
Di dalam kamar, nampak seorang gadis tengah berbaring di atas tempat tidur dengan kepala terbalut kain. Wajahnya memar, bibirnya pucat, dan perban putih yang melilit kepalanya berubah menjadi merah. Kelopak matanya menutup rapat manik indah itu, napasnya berhembus teratur sangat. Gadis yang tak lain adalah Afra itu, telah terlelap dari beberapa menit yang lalu.
Di sudut tempat tidur, seorang gadis lainnya tengah memandang puas ke arah Afra yang telah terbuai mimpi indah. Yah, dia adalah Zanira, Kakak Ipar Afra.
"Tidur yang nyenyak, Baby." Menepuk-nepuk puncuk kepala Afra. Setelahnya Zanira berjalan keluar dari kamar meninggalkan Afra dengan mimpinya.
Zahira memilih duduk di sofa ruang tamu, sesekali matanya terus melirik ke arlojinya tak sabar menanti.
"Jam makan siang Ziran masih 20 menit lagi. Ah, masih lama." Napasnya pun keluar berat karena harus menunggu.
Karena waktu yang di targetnya masih beberapa menit lagi, Zanira pun menyibukkan diri dengan membuka akun Sosmednya mengarungi dunia maya.
Zanira berhenti menggulir layar ponselnya ketika mendapatkan sebuah postingan dari salah satu akun pengikutnya. Zanira fokus pada kata-kata yang ada dalam gambar postingan itu.
Antara karir dan menikah sama-sama penting. Jika berkarir untuk masa muda, maka menikah adalah untuk masa depanmu. Tinggal kamu yang memilih, ingin salah satunya atau malah meninggalkan keduanya. Itu semua pilihanmu.
Wajah Zanira merengus. Dia terlalu sensitif jika membahas soal menikah dan pasangan hidup. Di usianya yang ke-28 tahun, memikirkan seorang Suami jauh dari khayalannya. Dia tidak mau cepat-cepat menikah, karena setelah menikah yakin saja karirnya pasti berakhir. Setiap lamaran yang datang selalu dia tolak, menjalin hubungan sebatas pacar pun tidak pernah. Lebih memprioritaskan Karirnya, lebih penting untuk saat ini.
"Astaga, udah kelewat!" Zanira terkejut melihat jam pada ponselnya ternyata lewat dari targetnya. "Cepat telfon, cepat telfon...," Mulutnya terus komat-kamit diselingi tangan lincanya mencari nomor kontak adiknya.
Dapat!
Zanira mulai sedikit gugup.
"Huff ..., tenang, tenang. Ekhm ..., yang natural Zanira. Kamu harus berguna untuk keluarga orang lain!" Semaksimal mungkin berusaha agar semua berjalan lancar.
Tet.
Bunyi nada sambungan pertama langsung di angkat Ziran. Zanira tertawa kecil dan mengaktifkan speaker agar bisa mendengar jelas suara Ziran di sebrang sana.
"Assalamualaikum, Kak Zani? Wah, kakak udah lama banget lupakan aku, masih ingat juga ternyata. Baru selesai sibuk, ya?" Nadanya bercampur antara senang dan mengejek. Saat itu, Ziran sedang memakan bekal sang istri penuh penghayatan, menikmati rasa cinta dalam lezatnya makanan itu.
"Wa-waalaikumsalam. Kamu sekarang di mana?" Beda dari Ziran. Zanira bersuara panik dan napasnya di buat ngos-ngosan.
"Di kantor kak, masih jam istrahat. Ada apa?" Suara Ziran berubah serius. Bangkit dari kursi kerjanya, berbalik menatap hamparan gedung-gedung tinggi dari balik kaca jendela kantornya. Dia menyudahi acara makan siangnya.
Zanira memunculkan senyum smirk.
"Ziran cepatlah pulang! istrimu! Dia ..., dia .... " Sedikit menjerit agar mendukung perform-nya.
Ziran terbelalak mendengar suara panik kakaknya. Afra kenapa?
"Istriku kenapa? Ada apa dengan Afra, Kak? Tunggu dulu, sebenarnya kakak sekarang ada di mana?" Ziran mulai terpancing emosi dan cemas. Gelagatnya sudah gelisah menunggu jawaban sang Kakak.
