
Dalam 2 jam. Ruangan Afra sudah di penuhi oleh keluarga dan teman-temannya yang datang menjenguk. Dengan suka cita menyambut kabar bahagia saat Afra telah bangun dari koma selama tujuh bulan lamanya dia terbaring di atas ranjang rumah sakit.
Malam itu di penuhi canda, tawa, dan senyum.
Ziran selalu ada di samping Afra. Menemani Istrinya dan menjadi pengawalnya. Kondisi Afra yang masih lemah mengharuskannya hanya mampu membalas singkat setiap lontaran pertanyaan. Atau hanya tersenyum dan mengganguk kecil saja.
Orang tua Afra lebih dulu pulang di antar Adami karena hari yang semakin larut malam. Abi dan Umi Irana sebenarnya tak ingin meninggalkan anak mereka, namun Ziran menyakinkan akan menjaga baik putri mereka. Sedangkan Dinda dan anak kembar Risa dan Rizki juga telah pamit pulang. Sedikit tak rela karena dua anak itu masih rindu pada ibu angkatnya. Dan yang masih bertahan, ada teman-teman petualang Afra yang sibuk berceloteh ria mencerikan kesepian mereka selama dirinya koma.
Afra pun sangat bahagia saat ini. Dia tak bisa berkata-kata banyak dan tak mengira dirinya masih bisa melihat semua orang-orang yang di sayanginya. Dan yang paling di rindukannya ternyata orang pertama yang di lihatnya ketika membuka mata. Suaminya.
"Eh, kayaknya Afra masih butuh banyak istrahat. Sudah deh kita jangan ganggu dia dulu." Kata Mila membuat perhatian di sana teralihkan pada gadis itu.
"Iya benar, besok deh kita ke sini lagi. Yang penting kan, Afra sudah sadar dan baik-baik saja." Usul Debi mendapat anggukan antusias dari temannya yang lain.
Entah kenapa Ziran memang sejak tadi ingin mengusir para penggangu itu. Istrinya belum pulih, apa mereka tak melihat? Namun karena Afra, Ziran memilih bersabar.
Melihat teman-temannya akan pamit pulang Afra teringat sesuatu. Ada yang ingin di tanyakannya pada Bika, namun ada Ziran di sana jelas saja itu akan memancing sesuatu yang bahaya.
"Kak? Aku ingin makan bubur ayam." Pinta Afra pada Ziran yang sebenarnya hanya alasan saja.
Ziran tersenyum dan mengganguk, "kalau begitu aku cari dulu ya Sayang."
"Tapi aku tidak mau bubur kantin rumah sakit. Hambar!" alasan lagi agar Ziran sedikit lama mencarikan pesanannya. Jarak kantin rumah sakit cukup dekat dari ruangannya. Afra takut ketika dia berbicara pada Bika, ketahuan oleh Ziran.
"Siap Tuan Putri! Aku pergi ya, kamu gak apa-apa aku tinggal sebentar?"
"Nggak apa-apa, Suamiku." Ziran pun terkekeh pelan. Sebelum melangkah pergi, dia sempatkan mengecup kening Afra. Dan hal itu membuat semua teman-teman Afra meredang dan mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
__ADS_1
Seiring langkah kaki Ziran menuju pintu ruangan, matanya menatap lurus pada Bika. Entah apa arti dari isyarat mata tersebut, sepertinya sebuah peringatan untuk jangan mendekati Afra.
Setelah Ziran keluar. kelima teman Afra masih saling tatap dan kefokusan mereka kali ini tertuju pada Afra.
"Ya sudah kami pamit pulang ya, Afra. Kamu istrahat total supaya cepat sembuh." Ucap Mila lagi.
"Apa aku boleh bicara sebentar pada Bika?" Tanya Afra tiba-tiba membuat laki-laki yang di sebutkan namanya tadi seperti berkhayal.
