Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 29 : PELAKU


__ADS_3

Di dalam sebuah kamar yang cukup luas bergaya modern dengan interior ruangan pada dinding yang di dominasi Coklat, Cream, dan Putih pada langit kamar.


Furniture desain dalam kamar tersebut, terdapat satu set lengkap tempat tidur bermotif garis hitam polos di dasari warna Cream, di sampingnya ada meja kecil dengan dua laci, serta sebuah lemari di ujung ruangan, dan satu sofa panjang yang berwarna senada di depan tempat tidur.


Namun, menariknya ruangan kamar itu terlihat sangat unik dengan logo Superman di dinding atas tempat tidur dan rak buku berbentuk (S) yang telah tertata rapi beberapa buku di sana, tepat di atas sofa panjang.


Ada sosok lelaki yang sejak tadi berada dalam kamar itu, bersandar di pintu dengan pandangan muak. Kembali dia memutar mata, membuang pandangan ke samping, dan bernapas kasar ketika matanya tak sengaja lagi melihat logo superman, kekanakan!


"Umurnya berapa, sih? kamar sejak bocah sampai sekarang masih saja sama, menggelikan! " Komentarnya setiap masuk ke kamar itu, selalu mencela.


Sekarang dia bermondar-mandir di depan pintu dengan wajah menegang, sepintas bayangan wajahnya yang tampan akan bonyok sebentar lagi begitu menakutkan.


Pandangannya beralih pada Arloji di lengan kirinya yang menunjukkan jam 12.45 menit lewat 32 detik, jantungnya semakin berdetak keras ketika dering ponselnya berbunyi. Satu pesan singkat yang baru di bacanya, seketika membuat bibirnya menipis.


Ya Tuhan, sekarang aku akan gila! Teriak batinnya.


"Oh, Ayolah Bung! Semua ini demi adikmu, Jadilah Kakak yang baik - setidaknya untuk kali ini bantu dia mendapatkan keinginanya!" Raut gelisahnya tadi menghilang ketika dia berkata begitu.


Ya Demi Adik! jasnya sedikit dirapikan karena orang yang sejak tadi di tunggu akan segera datang.


Ceklek ....


Lelaki itu menoleh mendapati pintu telah terbuka dan orang yang di tunggunya akhirnya datang. Dia melihat seorang wanita ada dalam gendongan lelaki itu, tengah terpejam bermain bersama mimpi.


Lelaki yang menggendong wanita itu berbalik menatap beberapa orang di luar pintu. Wajahnya terkesan datar dengan sorot mata lurus, "Kalian semua boleh pergi." Dia tak lain adalah Alki Kihalmid, wanita tertidur dalam gendongannya adalah Afra.


Faktanya, Kiki adalah penculik Afra!

__ADS_1


"Baik, Bos!" Orang-orang suruhan Kiki menunduk kemudian berlalu pergi.


"Kamu benar-benar ...!" Lelaki itu memandang Kiki dengan geram, kedua tangannya terkepal gemas di depan wajah, "Cari mati, ya! Beneran nyulik Istri orang, gak pamit lagi! Aduh, aku gak bisa membayangkan murkanya Ziran setelah ini .... "


Sebelah alis Kiki terangkat sejenak, kemudian berjalan ke arah tempat tidur menghiraukan Kakaknya yang sedang mengamuk melihat kenekatannya.


Kiki menidurkan Afra di atas tempat tidur dengan perlahan.


"Hei, jangan sok cuek sama Kakakmu ini! Kamu tau kan dampak dari semua ini? Setelah Ziran tahu jika kamu yang menculik Istrinya, Mati kamu, Matiiii .... "


Kiki memutar mata dan mendelik ke arah Kakaknya yang terus mengoceh seperti Wanita. Kiki beralih berdiri berhadapan dengan sang Kakak.


"Terus kenapa mau membantuku? Menyibukkan Ziran di kantor bahkan sampai menghack keamanan data-data perusahaannya hingga dia kelimpungan, kenapa?" Kiki bermata elang dan alisnya saling bertautan, tak lama wajahnya kembali menjadi datar,


"Kakak hanya mau memperbaiki hubungan kita, kan? Ah, sudahlah persaudaraan juga hanya sebuah status, tidak perlu terlalu serius." Kiki membelakangi Kakaknya, memilih memandang wajah Afra.


