
Suasana dalam rumah mewah itu cukup begitu ramai. Anak-anak lebih dominan di antara orang dewasa lainnya. Suara-suara gaduh anak kecil menjadi heboh, membuat beberapa orang dewasa lainnya harus menghela napas sabar melihat tingkah para bocah.
"Hei! Jangan kejar-kejaran, kalian bisa jatuh!" Peringat Ziran pada anak-anak tersebut. Sebelumnya, Ziran telah mengangkap tangan Rizki ketika tadi berlari mengejar anak panti lainnya di depannya.
"Apasih, Yah?" Panggilan Rizki pada Ziran telah berubah sejak saat itu. Ayah? Ah, panggilan itu terdengar akrab menyapa di telinga. Semuanya turut memperhatikan dua sosok itu.
"Jangan lari-lari, Kiddo!" Titah Ziran tegas.
Rizki memberenggut, kemudian tatapan memohonnya tertuju pada Afra. "Ibu, masa Ayah larang Rizki main, sih? Kan, cuman kejar-kejaran." Lapornya dengan nada memelas.
Afra terkekeh kemudian ikut berbicara "Ayah kamu benar sayang, kalau jatuh kan, bahaya." Ucapnya dengan nada lembut.
Tak lama kemudian, terdengarlah tawa dari beberapa orang lainnya melihat wajah Rizki yang di tekuk masam. Suasana dalam rumah begitu hangat dan bahagia.
"Sini sayang, duduk di samping ibu." Ujar Afra menepuk-nepuk tempat di samping kiri. Rizki pun menurut, tak lama Risa ikut duduk di samping kanan Afra.
Sebenarnya ini adalah acara makan besar yang di adakan Afra dan Ziran. Untuk rangkaian rasa syukur pasangan itu karena akan masalah kemarin yang telah usai. Afra dan Ziran ikut membaginya bersama keluarga panti, orang tua Afra, Zanira, dan juga mbok Wu.
Setelah semuanya beres dan semua bangku di ruang makan telah terisi, Ziran membersihkan semua untuk menikmati hidangan yang tersedia.
"Ini yang masak siapa?" Tanya Abi Afra ketika mencicipi sesendok sup ayam di mangkuk nya. Pandangan Abi tertuju pada Ziran.
Lelaki yang di tatap berdehem sebentar dan melirik sekilas pada Afra di sampingnya. Ada senyum geli melihat wajah Afra yang terlihat malu.
"Istri Ziran dong, Abi. Pasti enak, ya?" Kata Ziran bangga.
"Subhanallah ... Anak Umi sekarang pintar masak, ya. Aduh, Umi makin bangga, deh. Ada kemajuan juga setelah menikah dengan Nak Ziran." Ucap Umi Afra membuat wajah anaknya yang tadi malu menjadi cemberut.
"Umi apaan sih, Afra kan jadi malu!" Celoteh Afra mendapat gelak tawa dari Zanira dan Dinda. Kedua gadis itu kompak mengejek Afra.
"Loh, Memang Afra lalu gak tau masak ya, Umi?" Tanya Zanira masih ingin melihat wajah kesal Adik iparnya.
"Afra tau, hanya ...."
"Masak air hingga mateng!" Potong Afra ketika Uminya akan menjelaskan. Lagi-lagi Afra jadi bahan candaan.
Ziran malah merasa lucu dan masih ingin menatap wajah kesal Afra, namun segera sadar jika tak mau dia mendapat omelan setelah acara makan besar itu. Bisa-bisa tidur di luar kamar! atau kemungkinan kecilnya tidur di sofa kamar. Hoh, jangan sampai, menyedihkan!
__ADS_1
"Sekalipun Afra gak tau memasak, Ziran masih tetap cinta mati padanya Umi, Abi. Karena Ziran mencari seorang istri bukan pembantu." Kata Ziran membuat ruangan legang sejenak.
"Abi bangga padamu, Nak. Rumah tangga itu di bangun untuk hidup bersama, saling berbagi suka dan suka, menjadi teman curhat sesama, dan tempat bersandar satu sama lain untuk saling menguatkan. Intinya suami istri harus saling melengkapi." Kata Abi.
"Umi juga mohon sama Nak Ziran untuk jaga Afra selalu. Sekarang Umi percayakan penuh anak perempuan Umi ini padamu. Tolong bimbing dia menjadi wanita sholeha yang seutuhnya, Lengkapi segala kekurangannya. Sekarang dia tanggung jawabmu Nak, Umi hanya ingin melihatnya bahagia." Kali ini Umi berucap sendu menatap wajah putrinya.
"Umi ..." Suara Afra tercekat di tenggorokan dengan mata memerah ingin menangis. tapi sebelum itu Zira. langsung merengkuh istrinya dalam pelukan.
