
"Hiks, Aku takut ...."
Buku jari Ziran memutih saking kerasnya menggepalkan tangan di belakang punggung Afra. Dadanya bergemuruh hebat menahan gejolak amarah melihat Istrinya menangis dalam pelukannya. Geramannya terdengar samar terbaur oleh tangisan Afra yang makin menjadi.
Sedangkan dua lelaki di depan Ziran, berdiri dengan sorot mata yang tidak bisa terbaca. Kini Kiki mulai bereaksi, ikut mengepalkan tangan saat tak sengaja matanya bersitatap dengan Ziran.
"Sial!" Umpatan itu keluar begitu saja dari mulut Kiki seiring dengan pandangannya yang dia buang ke samping. Sedangkan Kakak Kiki diliputi rasa gelisah, dia pun tak tau harus melakukan apa? Dirinya seperti maling ketangkap basah.
"Kamu bisa tunggu di luar kamar, Sayang?" Suara itu di buat sehalus mungkin, meski kenyataanya susah karena Ziran sedang menahan marah. Pelan tapi pasti Afra mengangkat wajah dari pelukan menatap wajah Suaminya, "Aku ada urusan sebentar tidak akan lama, setelah itu kita pulang. Maukan?" Imbuhnya lagi.
Ziran menghapus jejak air mata di wajah istrinya, menunggu jawaban. Dan anggukan Afra membuatnya mengukir senyum tipis.
"Aku mau pulang!" Rengek Afra pada Ziran.
"Setelah ini kita akan pulang, sebentar saja." Pinta Ziran mengelus puncuk kepala Afra.
"I-iya, aku tunggu di luar."
"Ya sudah, aku antar."
Ziran meraih tangan Afra dan menariknya keluar kamar. Dia berjalan cukup jauh dari pintu kamar tadi, hingga menemukan kursi plastik di depan kamar lain dia mendudukkan Istrinya di sini.
Dua tangan Ziran bertumpu pelan di bahu Afra, "Jadi anak baik, tunggu di sini, dan jangan kemana-mana, mengerti?" Tanya Ziran serius.
Layaknya seorang anak kecil yang penurut, Afra mengangguk sesekali menarik cairan hidungnya yang meleleh. "Iya."
"Bagus, pakai ini." Setelah memberikan sapu tangannya pada Afra, Ziran berlalu pergi begitu saja.
Afra mengikuti arah perginya Ziran, menatap punggung kokoh itu dari belakang. Lagi-lagi Afra menangis dalam diam, namun anehnya dia tersenyum.
Ternyata itu kamu, jodoh memang tidak pernah salah bertamu.
Hati Afra terasa bahagia, semua teka-teki itu telah terungkap hari ini. Fakta yang sangat mengejutkan, namun berhasil membuat Afra senang luar biasa.
__ADS_1
Brak!
Terhitung empat kali dia membanting pintu dengan yang kali ini, di hari itu. Pelampiasan pertama Ziran adalah benda tak bersalah itu. Di dalam kamar, Ziran telah kembali masuk ke ruang itu dengan rasa amarah yang tak berkurang sedikitpun, masih sama. Perlahan dia mendekat ke arah dua lelaki yang sangat di kenalinya, kini jarak mereka hanya lima puluh centi meter.
Ziran terkekeh sebelum berkata, " Apa kabar, Pak Ardiano? Hahaha..., sungguh ini sangat mengejutkan. Kau pandai bermain api rupanya." Kekehan itu berubah menjadi tawaaan renyah.
Ardiano menelan salivanya kasar. Menurutnya, Ziran benar-benar menjadi monster saat kedua matanya melihat langsung kemarahan mengerikan tersebut.
"Maksud, Pak Ziran?" Ardiano berlagak bodoh seketika.
"Sejak kapan Anda juga berniat mengambil istriku? menjadi seorang perusak rumah tangga Orang!" Ziran berteriak menendang sudut ranjang.
"Pak Ziran, kita bisa bicarakan baik-baik untuk hal itu. Sebenarnya, aku tidak bermaksud begitu hanya ...."
"Hanya apa?!"
Ardiano merapatkan bibir ketika ucapannya terpotong oleh Ziran. Aku ingin bicara saja sulit, Sial!
Apa sekarang kalian sudah paham? Ya, dia adalah kakak kandung dari Alki Kihalmid. Lelaki, tak lain dan tak bukan adalah Ardiano.
