
GALESFOOD
Sebuah Restoran mewah yang di bangun dengan gaya Eropa khas mewakili interior bangunan. Lampu emas menyala, memantulkan cahaya di setiap penjuru yang berjendelakan kaca gelap. Suasananya begitu nyaman dan pas untuk acara makan orang-orang pembisnis tersohor.
Di tengah ruangan restoran, telah di siapkan khusus sebuah meja acara makan malam untuk empat orang, terlihat mencolok karena posisi meja itu tersendiri di tengah.
Sejak 10 menit yang lalu pun Sosok Ardiano dan wanita berhijab di sampingnya telah lebih dulu hadir dan menempati dua kursi. Ya, ini acara makan malam seorang Ardiano. Yang mengatur semuanya adalah Dia, tentu dengan kewenangan yang di milikinya meminta ini dan itu pada pemilik Restoran tidak akan sulit. Semua telah di atur untuk sebuah acara makan malam spesial bagi Ardiano.
Entah spesial seperti apa yang dia maksud?
Cukup tenang, tangan Ardiano menopang dagu menunggu dua orang lagi untuk menempati dua kursi di depannya. Harap-harap cemas karena kecil kemungkinan ajakan makan malamnya ini akan di hadiri orang itu, sangat tipis padahal harapannya sangat tinggi.
Tepat saat Ardiano akan berpangku tangan dan kaki, tiba-tiba matanya menangkap dua sosok yang baru memasuki Restoran, lantas segera posisinya di ganti menjadi duduk tegak dan penuh wibawa.
Akhirnya ....
"Tu-Tuan? Apa tuan baik-baik saja."
Ardiano yang mendengar pertayaan itu segera berbalik menatap wanita di sampingnya. Karyawannya yang bernama, Keysa.
Keysa sendiri ikut ke acara ini karena katanya, Bosnya ingin di temani makan malam bersama teman bisnisnya. Tentu saja, Keysa selaku karyawan harus mengikuti perintah Bos.
"Memang aku kenapa?" Tanya Ardiano seketika membuat guratan senyum kaku muncul di wajah Keysa.
"Ekhm, maaf Tuan. Aku hanya penasaran dengan apa yang membuat Tuan tersenyam-senyum sendiri saat ini, seperti sangat senang sekali." Keysa memperbaiki letak kacamatanya, melihat Ardiano sedikit melebarkan mata, "Ah, tidak perlu di jawab Tuan. ini hanya rasa penasaranku."
"Haha ..., Kamu bersemangat sekali hari ini, Key." Keysa cukup lega mendapati Ardiano tertawa kecil memegangi perutnya. Dia takut di kata lancang bertanya pada Bos besarnya apalagi ini menyangkut hal pribadi. "Kamu ingin tahu jawabannya? " Keysa merespon dengan anggukan antusias dan mata berbinar, "Lihat tepat ke arah jam 12."
langsung saja Keysa mengikut perintah Bosnya melihat ke arah jam 12, tapi yang temukan hanya beberapa orang yang baru masuk ke dalam restoran. Masih belum mengerti apa yang Ardiano senyumkan tadi, Keysa kembali menatap Bosnya bingung.
"Tuan, aku tidak bisa menemukan apa yang anda senyumkan tadi. Apa itu sesuatu yang mencolok?" Otak polos Keysa memang selalu lambat jika mengenai kepekaan terhadap berbagai hal di sekitarnya, tapi jika urusan kantor dia selalu terdepan dan menjadi wanita yang smart. Melihat kinerja Keysa yang memuaskan, Ardiano telah mengajukan bagian sekertaris pada gadis itu, tapi jawabannya selalu 'TIDAK!' Entah apa juga yang merasukinya sampai menawarkan posisi paling menguntungkan itu pada Keysa.
Ardiano menyipitkan mata tersenyum, "Tunggu di sini, aku akan menjemputnya." Tanpa ucap panjang, Ardiano berdiri dan pergi dengan langkah lebarnya memuju pintu utama restoran.
