
"Pulanglah dan besarkan anakmu. Tak semua orang beruntung sepertimu." Ujar Ayumi berjongkok dan terdengar sangat bergetar disetiap ucapannya.
"Aku harus bagaimana? Suamiku tak menginginkan anaknya, dia tak menginginkan bayi kami."
Dan pernyataan wanita tersebut kembali membuat wajah Ayumi mengeras dan merasa kehidupan yang dijalani wanita ini sama dengan miliknya, bedanya tak pernah terbesit sedikitpun di benak Ayumi untuk meninggalkan bayinya kalau ia diberi kesempatan untuk bisa bersama bayinya saat itu.
"Kau tahu nyonya, aku baru saja kehilangan bayiku." Lirih Ayumi tertunduk memberitahu wanita tersebut.
"Dan sama sepertimu, suamiku mungkin tidak akan menerima bayi kami karena bayi itu anakku, dan suamiku-... dia sangat membenciku dengan hidupnya, tapi kemudian aku menyadari kalau aku salah menilai suamiku. Dia mungkin membenciku, tapi dia tak pernah membenci bayi kami.. Suamiku menginginkan anak kami. Aku melihatnya menangis saat aku tak memberitahunya tentang kehamilanku. Dan dia tampak memucat saat dokter mengatakan kami kehilangan darah daging kami." Ujar Ayumi menatap kosong entah kemana.
"Tapi…." Katanya menoleh menatap wanita tersebut dengan tatapan penuh kekecewaan didalamnya.
"Seandainya suamiku tak menginginkan bayi kami, tak pernah terbesit sedikitpun dibenakku untuk meninggalkan bayi kami. Kau tahu kenapa?" tanya Ayumi membuat si wanita menggeleng lemah.
"Rasanya sangat menyakitkan ketika kau kehilangan darah dagingmu. Kau tidak akan pernah bisa menjalani hidupmu dengan baik, hanya rasa bersalah yang menggerogotimu dan kau tahu yang lebih menyakitkan lagi?" tanya Ayumi bergetar dan terlihat sangat sedih.
Wanita tersebut menatap Ayumi dengan prihatin dan kembali menggeleng lemah.
"Tawa anakmu hanya impianmu mulai dari hari kau kehilangan darah dagingmu nyonya. Dan aku bersumpah itu membunuhmu perlahan. Karena itu yang aku rasakan."
"Rasanya sungguh menyakitkan sampai setiap kau menghembuskan nafasmu, hanya rasa sakit dan tertekan yang kau rasakan." lirihnya terduduk dan terlihat sangat kesakitan menahan rasa rindunya pada calon bayinya yang sudah tiada.
"Ayumi…." gumam Kenji yang begitu terkejut mendengar semua penuturan Ayumi.
Kenji tiba-tiba bisa merasa yakin bisa merasakan kehilangan yang Ayumi rasakan. Mau bagaimanapun dia juga kehilangan darah dagingnya sendiri, dia juga merasa sangat kehilangan seperti Ayumi, dia mungkin bisa merelakan bayinya pergi, tapi kemudian dia juga menyadari kalau dirinya tak akan pernah bisa kehilangan Ayumi.
Dia begitu menyesal mendengar semua penuturan Ayumi. Dia pikir selama ini Ayumi sudah baik-baik saja, namun ia salah. Ayumi-..istrinya benar-benar kesakitan karena kehilangan bayi mereka. Dan Kenji bertaruh, rasa sakit yang Ayumi rasakan saat kehilangan bayinya melebihi penyakit yang menggerogoti tubunya saat ini.
"Aku mohon besarkan anakmu walau suamimu membencinya. Aku mohon." Pinta Ayumi membuat si wanita kemudian tersenyum melihat Ayumi.
"Terimakasih Nona.. Terimakasih sudah datang tepat waktu, Aku-…Aku berjanji akan menjaga anakku mulai sekarang, aku tak mau kehilangan bayiku.. Tidak akan pernah. Terimakasih Nona.. Aku permisi."
Dan si wanita itu pun pergi berlari mendekap erat bayinya dipelukannya, Ayumi tersenyum sangat iri pada si wanita yang diberi kesempatan bersama bayinya sementara ia tidak.
"Ayumi.. Apa kau baik-baik saja?" suster kepala bertanya pada Ayumi yang masih terduduk lemas dilantai.
