Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 41 : FIRASAT


__ADS_3

Pagi itu Afra terlihat sibuk dengan kegiatannya. Selepas subhu, dia sudah menyiapkan segala keperluan suaminya yang akan keluar kota untuk urusan proyek kantor. Alam sedang ceria dan matahari pagi sangat bersahabat. Cahanya sampai menerobos masuk dari balik jendela kaca dan menyentuh hangat wajah Afra.


Ziran melangkah menghampiri istrinya yang sedang menyusun pakaian masuk ke dalam koper miliknya.


"Aku hanya seminggu di sana dan akan sesegera mungkin pulang jika semua sudah beres." Kata Ziran mengecup kening Afra.


"Iya. Makannya harus teratur juga sholat dan ngaji jangan di lupa, ya."Peringat Afra begitu perhatian. Tangannya merapikan rambut Ziran agar semakin tampak rapi.


"Siap, Kapten. Aku pasti akan merindukanmu di sana." Ziran balik memperbaiki jilbab instan istrinya yang sedikit miring.


"Hm, aku juga. Ini sudah hampir telat belum berangkat?" Afra mendogak untuk melihat wajah Ziran dengan jelas.


"Kalau begitu aku berangkat sekarang." Putus Ziran Akhirnya. Tangan kirinya mengambil koper, tangan satunya menggenggam tangan Afra dan mereka berjalan sampai di teras rumah.


Zanira telah duduk bersantai sambil meminum teh hangatnya di kursi teras rumah. Dia pun ikut bergabung dengan kedua Adiknya.


"Hati-hati, godaan di luar sana banyak. ingat ada Istri di rumah, awas saja jika kamu sampai khilaf." Kata Zanira mengingarkan sang adik.


"Semoga tidak, Kak. Aku doakan supaya kamu tidak tergoda oleh godaan setan yang terkutuk, mereka sangat mahir menjerat manusia dalam kubangan dosa. Nauzubillahminzalik." Doa Afra mengelus dada untuk tetap mengingat Allah.


Rumah tangannya memang belum pernah meraskan ujian terberat seperti pasangan yang lain. Dan batin Afra mendadak tidak nyaman ketika firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang akan menimpa keluarganya. Entah apa itu? Afra menjadi resah.


"Amiinn, terima kasih doanya Istriku. Aku berangkat sekarang karena perjalanan keluar kota cukup memakan waktu lama." Afra berusaha menepis perasaan buruknya. Segera disalami tangan Ziran dan seperti biasa, Ziran akan mengecup kening Afra penuh kasih dan sayang.


"Jaga dirimu, kalau mau kemana-mana kasih tau aku." Pesan terakhir Ziran sebelum pergi.


"Pasti, Kak."


Ziran memeluk Afra. seperti pelukan itu untuk rindu yang akan tertunda hingga satu minggu kedepan. Pelukan terlepas dan Ziran mulai beranjak pergi dari hadapan dua wanita itu dan memasuki dalam mobilnya.


"Dadah ..., Jangan lupa pulang! Ingat di luar sana banyak pelakor, awas saja kamu tergoda! Ingat ada istrimu yang menanti di rumah!" Zanira kembali berkoar mengiri langkah kepergian Ziran. Ya, dia hanya mengingatkan sebelum itu terjadi.

__ADS_1


Mobil Ziran telah menghilang dari pandangan Afra dan Zanira. Afra menghembuskan napas lelah dan menunduk. Tak menunggu waktu yang lama, kedua wanita itu beranjak masuk ke dalam rumah.


"kak, aku ke kamar ya." Kata Afra ingin beranjak menaiki tangga, namun Zanira lebih dulu menarik tangan adik iparnya tetap diam di tempat.


"Nanti saja, gimana kalau kamu temani Kakak masak sup ayam. kakak lagi pengen makan yang hangat-hangat." Pinta Zanira langsung menarik Afra ke dalam dapur tanpa menunggu jawaban.


Afra pun hanya menurut.


Di dapur, Afra diam di depan pintu masuk sambil memperhatikan Zanira yang telah membongkar isi kulkas. Sibuk mengeledah untuk menemukan bahan-bahan pembuatan sup ayam. 


"Ikan atau Ayam?" Tanya Zanira pada diri sendiri. "Oke, yang ini saja!" Dan pilihannya jatuh pada ikan. Seketika Afra tertawa saat sebelumnya Zanira sempat menimbang dua bahan di tangan yang salah satunya akan di pilih.


Tadi katanya mau buat sup ayam?kenapa malah bahannya berubah jadi ikan?


"Kak Zani mau buat sup ikan, ya? Tapi tadi katanya mau sup ayam?" Tanya Afra masih tertawa. Dia mendekat ke arah kakak iparnya yang nampak tersenyum malu.