"Kamu jangan salah menganggap saudara itu hanya sebuah status, Alki. Kamu tau, saudara lebih dari itu. Kita bahkan tumbuh di satu rahim, apa masih di katakan Status?" Cerca lelaki itu pada adiknya, tak lama dia kembali melanjutkan,


Kiki menoleh singkat pada Kakak kandungnya, "Semua sudah terlambat, kini dia sudah menjadi milik sahabatku sendiri. Apa yang bisa ku perbuat, lukisan masa depanku telah hancur!" Tangannya terkepal meninju angin di depan.


Lelaki di belakang mengambil napas pendek berjalan mendekati sang adik dan menyentuh pundaknya. Kiki menoleh memandang Kakaknya, "Jika aku punya kekuatan super mengembalikan waktu, aku akan membantumu kembali ke masa itu demi sebuah permintaan maaf yang di terima. Namun, apadaya aku hanyalah manusia biasa, maaf, sekali lagi maaf."


Kiki menelan pahit salivanya melihat sorot penyesalan terdalam Kakaknya, sekarang dia memutar badan menghadap pada sang Kakak.


"Aku tidak mau terjadi dramatisasi. Niatku ke sini hanya untuk menjelaskan semuanya pada Afra, selebihnya tidak perlu di perpanjang lagi." Kiki menjeda sejenak, wajahnya tidak sedatar tadi ada kesan kesal di tujukan pada Kakaknya, "Kapan reaksi obat bius ini berakhir?" Tanyanya menggonyangkan dua alis meminta jawaban.


Lelaki itu cukup senang mendapati respon adiknya seperti saat ini. ini lebih baik jika tak mengingkit masa lalu, mungkin aku tak perlu mengingatkannya lagi.

__ADS_1


"Dua jam, ini akan sedikit lama, jadi sisa waktu itu kamu akan gunakan apa?" Lelaki itu tersenyum tulus pada adiknya. "Bagaimana kalau kita ...."


"Melukis," ucapan lelaki itu terpotong saat adiknya langsung menjawab singkat dan jelas menciptakan kebingungan pada lelaki itu. Padahal dia memikirkan cara memulai sesuatu yang menyenangkan dengan adiknya, tapi bukan melukis!


Oh, ayolah. Aku sama sekali tidak berbakat dengan melukis!


"Aku tidak memintamu melukis, silahkan keluar." Kiki seakan tau dari perubahan raut wajah Kakaknya. Lelaki itu sangat tidak menyukai kegiatan membosankan yang satu itu, tapi beda lagi jika itu adalah hobi semua akan terasa menyenangkan.


"Baiklah, mari kita melukis!" Demi apapun lelaki itu terpaksa, tapi jika menolak itu sama saja memperburuk persiteruan dengan saudaranya, kini dia harus pandai-pandai mencuri hati Adiknya.


"Ayo, ayo, kita mulai. Aku sudah tak sabar." Meski semua adalah kebohongan yang dia ucap, lelaki itu harus melupakan egonya yang sangat membenci melukis.


"Hahaha ..., Aku sedang tidak ingin melukis saat ini. Jangan memaksakan diri, berhentilah sandiwara berpura-pura baik padaku."


Tawa kiki terdengar mengejek sang Kakak, kini dia beralih duduk di tepi ranjang memandang Afra dan menghiraukan Kakaknya yang menahan kekesalan.


Untung aku orang sabar. Lelaki itu mengelus dada memperhatikan Kiki yang diam memandang Istri Ziran, seketika bayangan kemarahan Ziran muncul di benaknya. Resiko kali ini cukup besar, aku tahu akhir dari semua ini.


Tring Ting.


Bunyi notifikasi membuat kedua lelaki itu memusatkan mata pada benda pipih di kantong gamis Afra yang berdering. Kiki dengan tenang mengambil ponsel Afra dan membuka pesan yang baru masuk ternyata bukan pesan pertama, deretan pesan lainnya telah tertumpuk tidak terbaca.


Itu dari Ziran! Batin Kakak Kiki melihat nama pengirim pesan yang hampir ratusan itu.


Tak berapa lama bukan pesan lagi yang masuk melainkan telpon yang berbunyi, dan itu juga dari Ziran.


"Hahaha ..., apa kamu tak cukup pintar Ziran? menemukan istrimu saja tak becus! Apa pantas di sebut suami?" Kiki tertawa keras memenuhi kesunyian kamar miliknya.

__ADS_1


sedangkan, sang Kakaknya memandang adiknya dengan gelengan kepala, Adikku sama sekali tidak berpikir dampak dari penculikan ini! Benar-benar tidak tahu resiko menculik istri orang bisa membuat SINGA TERBANGUN!!!


-To Be Countinue-


__ADS_2