"Oh, boleh dong. Silahkan-silahkan. kami tunggu di luar ya, Bika," Ucap Joy cengengesan mendorong punggung Bika lebih dekat pada Afra.
"Yok!" Reza pun memimpin dan membawa temannya yang lain keluar.
Tinggal Afra dan Bika dalam sana. Saling menatap ragu dan bimbang. Bika yang di serang rasa gugup menunggu apa yang akan di bicarakan Afra?
"Terima kasih ya waktu itu kamu nolongin aku." Ucap Afra kemudian.
"Ah, iya sama-sama. Kita kan temanan, tentu saja aku harus nolongin teman aku." Sedikit lega karena pertanyaan Afra tidak menjurus pada apa yang di takutkanya.
"Mungkin dia .... "
"Sebenarnya aku sudah tau."
Deg...
Jantung Bika berdetak kencang. Dia mengira-ngira kemana jalan pembicaraan kali ini. kenapa Afra terlihat sangat serius kali ini?
"Tau apa? Kamu jangan nakut-nakutin akulah," Ucap Bika cemas. Tubuhnya panas dingin sementara Afra terlihat biasa saja.
__ADS_1
"Tidak perlu bingung. Yang aku maksud semua tentang Farsya. Tentang apa yang telah dia lakukan padaku. Aku sudah tau." Seperti dugaan Afra. Bika pasti tidak akan jujur begitu saja. Dia harus memancing agar teman yang sudah dia anggap sebagai kakak itu mau jujur padanya.
"Apa Kak Zanira yang memberitahumu?" tebak Bika.
Afra pun mengangguk begitu saja, "Apa sampai sekarang kamu masih menyukaiku?" pertanyaan tiba-tiba itu membuat mata Ziran melotot.
"Apa maksudmu?"
"Cukup jawab ya atau tidak?" Afra berkata cepat menatap tepat pada mata Bika.
"Bohong kalau aku bilang tidak. Tapi, aku tau diri siapa aku ini. Menyukai milik orang lain sudah pasti salah." Bika akhirnya jujur jika dia masih menyimpan rasa pada Afra. ya, rasa itu telah ada ketika mereka duduk di bangku SMA hingga detik ini.
"Itulah kesalahan kamu, Bika. Apa kamu tidak sadar ada orang yang seharusnya lebih pantas kamu perjuangankan! kenapa kamu menutup sebelah mata melihat cinta Farsya? Dia mencintaimu sejak dulu, dan dia rela menderita demi melihatmu bahagia dengan pilihanmu. Kamu sadar tidak?!" Bentak Afra kasar. Afra tidak menyalahkan Farsya atas apa yang menimpanya. itu semua hanya karena satu permasalahan.
Farsya melakukannya karena kecewa melihat yang di cintainya tersakiti, sebab tak bisa memiliki cinta orang yang di cintainya.
Fasrya mencintai Bika, namun Bika mencintai Afra. Tapi kenyataan Afra telah bersuami dan mencintai Ziran. Seperti itulah kisah cinta. Rumit.
"Farsya mencintaiku?" gumam Bika masih tak percaya. inilah alasan kenapa Farsya bertindak di luar kendali saat itu. Bodoh kamu Bika! kenapa kamu baru sadar!
"iya, dia sangat mencintaimu. Sekarang kamu harusnya memperjuangkannya! Dia telah banyak tersakiti untuk melihatmu bahagia. Waktunya kamu berjuang!"
Bika menatap lantai kosong. tak lama garis senyum terpatri di wajahnya.
"Aku harus ketemu Farsya." Bika menatap Afra dengan senyuman lebar. Ada sebuah rasa baru yang tiba-tiba hinggap di hatinya.
"Aku dukung kamu! Tapi aku mohon, rahasiakan semuanya. Jangan sampai Ziran tau. Ini cukup menjadi rahasia kita bertiga." pinta Afra.
__ADS_1
"Baik. Mari lupakan masalalu dan memulai masa baru!"
-To Be Continue-