
Ayumi berhenti ditempatnya dan membalas tatapan Kenji dengan memohon "Pulanglah Kenji jika ada yang harus pergi dari rumahmu, aku orangnya." Ujar Ayumi yang kemudian menghapus cepat air matanya.
"Ck! Kau pikir karena kau bukan anak mereka aku memaafkanmu? Tidak Ayumi.. Tidak-.. Aku dan seluruh hatiku sudah sangat membencimu, jadi jangan khawatirkan diriku. Khawatirkan saja dirimu sendiri karena jika aku ingin menendangmu keluar dari rumahku, aku akan melakukannya." Ujar Kenji sangat kejam.
"Ya aku tahu, terimakasih Kenji.. Terimakasih karena masih membenciku." Balas Ayumi begitu terluka dan tak lama berlari ke luar ruangan Kenji.
Kenji sendiri tertegun dengan kekejaman mulutnya dia tak menyangka bisa mengatakan hal sejahat itu pada sosok yang sama sekali tak bersalah dan tak terlibat dengan kematian kedua orang tuanya. Namun Kenji seperti sudah termakan rasa bencinya pada Ayuki. Rasa benci yang sudah ia hidupkan untuk Ayumi sejak kematian kedua orang tuanya. Rasa benci yang kini tak beralasan yang tetap menguasai hatinya dan melupakan fakta bahwa satu-satunya korban disini adalah Ayumi.
..
..
Ayumi terus berjalan tanpa arah entah kemana, dia hanya mengikuti kakinya berjalan kemanapun kakinya inginkan. Dirinya kembali tersenyum lirih tak bisa menyalahkan siapapun. Karena Kenji sama sekali tak merubah pandangan tentang dirinya setelah mengetahui kalau Ayuki bukanlah anak dari orang tuanya, Ayumi merasa suaminya bahkan lebih membenci dirinya saat ini.
Dirinya terus berjalan dengan gontai membiarkan orang-orang yang sedang berlalu lalang menabrak bahunya dan tak jarang banyak yang memaki Ayumi, membuat wanita cantik itu hanya bisa tersenyum pasrah karena menyadari dirinya memang terlahir untuk dimaki dan dicaci seumur hidupnya.
Ayumi terus berjalan tak tentu arah sampai akhirnya kakinya membawanya ke sebuah taman, taman yang dipenuhi kebahagiaan dan tawa dari anak-anak yang sedang bermain dengan orang tuanya. Ayumi pun memtuskan untuk duduk di sebuah bangku kosong yang disediakan di taman tersebut, matanya menerawang melihat betapa lucu dan menggemaskan anak-anak yang berlarian di sekitarnya, Ayumi masih terus memandangi anak-anak tersebut bermain sampai dia merasakan ada sesuatu yang menyentuh kakinya dan tersenyum mendapati bola bergambar kartun berada tepat dikakinya.
"Ajumma, kembalikan bola jiyoung." Terdengar suara anak kecil yang memakai pakaian bola lengkap bertolak pinggang menghadap Ayumi dengan lucu.
Ayumi tersenyum dan memungut bola yang berada di bawah kakinya, kemudian dia berjalan dan berjongkok dihadapan bocah kecil itu.
"Ini bolamu adik kecil." Katanya mengusak kepala anak kecil yang masih cemberut padanya. "Anak tampan tak boleh marah, ajumma kan sudah mengembalikan bolamu." Ayumi kembali tersenyum gemas memandang betapa lucunya anak kecil yang berada didepannya ini.
"Kenapa ajumma tak marah?" Protesnya menuntut Ayumi.
"Eh? Marah untuk apa?" Kini Ayumi yang bertanya dengan bingung.
"Karena aku sudah belteliak pada ajumma dan menuduh ajumma mengambil bolaku." Katanya kembali memgerucut.
"Nah kalau begitu maafkan aku hmm. Aku memang tak bisa marah." Katanya tersenyum pahit mengasihani dirinya sendiri.
__ADS_1
"Mianhae ajumma. Aku pikil kau olang jahat." Kata anak tersebut menundukkan kepalanya.
"Hey, aku tak marah padamu adik kecil, baiklah begini saja, siapa namamu?" Tanya Ayumi membuat si anak tersebut menatap ke arahnya.
"Han Jiyoung ajumma." Balasnya menjawab Ayumi.
"Nah Jiyoung yang tampan, sekarang kita teman. Kau mau kan berteman denganku?" Tanya Ayumi membuat si kecil menatapnya bingung kemudian mengangguk antusias.
