Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 35 : WAKTU ITU (3)


__ADS_3

7 tahun berlalu.


Seorang anak gadis sedang menunggu di bawah pohon mangga. Tepat ketika dia menoleh ke samping kiri matanya melihat orang yang di tunggunya akhirnya datang. Kelopak matanya berkedip beberapa kali kala laki-laki remaja itu datang menghampirinya. Gadis itu makin melebarkan senyum menyambut kedatangan anak laki-laki itu.


"Sudah lama menunggu, ya?" Tanya laki-laki itu sambil tersenyum kikuk.


"Tidak. Kan, janjinya memang jam ini. Cuman aku sengaja datang lebih awal." Anak gadis itu mulai terlihat lebih dewasa dibanding ketika dia masih berumur 5 tahun lalu. Dia adalah Afra, sekarang usianya telah beranjak 11 tahun.


"Oh, iya. Hahaha, aku lupa."


Afra mengernyit mendapati jawaban aneh laki-laki bertopeng serigala itu, tak lupa eskpesi dari balik topeng itu Afra tahu betul ada yang lain. Tapi apa?


"Loh. Kok, kamu jadi pikun begitu?" Tatapan Afra menjadi menyelidik. "Atau ...."


"Aku hanya banyak pikiran. Maaf." Seketika raut wajah lelaki bertopeng serigala itu berubah menjadi serius.


"Huff, syukurlah ... aku kira Kakak kenapa lagi." Pikiran negatif Afra lenyap seketika. Dia tertawa kecil. "Kakak mengajakku kemari untuk apa, Kak S?" Imbuh Afra melupakan kecurigaanya.


Sudah 7 tahun mereka saling mengenal semenjak kejadian kecelakaan yang menyebabkan laki-laki bertopeng serigala itu menjadi korban karena menyelamatkan hidupnya. Namun, tak pernah sekalipun Afra tahu bagaiman bentuk rupa itu secara jelas karena topeng yang menutupi sebagian wajah itu. Namanya pun Afra tidak tahu. Pernah beberapa kali dia bertanya nama, namun laki-laki itu tak pernah ingin memberitahunya. Afra pun memilih memanggil dengan sebutan, Kak S (Serigala).


Ah, jangan lupakan teman laki-laki bertopeng serigala itu, bertopeng kijang. Mereka merupakan sahabat karib yang sangat dekat, ya seperti itulah yang Afra tahu.


"Aku .... "


"Tunggu dulu, dimana kak topeng kijang?" Tanya Afra tiba-tiba menghentikan kalimat yang akan keluar dari mulut lawan biacaranya.


"Ah, itu ... dia ... dia ...."


"Ah, pasti Kak K sedang sibuk melukis, kan? Yah, pasti begitu." Yah, Kak K adalah sebutan untuk Alki yang memakai topeng kijang. Alki pun tak pernah memberitahu nama sebenarnya pada Afra apalagi wajahnya. Topeng kijangnya selalu menemani wajah itu.


"Iya, benar. Dia lagi sibuk."


Afra tersenyum dan kembali mengingat tujuan dia ke taman ini.


"Kakak mengajakku kemari untuk apa?" Tanya Afra.


Wajah dalam topeng itu terlihat meredup. Sesekali terdengar hembusan napasnya yang memberat sebelum tatapannya lurus menatap Afra.

__ADS_1


"Aku akan pergi,"


Deg!


Jantung Afra berdetak keras mendengar penuturan laki-laki bertopeng serigala di depannya. Apa benar? Afra mencoba mengukir senyum meski nyatanya gemuruh dalam dadanya terus mengusiknya.


"K-kakak mau kemana?" tiba-tiba ruangnya bernapas menipis. Matanya menjadi perih.


"Di hari ini juga, aku akan pergi untuk melanjutkan pendidikanku di luar negri. Ayahku yang menginginkan hal itu dan aku tidak bisa menolaknya." Tutur Laki-laki itu tersenyum pedih.


Ternyata pertemuan ini hanya untuk mengatakan kata perpisahan?


"Lama, ya? Apa kakak akan kembali lagi ke sini?" Tanya Afra dengan mata berkaca.


Dalam bola mata laki-laki bertopeng itu tergambar penyesalan yang amat berat.


"Aku pasti kembali, jadi ... " Kalimat itu terjeda membuat Afra penasaran.


"Jadi apa, Kak?" tanya Afra maju selangkah.


"Maukah kamu berjanji satu hal untukku, Afra?"


"Berjanji untuk apa?" Salivanya tertelan kasar menanti balasan laki-laki itu.


"Aku menyukaimu entah sejak kapan, Afra. Jadi, maukah kamu menungguku kembali dan membuat sebuah hubungan seperti orang dewasa lainnya? aku ingin menjadikanmu pendampingku kelak, menjadi teman sehidup semati. Apa kamu bersedia?"


