Hafalan Qur'An Untuk Afra

Hafalan Qur'An Untuk Afra
BAB 9 : MEREKA?


__ADS_3

Beberapa detik Ziran diam termangu.


Ketika sadar, diapun berlari pucat duduk menekuk sebelah kakinya di samping dua gadis yang tengah terluka. Setelah dia mengecek kondisi keduanya. Debi beruntung, gadis itu hanya mengalami terkilir pada kaki kirinya, mungkin akibat terpleset. Namun kali ini, mata Ziran terpejam rapat menekan amarah, pergelangan tangan kanan Afra patah, memar dan telah membengkak.


Jauh dari kata beruntung!


Ziran sama sekali tidak tahu kronologis peristiwa itu seperti apa?


Afra, tidak melepas pandangan dari tangan Ziran yang masih memeriksa kondisi tangan kanannya. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Dia berisik sangat pelan. Ziran mengangkat pandangan, sesaat sebelum perhatiannya beralih pada ke lima teman Afra yang baru saja datang.


Bika, Reza, Joy, Mila dan Farsya, terkejut melihat sosok lelaki asing yang baru pertama kali mereka lihat, dan juga Afra dan Debi yang didapati telah terluka. Apa yang telah terjadi?!


"Afra! Debi!" Farsya dan Mila berlari menghampiri ke dua temannya khawatir.


"Apa yang terjadi pada kalian?" Mila bertanya namun di hadiahi gelengan pelan dari Afra dan Debi.


Air wajah Ziran datar. Lebih tepatnya menahan gejolak emosi yang sewaktu-waktu bisa menguasainya. Ziran ingin meluapkan pada teman tunangannya yang tidak becus menjaga dua orang gadis sekaligus.


Apa-apaan mereka!


Namun, Ziran lagi-lagi mengesampingkan itu semua. Afra dan temannya lebih butuh perawatan karena insiden yang hampir membahayakan keselamatan keduanya apalagi, calon istrinya.


Ziran kembali mengambil napas dalam, menyegel sentimentalnya.


"Siapa Anda? Apa yang terjadi? kenapa Anda bisa berada di sini?" Bika cukup bernyali tinggi menyempatkan bertanya di waktu genting seperti ini.


"Apa itu penting!" Segel kesabaran telah lepas. Amarah Ziran menang mengambil alih tubuh pemiliknya. Sontak semua bergidik menerima bentakan itu, tak terkecuali Afra.


Gadis itu mematung menatap takut pada lelaki yang di kenalnya hangat, berubah. "Ziran .... " Cicit Afra, menarik ujung baju kemeja Ziran yang telah berantakan. No respon. Lelaki itu telah termakan hasutan setan, melekaskan kemarahan.


"Aku hanya bertanya siapa anda! Apa anda yang menyebabkan teman kami terluka! Apa salah, aku bertanya?!"


Ziran mengeram tertahan.


"Kenapa menuduh sebelum ada bukti. Jangan cari masalah deh, Bik." Reza menjitak kepala Bika, memperingati lewat tatapan mata untuk diam. "Kamu buta laki-laki itu sampai melototi kamu, dia pasti marah kamu tuduh!"


"Nggak mungkin juga dia pelakunya. Orang dia kayak perhatian banget sama, Afra. Tuh lihat, sampai di pegangi lagi." Joy menimpali. "Kata emak : Seseorang mudah di tebak dari mimik dan emosi. Mati kita kalau sampai dia itu kakak, om, atau calon suami Afra. Nauzubilllah! Mati Bika, mati kita!" Joy bergidik, menerka-nerka setengah berbisik.


"Kalian yang hampir membuat dua teman kalian celaka! Apa masih pantas kalian menyalahkan orang lain padalah  jelas-jelas ini kesalahan kalian?" Ziran mendengus memalingkan wajah ke arah pepohonan. "Membentuk sebuah kelompok petualang berarti membagi kenyamanan, keselamatan, dan menjaga satu sama lain. Kalau seperti ini, lebih baik kalian bubarkan rutinitas kesenangan kalian. Alih-alih senang, kalian bisa mendapatkan peristiwa yang lebih buruk dari ini!" Nada tegas itu penuh penekanan.


Semua termenung. Mencerna setiap kata demi kata dari lelaki itu.


"Di mana semua barang-barang kamu?" Ziran menatap Afra, menghembuskan napas mengurangi rasa marahnya.


Afra berkedip dengan pertanyaan Ziran. Seperti terhipnotis, dia mengarahkan telunjuk di mana barang-barangnya berada. Ziran mengangguk, membalikkan badan membelakangi Afra.


"Naik!" Titah Ziran, menyuruh Afra naik di punggungnya.


Afra diam hendak protes. "Aku ...."


"Aku bilang naik, Afra!"


"Kita belum halal, ini tidak boleh..." Afra lagi-lagi menolak. "Lagian, kedua kakiku baik-baik saja. Aku masih bisa berjalan."


Ziran bernapas kasar, bangkit berdiri di depan Afra. "Ya sudah, kamu duluan. Aku jaga dari belakang." Lebih baik dia pasrah.


