
Cklek!
Terlihat Ayumi yang kini sudah memakai piyama tidur berdiri ragu untuk menghampiri Kenji yang sudah bersiap di ranjang mereka.
"Ayuki, cepat berbaring dan istirahat." Kenji menyadari kalau istrinya sedang menatap takut padanya.
"Kenji-…Maaf merusak pestamu." Lirih Ayumi menunduk menyesal.
Ya, setelah pengumuman yang Kenji berikan, tak lama kemudian Ayumi kembali merasakan sakit di kepalanya dan kemudian tubuhnya sangat terasa lelah, dia tidak memberitahu Kenji takut kalau Kenji membubarkan pesta yang baru saja dimulai, namun Kenji menyadarinya dan langsung memutuskan bahwa Ayumi memang harus beristirahat karena kelelahan dan tanpa ragu pun pesta yang baru dimulai tiga jam itu ia akhiri.
Kenji menghela nafasnya dan berjalan menghampiri Ayumi "Apa aku terlihat marah?" tanya Kenji yang kini berdiri didepan Ayumi.
"Ayumi lihat aku jika aku bertanya." Perintah Kenji dan Ayumi memandang suaminya yang terlihat mengkhawatirkannya.
Ayumi menggeleng lemah dan menatap Kenji dengan menyesal "Tidak." Gumamnya memberitahu Kenji.
"Kalau begitu hentikan tatapan menyesal itu. Aku bisa membuat pesta yang jauh lebih meriah saat kau sehat nanti." Katanya mengecup bibir Ayumi dan menggendong istrinya untuk segera berbaring dan beristirahat.
Ayumi hanya bisa merona karena sudah lama sekali Kenji tak menggendongnya seperti ini.
"Nah, sekarang minum obatmu dulu." Kenji memberikan obat kepada Ayumi dan membantunya meminum obat, setelah selesai Kenji membawa Ayumi ke dekapannya dan menyelimuti tubuh mereka.
"Apa sangat sakit?" tanya Kenji saat Ayumi sudah hampir tertidur.
"eh?" Ayumi mendongak ke arah Kenji dan menatap suaminya yang entah kenapa begitu pucat saat bertanya pada Ayumi.
"Apa kau sangat merasa kesakitan?" tanya Kenji menatap Ayumi.
"Ah…penyakitku ya? Tidak Kenji…. Aku tidak setiap saat merasa sakit." Katanya kembali bersandar di pelukan Kenji.
"Ayumi….Aku sudah menentukan jadwal operasimu." Ujar Kenji memberitahu Ayumi yang langsung duduk mencari kebenaran ucapan Kenji.
"Apa maksudmu? Aku tidak mau Kenji-…kau tahu apa kata dokter? Aku bisa saja mengalami koma selama operasi berlangsung. Lagipula aku tidak bisa sembuh sepenuhnya jika operasi. Biarkan aku terapi dan minum obat seumur hidupku. Tapi aku mohon jangan memintaku untuk operasi." Ujar Ayumi yang entah kenapa menjadi emosi saat topik operasi Kenji ucapkan.
Kenji menggeleng lemah dan berusaha memberitahu Ayumi "Kau akan tetap terapi selama tiga bulan yum, lalu pada bulan keempat kau harus di ope…"
"KENJI CUKUP!"
Ayumi entah kenapa begitu marah pada penyakitnya yang harus membuatnya menjalani operasi dan bisa membuatnya mati kapan saja. Dia kemudian berdiri dari tempat tidur Kenji dengan ketakutan luar biasa dan emosi yang entah kenapa menjadi sangat tak beraturan.
"Tak bisakah-…Tak bisakah kau membiarkan aku bahagia sekali saja? Bagaimana jika nanti aku menjalani operasi dan kemudian operasiku gagal dan aku mengalami koma? Aku tidak akan bisa bangun dan melihatmu lagi Kenji. Aku masih ingin terus bersamamu walau aku kesakitan, jadi berhenti membuatku menghilang dari hidupmu." Ujar Ayumi yang kini sudah terisak dan menangis.
__ADS_1
Kenji hanya memandang istrinya dengan menyesal dan tetap pada keputusannya "Kau akan tetap menjalani operasi Ayumi, ini semua demi kebaikanmu."
"Kau jahat!" teriak Ayumi berlari keluar dari kamar Kenji dan masuk ke kamar samping, mengunci pintu kamar yang sebelumnya ia tempati disamping kamar Kenji.
Kenji sudah bisa menebak akan seperti ini reaksi Ayumi, Karena Bora-..dokter yang menangani Ayumi sudah memberitahunya bahwa Ayumi menolak dengan tegas untuk melakukan operasi dengan alasan takut tak bisa melihat wajahnya lagi.