Yah, Afra sedikit terhibur dengan tingkah konyol Zanira.


"Oh, heheh, tiba-tiba jadi ganti selesai, Dek. Ayo kita buat sup ikan!" Katanya mengangkat dua jempol.


Afra mulai memotong wortel dan Zanira yang membersihkan ikan. Mereka sibuk pada kegiatan masing-masing dan karena itu Zanira tak tahan dengan tak berbicara mencoba membuka suara.


"Kamu tau, Dek?" Afra mengerjapkan mata sebelum menoleh belakang menatap Zanira.


"Nggak tau, Kak." Sahut Afra mendapat tatapan kesal.


"Iya jelas lah, kan Kakak belum cerita. Gimana sih kamu!" Sekarang Zanira sudah selesai membersihkan ikan, kini berjalan dan duduk di samping Afra yang kembali fokus memotong wortel menjadi dadu.


"Hehe, maaf, Kak. Apa ceritanya bagus?" Afra bertanya memastikan takutnya jika cerita buruk, kegelisahannya malah makin bertambah. Suasana hatinya sedang buruk.


"Ada bagus dan tidaknya. Kamu mau dengar yang mana dulu?" Zanira menopang dagu sambil menaik turunkan alisnya. "Aku yakin kamu bakal suka!"

__ADS_1


"Kalau yang bagusnya?"


"Berita bagusnya aku bertemu Kiki di toko buku seminggu yang lalu. Sudah lama sih, tapi gak sempat cerita karena suami kamu tuh lengkat terus sama kamu." Mata Afra menyipit dan tertawa kecil. Apa kakak iparnya itu benar- benar serius suka sama Alki? Ah, seharunya dia tidak perlu berpikir jauh, kalau suka memang apa jadi masalah untuknya? Tentu tidak lagi! Masalah mereka bertiga sudah usai.


"Oh, jadi itu yang membuat Kak Zanira selalu senyum-senyum sendiri beberapa hari ini, ya?" Goda Afra mencolek hidung mancung Zanira dan tak lupa seringai jahilnya.


"Haha, sayangnya memang benar. Itu karena dia nolongin aku waktu hampir jatuh saat mau mengambil buku di rak atas. So sweet nggak?" Zanira merasa momen itu yang terindah bersama Alki.


"Aduh parah, Kakak sudah jadi bucin nih ya? Mudah-mudahan deh Kak Zani beneran berjodoh sama Kiki."


"Aamiin...."


Doa Afra langsung di aminkan oleh Zanira. Akhirnya mereka tertawa bersama. Kedekatan mereka terbilang cepat karena ini masih beberapa bulan semenjak status Afra berubah menjadi istri Ziran. Namun, adik dan kakak ipar itu seperti teman semestinya, tempat curhat dan berbagi.


Setelah menghabiskan sup ikan ala Afra dan Zanira, kini kedua wanita itu masih duduk di ruang makan sejenak sambil berbincang kecil.


Melihat Afra yang akan meninggalkan ruang makan, Zanira cepat-cepat mengikut. Afra tersenyum singkat pada Zanira yang sekarang berjalan beriringan di sampingnya.


"Kamu sakit ya? Kok lemas gitu?" Tangan Zanira menempel di dahi Afra mengecek suhu tubuh adik iparnya. Tapi tidak panas, terus kenapa?


"Aku baik-baik saja, Kak." Dalih Afra berusaha melukis senyum, namun terlihat sekali di paksakan.


"Kakak nggak bodoh, Adik Ipar. Katakan kamu kenapa?" Desak Zanira menarik Afra duduk di sofa ruang tamu. "Kakak cewek, kamu juga cewek jadi kita sama. Ketika cewek bilang 'aku baik-baik saja' berarti dia gak baik-baik saja." Imbuhnya lagi.


Zanira benar, wanita tidak bisa menyebunyikan sesuatu secara sempurna, karena mereka mudah di tebak. Gurat wajah yang penuh keresahan milik Afra sangat nampak.


"Perasaanku tidak nyaman, Kak. Ada sesuatu yang menjanggal, firasat buruk sedang menghantuiku." Afra menutup mata karena frustasi sebab bayang-bayang buruk sedang menari-nari di pelupuk matanya.


"Tentang apa?"


"Rumah tanggaku, Kak."

__ADS_1


"Oh, dari tadi kamu kepikiran itu? Sudah-sudah, lebih baik kamu meminta pada Allah agar rumah tanggamu selalu kokoh dari terpaan ujian yang pasti akan datang. Aku pernah dengar ceramah jika setiap rumah tangga pasti ada masalah, semoga kamu bisa melewatinya bersama Ziran. Amiinn..."


-To Be Continue-


__ADS_2