
“apa yang harus kulakukan, ayah dalam bahaya” ujar ku dalam hati sambil duduk di sofa “aku pulang, huh kenapa ayah tidak menyusulku jadinya aku harus naik taksi, membuang buang uang saja” ternyata itu suara kakak dan aku pun langsung menhampirinya dan memperlihatkan surat itu “kak lihatlah, ayah dalam bahaya” kakak pun membacanya “hah… dia bercanda kelewatan lagi” ujar kakak dengan ekspresi malas dan geram ia pun tida mempedulikanya dan langsung menuju kamarnya untuk beristirahat "kak mungkin ayah memang dalam bahaya kita harus menyelamatkanya" tetapi tidak ada respon sama sekali dari kakak ia malah menggunakan headshet dan pergi ke kamarnya. Aku bergumam dalam hati “ya juga, ayah selalu bercanda tapi kelewatan bahkan tahun kemarin sampai membuat ibu menangis” lalu pergi berbaring ditempat tidur "aku tidak bisa tidur, mungkin aku akan ke dapur untuk meminum segelas susu dan cemilan" aku pun pergi ke dapur dan ternyata bibi masih belum tidur ia masih mencuci piring "bi, apakah masih ada susu dan cemilan ku" "oh tuan, rupanya anda masih belum tidur kalau cemilanya habis tuan tinggal sereal dan susu" ujar bibi "baiklah itu mungkin bisa membuatku tidur, tolong ambilkan bi!" "oke tuan tunggu sebentar aku akan mengambilnya" jawab bibi. Setelah aku memakanya aku merasa ngantuk dan pergi kekamar untuk menyimpan surat itu dan pergi tidur “dok dok dok” tiba tiba ada yang menggedor pintu kamar “baiklah aku datang” ketika aku membuka pintu dan berjalan keluar “ayah…” aku melihat ayah yang memegang sebuah pedang besar yang mengeluarkan semacam energi hitam dan seseorang menggunakan jubah hitam yang tubuhnya diselimuti dengan kobaran api dan aku baru sadar bahwa aku tidak berada di rumah, tempat itu seperti gudang besar yang terbengkalai “nak, pergi dari sini secepat mungkin dan jika kau menemukan kalung ini ambil lah dan simpan dengan baik baik” tiba tiba terdengar sebuah tusukan pedang yang amat sangat keras “argh….. nak, kau adalah harapan terakhir bumi” ujar ayah dengan nada yang lemas dan tersenggap senggap “ayah….. tidak” aku terkejut dan bangun dari tidurku melihat sekeliling dan terdapat bibi yang duduk di meja belajarku dan menangis terisak isak aku pun menghampirinya “bi, ada apa?” “oh tuan anda sudah bangun, kemarilah” bibi menjawab nya dengan nada yang lesu dan tak berdaya “apa yang terjadi bi?” bibi hanya diam dan menundukan kepala dan aku teringat mimpi tadi malam “bi, apa yang terjadi. Ayah dimana ayah?” aku membentak bibi dengan nada yang lumayan keras dan bibi hanya hanya menatapku dengan wajah penuh kesedian “tidak ini tidak mungkin terjadi” ujarku sambil keluar kamar dan menuruni tangga dan aku melihat kakak, ibu dan para saudara saudaraku menangisi sebuah kotak peti dan aku berjalan dengan pelan dan penuh keputus asa an aku membuka peti itu dan melihatnya “tidak mungkin…. “ tiba tiba kakak menariku dari belakang dan dia berbisik kepadaku “maafkan aku, dan aku berjanji akan membunuh orang itu” dan aku menjawab “ajaklah aku, kak” tiba tiba ada suara yang terlintas di pikiranku “aku akan membunuh kau dan semua anggota keluargamu” spontan aku kaget melihat sekelilingku dan aku melihat paman steve yang tersenyum sinis melihatku sekilas dan pergi meninggalkan rumah