Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 52 : PAMIT


__ADS_3

Satu minggu berlalu.


Tak tak tak


Suara langkah sepatu Ziran memasuki gedung rumah sakit tempat dimana istrinya tengah di rawat. Jam menunjukan pukul 5 sore. Ziran masih berpakaian kantor lengkap karena sehabis pulang dari tempat kerjanya. Seakan tak sabar, dia berlari kecil mempercepat langkah ingin segera menemui sang kekasih.


Meski wajahnya datar, namun hatinya selalu tersenyum kala akan bertemu dengan yang di puja. Di tangannya terdapat sebuket bunga mawar pink yang baru di belinya. Ya, itu adalah rutinitasnya sepulang kerja membeli bunga mawar kesukaan sang istri.


Ceklek ....


"Huaa ...."


Baru saja Ziran melangkah masuk ke dalam ruang perawatan Afra, dirinya telah di sambut tangisan dari Kakaknya. Siapa lagi kalau bukan Zanira?


Sebelum Ziran mengeluarkan suara, dia menyempatkan waktu untuk menatap sejenak wajah cantik istrinya yang masih tertidur. Dan kembali menatap Zanira yang duduk di sisi ranjang Afra.


"Kakak kenapa menangis? Apa ..." Tanya Ziran heran dan was-was melihat wajah sembab Zanira. Seperti sudah menangis sejak tadi. Apa Zanira menangis karena kondisi Afra memburuk? Dengan cepat atensinya berpindah pada alat monitor pengukur denyut jantung. Namun sepertinya bukan itu masalahnya, kondisi Afra sekarang menunjukan keadaan baik.


"Hais! Afra baik-baik saja! Kakak menangis karena hal lain!" Kata Zanira sudah tahu kemana pikiran adiknya.


Dengan perasaan lega, Ziran berjalan ke arah nakas. Kemudian mengganti bunga mawar kemarin dengan yang baru di belinya dalam vas bunga. Lalu setelahnya, dia mengambil kursi menyeretnya ke samping ranjang istrinya.


"Kakak duduk di kursi ini, aku mau di samping Istriku!" Perintah Ziran mendapat pelototan dari sang kakak. Namun Zanira tetap menurut turun dari ranjang dan duduk di kursi.

__ADS_1


Giliran Ziran yang duduk di atas ranjang istrinya. Tangannya mengamit sebelah tangan Afra. Membawanya untuk di kecup lalu di elus.


"Kakak ini lagi nangis, loh! Kamu gak mau tanya karena apa?" Kesal Zanira merasa dirinya menjadi tak terlihat di mata Ziran yang asik memanjakan Afra dengan perlakuan romantisnya.


Ziran pun menatap sang Kakak. "Ada apa? Kenapa Kakak menangis?" Tanya Ziran membuat Zanira mensedihkan wajahnya.


"Manajer kakak tadi telpon suruh balik ke Belanda besok!" Kata Zanira menyentakkan kaki ke lantai.


"Ya sudah, Kak. Kak Zani kan, sudah ambil cuti lewat dari batasnya. Sudah seharusnya kembali." Ujar Ziran mengingatkan Zanira. Sebelah tangan Ziran mengelusi kepala Afra yang tertutup hijab instan rumah sakit. Memandangi wajah damai Afra tertidur yang sudah seminggu ini.


"Tapi kan Kakak masih ingin bersama Adik Ipar! Kakak akan tunggu sampai Adik ipar siuman dulu, baru kakak bisa pergi dengan tenang." Wajah Zanira melempeng dan masam.


"Tidak! Kakak harus ke Belanda besok!" Tolak Ziran menatap tajam Kakaknya.


"jangan dong. Izinin Kakak, ya! sampai Adik Ipar sadar saja, setelah itu kakak janji akan pulang ke Belanda." Ziran memutar mata dan menggeleng tegas.


Zanira memajukan bibir dan bangkit berdiri. Dia menendang kursi karena sebal dan berjalan keluar ruangan.


"Ya, ya, terserah kamu!" Zanira berkata sebelum pintu di tutup. Dia pun tak bisa menolak lagi karena jika Ziran memaksa, maka apapun alasannya tetap tidak akan menang. Sifat pemaksa adiknya itu tak pernah hilang.


Zanira meninggalkan ruangan. Sebenarnya itu juga kesengajaan, dia ingin memberi ruang pada Ziran bersama istrinya. Zanira tau dirilah menjadi obat nyamuk di sana. Dia juga tidak sanggup melihat keromantisan Ziran pada Afra. Itu membuat jiwa jomblonya meronta-ronta tak kuat berada di sana.


"Ckck, apa bagusnya di Belanda! Tidak ada Adik Ipar, akan terasa sunyi. Aku tidak bisa lagi curhat dan bergosip jika Adik Ipar telah siuman nanti. Dan juga aku tidak bisa bertemu Kiki lagi, dong! Huhu ...." Celotehnya sepanjang kakinya melangkah keluar Rumah sakit. Dia berniat mencari makan malam di luar.

__ADS_1


Dugh...


Namun, kepala gadis itu tak segaja kepentok di dada seseorang karena jalannya yang menunduk. Betapa terkejutnya ketika melihat orang yang di tabraknya ternyata sang pujaan hati.


"Kiki!" Zanira selalu memekik spontan saat bertemu pangeran berkudanya itu. "Kamu ngapain ke sini?"


"Bukan urusan kamu! Awas!" Dengan sifat judesnya, Alki dengan cepat berlalu. Mengabaikan Zanira yang cemberut dengan perlakuannya.


Gadis itu lagi. Siapa sih, dia? Kenapa juga harus ketemu lagi! Maki Alki dalam hati. Dia bersumpah tidak ingin bertemu lagi dengan gadis yang mengaku fans-nya itu.


"Jangan judes-judes, nanti kalau jodoh gimana? Aku akan meminta takdir mempersatukan kita, lihat saja nanti! Kita akan terus bertemu lagi dan lagi, walaupun aku di bumi dan kamu di langit!" Sumpah Zanira. Tak memperdulikan dirinya tengah di perhatikan aneh karena berteriak dalam rumah sakit.


Zanira menatap punggung Alki yang terus berjalan, menjauh, dan menghilang di balik lorong rumah sakit.


"Akan ku buat kau jatuh hati padaku! Pesona seorang Zanira Algaza tak pernah di tolak!" Janjinya sebelum meneruskan langkah pergi dari rumah sakit tersebut. "Ah, padahal besok aku akan pergi. Aduh, kenapa lupa pamitan pada calon imanku tadi!" sesalnya kemudian.


Di sisi Lain, Alki cukup di buat geram dengan tingkah laku gadis yang di temuinya di toko buku waktu itu.


"Ya, Tuhan! Gadis itu benar-benar membuatku gila!" desis Alki. Dia mendengar semuanya, bagaimana kegilaan gadis itu akan terus mengejarnya. Kenapa ada gadis segila itu?


Lupakan tentang itu.


Kalian pasti bertanya-tanya kenapa Alki berada di sana? Sebenarnya, tujuan Alki ke rumah sakit hanya untuk pamit pada seseorang. Mungkin ini yang terakhir kalinya dia menatap wajah orang yang dulu di cintainya. Terpaksa Untuk pergi demi mengubur rasa yang tak sepantasnya pada gadis yang telah menjadi milik sahabatnya.

__ADS_1


Dan mendengar kabar gadis itu koma, membuat Alki begitu murka pada laki-laki yang seharusnya bisa menjaga wanitanya.


-To Be Continue-


__ADS_2