Ayumi pun tersenyum dan menghapus cepat air matanya, dia kemudian bangun dan sedikit terhuyung karena kepalanya kembali berdenyut. "Aku sakit suster kepala. Tapi tidak usah khawatir, aku sudah sembuh melihatmu." Katanya menggoda si wanita tua yang terlihat mengkhawatirkan Ayumi.
"Apa benar kau baik-baik saja yum.." katanya meraba wajah Ayumi.
"Ya suster aku baik-baik saja." Kata Ayumi menyembunyikan suara bergetarnya.
__ADS_1
"O ia.. Apa maksudmu panti asuhan ini akan segera tutup. Apa mereka akan tetap menggusur tempat ini?" tanya Ayumi menyadari ucapan suster kepala sebelumnya.
Suster kepala hanya bisa tersenyum lirih dan mengangguk membenarkan ucapan Ayumi "Ya Ayumi.. Kami harus mencari tempat baru, tempat ini akan digusur dan jika aku mau mempertahankan tempat ini, aku harus membayar sangat mahal, dan kau tahu keuangan kami sangat tak bagus." Katanya tertawa pahit memberitahu Ayumi.
"Suster kepala, aku sudah janji akan membantumu. Aku akan meminta bantuan teman-temanku, kalau perlu aku akan bekerja sampai mati agar bisa membantumu." Ayumi memeluk suster kepala sekilas dan meyakinkan wanita paruh baya tersebut.
"Terimakasih kau sudah sangat baik Ayumi, tapi kami tak punya pilihan lain selain berkemas dan bergegas pergi. aku janji akan tetap membawa Hyerin dan yang lainnya." Kata suster kepala memberitahu Ayumi.
"Aniya.. Kau tak boleh meninggalkan aku suster kepala. Aku akan kembali dan membawa uang untukmu, aku janji." Ujar Ayumi yang sudah sangat ketakutan kalau keluarganya di panti asuhan meninggalkannya sendiri.
"Terimakasih nak. Terimakasih." Kata suster kepala membawa Ayumi untuk masuk dan bertemu dengan anak asuh yang lain.
Kenji mendengarkan semua ucapan Ayumi dari awal termasuk tentang panti asuhan ini yang akan digusur dan diratakan dengan tanah. Entah kenapa melihat mereka semua sangat baik pada Ayumi, membuatnya berfikir harus melakukan sesuatu.
Kenji kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi sekertarisnya.
"Cari tahu tentang panti asuhan terpencil di selatan Myeongdo. Dan pastikan kalau tak seorang pun bisa mengusik tempat itu. Lakukan apapun yang harus dilakukan."
Katanya memberi perintah pada sekertarisnya dan menutup ponselnya, Kenji memutuskan untuk menunggu Ayumi yang masih berbincang di ruangan suster kepala.
..
..
Ayumi terus berjalan menyusuri pinggiran Seoul, sepertinya dia hendak ke suatu tempat karena dirinya mampir di toko bunga dan membeli tiga buket bunga dan menggenggamnya di tangannya, Kenji menebak-nebak kemana selanjutnya Ayumi akan pergi karena Ayumi kembali menaiki bus dan dia terus mengikutinya.
Kenji sedikit membelalak mengenali tempat yang Ayumi kunjungi saat ini.
Ya saat menuruni bus dan kembali menyusuri jalan, Kenji tahu benar kalau istrinya ini sedang menuju ke pemakaman kedua orang tuanya.
Terlihat sesekali Ayumi menoleh ke belakang, mungkin dia merasa diikuti namun dia tersenyum mengabaikannya karena sebentar lagi akan bertemu dengan kedua orang tua Kenji.
"Eomma…Appa~"
Sapa Ayumi berjongkok dan meletakkan masing-masing satu buket bunga di makam orang tua Kenji, Kenji hanya diam dan terus mendengarkan.
"Maafkan aku baru bisa mengunjungi kalian setelah sekian lama. Terlalu banyak hal yang terjadi padaku." Gumamnya melihat kekanan dan ke kiri bergantian mengelus nisan yang bertuliskan masing-masing nama kedua orang tua Kenji.
"Kalian tahu dokter bilang apa tentang penyakitku? Itu tumor..Mereka mengatakan aku harus operasi, dan mereka bilang operasi belum menjamin kesembuhanku. Jadi apa yang harus kulakukan?" tanya Ayumi lirih membuat Kenji mengepalkan tangannya otomatis mendengarkan ketakutan Ayumi.
"Ah…Maaf aku mengeluh pada kalian. Aku ingin memberitahu sesuatu pada eomma dan appa." Suara Ayumi berubah dibuat menjadi senormal mungkin.