"Aku sangat jahat Ayumi-..Tapi aku tak bisa membiarkanmu kesakitan dan pergi dariku kapan saja jika kau tak bisa menahan sakitnya." Lirih Kenji yang sudah berada didepan kamar Ayumi dan membiarkan Ayumi menangis didalam sana tanpa mengganggunya. Karena Kenji sudah bertekad untuk tetap membuat Ayumi menjalani operasi pertamanya.
..
..
Keesokan paginya Ayumi bangun dengan perasaan yang campur aduk didalam dirinya, dia merasa senang karena Kenji semalam kembali menjadi Kenjinya yang dulu, namun kemudian dia begitu marah dan emosi mengingat Kenji yang sepertinya akan terus mendesaknya melakukan operasi yang bisa membuatnya koma bahkan mati saat itu juga.
Ayumi kemudian menebak Kenji sudah berangkat kekantornya, kemudian dia bersiap untuk kembali mengunjungi makam kedua orang tua Kenji dan makan calon anak mereka. Dia benar-benar butuh tempat bicara dan hanya tempat itu yang bisa membuatnya tenang.
Setelah bersiap-siap dengan cepat, Ayumi berlari menuruni tangga dan segera bergegas keluar sebelum Keiko menemukannya, karena dia menebak Keiko sudah menjadi kaki tangan Kenji semenjak Kenji berubah sangat memperhatikan dirinya.
Dia pun tersenyum senang saat berhasil keluar rumah dan segera berlari ke halte bus terdekat dari rumahnya.
"Ahjussi, aku pesan tiga buket bunga." Pinta Ayumi pada penjual bunga tempat dimana ia biasa membeli bunga untuk ke pemakaman.
Ahjusii yang sudah menjadi langganan Ayumi pun mengangguk mengerti dan segera menyiapkan bunga pesanan Ayumi.
"Iya sebentar ahjusii." Ujar Ayumi masih mencari uangnya didalam tas.
"Ambil kembaliannya ahjussi. Terimakasih untuk bunganya yang cantik."
Suara yang sangat familiar di telinga Ayumi menginterupsi, membuat Ayumi sedikit membelalak melihat suaminya sudah berada disampingnya dan kini memegang tiga buket bunga yang ia pesan.
"Kenji.." gumam Ayumi kebingungan.
"Wae? Ini juga jadwalku untuk mengunjungi makam orang tuaku dan makam anak kita." Katanya yang kemudian menggenggam Ayumi berjalan ke halte bus terdekat, Ayumi yang sebenarnya masih kesal pada Kenji mau tak mau tersenyum bahagia karena ini adalah kali pertama mereka mengunjungi makan kedua orang tuanya bersama-sama dan Kenji juga sudah mengetahui kalau Ayumi membuat makam khusus untuk calon anak mereka yang telah tiada.
Kenji terus menggenggam Ayumi dengan tiga buket bunga yang ia bawa sendiri, dia kemudian menuntun Ayumi menaiki bus dan duduk di bangku belakang yang kosong "Kenapa memandangku terus? Apa kau sangat marah padaku?" tanya Kenji karena Ayumi terus menatapnya.
Ayumi menggeleng dan hanya menatapnya bingung "Aku tidak marah. Tapi bagaimana bisa kau tahu tempatku biasa membeli bunga untuk ke pemakaman?" tanyanya pada Kenji.
"Bodoh. Aku sudah mengikutimu sejak awal kau berlari seperti maling dari rumah kita. Kau bahkan belum sarapan dan meminum obatmu." Katanya menyindir Ayumi yang merasa malu karena ketahuan berlari seperti orang gila pagi tadi.
"Maaf." Gumamnya menyesal.
__ADS_1
"Maaf untu apa? Ah-.. Maaf karena berani membuatku tidur sendirian semalam? Kau belum dimaafkan untuk itu. Kau akan dimaafkan setelah kau memanggil namaku dengan suara seksimu nanti malam." Ujar Kenji yang sedang menggoda Ayumi. "Kenji-.." Ayumi memukul kencang lengan Kenji yang terus menggenggamnya tak melepasnya sedikitpun dari awal mereka bertemu pagi ini.
"Aku akan memastikan kau minum obat setelah ini, lagipula hari ini kita akan ke rumah sakit untuk membahas jadwal operasi dan terapimu." Katanya memberitahu Ayumi yang hanya terdiam dan tak berniat menjawab pernyataan Kenji. Karena jujur saja dia masih sangat keberatan untuk menjalani operasi yang Kenji inginkan.