"Nggak ada waktu, Ziran. Istrimu lebih butuh kamu. Cepat pulang ke rumah!" Titah Zanira langsung mematikan sambungan telfon sebelum adiknya bertanya lebih panjang.
Sebenarnya ini juga bagian dari rencananya untuk mengetahui seberapa peduli Ziran pada sang istri. Dia masuk kembali ke dalam kamar dan mengamati adik iparnya yang tetap tertidur nyenyak.
"Haha ..., kayaknya aku harus sedikit membelokkan rencana, Adik Ipar. Nggak pa-pa, ya? Jangan kasihan sama suami kamu, dia itu harus sedikit di beri pelajaran." Zanira mencubit pelan pipi Afra dan membuat jari-jarinya terkena noda riasan wajah Afra.
__ADS_1
"Aduh, rusak deh make-up nya. Aku harus perbaiki, jangan sampai Ziran tahu, nih!" Buru-buru Zanira mengambil peralatan Make-Up dan mulai memperbaiki riasan wajah Afra yang di rusak olehnya.
Benar, itu semua hanya make-up.
Pipi memar, bibir pucat, dan perban bernoda merah seperti darah itu ya, karena di beri obat merah. Afra bukan pinsang melainkan benar-benar tertidur nyenyak. Itu juga karena pengaruh obat tidur yang di berikan oleh Zanira, Kepada Afra.
"Aku sudah tidak sabar ingin mengerjai adikku itu. Haha .... " Zanira begitu senang duduk di sisi ranjang dan tertawa geli.
Inilah rencananya!
Perfect. Tidak boleh ada sedikit kesalahan pun. Dan masalah Afra yang tertidur, itu karena dia tidak bisa berakting pinsang dan takut kelepasan hingga rencana mereka bisa gagal. Jadilah seperti ini, Afra di beri obat tidur oleh Zanira dan hanya bertugas tidur cantik hingga reaksi obat itu habis.
Brak
Pintu kamar di dobrak dari luar dan Ziran muncul dengan keadaan super kacau. Penampilannya jauh dari kata baik membuat Zanira menatap sang adik dengan pandangan terpukau.
Sungguh? Inikah adiknya itu? Bisa sampai sekacau ini jika menyangkut istrinya? Wah, aku bangga padamu dek. Zanira tersenyum samar agar tidak di sadari Ziran. Dalam hati dia memuji sang adik yang sangat menghawatirkan Istrinya.
Laki-laki idaman wanita. Jika sudah mencintai seseorang dia bisa melupakan dirinya sendiri.
Ziran membuang asal jas kantornya ke sofa dalam kamar dan melonggarkan dasi yang mencekik lehernya. Wajahnya tegang dan memerah.
"Kak, kenapa Afra bisa seperti ini? Apa yang terjadi padanya?"
Tahap pertama. Akting di mulai.
"Hiks ..., Kakak nggak kuat untuk menjelaskan semuanya. Hiks ..., kakak nggak kuat Ziran." Sambil menarik-narik lelehan hidungnya yang ikut keluar. Akting yang benar-benar menjiwai!
Ziran bersimpuh di samping ranjang sang istri. Saat ingin menyentuh wajah ayu Afra, Zanira tersedar dan segera menarik tangan Adiknya.
"Jangan pegang-pegang! Kamu lihat wajahnya memar, kan? Afra bisa kesakitan!" Alibi! Faktanya kan, agar Ziran tidak menyadari jika memar itu hanya sentuhan dari The Power Of Make-Up!
"Ya sudah, aku akan bawa Afra ke rumah sakit!" Ziran bangkit ingin membawa istrinya kerumah sakit, tapi kembali di cegah Zanira.
"Jangan!" Jalan terakhir Zanira adalah berbohong. "Ta-tadi Kakak sudah panggil Dokter ke sini dan katanya dia hanya butuh istrahat dan akan sadar sebentar lagi. Kamu tunggu saja."
"Kalau begitu tolong jelaskan, Kak! jangan buat aku ingin mati seperti ini. Kenapa dengan istriku?" Ziran menunduk menghalangi wajahnya agar tidak di lihat sang kakak jika air matanya berlomba-lomba ingin jatuh dari pelupuk mata.
Tahap kedua. Menuju epilog.
"Huff ..., baiklah kakak akan jelaskan semuanya." Zanira duduk di bibir ranjang dan memegang sebelah tangan Afra. "Istrimu depresi!"