__ADS_1
"Aku dan Kenji-… kami berdua sudah tidur sekamar lagi." Katanya tersenyum dan terdengar sangat bahagia.
"Eomma dan Appa harus mendoakan agar hubungan kami berdua membaik. Aku sangat merindukan Kenjiku." Lirihnya dengan air mata yang sengaja ia biarkan menetes.
"Ah… Maaf aku kembali cengeng." Katanya menghapus airmatanya cepat.
"Eomma appa.. Mulai besok, aku akan mengunjungi kalian bertiga setiap minggu. Aku janji." Katanya berpamitan mengecup masing-masing nisan kedua orang tua Kenji.
"Bertiga?"
Kenji membatin saat Ayumi mengatakan akan mengunjungi kalian bertiga setiap minggu. Setelah itu dilihatnya Ayumi berdiri sambil memegang buket bunga yang tersisa satu dan berjalan menyusuri taman pemakaman tak jauh dari makam kedua orang tuanya, kemudian tak lama ia kembali berjongkok meletakkan bunga di salah satu makan yang Kenji tebak itu buatan Ayumi sendiri.
"Anakku.."
Kenji kembali merasa dirinya melemas mendengar Ayumi menyapa makam yang sedang ia ajak bicara saat ini. ternyata ini adalah makam anak mereka yang Ayumi buat sendiri karena terlihat berantakan namun tersusun dengan cantiknya.
"Maafkan aku yang hanya bisa membuat tempat istirahat yang sangat jelek untukmu nak. Eomma hanya ingin membuatmu merasa nyaman dan membuatku memiliki tempat untuk berbicara denganmu." Lirihnya menciumi nisan dengan tulisan My little angel yang ia tulis dengan kedua tangannya sendiri.
"Apa kau sedang bermain disana nak?" tanya Ayumi mendongak ke atas langit.
"Eomma sangat ingin melihatmu anakku." Katanya kembali tersenyum dan mencium nisan anaknya.
"Eomma ada kabar yang entah baik atau buruk untukmu nak. Dokter bilang eomma mengidap tumor yang artinya eomma bisa menyusulmu dan bermain denganmu kapan saja. Apa kau senang?" tanya Ayumi mengelus sayang nisan calon anaknya itu.
"Tapi eomma takut nak… eomma takut tak bisa melihat appamu lagi… Eomma sangat mencintai appamu nak. Eomma sangat takut tak bisa bertemu appamu….."
Ayumi membelalak saat merasakan lengannya ditarik cukup kencang dan kini dirinya sedang merasakan seseorang yang sangat ia kenali sedang menciumnya dengan lembut.
Kenji sudah tak tahan mendengar Ayumi yang terus mengatakan bisa pergi kapan saja dan menyusul anak mereka. Dia tak bisa mendengar lebih banyak lagi dan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang bisa membuat Ayumi diam dengan memaksanya berdiri dan mencium bibir mungilnya yang terlihat memucat karena cuaca dingin.
Ayumi sendiri dengan otomatis menutup matanya dan tersenyum karena menyadarinya suaminya berada disini, dimakam kedua orang tuanya dan anak mereka dan sedang menciumnya lembut, seolah membuktikan kepada kedua orang tua Kenji serta anak mereka kalau hubungan mereka baik-baik saja, membuatnya bersyukur lega dan ikut membalas ******* lembut suaminya.
Kenji pun semakin memperdalam ciumannya dan tanpa Ayumi ketahui, Kenji sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu yang harusnya ia lakukan saat mereka kehilangan bayi mereka, sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan pada Ayumi dengan membenci dan memukulinya, sesuatu yang akhirnya membuat Ayumi harus menanggung akibat dari kekejamannya sendiri.
Ya… Kenji sudah memutuskan untuk kembali membuka hatinya untuk Ayumi yang memiliki kesabaran yang tak terhingga untuknya, dia hanya dibutakan oleh kesalah pahaman. kemarahan dan kebencian tak beralasan untuk Ayumi. Dan mulai hari ini, Kenji berjanji untuk kembali mendapatkan cinta Ayumi, dia berjanji pada dirinya sendiri untuk memulai semuanya dari awal lagi bersama Ayumi, Karena Kenji sangat menyadari bahwa jauh dilubuk hatinya yang paling dalam dia tak pernah berhenti mencintai Ayumi.
Dan Kenji melakukannya di depan ayah, ibu serta anak mereka yang merupakan tiga orang yang sangat berarti untuknya dan Ayumi.
..
..
__ADS_1
..
see you in next chapter...