Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 48 : KETAKUTAN


__ADS_3

"Pak Dokter jangan asal bicara, dong! Teman saya nggak gila, jangan seenaknya mau ngirim ke rumah sakit jiwa!" Mila berteriak tidak terima kala si Dokter laki-laki di depannya berkata jika Farsya akan di bawa ke RSJ.


"Maaf, menurut saya ucapan Pak Dokter memang benar bukan sembarangan berkata! Coba saja kalian perhatikan tingkah laku teman kalian ini, apa yang seperti ini kalian katakan waras?" salah satu wanita berbadan pendek menyerujui usul si dokter.


Farsya masih bertingkat aneh, tak memperdulikan dirinya di perhatikan bahkan di nilai gila oleh orang banyak. Dia berteriak-teriak seperti orang ketakutan lalu kemudian tertawa begitu saja.


"Iya, bener, tuh. Teman kamu gila!"


"Memang ada orang waras ketawa lalu berteriak seperti itu?"


"Ih, coba deh liat. Dia aja mutar-mutar di tempat sambil narik rambut, gak waras nih!"


"Perawat bawa gadis ini ke rumah sakit jiwa!"


"Ayo bawa! kalau lepas bisa bahaya, nih!"


Sorakan dukungan dari ramai orang yang berkerubung. Mereka hendak maju dan membawa tubuh Farsya, namun seorang laki-laki berdiri di depan gadis itu menjadi beteng penghalang. Karena kondisi ricuh itu, mengundang keributan di depan ruang rawat Afra yang sedang kritis. Pengunjung rumah sakit lain berdatangan rela berdesak-desakan untuk melihat apa yang terjadi?


"STOP! SAYA BISA MELAPORKAN KALIAN ATAS TINDAKAN BURUK PADA TEMAN SAYA KEPADA PIHAK POLISI!" teriak Bika menatap murka pada semua orang. "Teman saya hanya terkejut karena teman kami sedang kritis! tolong jangan menambah beban!" Lanjut Bika, tatapannya meneduh dan menjadi sorot memohon.


"Pak, maaf kalau ucapan saya menyinggung kalian. Saya hanya takut, teman kalian ini bisa membahayakan dirinya dan orang lain di sini. Begini saja, mari ikut saya ke ruang dokter spesialis Spikiater, untuk memeriksa kejiawaan teman kalian ini." Bujuk si doker laki-laki dengan nada lembut. Tangannya menunjuk arah belakang punggungnya.

__ADS_1


"Mohon maaf, Dok. Sepertinya anda tidak perlu terlalu ikut campur atau memaksa. Meski saya bukan siapa-siapa mereka, tapi istri saya berteman lama dengan mereka. Jikalau pun si gadis itu terganggu kejiwaannya bukankah ingin memasukkan ke rumah sakit jiwa harus dengan persetujuan orang tua atau walinya, bukan begitu Dokter?"


Skatmat! Dokter laki-laki itu diam terkaku setelah Ziran berkata dengan nada dingin. Pupil matanya melebar dan berganti dengan sorot takut pada Ziran.


"I- Itu ...."


"Maaf lagi, Dok. Sepertinya pasien anda telah lama menunggu, silahkan Anda memeriksanya!" Perkataan itu adalah bentuk pengusiran secara halus dari Ziran, "Dan oh iya, yang berada di sini lebih baik kalian semua yang pergi ke dokter psikiater. Yang perlu di periksa kondisi kejiawaan itu adalah kalian semua. Silahkan pergi!"


Setelahnya, semua orang-orang mundur dan bubar dari sana. Namun sebelumnya, masih terdengar sorakan sinis beberapa orang yang tadinya mati-matian berkoar jika Farsya harus di bawa ke rumah sakit jiwa.


Mereka tidak terima!


Sekarang tingga Ziran, dan keenam teman Afra. Mila dan Debi berlari ke arah Farsya dan memeluk gadis yang masih terlihat aneh itu. Meski tak ada balasan pelukan dari Farsya, dua gadis itu lebih memeluk erat mendominasi keadaan.


"Far, kamu kenapa sih? Kenapa jadi seperti ini?" Kata Debi yang mulai terisak pelan. Dia prihatin pada kondisi teman petualangnya.


Farsya diam dan lebih tenang, namun tatapan matanya selalu kosong.


"Hiks ..., jangan nakut-nakutin lah Farsya! kalau ada masalah curhat sama kami, apa salahnya berbagi?" Omel Mila sambil menangis. Dia melepas pelukan kala dorongan tangan Farsya kuat pada bahu kirinya.


Begitupun dengan Debi, dia termundur beberapa langkah karena dorongan Farsya.

__ADS_1


"Akkkkhhh! Menjauh, menjauh, menjauh! Jangan dekati aku!"


Semua mata membulat meihat Farsya berlari kencang menjauh dari teman-temannya. Sangat jelas sekali terpancar wajah penuh ketakukan di wajah itu.


"FARSYA!!!"


Tidak tinggal diam, Bika, Joy, Reza, Mila, Debi mengejer Farsya yang masih berlari. Kecuali Ziran, laki-laki itu masih berdiri sendiri di tempat memandang semua punggung teman Afra yang berlalu pergi.


Tak lama,


Tit Tit Tit Tit ....


Bunyi suara monitor pengukur tanda-tanda vital mengisi indra pendengaran laki-laki yang masih terdiam dan melamun. Entah apa yang dia lamunkan sampai betah berdiri sendiri di sana.


Deg


Namun lamunannya sirna seketika. Ziran terkesiap dan menoleh pada pintu ruang rawat istrinya. Jantungnya berdegup tak karuan dan langsung masuk membanting pintu. Betapa shocknya melihat garis hijau terukir kecil di sana.


Ketakukan akan hal buruk terjadi pada orang yang di cintai, menyelimuti diri Ziran.


"AFRA!!!"

__ADS_1


-To Be Continue-


__ADS_2