Keysa mengamati Bosnya dengan memperjelas penglihatan saat dengan sopan Ardiano membungkuk pada dua orang di depannya, kening Keysa berkerut. "Apa itu yang membuat Bos tersenyum tadi? Pada sepasang kekasih? Ku rasa Pak Ardiano masih waras menyukai sesuatu yang orang lain miliki. Ah, tidak mungkin juga kan? Aduh Keysa, jangan ngomongin Bos di belakangnya." Berakhir menepuk tangan di depan wajah mengusir pikiran buruknya tadi tentang Ardiano yang di anggap perusak hubungan orang (PHO).
Keysa melihat tiga orang datang menghampiri meja, diantaranya Bos dan juga sepasang kekasih itu. buru-buru dia memperbaiki letak duduk dan juga memasukkan note book kecil miliknya yang sempat dia keluarkan tadi, masuk ke dalam tas jinjing merahnya.
Aku harus bersikap baik pada tamu Bos. Hati Keysa bersuara.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya. Silahkan duduk, buat diri anda senyaman mungkin." Sambut Keysa dengan senyum indah dan menawan.
"Ah, iya. Terima kasih." Afra balas tersenyum pada gadis itu, dia mengatupkan tangan di dada sopan.
Sejenak Ardiano terpaku menatap Keysa, tak lama dia sadar dan berkedip mata juga menggeleng pelan.
Ini aneh, kenapa dengan hatiku berdebar melihat senyum Keysa? Oh, sadarlah Diano! Kau jangan mengada-ngada, menyukai gadis ini? Tidak mungkin! Batin Ardiano menyangkal, padahal perasaan ini bukan pertama kalinya dia merasakan.
__ADS_1
Eh, aku sampai melupakan tujuanku! Ini semua karena Keysa! Bahkan karena keberadaan Keysa membuat Ardiano tak fokus.
Segera Ardiano mengalihkan pandang pada kedua tamu istimewanya.
"Selamat datang Pak Ziran dan Nyonya Afra. Mari duduk." Sapanya kembali dengan senyum ceria. Saat dia akan menarik kursi untuk Afra, Ziran terlalu peka dan segera mendahului Ardiano.
Ziran ikut memamerkan senyum, namun penuh maksud dan arti, " Tak perlu repot-repot, Pak Ardiano. Silahkan anda duduk, biar aku saja yang melakukan tugas kecil ini." menunjuk kursi dengan lirikan mata.
Seketika Afra merasakan kebekuan di dalam restoran itu. Melihat Ziran yang nyata-nyata cemburu membuat sirena tanda bahaya berbunyi nyaring di kepalanya. Jika di biarkan, Aku juga yang terkena imbasnya! Dia takut kejadian sewaktu Ziran bertemu Kiki akan terulang lagi, mereka saling menyakiti dan baku hantam. Kini itupun bisa terjadi pada Ardiano dan Afra akan terima dampak didiami sang suami lagi. Namun, presentasenya kali ini lebih kecil sebab Ziran pernah berjanji tidak akan mogok bicara lagi saat cemburu.
Jangan lagi, kumohon. Afra berdoa agar itu hanya pikirannya saja, tidak akan menjadi kenyataan.
"Aku hanya ingin memperlakukan tamuku dengan baik, tapi ya sudahlah aku akan duduk saja. Hahaha...." Tawa itu terdengar sedikit hambar. Ardiano duduk di susul Afra dan Ziran.
Keysa turut merasa hawa di sekitarnya berubah dingin. Pak Ardiano! anda tidak lihat tatapan lelaki itu? dia sedang marah pada anda! Keysa tak bersuara langsung mempertingati bosnya yang terlewat peduli pada gadis milik orang lain. Tentu saja pemiliknya akan marah, dan siapapun bisa terkena amukannya.