Wajah sembab Ziran terangkat menatap bingung sang Kakak.
"Sikapmu yang mendiamkannya adalah penyebabnya. Ini salahmu Ziran! Afra sampai seperti ini karena dia lelah dengan sifat kekanakanmu. Saat kamu marah, kamu diam seribu bahasa, Istrimu terus memikirkan cara membujukmu agar tidak lagi marah. Kamu tau, wanita sangat tidak suka didiamkan. Afra sampai tidak tidur nyenyak hanya karena memikirkanmu." Tatapan Zanira berubah tajam. "Kamu jahat! Tidak seharusnya kamu perlakukan istrimu seperti itu. Jika ada masalah, selesaikan baik-baik. Kalian telah menikah seharusnya bisa bersikap dewasa. Bisakan!?"
Ziran meneguk kasar salivanya. Ternyata dialah penyebabnya. Ini salahnya.
"Aku salah, aku minta maaf. Aku mohon maafkan aku, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi, aku tidak akan mendiamkanmu. Aku berjanji! Buka matamu Afra, lihat aku!" Ziran mengoyangkan pelan bahu istrinya agar tersadar. Air matanya tak bisa berkompromi agar tidak keluar. Dia menangis.
__ADS_1
Senyum Zanira makin mengembang sempurna. Rasanya dia ingin loncat-loncat bersama Adik Iparnya untuk merayakan keberhasilan mereka. Doa mereka terkabulkan. Makbul!
"Istriku, aku tidak marah lagi, aku tidak akan mendiamkanmu lagi, Suamimu ini berjanji." Ziran mengecup kening Afra. "Ayo buka matamu, Sayang"
Zanira membuang pandangan melihat adegan itu. Ah, ini lebih romantis dari film drama yang pernah ku nonton! Apa adikku sengaja! Hei, Kakakmu ini belum menikah, jangan romantisan di hadapanku! Batinnya kesal. Zanira berasa jadi obat nyamuk.
Masih dalam posisi tadi, Ziran ikut duduk di bibir ranjang membelakangi Zanira. Tangannya menggengam jemari Afra dan sesekali mengecupnya.
Semua sudah tuntas. Tinggal menanti Afra sadar dari pengaruh obat tidur.
"Hoam .... " Tidak lama, terdengar suara sesorang menguap dalam kamar itu.
Afra sadar.
Ziran berwajah bahagia, bersyukur Afra telah membuka mata indahnya. Dan Zanira menanti tak sabar ingin menggosipi Ziran tentang hasil rencana mereka, pasti akan sangat seru.
Mata Afra mengerjap menyesuaikan cahaya yang masuk. Tangannya terentang lurus, merasa tubuhnya kembali ber-energi setelah tertidur, rasanya bebannya berkurang.
Setelah pandangannya jelas, mata Afra menangkap sosok pertama adalah Suaminya, sedang tersenyum padanya.
"Alhamdullilah, akhirnya kamu sadar. Aku sangat takut kamu akan terus tertidur, Istriku." Ziran langsung meraih Afra ke dalam pelukannya.
1
2
3
Afra harus mengumpulkan kesadaran penuh agar bisa mengerti.
"Kak Ziran sudah bisa ngomong? Wah, rencana kita di kabulkan kak Zani. Kita berhasil!"
Upss!!
Zanira langsung membeku di tempat saat suara kecoplosan Afra membuat jantungnya berdetak tak karuan. Keringat dingin mulai menguncur deras dari pelipisnya.
Afra masih tidak sadar dan terus tertawa bahagia. Saking bahagianya Suaminya bisa bicara. Sekarang dia menempelkan tangan di wajah dan menepuk-nepuk serta mencubit gemas pipinya. Pada akhirnya, Make-Up yang di kenakan Afra tersapu oleh tangannya sendiri.
Detik itu juga semua terbongkar.
Kelewat senang dan ceroboh. Padahal sudah di peringati sebelumnya oleh Zanira untuk tidak melakukaan kesalahan. Namun sepertinya, gadis itu memang tidak bisa berakting dan juga bukan patner yang baik untuk acara Prank.
Menghindari mata Elang yang menyorot kedua mangsanya dengan tajam.
Zanira menutup wajahnya dengan telapak tangan, "Mati kita."
"Bisa kalian jelaskan maksud semua ini?"
-To Be Continue-
__ADS_1