
Ziran berjalan menaiki anak tangga menuju ruang kerja dalam rumahnya dengan langkah cepat. Bukan, sekarang dia malah berlari tergesa-gesa meninggalkan Zanira yang mengikutinya di belakang. Gurat wajahnya sangat tegang, bahkan Zanira takut untuk menatap mata sang adik. Karena kesalahannya, Afra di culik!
Jika saja dia tidak mengajak Afra untuk pergi ke acara reuni teman lamanya, ini tidak akan terjadi. Sebagai Kakak ipar, Zanira tidak bisa menjaga Adik iparnya agar aman. Adiknya marah besar, sampai mendiaminya saat dia mengabari jika Afra di culik Ziran segera menjemputnya di rumah temannya beberapa jam lalu. Zanira paham, Ziran meluapkan kemarahannya dengan sama sekali tidak berbicara.
"Ziran, biarkan Kakak jelaskan dulu. Ya, Kakak mengaku salah, Kakak minta maaf, tolong bicaralah!"
Brak!
Pintu ruang kerja itu tertutup keras kala pemiliknya membanting begitu saja. Zanira langsung me-rem mendadak tubuhnya tepat di depan pintu, tatapannya nanar.
"Huff ..., Bodoh banget kamu Zanira! Bodoh!!" Dia memaki dirinya sendiri. Kakinya perlahan mundur sampai menyentuh dinding, berangsur-angsur duduk bersandar dengan kepala tenggelam di dua lututnya.
"Meong, meong ...."
Zanira mengakat kepala menatapi sekelilingnya dan mendapati dirinya di kelilingi tiga kucing kesayangan milik Afra. Sekarang tiga kucing itu mengusek-usekkan kepala mereka di kaki Zanira, gadis itu tersenyum. Apa kucing itu mengira Zanira adalah Afra?
Zanira langsung merengkuh ketiga hewan berbulu itu, "Maaf, aku bukan Afra. Maaf juga, karena aku Afra jadi di culik. Hiks .... "
Tinggallah Zanira sendiri dengan tangis kecilnya. Dia menyesal, meski itu semua tak lagi berguna.
Di dalam ruangan, Ziran sibuk berkutat dengan layar lebar persegi empat di depannya. Tangannya bergerak lincah di atas keyboard komputer melacak ponsel Afra untuk mendapakan titik lokasi keberadaan Istrinya. Hanya butuh waktu 3 menit apa yang dia cari telah dia dapatkan.
"Syukurlah ..., " Seketika hembusan lega keluar begitu saja kala titik merah dalam layar komputer menunjukkan ponsel istrinya berada. Tapi malah membuat Ziran tidak tenang, Masalahnya titik itu menunjukkan keberadaan ponsel, bagaimana dengan pemilik ponsel itu?
"Akan ku pastikan kamu akan baik-baik saja dan lihat saja apa yang ku perbuat pada penculik itu! Tunggu aku!"
Alamat itu langsung di salin ke ponsel miliknya dan untuk di lacaknya dengan Google Maps.
Tak membuang waktu lama Ziran bangkit dari duduknya, membuka jas kantor yang melekat di tubuhnya dan hanya menyisahkan kemeja putih. Jas itu di buang ke sembarang arah, meraih kunci mobil dan segera keluar ruang kerjanya.
Brak!
Pintu terbanting itu terdengar dua kali di telinga Zanira yang masih dalam posisi memeluk kucing. Dia menatap sang adik yang baru saja keluar ruangan, Zanira berdiri.
"Bagaimana? Kamu sudah mendapatkan lokasi keberadaan Afra?"
Ziran berlalu begitu saja meninggalkan Kakaknya tanpa menjawab pertayaan itu. Namun, Zanira tidak menyerah begitu saja, sekarang dia berdiri di samping adiknya menyamakan langkah keluar rumah.
Sebelum Ziran menaiki mobil, Zanira lebih dulu menahan tangan adiknya untuk diam di tempat.
"Kamu mau mencari Afra, kan? Aku ikut!" Ucap Zanira bersungguh-sungguh pada Ziran.
Sorot mata Ziran langsung menajam, dia menggeleng tegas dan menjawab,
" Tidak, itu berbahaya!" pegangan itu di lepas olehnya, " Aku yang akan mencarinya sendiri, Kakak lebih baik di rumah!"
Senyum Zanira terbit kala adiknya mau menjawabnya, rupanya ada sedikit perubahan dari Ziran yang dulu. Dan raut wajah Zanira berubah datar kala Ziran kembali berlalu pergi memasuki mobil tanpa mengajaknya.