Sebelum melangkah, Ziran kembali menatap ke tiga pemuda yang diam, memperhatikan dalam kebingungan.


"Kenapa diam? Kalian hanya akan memandang teman kalian yang tidak bisa jalan ini? Gendong dia!" Ketiga pemuda itu langsung tegak kaku, mata membulat. Tatapan Ziran sangat menyeramkan!


Reza maju, melangkah ke arah Debi dan menggendongnya di belakang punggung. Mila dan Farsya membantu Debi naik. "Tolong bawa barang-barangku dan Debi." pinta Reza diangguki mantap Joy dan Bika.


"Kamu pasti ketuanya, tuntun jalan!" Perintah Ziran tegas. Sampai membuat Bika geram, namun memilih mengatupkan rapat bibirnya. Tenang, Bika!


"Oke!"


Delapan pemuda-pemudi itu berjalan menuju jalan keluar hutan, seperti biasa dipandu oleh Bika -atas perintah Ziran. Semua orang sibuk pada pikiran masing-masing. Teruntuk Afra, gadis itu berjalan ringan tanpa beban, semua bawaannya di ambil alih oleh Ziran. Bajunya yang sobek dilapisi dengan sweeter hangatnya, menutupi setengah penggerlangan tangannya yang bengkak. Ziran paling belakang, memantau semuanya, terutama tunangannya yang terluka. Jika bukan karena keras kepalanya Afra, gadis itu pasti tak perlu repot berjalan jauh seperti ini, dia akan menggendongnya.

__ADS_1


5 menit berjalan.


Ziran bertanya "Mau aku gendong?"


Afra menjawab "Tidak!"


10 menit melangkah.


"Aku gendong, yah?"


"Tidak mau!"


20 menit perjalanan.


"Capek, kan? Sini aku gendong."


"Aku bilang tidak ya tidak, Ziran!"


Lelaki itu bernapas panjang.


"Baiklah. Jika kamu lelah, penawaranku tetap berlaku selamanya."


"..."


Tidak digubris!


Mereka berhenti, istrahat sejenak.


Sudah seperempat perjalanan, sebentar lagi mereka akan keluar dari hutan dan tanda-tanda kelelahan Afra mulai terlihat. Sesekali Afra bersandar di pohon dan mengatur napas, lelah. Yah, mau bagaimana lagi, setiap dia melangkah tangannya ikut bereaksi berdenyut nyeri, tapi dia menahannya. Ziran menunggu gadis itu menerima tawarannya, nihil tak kunjung datang.


Terlihat Bika sedang berjalan menghampiri Afra yang lima meter di depannya. Tapi sebelum itu terjadi, Ziran singgap berdiri di depan Afra menghalagi pemandangan. Bika berhenti melangkah, tatapan Ziran tajam bermaksud mengusir.


Bika mengepalkan tangan, memilih pergi.


"Sesampainya di rumah, ku harap kau tidak akan menolak." Ziran duduk di samping kanan Afra.


Ziran menelengkan kepala ke kanan. "Sesuatu. Terima, ya." Tersenyum kecil untuk Afra.


Afra bermata tajam. "Aku tau sifatmu. Aku tidak menerima pun, kamu akan memaksa!" Tawa Afra berupa dengusan kecil.


Ziran malah tertawa lebar. "Rupanya kamu telah mengetahui sifatku? Wah, hebat, istri idaman."


Ziran mendapat lemparan batu kecil dari tangan kiri Afra. "Aku masih penasaran, kanapa kamu bisa berada di sini?" Afra mengganti topik pembicaraan.


Ziran menutup mata dan meraba-raba udara sekitar, seperti peramal. "Aku punya insting kuat dan alarm jika bidadariku dalam bahaya. Akulah superhiro!"


"Pffftt ..., ngaco kamu!"


Sepasang manusia itu tertawa, melupakan ketegangan yang tadi tercipta. Ziran sangat mudah mengubah segala situasi, membuat Afra larut di dalamnya. Ternyata, keasikan mereka sampai terdengar dan menjadi pusat perhatian teman-teman Afra. Semuanya bertanya-tanya, ada hubungan apa mereka?


Lupakan! Mereka akan mencari tahu!


Kurang dari satu jam mereka berjalan dan akhirnya berhasil keluar dari hutan rimba Itu. Senyum bahagia terpatri di wajah mereka semua.


"Afra ..., kamu ikut dengan kami, kan?" Bika bertanya dan di jawab anggukan antusias Afra.


"Tentu saja! Aku datang bersama kalian ...."


"Dan pulang bersamaku." Ziran segera memotong ucapan Afra dan menghalagi jalan gadis itu yang hendak beranjak dari tempat.


Ziran mendapat pelototan Afra.


"Apa?" Ziran bertampang polos. "Ayo, pulang!" Tanpa aba-aba menarik lengan kiri gadis itu. Membawa Afra segera pergi, tidak membiarkannya berpamitan ke teman-temannya.


Bika mencengkram erat gumpalan tangannya. "Siapa laki-laki itu? Semaunya sekali!"


