
Sementara itu Kenji yang sedang menunggu di ruang vip rumah sakit tersebut terusik oleh kedatangan sekertaris kepercayaannya yang ia minta untuk mengawasi dan memberitahunya tentang keadaan Ayumi dan terapinya.
"Tuan muda." Kata sekertaris Kim menghampiri Kenji.
"Bagaimana? Dimana dia?" Tanya Kenji yang sedang fokus membaca koran.
"Nona Ayumi sudah meninggalkan rumah sakit."
"Ah, apa terapinya berjalan lancar?" Kenji bertanya masih membaca korannya.
Diam, tak ada jawaban. Hal itu pun membuat Kenji penasaran dan melipat korannya "Jelaskan padaku ada apa?" Tuntutnya pada sekertaris Kim.
"Ini tuan lihatlah kondisi kesehatan Nona Ayumi."
Sekertaris Kim menyerahkan amplop berwarna coklat pada Kenji. Kenji kemudian membukanya dengan cepat dan mulai membacanya. Dia memang tidak mengerti isi tulisan yang ada di amplop coklat tersebut, tapi dia yakin ini bukan sesuatu yang baik.
"Apa maksudnya?" Katanya masih bertanya.
"Tumor tuan muda... Nona Ayumi mengidap tumor, dan itu dipastikan tumor otak. Bukan tumor ganas, namun tetap berbahaya jika tak dilaksanakan operasi secepatnya."
Pikiran Kenji kosong detik ini juga, dia merasa jantungnya berdegup sangat cepat, dan sekelibat rasa takut menghinggapinya, dia tidak bisa memastikan apa yang dia rasakan, hanya saja dia tahu benar kalau dia takut terjadi sesuatu yang buruk pada Ayumi.
"Di-DIMANA DIA?" Kenji berteriak ingin segera bertemu dengan Ayumi.
"Belum lama Ayumi pergi ke luar rumah sakit tuan. Tapi saya tak tahu dia ke..."
Belum selesai sekertarisnya berbicara, Kenji melesat keluar dengan cepat berniat untuk menemui Ayumi dan berbicara pada istrinya tersebut.
"Dimana kau?" Gumam Kenji terengah, matanya mengedar mencari Ayumi dan tersenyum lega mendapati Ayumi duduk di halte bus dengan termenung. Dan Kenji tahu benar apa yang sedang dipikirkan Ayumi saat ini.
Ketika sedang berjalan menghampiri Ayumi, Kenji membelalak melihat bus yang datang karena Ayumi naik kedalam bus tersebut, hal itu membuatnya harus berlari sekuat tenaga mengejar bus dan beruntung dia belum terlambat.
Selesai membayar bus, mata Kenji terus mengawasi Ayumi yang hanya diam dengan tatapan kosong, dia kemudian memutuskan untuk duduk di belakang kursi Ayumi dan memantau istrinya dari dekat tanpa harus menggangunya terlebih dulu.
Beberapa menit kemudian, Ayumi berdiri dari tempat duduknya bersiap untuk turun, Kenji kemudian mengernyit bingung menebak kemana sebenarnya tujuan Ayumi, dan tanpa berfikir panjang Kenji terus mengikuti Ayumi yang terlihat pucat dan masih belum sepenuhnya bisa ditinggal sendiri.
__ADS_1
Kenji terus mengikuti kemana Ayumi berjalan, sampai akhirnya Ayumi memasuki tempat yang ia tebak panti asuhan, namun sepertinya itu bukan panti asuhan yang layak karena terlihat sangat kumuh dan tak layak huni.
"Ayumiiiiiiiii"~
Terlihat seorang gadis kecil berlari menghampiri Ayumi dan meminta Ayumi menggendongnya, dan secara ajaib pula kedatangan gadis kecil itu membuat wajah pucat Ayumi kembali berwarna, menandakan kalau Ayumi sedang merasa bahagia dan dalam sekejap wajah murungnya dihiasi dengan senyuman yang sudah lama tak Kenji lihat.
Sementara Kenji terus mengawasi Ayumi dan berniat mencari tahu tempat macam apa ini sebenarnya dan siapa anak kecil yang sedang berceloteh didepan Ayumi.
"Hyerinaaa..apa kabar cantik?"
Terdengar Ayumi menyapa gadis kecil itu dan berjongkok didepannya mengusak rambut gadis kecil yang ia panggil Hyerin tersebut.
"Aku baik Eonni, bagaimana kabar Eonni dan adik bayi?" tanya si gadis kecil membuat Kenji berani bersumpah dan mengutuk dirinya mendapati kenyataan kalau dia adalah satu-satunya yang tak tahu tentang kehamilan Ayumi saat itu.
Raut wajah Ayumi pun mengeras saat calon anaknya kembali ditanyakan, Kenji melihat dan menyadarinya kalau Ayumi sedang mati-matian untuk tak megeluarkan suara yang bergetar yang bisa membuat gadis kecil itu merasa khawatir.
"Adik bayimu sedang beristirahat dengan kakek neneknya hyerinaa.. Doakan agar dia selalu sehat dan bahagia hmm."