Baiklah, kau tidak mau mengajakku kan? Aku sendiri yang akan mengikutimu mencari Afra! kita lihat siapa yang lebih dulu menyerah. Batin Zanira.
Brak!
__ADS_1
Pintu mobil tertutup, Ziran menatap Kakaknya jengah melihat keras kepalanya.
"Oke, terserah Kakak!" Ziran tak ingin berdebat lebih panjang, melihat senyum kemenangan Zanira karena berhasil membuatnya menyetujui keinganan Kakaknya untuk ikut. "Cukup diam dan ikuti perintah Ziran!"
Haha ..., Menyerah juga! Zanira semakin senang dengan kemenangannya, "Baiklah, Kakak bisa jaga diri sendiri! kamu fokus saja pada penyelamatan Adik ipar Kakak." Menepuk pelan bahu Ziran.
Ziran menyalakan mesin mobil dan mencoba fokus pada tujuan. Ponselnya di taruh atas dasboard di tempat khusus untuk handpone, dan layarnya menunjukan titik merah menuju lokasi target utama. Mobil Ziran melaju setengah laju membelah jalan kota yang di padati banyak kendaraan, diapun harus berhati-hati meski perasaannya di liputi rasa cemas.
"Kita berdoa saja agar Afra tidak kenapa-napa, maafin Kakak ya." Sekali lagi Zanira meminta maaf, berharap kali ini maafnya di terima oleh Ziran.
Ziran tidak langsung menjawab, beberapa detik kemudian barulah dia bersuara, "Itu juga kesalahanku, aku yang memberinya Izin untuk ikut pada Kakak, aku yang salah."
Zanira mengulas senyum kecil, "Afra memang gadis yang baik, aku melihat perubahan dalam dirimu setelah menikah dengan gadis itu. Semoga kalian tetap selalu bersama, suka maupun duka." Ziran meminta maaf adalah hal yang hampir tidak pernah Zanira dengan sejak ia kecil hingga tumbuh dewasa bersama, lelaki itu ingin selalu benar. Jangan lupakan sifat pecemburu dan pemaksa Ziran, itu sudah melekat sejak kecil.
"Semoga saja, Kak."
***
Tsstt ....
Kaca mobil Ziran di turunkan setengah, sementara itu matanya memperhatikan gerak gerik sekelompok orang berbaju hitam menjaga sebuah rumah yang lumayan mewah di seberang jalan sana.
Seperti seorang Reserse.
"Apa benar ini tempatnya?" Zanira mendekat ke arah Ziran turut memandang rumah ber-cat cream abu, dan bulu kuduknya langsung meremang melihat orang berbaju hitam berbadan kekar menjaga rumah itu. "Mereka nampak tidak asing!"
"Titik merahnya berhenti di sini, Kak. Aku merasakan jika memang benar inilah tempatnya. Aku akan masuk ke dala ...."
"Ya, Kakak yang paling benar, sekarang rencana Kak Zani apa?" Lagi-lagi Ziran pasrah dan memang betul ucapan Kakak Zani, tanpa rencana sama saja bunuh diri.
"Sini dekat, Kakak akan bisikkan rencananya." Titah Zanira menarik Ziran mendekat padanya.
Ziran dengan serius mendengar rencana Kakaknya, namun belum selesai Zanira menyelesaikan bisikannya Ziran langsung menjauh dan menolak dengan menjawab,
"Tidak! Pokoknya tidak!!" Jari telunjuk Ziran menari ke kanan dan Ke kiri di depan wajah Kakaknya, "Kalau begitu rencanyanya biar aku sengaja yang ke sana dan memastikan sendiri, Kak Zani cukup tunggu dalam mobil."
Mendengar rencana Kakaknya sama sekali tidak masuk di akalnya. Zanira berniat pergi ke rumah itu sendiri, menyamar menjadi wanita menawarkan diri sebagai pembantu rumah agar bisa masuk kesana, aneh, kan? Mana ada rencana seperti itu!
Ziran menolak keras.
"Rencanya hanya satu, aku menghajar semua orang itu lalu masuk ke dalam rumah mencari Afra." Tangan Ziran membuka pintu mobil, "Kakak tunggu di mobil, jangan berani-berani keluar dan masuk ke sana. Awas saja!" Mata tajam itu sebagai syarat peringatan.
"Aku bisa berkela .... "
"Sekali saja jadi Kakak nurut sama perintah Adik. Jangan sok jagoan, Kakak itu cewek!"
Zanira bungkam lalu mencebikkan bibir pada Ziran, "Iya, nanti Kakak pertimbangankan! Udah sana selamatkan Adik Ipar, hati-hati!"
"Baik, Kak!"