Joy meremas pundak Bika. "Gak akan ada rumah tanpa pemiliknya, walaupun setan sekalipun." Tak ada yang mengerti ucapan absurd itu. "Yakin sama aku, nebak selalu tepat. dia adalah calon suaminya Afra." Serius Joy.

__ADS_1


"Gak usah tambah panasin, udah panas, oi. Balik!"


Bika malah marah-marah tidak jelas. Berlari mengejar Joy ingin melemparnya ranting kayu.


" Dih, Sensi amat tuh orang." Celetuk Reza geleng-geleng kepala. Dia masih menggendong Debi. "Mila, Farsya, malah bengong ..., Ayo pulang! Gak usah terlalu dipikirin masalah Afra, cepat atau lambat semua pasti ada penjelasannya." Beban menumpuk di pundak Reza karena menggendong Debi yang kini terlelap, masih bisa membaca raut kebingungan dua gadis itu.


Terlalu peka!


***


"Buka jacketmu!"


Perintah Ziran membuat Afra melotot. "Mau apa?"


"Jangan pikir macam-macam! Hanya mengoleskan krim antibiotik ini agar tidak terjadi infeksi pada luka tanganmu." Afra bernapas lega mendengar penjelasan itu. Ziran mengambil krim antibiotik di Dashboard mobilnya. "Kita ke rumah sakit saat sampai di kota."


"Iyah. Sini, biar aku saja. Bukan mahr ...."


"Bukan mahrom, jangan sentuh, gak halal. Iya-iya, aku sudah tahu, itu. Ini ...."


Afra cekikikan melihat ekspresi wajah Ziran yang masam. "Mukanya kenapa kusut gitu? Memang betul, kan?" Sambil mengambil salep luka yang di telapak tangan Ziran.


"Betul istriku ...."


Afra memutar bola mata, jengah. Terserah laki-laki itu.


Mobil Ziran telah memasuki kota dan mendarat mulus di area parkiran mobil perantaran rumah sakit. Lelaki itu turun dan mengitari depan mobil membuka pintu untuk Afra.


"Aku bisa melakukannya sendiri." Protes Afra kesal.


"Jangan sok kuat!" Ziran mencebik menimpali protesan Afra.


Selalu saja berdebat.


Kini Ziran tengah fokus memperhatikan setiap kata yang dokter paruh bayah di hadapannya itu ucapkan. Di sebelahnya ada Afra, hanya duduk dan diam. Nampak murung. Setelah tangan Afra di ronseng tadi, tulangnya memang bergeser dan di haruskan tangan kanannya ter-gips pendek, terpasang dari buku-buku jarinya hingga bagian siku bawah.


"Berapa hari tangan saya harus seperti ini, Pak Dok? Apa tidak bisa di buka saja?" Tanya Afra tak bersemangat, tak ada senyum. Khawatir, bagaimana kalau Umi dan Abi tahu tangannya patah?


"Biasanya 3 sampai 8 minggu, tergantung tingkat kecepatan tulang tersebut berangsur-angsur kembali ke tempat semula. Kamu bisa merasakannya sendiri dari nyeri tanganmu saat di gerakkan. Jangan mengangkat benda berat, istrahatkan total tangan anda jika ingin cepat sembuh." Jelas Pak Dokter. Afra bertambah lebih murung.


Ziran tersenyum geleng-geleng kepala, meraih spidol merah di tempat peralatan dokter.


"Dok, boleh saya pinjam?"


"Oh, silahkan." Dokter itu bernama, Rudi, tersenyum mempersilahkan. Rudi tahu yang hendak lelaki itu lakukan dengan spidol itu, pasti akan menggambar di gips. Bukan hanya lelaki itu yang pernah berbuat seperti itu.


Tangan yang ter-gips, diraih oleh Ziran dan meletakkan di atas meja dokter. Tutup spidol terbuka di bantu mulutnya, di letakkan mata spidol di benda putih itu, ingin membuat karya seni.


"Mau apa!"


Tidak ada jawaban. Ziran malah memulai keasikannya mengambar di gips Afra. Melukis sepasang manusia berbaju pengantin dan love-love sebagai piguranya. Juga, menulis kata-kata berhastag yang membuat Afra menahan senyum geli.


#Hai!! -


#iniakuZiran -


#Tunanganmu - #AkuSiapMenjadiTanganKananmu - #JanganSedih. -


#AkuSelaluAda -


- #SebagaiPahlawanBertopengmu-


"Pffff ..., Pahlawan bertopeng dari mana? ini wajah asli kamu, kan? Jangan mengada-ada, deh. Atau Oh, kamu sekarang lagi pakai topeng! iya, yah?" Celetuk Afra tertawa saat Ziran menulis kata 'pahlawan bertopeng' - Yang benar saja.


"Nanti juga kamu ingat." Ziran berdehem sangat panjang. pandangannya hanya berpusat pada gips Afra, tak berani menatap gadis itu. "Tolong jangan lupakan, mereka." Lanjutnya penuh teka-teki.


Afra mengernyit dalam. "Mereka?"

__ADS_1


-To be Continue-


__ADS_2