"Oh, iya. Aku lupa menyapa sahabat masa kecilku," Satu tangannya menempel di bibir kini dia tertawa mengejek, "Apa kabar, Alki Kihalmid? Sebelumnya, aku sudah menerka-nerka kejadian ini adalah ulahmu, tapi tenang saja aku tetap terpukau dengan rencana gilamu ini. Bagaimana rasanya menculik istri orang?" Tanya Ziran mencemooh.
Bugh!
Tanpa terduga Ziran meninju wajah Kiki hingga lelaki itu mundur beberapa langkah ke belakang.
Ardiano mematung shock melihat adiknya di tinju Ziran.
"Itu untuk penculikan Afra!" Seakan belum puas. Ziran kembali maju dan meraih kerah kemeja baju Kiki.
Bugh!
"Itu karena telah membuatku gila kehilangan Istri!"
__ADS_1
Cukup! mata Ardiano terbelalak, segera menarik Ziran mundur menghentikan aksinya yang akan kembali menonjok adiknya.
"Berhenti, Ziran!" Urusan kantor beda lagi, ini urusan pribadi Ardiano tak harus sopan pada rekan bisnisnya, "Kumohon cukup! Secara pribadi aku meminta maaf terkhusus untuk adikku!"
Beberapa detik Ziran diam, "Adik? Hahaha ... lelucon yang menggelikan pak Ardiano!" Dia mendorong kasar lelaki yang masih memegang tangannya, kini tatapannya beralih pada Kiki. "Berapa banyak lagi fakta yang kau sembunyikan? Aku sama sekali tidak menduga, apa aku masih bisa di sebut seoarang sahabat?"
"Sekarang kita lawan, bukan kawan!" Tegas Kiki tersenyum culas.
"Ya, aku rasa seperti itu, kita bukan siapa-siapa lagi." Ziran menyeringai, "Jadi berhentilah menjadi seorang yang berjuang untuk kesia-siaan! Lupakan masa lalu dan persahabatan kita dulu. Biarkan Afra bersamaku, dia bukan takdirmu!" Ziran lebih tegas mengutarakan ultimatumnya.
"Sepertinya Ziran benar, Ki. Afra memang bukan untukmu, masih banyak gadis yang lain." Kenapa Ardiano malah membuat candaan di tegah ketengan. Sekilas Kiki melirik tajam pada Kakaknya.
Napas Kiki keluar berat memalingkan wajah ke dinding kamarnya yang terdapat logo Superman. ingatan masa kecilnya terlintas, dulu dia sangat suka menggunakan topeng ketika bermain di perosotan dan itu bersama Ziran. Ya, teman masa kecilnya yang sangat suka dia jahili, mewarnai wajah Ziran dengan cat, menyembunyikan barang Ziran, bermain petak umpet, dan banyak lagi, itu semua hanya kenangan. Mereka kini telah dewasa, itu tidak lagi penting.
"Baik, persahabatan dulu kita anggap tidak ada! Kita adalah Rival!" Kiki menjawab tak menatap Ziran, "Mulai hari ini aku berjanji tidak akan menggangu rumah tangga kalian lagi, tapi jika suatu saat nanti kau menyakitinya jangan salahkan aku ketika sumpah itu ku langgar! Akan ku buat kau menyesal!" Camkan Kiki.
"Huh, Jangan harap! Dalam mimpi pun itu tidak akan pernah!" Ziran malah kembali terpancing emosi.
"Hooh, ini baru secuil masalah, Ziran. Kau tidak tau yang akan kau hadapi nanti." Kiki menyeringai tajam.
"jangan terlalu mengguruiku! Kita tidak punya hubungan apapun, hanya orang asing. kuharap ini yang terakhir kau membuat masalah. Aku pergi!"
"Kau harus ingat kerikir itu selalu ada di jalan yang mulus!" Kiki memberi petuah.
"Memang benar. Tapi jika kerikil itu ada di jalanku, akan ku singkirkan seperti aku menyingkirkanmu!"
Ziran menunjuk tepat di wajah Kiki sebagai bentuk peringatan. Kemudian berbalik badan hendak melangkah, namun tertahan.
"Dan untuk hubungan kerja sama perusahaan kita Pak Ardiano ...," Kepala Ziran menoleh pada Ardiano, "Kita sudahi saja, lebih baik aku mengganti kerugian dalam jumlah besar itu daripada masih harus berhubungan dengan saudara Rivalku. Permisi!"
Dengan itu pula, Ziran memutuskan persahabatannya. Segala-galanya yang menyangkut dengan Alki Khihalmid.
-To Be Continue-
__ADS_1