
Tiga hari berlalu dan Afra telah di perbolehkan pulang setelah menjalani beberapa tes pemeriksaan oleh dokter. Ziran, Adami, dan kedua orang tua Afra kini berada di parkiran rumah sakit.
Ziran menggendong Afra ala Bridal Style menuju mobil. Awalnya Afra menolak karena malu, namun karena paksaan Ziran lagi-lagi dia mengalah. Umi dan Abi Afra mengajak menantu dan anaknya untuk tinggal di rumah beberapa hari. Ziran menyetujui, tapi dia meminta Izin untuk membawa istrinya ke suatu tempat terlebih dahulu. Dan di sinilah pasangan itu, berada dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang di jalan raya.
"Kita mau kemana ya, Kak?" tanya Afra menatap Ziran.
"Ke suatu tempat yang pasti kamu akan suka," jawab Ziran menoleh sejenak pada sang Istri sambil memberi senyuman manisnya.
Afra pun tak bertanya lagi dan hanya membalas senyum. Sekarang dia memilih menatap jalanan di depannya. Kendaraan ramai di saat hari menjelang sore, karena segala aktivitas pekerjaan terhenti untuk sesaat.
Mendadak ponsel Afra berdering keras memecah keheningan beberapa saat itu. Afra mengambil benda pipi yang sengaja di simpan di atas dashboad mobil.
"Telfon dari siapa? Kenapa tidak diangkat?" tanya Ziran kemudian saat melihat Afra masih diam sambil tersenyum melihat layar ponselnya.
"Ini telfon dari kak Zanira. Aku angkat ya."
Langsung saja panggilan itu Afra angkat tanpa menunggu Ziran menjawabnya lagi.
"Hai Adik Ipar!" sapaan riang Zanira dari balik layar ponsel terdengar di telinga Ziran dan Afra.
"Assalamualaikum, Kakak Ipar!" sapa Afra balik. Zanira pun terkekeh sambil menjawab salam Afra.
Alhasil kedua wanita yang sedang komunikasi telfon itu sibuk sendiri. Dan mengabaikan Ziran sama sekali tidak dianggap. Ziran hanya bisa mendengar pembincangan wanita itu karena ponsel Afra yang di laoudspeker.
Cukup lama kedua wanita itu berbincang dengan banyak topik. Sampai....
"Afra aku mau bilang sesuatu. Jangan di loudspeker ya, kecilin volumenya!" pinta Zanira di sebrang telfon pada Afra.
Ziran melirik sekilas pada Afra yang telah mengecilkan volume ponsel atas permintaan Zanira.
'Mencurigakan. Kenapa tiba-tiba Kak Zani menyuruh Afra mengecilkan volume ponsel? Apa ada sesuatu yang di sembunyikan?' pikir Ziran yang kembali fokus menyetir dengan pikiran yang kacau.
"Apa? Serius, Kak?" Benar sudah dugaan Ziran jika kedua wanita itu tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Lihat saja ekspresi Afra yang tertangkap matanya sekarang. Tubuh Afra menempel di pintu mobil dan menghadap Ziran. Dan Afra juga membekap mulutnya sambil tersenyum kaku melihatnya.
Ziran memilih menghentikan mobil dan berbalik menatap Afra dengan tatapan intimidasi.
"Eh, Kak Zani, nanti aku telfon lagi ya. Ekhm itu, anu Kak .... " gelagat Afra semoga saja di mengerti Zanira. Sekarang Afra dalam masalah besar jika Ziran sampai tau pembahasannya dengan Kakak iparnya barusan.
__ADS_1
Setelah mengucam salam, Afra lebih dulu mengakhiri telfon. Posisinya masih seperti tadi. Dan dia seperti tikus yang tertangkap basah oleh si kucing.
Wajah Ziran semakin maju, membuat punggung Afra telah menempel sempurna di kaca mobil. Dia tak bisa lagi menghindar kala wajah mereka hanya tinggal beberapa senti.
"Apa yang kalian bicarakan tadi? Apa yang kalian sembunyikan? Kenapa wajahmu berubah kaku begitu?" Pertayaan beruntutun Ziran menipiskan oksigen di sekitar Afra.
"Bu-bukan apa-apa, Suamiku." suara Afra terkecat sehingga hanya terdengar bisikan. Bulu matanya naik turun mengikuti kelopak mata yang menutup dan terbuka cepat.
"Kalau bukan apa-apa, coba beritahu aku apa yang kalian bicarakan tadi? Hm?"
"Itu kata Kak Zani, dia menang lomba fasion show di America kak. Aku baru tau jadi aku terkejut. Hehe ...." Afra menjawab sambil menggigit bibir dalamnya.
"Oh ... " Ziran meluruskan punggung dan menjauhkan wajah, "Maaf aku lupa kasih tau kamu soal itu. Padahal Kak Zani titip pesan kemarin."