"Tenang saja, Umi, Abi. Pengang janji Ziran, aku pasti akan membahagiakan putri kalian." Ucap Ziran mantap.
"Ulu ulu, Tengoklah wajah Afra tuh. Tengah malu di goda suaminya. Hahaha .... " Celetuk Dinda mengawali tawa sebelum semua ikut tertawa.
Afra bersandar di kursi dan menyilangkan tangan di dada. Selera makannya langsung melayang pergi.
"Apaan, sih!"
***
Masalah penculikan Afra kemarin, hanya menjadi rahasia Afra, Zanira, Ziran dan Mbok Wu. tidak ada yang memberitahukan soal itu pada orang tua mereka. Syukurlah masalah penculikan kemarin cepat selesai, jadi tidak membuat orang panik saat mengetahuinya.
"Besok saja pulangnya, yah? Afra masih kangen Umi Abi." Afra memeluk kedua orang tuanya.
Keluarga panti telah lebih dulu pamit pulang sebelum malam tiba, itu karena besok anak-anak akan kembali bersekolah.
"Nanti lain kali saja, Nak. Kami juga gak mau ganggu pasangan halal ini, loh. Pengen cepat-cepat punya cucu." Ucao Umi Irana menggoda anaknya.
Ziran ingin tertawa melihat wajah Afra yang memerah. Namun di tahan karena tak ingin mendapat amukan istrinya.
"Ia, Umi dan Abi tunggu saja kabar bahagianya. Ziran dan Afra pasti akan berusaha." Ziran mengaitkan satu tangannya ke bahu Afra sambil tersenyum pada mertuanya.
"Aaaw ...." Ziran meringis mendapat dua cubitan dari Istri dan Kakaknya. Kedua wanita itu tengah menatap tajam.
"Kakak masih di sini, jadi kalian gak boleh macam-macam!" Peringat Zanira kesal.
"Awas ya nanti, tidur di luar!" Ancam Afra mencubit dua pipi Ziran.
Dan yang melihat, terkekeh kecil karena keharmonisan keluarga baru itu.
__ADS_1
"Haha ..., ya sudah Umi dan Abi pamit pulang, kasihan pak Mudin menunggu dari tadi dalam mobil. Baik-baik ya, Assalamualaikum Nak." Kata Abi pada Afra, Ziran, dan Zanira. Irana pun begitu, selepas berpamitan dia dan suaminya langsung pulang ke rumah.
Di ruang tamu ketiga orang itu sedang duduk di sofa panjang sambil melihat tayangan TV. Afra duduk di tengah memisahkan kakak beradik yang bisa saja tanpa di duga akan berdebat jika tidak di pisahkan. Maka, Afra mengambil keputusan dia menjadi penegah.
Awalnya mereka semua asik menonton satu tanyangan film action. Namun, saat seru-serunya Zanira malah mengganti tayangan menjadi drama korea, Spontan Ziran merebut kembali remot tv di tangan Zanira dan menganti kembali.
" Apasih, Kak! ini lagi seru-serunya jangan ganggu!" Omel Ziran menyembunyikan remot di punggug.
"Kakak gak mau yang perang-perang, yang romantisan lebih keren. Sini remotnya!" Balas Zanira menatap adiknya sengit.
"Tunggu sampai Filmnya selesai, baru kak Zani bisa puasin nonton Drakor."
"Nggak mau, balikin remotnya sini!" Zanira bangkit dari duduk dan berusaha mengambil remot pada Ziran.
"Sabar ..., Sedikit lagi!" Ziran tetap tak mau kalah.
"Balikin nggak! Jangan bikin Kakak emosi!" Sunggu Zanira melototi Ziran.
"Tidak ma .... "
"S T O P ! Sini remotnya!" Dengan wajah datar Afra menghentikan aksi Tom and Jerry yang tengah memperebutkan remot. Yah, Kakak beradik itu bertengkar persis seperti animasi kantun yang pernah di tontonnya. Afra mendadak pusing.
Ziran menurut memberikan remot pada istrinya. Zanira menatap takut pada Afra yang berubah galak.
Tak!
Suara remot yang berbeturan dengan meja kaca ruang tamu. Afra meletakaan remot sedikt kasar setelah mematikan telvisi.
"Sudah malam, ayo tidur." Afra pun berlalu begitu saja meninggalkan adik kakak yang sekarang saling menatap heran.
"Kayaknya ini tanda-tanda, deh. Karena yang aku tau, biasanya orang yang hamil emosinya suka berubah-ubah. Apa jangan-jangan ..." Zanira menerka-nerka dengan mimik wajah terkejut.
"Ngawur! Istriku lagi datang bulan, makanya kayak gitu, Kak. Haha .... " Dan jawaban Ziran langsung membuat wajah Zanira menyurut menjadi tajam.
"Hais, padahal aku pengen gendong bayi!"
-To Be Countinue-
__ADS_1