"Kenapa diam? Kau tak mau?" Kenji bertanya namun tak mendapat jawaban dari Ayumi yang mulai keras kepala dan tak mendengarkannya. Kenji menghela nafasnya berharap kalau dia bisa merubah keputusan Ayumi untuk melakukan operasi.
Dan setelah beberapa menit pun mereka sampai di area pemakaman orang tua Kenji. Kenji terus menggenggam Ayumi sampai akhirnya mereka berhenti tepat dimakam kedua orang tua Kenji.
Ayumi mengambil buket bunga yang ada dipegangan Kenji dan langsung membagikannya ke makam ayah dan ibu Kenji. "eomma…appa…Aku datang bersama Kenji." Gumam Ayumi yang melirik ke arah Kenji yang masih berdiri tak menyapa kedua orang tuanya.
"Kenji.." Ayumi memanggilnya untuk segera menyapa kedua orang tuanya.Kenji terenyuh dan mulai berjongkok untuk ikut menyapa kedua orang tuanya.
"Eomma..Appa.. Kalian pasti sangat marah dan kecewa padaku karena ini adalah kali pertama aku dan Ayumi datang bersama mengunjungi kalian kan? Maafkan aku.." lirih Kenji tertunduk sambil mengusap nisan kedua orang tuanya bergantian.
"Kalian tahu? Ayumi sudah mengalami banyak hal buruk karena kejahatanku, dia berkali-kali mengalami memar dan harus dirawat dirumah sakit, dia harus merasakan betapa kejamnya mulutku yang terus mengatakan hal-hal jahat padanya. Tapi bodohnya dia tak pernah pergi dariku. Pasti kalian lebih menyayanginya saat ini."
Ayumi hanya diam mendengar semua penuturan Kenji yang sedang berbicara dengan kedua orang tuanya.
"Dan kalau kalian tahu, tak jauh dari makam kalian ada makam calon cucu kalian yang meninggal karena Ayumi menyelamatkanku." Lirih Kenji tercekat memandang makam yang dibuat Ayumi untuk calon anak mereka.
"Maafkan aku menjadi monster mengerikan yang selalu mengecewakan kalian berdua maafkan aku." Kenji kembali memaki dirinya, Ayumi yang tak tahan pun merangkul lengan Kenji meminta suaminya untuk berhenti bicara.
"Tapi sekarang Tuhan membalas semua kejahatanku. Dia membuat Ayumi sakit, dan sakitnya sudah menggerogoti tubuhnya karena aku tak memperhatikannya. Disaat aku menyadari kalau hanya Ayumi yang aku miliki, aku akan segera kehilangannya kalau dia tak mau menjalani pengobatan dan operasi. Ayumi bilang dia takut operasinya gagal dan tak bisa melihatku lagi. Harusnya itu menjadi ketakutanku. Aku takut tak bisa bersamanya lagi kalau aku tak melakukan apapun untuknya. Aku takut Ayumi pergi dariku dengan tiba-tiba. Aku takut kehilangan istriku eomma." Kenji tertunduk dan menggenggam erat jemari Ayumi.
"Tolong katakan padanya untuk mau menjalani operasi yang disarankan, aku hanya ingin melihatnya lebih baik tanpa harus kesakitan lagi. Aku mohon." Pinta Kenji yang kini menatap Ayumi, seolah dia meminta kepada orang tuanya namun nyatanya Kenji sedang membujuk Ayumi untuk mau menjalani operasi.
"Aku mohon." Lirihnya tertunduk karena Ayumi kembali diam dan tak memberikan respon apapun. Ayumi kalah, dia sangat tak tega melihat suaminya yang begitu ketakutan dan sangat mengkhwatirkannya, dia kemudian menangkup wajah Kenji dan menghapus air mata Kenji yang membasahi pipinya.
"Aku mau Kenji….Aku akan menjalani operasi yang kau minta. Aku mau sayang." Ujar Ayumi menahan semua rasa takut yang menghinggapi dirinya, takut kalau tak bisa melihat wajah tampan suaminya yang selalu ia rindukan.
Kenji kemudian menggenggam erat tangan Ayumi yang sedang mengusap wajahnya, dia tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya karena Ayumi menyetujui untuk menjalani operasi.
"Terimakasih Ayumi…. Teimakasih." Ujarnya memeluk erat Ayumi, Keduanya membiarkan semilir angin menerpa mereka yang sedang berbagi perasaan bahagia, senang namun penuh kekhawatiran yang mendalam di masing-masing insan yang sedang memikirkan ketakuan mereka masing-masing.
..
..
..
i lost of my words ")
__ADS_1
Next....