Dan saat itulah napas Afra keluar lega. Dalam hati Afra meminta maaf karena harus mengarang cerita yang tidak sepuhnya salah juga. Zanira tadi bercerita mengenai Alki yang juga berada di belanda. Kakak Iparnya juga bilang, akan terus mengejar lelaki itu hingga menjadi imamnya. Itulah yang faktanya. Namun, untuk menghindari masalah tak apa bukan dia berbohong? Dan syukurlah Ziran percaya.
"Oke, kita lanjut ya Sayang. Kamu dudk yang benar!"
Perjalan berlanjut ke tempat di mana Ziran akan membawa istrinya.
***
Entah apa yang akan Ziran lakukan pada Afra, namun saat ini lelaki itu menutup mata Istrinya dengan dasi kantor yang di kenakannya. Mobil telah berhenti, tapi pasangan itu belum keluar dari dalam mobil.
"Oke."
Ziran keluar lebih dulu dan berlari mengitari mobil dan membukakan pintu untuk Afra. Dia meraih tangan Istrinya dan menggenggamnya.
"Ayo keluar. Hati-hati ya, awas kepalanya kepentok."
Lalu Ziran membantu Afra berjalan dengan menahan pundak wanita itu agar tetap berjalan lurus sebab matanya di tutup. Mereka menuju tempat yang sudah Ziran siapkan sebelumnya.
Afra merasakan dirinya seperti berjalan di atas rumput jepan dan jalannya mulai menanjak. Afra hanya menduga-duga dalam benaknya saja dan tak ingin bertanya.
Hingga mereka berhenti berjalan. Ziran mendudukkan Afra di sebuah Kursi, namun penutup matanya belum juga di lepas.
"Aku buka penutup matanya, tapi mata kamu harus tetap memejamkan mata." pinta Ziran dan di angguki Afra. Apa hanya Ziran yang merasa jika Afra mulai menjadi wanita penurut?
__ADS_1
penutup matanya di lepas dan seperti perintah tadi, Afra masih memejamkan mata.
"Sekarang bukalah mata kamu perlahan dan lihat sekelilingmu," Kata Ziran masih berdiri di samping istrinya.
Afra pun membuka mata dan cahaya jingga mulai menyeruak masuk ke dalam penglihatannya. Dia masih menyesuaikan cahaya hingga kini dia melihat semuanya.
"Wah ..."
Di depannya terdapat sebuah meja yang di atasnya tertata rapi beberapa macam makanan dan dua minuman jeruk. Lalu dia mengedarkan pandangan dan menemukan dirinya dalam lingkaran yang di penuhi kelopak bunga mawar pink. Sekarang pandangannya berpindah pada mentari jingga di ufuk barat yang sudah turun mulai menyembunyikan sebagian wujudnya. Begitu indah sampai dia tak merasa air matanya telah menggenangi pelupuk matanya.
"Hiks ... ini sangat cantik."
Dia memandangi wajah Ziran yang berdiri di sampingnya. Afra langsung memeluk tubuh itu dengan isakan kecilnya.
"Kenapa menangis? Apa kamu tidak suka?" Ziran berjongkok dengan satu kaki tertekuk, lalu dua tangannya memegang wajah Afra. Dia menghapus bulir Air mata istrinya yang masih terus keluar.
"Tidak, bukan itu. Ini hanya air mata bahagia. Aku sangat menyukai ini." dengan tegas dia menggeleng. Segaris senyum terbuntuk di kedua sisi bibirnya.
"Alhamdulillah. Tapi masih ada satu lagi." Ucap Ziran. Afra mengernyitkan kening seraya menatap Ziran serius.
"Apa?"
"Beritakan tangan kananmu." Afra langsung memberikan tangannya tanpa berkomentar.
Dia memperhatikan Ziran yang merogos saku jasnya lalu mengeluarkan sebuah kotak cincin berbentuk love berwarna biru nafi. Afra tak bisa mencegah air matanya yang kembali luruh ketika Cincin bermanik Rubi itu telah terpasang di jari manisnya.
"Semoga kamu suka. Berjanjilah menjadi sosok wanita yang akan mendampingiku di dunia dan di surga nanti, Afraza Humairah?"
"Insyaallah. Terima kasih untuk semuanya, Suamiku!" pelukan hangat membuktikan kekuatan cinta mereka.
Dan berakhirlah kisah cinta Ziran dan Afra. Cinta yang bermula dari kisah yang bernama masa lalu dan telah terbukti dengan kebahagiaan mereka sekarang.
Sepatutnya cinta itu di miliki setiap insan. Di mana cinta memang anugerah terbesar dari sang pencipta. Namun, ada kalanya cinta itu rusak jika kita taburi penghianatan. Maka berilah kepastian dan kesetiaan agar cinta itu tidak goyak karena ujian.
_HAPPY ENDING_
__ADS_1