"Tentuuu. Ajumma baik dan cantik. Jiyoung suka." Katanya memuji Ayumi.
Ayuki kembali terkekeh mendengar celotehan bocah lima tahun yang mengatakan dirinya cantik.
"Eomma...appa.. jiyoung punya teman baluuuuu." Katanya berteriak dan berlari menghampiri kedua orang tuanya yang sedang berbincang. Kedua orang tua Jiyoung pun melihat ke arah Ayumi dan sedikit membungkukan badan menyapa Ayumi, begitupun Ayumi yang juga sedikit membungkuk untuk membalas sapaan orang tua Jiyoung.
Tak lama setelah berkenalan, Jiyoung beserta orang tuanya pun terlihat meninggalkan taman, Ayuki hanya terus membalas lambaian Jiyoung yang terlihat begitu lucu.
Sepeninggal Jiyoung dan orang tuanya, Ayumi kembali duduk dikursinya, ada perasaan sangat bahagia dan terhibur melihat Jiyoung yang begitu lucu dan sangat suka tertawa.
"Bahagialah disana nak, halmoni dan halaboji akan menjagamu dengan lebih baik daripada aku." Katanya masih bergumam menahan seluruh rasa sakit dan kehilangan dihatinya.
"Aku ingin sekali melihatmu lahir ke dunia ini anakku, aku ingin sekali kau menemaniku." Lirihnya dan kemudian membiarkan air matanya membasahi pipinya. Karena ini adalah air matanya yang pertama kali ia biarkan menetes setelah ia diberitahu bahwa dia kehilangan bayinya dua minggu yang lalu.
..
Malam harinya, kediaman OH Kenji tampak tak jauh berbeda dari siang hari. Rumah yang hanya dihuni oleh Kenji dan Ayuki serta beberapa pengurus rumah tangga itu pun terlihat sangat sepi dan terasa dingin, jarang sekali rumah itu dipenuhi kehangatan bahkan hampir tak pernah terdengar suara tawa bahagia dari rumah itu sejak tujuh tahun yang lalu.
Blam!
Terdengar suara mobil yang dibuka dan menampilkan sang pengemudi yang tak lain adalah pemilik rumah kediaman Oh ini.
Ya, setelah perbincangannya yang pelik dengan Ayumi siang tadi, Kenji akhirnya memutuskan untuk kembali kerumahnya setelah hampir seminggu menginap di hotel. Kenji sudah merasa cukup untuk menenangkan dirinya setelah mengetahui kenyataan tentang Ayumi yang sudah sangat terlambat itu.
__ADS_1
Kenji memang sudah membenci Ayumi dengan sepenuh hatinya, tetapi dia merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya saat tak melihat Ayumi hampir seminggu ini. Dia merasa ada lubang kecil yang terus membuatnya sesak dan kesulitan bernafas setiap kali dirinya tak sengaja mengingat Ayumi. Tentu saja dia tak memberitahu Ayumi tentang hal ini, karena Kenji masih Kenji yang sama. Kenji yang masih menolak untuk membuka hatinya dan tak membiarkan siapapun mengacaukan hati dan pikirannya. Tidak siapapun termasuk Ayumi.
Namun dia juga tak memungkiri bahwa dirinya merindukan Ayumi dan memutuskan pulang untuk mengawasi dan melihat Ayumi dengan kedua matanya sendiri.
Dia terkekeh mengingat tadi siang Ayumi memohon padanya untuk tak mengusirnya, tentu saja Kenji tak akan pernah membiarkan Ayumi pergi, dia tak akan membiarkan Ayumi jauh dari dirinya karena satu hal. Ayumi hanya miliknya dan hanya dia yang boleh menentukan bagaimana Ayumi menjalani hidupnya.
Cklek!
Kenji membuka pintunya, namun kemudian dia mengernyit mendapati pengurus rumah tangganya berlari dengan panik ke arahnya.
"Tuan Muda. Maafkan saya yang tak bisa diandalkan." Pengurus Lee membungkuk berkali-kali ke arah Kenji yang merasa ada sesuatu yang telah terjadi.
"Ada apa?" tanyanya tajam dengan aura dingin menyelimutinya.
"Tuan muda.. Ayumi…"
Entah kenapa jantungnya terasa sangat berdebar dan takut kalau dirinya mendengar sesuatu yang terjadi pada Ayumi..
"Kenapa Ayumi." desisnya menatap tajam pengurus rumah tangganya.
"Ayumi,, dia.."
"AYUMIII"!!
..
..
Bersambung...
stay tuned 👍😉
__ADS_1