Ziran segera pergi dari hadapan Zanira dan mulai melancarkan rencananya. Menghajar habis seluruh pengawal rumah itu dan menyelinap masuk sungguh ide brilian seorang Ziran.
__ADS_1
Sekarang dia telah sampai di depan gerbang rumah dan meminta satpam penjaga membuka pintu dengan gaya santainya.
"Pak, buka pintunya!" Perintah Ziran layaknya dialah pemilik rumah.
Satpam itu berlari mendekat ke arah Ziran, "Anda siapa? Ada urusan apa kemari?" Tanya pak satpam menyelidiki.
"Aku teman pemilik rumah ini, buka pintunya!" Tangan Ziran memukul gerbang besi menahan amarah karena harus berdebat dengan Security banyak tanya itu. "Buka pintunya!"
"Tolong sopan di rumah orang, jangan seenaknya, ya!" Pak satpam itu balik marah dengan berwajah sangar.
Ziran tak bisa lagi menahan kemarahannya menyelipkan tangan kanannya melewati pagar lalu meraih kerah baju satpam itu menyentaknya maju hingga membentur pagar.
"Kalau anda ingin selamat, buka pintu gerbang ini sekarang!" Ziran semakin kuat menarik kerah baju satpam hingga wajah itu menjadi pias, "Aku tidak main-main dengan ancamanku!" Dengan gertakan.
"Ba-baik. Lepaskan dulu baju saya!" Mau tak mau satpam itupun akhirnya menurut karena ancaman Ziran.
Ziran tidak langsung percaya, "Kau pikir aku bodoh! Tanpa ku lepaskan kau bisa membuka gerbang ini! Cepat lakukan!"
"Iya, ini saya buka!"
Saat gembok pagar di buka, Ziran segera mendorong Satpam itu begitu saja dan masuk menuju para pengawal yang hanya tinggal berdua, Ziran tidak memperhatikan sebagiannya tadi pergi kemana.
Saat melihat ada orang asing masuk ke dalam halaman rumah Tuan mereka, dua pengawal itu was-was segera memasang kuda-kuda hendak bertarung.
"Anda siapa? Pergi dari sini!" Pengawal berbadan besar berkepala plotos dengan kacamata hitam bertengger di hidungnya mulai bersuara.
"Tuan kami berpesan tidak ada kunjungan tamu hari ini, anda siapa? Lebih baik anda pergi sebelum anda babak belur melawan kami!" Seru pengawal berbadan lebih kecip dari satunya memperingatkan Ziran.
Namun, dengan entengnya Ziran berjalan semakin cepat hingga berlari langsung menghantam wajah pria berbadan besar dengan tinjuannya, pengawal itu terjatuh ke lantai marmer. Tak ketinggalan tendangan tertuju pada pengawal satunya hingga jatuh meringkuk di lantai.
Terdengar rintihan menahan sakit pada dua orang itu.
"Itu tidak ada apa-apanya, tunggu sampai semua dugaanku benar jika kalian benar penculiknya, tamat riwayat kalian!" Ziran menatap tajam dua pengawal itu sebentar dan segera masuk ke dalam rumah setelah pintu mewah itu pun ikut di tendang hingga terbuka.
Ziran mengamati sekeliling, rumah bertingkat dua itu terlihat begitu sepi.
kemana mereka menyembunyikan istriku?! Sial, jika terjadi sesuatu padanya tidak akan ada ampun!
Ziran mengeledah rumah dari kamar bawah sampai bagian-bagian lain rumah itu. Tinggal satu kamar di lantai atas, kamar yang nampak kuno pintunya belum tersentuh oleh Ziran untuk di geledah. Tak membuang waktu lama dia segera membuka pintu itu kasar. Dan....
Brak!
Ketiga pasang mata itu terkejut saat atensinya berpindah pada seorang yang masuk saat pintu terbuka karena di banting keras.
"Zi-Ziran?" Kedua lelaki tersebut mematung di tempat dengan dua perasaan berbeda, namun menjadi satu kala melihat bola mata Ziran memancarkan kemarahan yang mungkin telah melampaui batas.
Berbeda dengan sepasang mata hitam milik seorang wanita yang mendadak perih hingga nampak berkaca-kaca. Melihat seseorang yang sangat di cintainya datang untuk menjemputnya, penantiannya terbayar.
"Ziran!" Dia Afra, turun dari ranjang dan berlari menuju Ziran seperti gadis yang rindu bertahun-tahun tak berjumpa dengan kekasih hatinya. Menubruk tubuh Ziran memberi pelukan dengan tangis yang tak lagi terbendung itu tumpah seketika.
"Hiks, Aku takut ...."
__ADS_1
-To Be Continue-