Afra bergerak tak nyaman pada dudukannya. melihat tatapan Ziran yang belum surut dari kecemburuan membuatnya kembali gerah pada tubuhnya. Afra mencoba mendekat ke telinga Suaminya, "Kak Ziran..., Kamu adalah suami yang paling-paling perhatian pada Istrinya, tidak ada yang bisa menandingimu siapapun itu. Senyumnya dong."
Perut Ziran tergelitik mendengar bisikan Istrinya. Ziran pun balik berbisik di telinga Afra "Mencoba merayuku, hm?" terdengarnya suara kekehan dari Istrinya. "Jika bukan karena menghormati seperti katamu, kita tidak akan datang untuk acara ini. Kita selesaikan ini cepat, aku takut terlepas kendali karana melihat tatapannya padamu."
"Ekhm .... " Ardiano memutuskan interaksi Sepasang kekasih di depannya. "Maaf menggangu acara kalian. Sepertinya kita segera saja memilih menu makanan dan minuman, dan menyantapnya. Aku sedikit lapar, bukankah kalian juga?" Pandangannya berpindah-pindah menatap pada tiga orang itu.
"Yah, Tuan. Aku juga sudah lapar." Ardiano menatap Keysa dengan polosnya menyahut seperti itu.
padahal itu hanya alibi Ardiano!
Ardiano menganga. gadis ini ternyata bisa berbuat manis seperti ini? Ah, sunggu? gadis ini terlihat beda saat di kantor tadi. Dia galak. Ardiano tidak menyangkah.
"Kamu mau yang mana?" Ziran mengelus kepala Afra bertanya lembut pada Istrinya. Di tangannya ada daftar menu yang telah di siapkan. Setelah Afra memilih, Ziran pun berkata pada pelayan laki-laki yang telah berdiri di sampingnya. "Doubel, samakan pesananku dengannya."
Ardiano mendengus melihat keharmonisan sepasang kekasih itu.
Diapun berbalik pada Keysa yang sibuk memilih menu, setelah mendengar pesanan gadis itu langsung saja Ardiano berkata, "Samakan pesananku dengannya." menunjuk Keysa santai. Dia mengikuti gaya Ziran.
Di bawah meja Afra terus menggenggam jemari Ziran agar tetap tenang.
Pesanan datang dan telah di hidangkan di atas meja. Dua jenis makanan dan minuman yang berbeda telah tertata cantik dengan baunya yang sangat menggoda. Tak menunggu waktu lama, hidangan itu di santap pemiliknya. Afra paling bersemangat menghabiskan Spageti keju yang ternyata tak hanya harga yang mahal, setelah memakannya semua terbayar karena kelezatannya. Ziran melihat Istrinya makan menjadi lucu, setiap memasukkan satu sendok Spageti ke dalam mulut mata Afra ikut terpejam menikmati rasa makanan itu. Ziran lebih asik memeperhatikan istrinya makan daripada memakan spageti miliknya.
"Eh, soal tadi siang aku benar-benar meminta maaf soal kucingmu." Fokus Afra sekarang berpindah pada Ardiano. "Sungguh aku tidak sengaja. Aku tak melihatnya, hewan berbulumu itu terlalu kecil."
Keysa tak terlalu ingin mendengar orbrolan itu dan sibuk memakan makannya dengan lahap. Maaf Bos. aku benar-benar lapar, dan nikmatnya di traktir itu tak ada duanya. Aku makan ya, silahkan anda bicara. Berkata dalam hati itu tak ada rugi dan selalu untung.
Ziran masih diam, bersabar, dan mengamati.
"Tak apa. Aku juga minta maaf karena berlaku galak padamu. Itu semua di luar kendaliku, Pak Ardiano." Tersenyum tipis, kembali memakan spagetianya. saat itu, tak sengaja bekas saus pada mie menyerempet di dagu Afra.
Seketika dua fokus lelaki itu menjadi satu, yaitu noda saus itu.
__ADS_1
Dan terjadilah Siapa cepat dia beruntung menyeka noda di dagu Afra. Ardianolah pemenangnya lebih dulu menghapus saus itu dengan tisu di tangannya.
"Makanlah pelan-pelan!"
