirannya ancaman Ziran terlalu berlebihan.
"Oke, oke, aku gak akan sentuh! Ini bunga untuk Afra." Tangan Alki mengulurkan bunga ke arah Ziran.
Hidung Ziran kembang kempis dan menatap mencemooh pada bunga lily milik Alki.
"Cih, bunga rusak dan tidak enak di pandang itu kau ingin berikan pada Istriku? Apa matamu masih berfungsi dengan baik?" Sinis Ziran di balas dengusan oleh Alki.
Ya, memang benar, sih. Bunga itu sedikit rusak dan beberapa kelopaknya hilang, jelas saja Ziran menghinanya. Itu karena tadi Alki meremuknya secara tak sengaja.
"Kau suka sekali menghinaku sekarang? Oh, iya kita kan rival, wajar saja. Baiklah, baiklah, bunga ini untuk tempat sampah saja!" Ucap Alki melemparkan bunga yang di bawanya ke tempat sampah tepat di sampingnya. Dan karena itu Alki mendapat tawaan sinis Ziran.
"Mau apa kau ke sini?" Pertanyaan Ziran terulang dua kali. Dia menatap Alki serius.
"Menjenguknya," Jawab Alki menatap wajah Afra yang tak seluruhnya terlihat sempurna. Alat bantu pernapasan terpasang di hidung gadis itu dan berbagai alat penopang kehidupan lainnya menempel di tubuh gadis itu. Alki masih tak percaya gadis itu kini koma.
Alki beralih menatap malas Ziran.
"Aku ke sini secara baik-baik, aku tidak ingin mencari masalah. Jadi stop mengusir!" telunjuk Alki terarah pada Ziran sebab dirinya sudah sangat jengah terhadap aura permusuhan mantan sahabatnya itu pada dirinya. "Aku juga tidak akan lama!" lanjutnya tegas.
Ziran mencoba bersabar, "Oke, aku beri waktu 10 menit dan setelah itu kau harus pergi!" Ziran akhirnya memberi waktu.
"Terima kasih atas kemurahan hati anda, Tuan Ziran." Ejek Alki membuat Ziran ingin bangkit dari duduk dan mengajar wajah sok tampan itu. Coba saja ini bukan rumah sakit, sudah di pastikan apa yang terjadi bukan?
__ADS_1
3 menit berlalu cepat dan dua sosok lelaki itu saling berdiam diri dan sibuk sendiri. Alki sibuk menatap wajah Afra dan Ziran yang sibuk manatap wajaah Alki.
"Tolong jaga matamu! Istriku bukan untuk di lihat dan di nikmati oleh laki-laki lain!" Dan sifat kepemilikan Ziran keluar. Posesive dan protektif, itulah Ziran. Dia tak ingin apa yang di milikinya di miliki orang lain.
"Kau sudah melihatnya, kan? Sekarang apa lagi? Kau ingin apa?" Ziran telah berdiri dan melangkah mendekati Alki. Saat sampai di dekat lelaki itu, Ziran mendorong mundur bahu Alki dan dia berdiri di depan laki-laki itu. Menghalagi pandangan Alki yang masih menatap Afra.
"Sifatmu itu tak pernah berubah, ya! Oke, oke aku di sini saja. Aku tidak akan melihatnya lagi!" Alki menempelkan punggung di dinding di samping nakas. Memangku tangan di dada dengan tatapan lurus ke depan. Ziran tetap menatap Alki tajam.
"Sebenarnya aku ke sini untuk mengembalikan sesuatu dan pamit." Jujur Alki kemudian setelah di rasa Ziran benar-benar ingin mengusirnya dari ruang rawat istrinya.
Ekspresi Ziran berganti bingung dan penasaran. Mengembalikan sesuatu dan pamit? Alis Ziran terangkat sebelah menunggu lanjutan ucapan Alki.
"Cepat saja!" Perintahnya.
Alki membuang pandangan, tapi tangannya merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana.
"Ini milikmu yang pernah kuambil, ku kembalikan." Sebuah topeng serigala terulur pada Ziran. itu topeng yang pernah di ambil Alki saat akan menemui Afra, mengakui jika dirinya adalah pemilik topeng tersebut.
Ziran tersenyum sinis, "Terima kasih!" Jawabnya dengan tawa ejekan dan mengambil topeng itu.
"Ya, sama-sama. Aku juga ingin pamit pergi dari kehidupan kalian. Dah, titip salamku sama istrimu, semoga kalian cepat mendapat momongan!"
Ziran mengikuti arah langkah kaki Alki yang akan keluar pintu ruangan. itu ... benar Alki kan?
__ADS_1
"Hah? Hoi, jelaskan apa maksudmu!"
-To Be Continue-