Deg!


Detakan jantung Afra makin menggila. Apa rasa sukanya telah terbalaskan? Sejak umurnya lima tahun, dia telah mengungkapkan rasa sukanya lebih dulu pada laki-laki itu, namun dia tak pernah mendapat balasan. Tapi kini, semua bagaikan mimpi! Pahlawan bertopeng penyelamat hidupnya memintanya berjanji dan menunggu. Afra masih terkejutkan, belum bisa percaya.


"Hiks ... apa Kakak serius? Beneran, Kak?" Tanya Afra di sela isak tangisnya.


Laki-laki bertopeng serigala itu tersenyum. " Aku serius! Asal kamu janji akan menungguku kembali, aku akan mewujudkannya."


"Afra berjanji akan menunggu, Kakak!" Ucap Afra serius sambil tersenyum bahagia namun, air matanya tetap luruh juga.


"Terima kasih."

__ADS_1


Sedikit jauh dari tempat tersebut. Sesosok laki-laki lainnya tengah bersembunyi di balik pohon sambil tersenyum sinis saat melihat dan mendengar semuanya. Dia benar-benar tidak menyangkah orang yang dia percaya akan menghianatinya. Betapa hancurnya rasa percayanya pada laki-laki yang tengah mengutarakan niatnya pada gadis itu. Apalagi mereka itu bersahabat! Kalian tahu dia siapa?


Dia adalah Ziran dan laki-laki yang berdiri di depan Afra mengenakan topeng serigalannya adalah Alki.


"Kenapa kamu melakukannya?" Gumam Ziran dengan mengepalkan tangan.


Beberapa bulan belakangan ini Ziran sering bercerita pada Alki mengenai perasaanya pada Afra. Dia bercerita kalau dia menyukai Afra dan akan menyatakannya secepat mungkin hanya dia butuh waktu. Namun lihatlah kini, betapa kecewanya ketika sahabatnya sendiri malah tega menghianatinya!


"Aku kira kita adalah sahabat, Alki? Maaf, kini aku tidak bisa mempercayaimu lagi." Kepalan tangan Ziran melemah dan akhirnya beranjak pergi meninggalkan tempat itu.


"Di lain waktu, aku juga bisa menjadi sosok penghianat sepertimu." Ucapan Ziran sebelum benar-benar pergi dari sana. Yah, sosoknya yang dulu setia kawan bisa menjadi lawan.


Dalam mobil yang berbeda, dua sosok anak laki-laki berangkat pergi di hari itu juga. Ziran akan pergi ke luar negri bersamaan dengan itu, Alki pun akan berangkat pergi juga. Namun, mereka sama sekali tidak memberi kabar satu sama lain. Seakan persahabatan mereka terputus begitu saja, hanya karena satu alaasan.


Dan itu karena seorang anak gadis, yang tak lain adalah Afraza Humairah.


Dalam mobil Ziran, tatapannya kosong menatap pandangan luar jendela mobil. Pikirannya melayang jauh seperti saling bersaut-sautan dan itu membuatnya sakit kepala.


"Ah, kenapa sosok penghianat itu terus terlintas di pikiranku." Racaunya memegang kepala yang tiba-tiba sakit.


"Jangan harap aku akan seperti dulu lagi, Alki. Aku akan segera menyelesaikan pendidikanku di sana dan akan pulang mengambil apa yang seharusnya menjadi mililku. Kamu mungkin menang saat ini, tapi nanti penghianat akan tetep mendapatkan kekalahan!" Camkan Ziran.


Dan itulah akhir dari persahabatan masa kecil dan cinta segitiga antara Ziran, Afra, dan Alki.


Begitu rumit, hingga yang mengikuti kisah mereka akan geleng kepala. Hanya karena seoarang gadis mereka menjadi rival? Namun nyatanya, itulah hidup.


Tak terasa Ziran telah sampai di bandara.


"Ziran ayo! Pesawat akan segera berangkat." Ayah Ziran memanggil anaknya dan menyadarkan Ziran dari lamunan panjang.


"Papa, berapa lama aku akan di sana?" Tanya Ziran.


"Jika kamu bisa menyelesaikan studymu dalam waktu kurang dari 10 tahun, secepatnya kamu akan pulang. Setelah itu kamu akan mengambil alih pimpinan perusahaan Papa." Ucap Ayah Ziran pada anak berusia 16 tahun itu.


"Oh iya, kamu juga bisa mencari calon istri segera. Nantinya akan sulit menjadi sosok kepala negara tanpa adanya ibu negara. Benar, kan?" Gurauan itu mendapat delikan mata elang dari sang anak.


"Apasih, Pa!"

__ADS_1


-To Be Continue****-


__ADS_2