"Jaga sikap anda!"
Duar ... (Bom meledak)
Mata Afra membulat dan mematung seketika. Inilah akhirnya. keringat dingin mulai bercucuran di pelipis.
Keysa berhenti makan, terkejut mendengar suara bentakan itu di tujukan pada Bosnya.
Tangan Ardiano di sentak kuat oleh Ziran, menyingkir dari dagu Istrinya. Kilatan amarah telah menguasainya, Ziran berdiri dan juga menarik Afra bangkit.
"Kita pulang!" Afra tak bisa berkata apa-apa dan hanya mengikuti Ziran. Saat akan melangkah suara Ardiano terdengar memanggil.
"Pak Ziran. Seharusnya anda bisa lebih menguasai emosi anda untuk masalah kecil tadi, aku hanya spontan melakukannya." Ucapan Ardiano membuat Ziran balik badan menatap tajam orang itu.
"Masalah kecil? aku adalah Suaminya jika anda lupa. Jangan terlalu lancang berbuat hal yang menurunkan harga diri anda, Pak Ardiano!" genggaman tangannya pada Afra makin erat. "Anda tentu tak melupakan tinjuan tadi siang bukan?" ya, Ziran meninju perut Ardiano ketika tak sengaja mendengar pernyataan lelaki itu mengatai istrinya 'cantik'. Dia juga kontan melakukannya. Coba pikir, Suami mana yang tak cemburu!
"apa Semua itu atas dasar anda cemburu padaku?" Ardiano menelngkan kepalanya dan terlewat santai menanggapi kemarahan seseorang. "Oh, ayolah."
"Je suis jaloux!"Ungkap Ziran dalam bahasa prancis mengakui jika dia bener-benar cemburu. " Bedakan urusan kantor dan pribadi, jangan melampaui batas Anda, Pak Ardiano!" tangan Ziran menggebrak meja cukup keras membuat Keysa dan pengunjung Restoran terpekik kaget.
"Oho ho ho ..., Santai Pak Ziran." Menggangkat tangan di depan dada. "Aku menyerah, Aku minta maaf tentang kejadian tadi siang maupun malam ini. Anda memang sangat pecemburu tentu karena mencintai Nyonya Afra, kan. Baiklah, mari kita sudahi ini. Mengingat bogeman mentah tadi siang itu, cukup sakit juga."
Tatapan mata Ziran tak surut, Afra memutuskan membujuk Suaminya,
"Dia sudah meminta maaf, Kak. Ayo pulang." Ziran tak merespon, "Aku mengantuk ayo pulang, Suamiku."
Barulah Ziran sadar dan memutuskan kontak mata dengan Ardiano. Buru-buru Ziran mengganti tatapannya menjadi hangat, meski itu sedikit sulit. Dia menunduk menatap Afra, "Tunggu, ya, Sayang."
Ardiano tahu betul Ziran tengah berusaha menahan amarahnya sekuat tenaga, tak terasa senyum Smirk-nya muncul di wajah. Aku telah membantumu sejauh ini, kurasa kamu akan kecewa melihat hasilnya. Kamu salah, Ziran sangat mencintai gadis ini. Batinnya berbicara entah tertuju pada siapa.
Ardiano berniat mengakhiri, "Aku sunguh-sungguh meminta maaf, Pak Ziran." Sedikit membungkuk hormat terlihat serius.
"Baik. Kurahap kejadian ini tidak terulang lagi. Kami pergi." Ziran dan Afra benar-benar pergi meninggalkan Restoran.
"Bapak sangat berani menguji kesabaran orang. Empat jempol buat Tuan Ardiano." Keysa menggeleng terpukau. Ardiano berkedip menatap gadis di sampingnya yang memberi dua jempol tangan.
"Katanya empat jempol, duanya mana?"
"Di bayar utang pak." Keysa! membuat lelucon di tengah ketegangan, ide yang sangat bagus.
Mereka tertawa begitu saja.
-To Be Continue-
__ADS_1