"Ya… tentu saja Eonni, aku akan selalu mendoakan adik bayi agar Eonni senang." Katanya mencium pipi Ayumi dengan sayang.
"Gomawo Hyerina…"
"Ayo kita masuk, suster kepala ada didalam." Hyerin menggandeng tangan Ayumi menuju kedalam, Kenji pun terus mengikuti Ayumi, tak mempedulikan kalau Ayumi melihatnya atau memergokinya saat ini. karena sebenarnya itu yang Kenji harapkan.
"Baiklah cantik… Aigoo Hyerin sudah sangat pintar." Ayumi kembali tersenyum dan mengusak gemas rambut Hyerin yang sedang menggandengnya.
"Suster kepala." Ayumi menyapa suster kepala yang merupakan pimpinan dari panti asuhan tersebut yang sedang terlihat menggendong bayi dan berbicara dengan perempuan.
"Ayumi." sapa suster kepala Song yang sedang menggendong bayi.
"Ada apa? Bayi siapa itu?" tanya Ayumi yang masih menggandeng erat Hyerin.
"Aku memergoki nyonya ini ingin meninggalkan bayinya di tempat sampah panti asuhan kita Ayumi, aku sudah memberitahunya kalau kemungkinan panti asuhan ini akan tutup, jadi dia tak bisa meninggalkan bayinya begitu saja disini."
"Eonni sakit.." Hyerin sedikit meringis dan mengeluh karena genggaman Ayumi tiba-tiba mengeras dan dia merasa sakit. Ayumi yang sedang menahan marahnya pun menyadarinya dan langsung berjongkok agar sejajar dengan Hyerin "Mianhae Hyerina..Oia kau mau kan Bermain dengan yang lain? Aku ingin bicara dengan suster kepala." Katanya meminta izin pada Hyerin.
__ADS_1
"Ya Eonni tentu saja. Aku akan menunggumu selesai.:" katanya mengecup sayang pipi Ayumi dan berlari melewati Kenji yang bersembunyi tak jauh dari tempat Ayumi berada, mengawasi istrinya tanpa berniat untuk melewatkan satu hal apapun tentang Ayumi hari ini.
Sepeninggal Hyerin, Ayumi kembali berdiri dan mengambil bayi dari gendongan suster kepala Song dan menyerahkan kembali bayi tersebut kepada wanita seusianya yang sudah bersiap pergi.
"Apa-apaan ini?" tanya si wanita tersebut tak suka pada Ayumi.
Ayumi pun menatap si wanita dengan tajam dan penuh amarah. "Bawa bayi tak berdosamu dan cepat pergi darisini." Desisnya dengan penuh luka didalam suaranya.
"Mwo?" kata si wanita tak percaya.
"Suster.. Ayo kita masuk." Ayumi menggandeng suster kepala memasuki ruangannya sampai suara wanita tersebut menginterupsi.
"Aku-…Aku kesini untuk meninggalkan bayiku bukan untuk membawanya kembali kerumah."
"APA KAU SUDAH GILA? KENAPA KAU TEGA MEMBUANG ANAKMU?"
Habis sudah kesabaran dari kemarahan yang sedari ia tahan saat pertama kali mendengar wanita didepannya ingin membuang anaknya ke panti asuhan. Suster kepala pun terlihat sedikit berjengit melihat Ayumi yang berteriak Kenji menebak ini adalah kali pertama untuk wanita tua yang Ayumi panggil suster kepala tersebut melihat Ayumi yang begitu emosi.
Kenji pun tersenyum lirih menyadari kalau ini juga pertama kalinya ia melihat Ayumi yang sangat marah dan terlihat sangat emosi.
"BUKAN URUSANMU…"
Si wanita membalas teriakan Ayumi sama emosinya, membuat Ayumi melangkah maju mendekati wanita tersebut.
"Kau ingat anak kecil yang belum lama berdiri disini tadi? Dia sama seperti anakmu yang akan kau buang ini, dia anak yang tak diinginkan. Dia tumbuh dengan baik disini, tapi percayalah padaku hanya tubuhnya yang tumbuh sehat, tapi tidak dengan perasaan dan pikirannya. Dia masih berusia tujuh tahun tapi dia sudah bisa mengambil kesimpulan kalau dia dibuang orang tuanya. Apa kau pikir dia membenci orang tua kandungnya? Tidak-… Gadis kecil itu tidak pernah membenci orang tuanya, gadis kecil itu selalu berdoa untuk kebahagiaan orang tuanya dengan tersedu pilu setiap malam. Berharap kalau orang yang membuangnya kembali untuk memungutnya."
"Lalu apa kau akan tega melihat anakmu tumbuh besar dengan batin yang hancur berkeping-keping seperti gadis kecilku?" Ayumi melanjutkan ucapannya dengan suara bergetar dan memegang bahu si wanita tersebut yang tampak syok dengan cerita Ayumi barusan.
Brak!
Si wanita terduduk dan memeluk erat anaknya sambil terisak pilu, sedari awal memang dia tak terlihat ingin membuang anaknya, dia dalam keadaan bingung dan tak tahu harus bagaimana "Anakku.. Maafkan eomma nak?" katanya menciumi bayinya yang sedang tertidur.
..
..
__ADS_1
..
Bersambung...