
"*Aku akan menjaga appa untukmu eomma, istirahatlah dengan tenang."
**Dua puluh tahun kemudian***…
Kalimat yang sama seperti dua puluh tahun yang lalu diucapkan kembali oleh Oh Haowen Haneul, malaikat kecil Kenji dan Ayumi kini sudah menjelma menjadi pria tampan seperti ayahnya dan berhati baik seperti Ayumi, ibunya.
"Eomma.. Ini Haowen.. Kau apa kabar disana? Ah... Kau pasti sedang bersama halmoni dan haraboji kan? Kalian curang bersama disana dan meninggalkan aku dengan pria super dingin seperti appa"
Sementara Kenji hanya tersenyum mendengar celotehan Haowen yang terdengar sangat cerewet. Dia tersenyum bangga karena bertahan sampai saat ini dan membesarkan Haowen dengan kedua tangannya sendiri tanpa bantuan dari siapapun termasuk dari Derick dan Keiko. Dia memastikan sendiri kalau putranya tumbuh dengan kasih sayang yang cukup walau tanpa Ayumi menemani Haowen dalam masa pertumbuhannya.
"Eomma... Kau tahu kan? Appa sangat mencintaimu. Dia selalu tidur dengan memeluk fotomu dan selalu berbicara denganmu jika dia lelah. Dia memang manusia tanpa ekspresi, tapi dia mencintaimu eomma. Dia juga mencintaiku. Dan dia harus tahu kalau kita berdua juga mencintainya"
Kenji terkekeh mendengar penuturan anaknya yang begitu cerewet jika sedang berkunjung ke makam ibunya. Haowen yang sehari-hari adalah jiplakan orisinil dari dirinya. Tak banyak bicara dan hanya melakukan sesuatu yang menurutnya benar, tapi Haowen yang sedang berkunjung ke makam Ayumi adalah Haowen yang menunjukkan kalau ia memang putra Kenji dan Ayumi.
"Hey cepat katakan tujuanmu kesini." Kenji menginterupsi putranya yang tak berhenti bicara.
"Araseo haraboji." Sindir Haowen yang kembali menatap makam bertuliskan XI AYUMI HANEUL disana.
"Eomma. Usiaku 25 tahun ini, dan aku ingin memberitahukan kabar baik untukmu. Minggu depan aku akan menikah dengan putri cantik Derick appa dan Keiko eomma…. Iya aku tahu kau sangat bahagia Karena akhirnya Ziyu si cerewet itu akan menjadi menantumu" Katanya tersenyum lirih menatap nisan ibunya.
Wush~
Semilir angin begitu terasa menerpa lembut wajah Haowen dan Kenji. Mereka seakan bisa merasakan kehadiran Ayumi disini bersama mereka.
"Meskipun begitu aku sangat berharap kau datang ke acara pernikahanku eomma. Aku sangat ingin melihatmu." Ujar Haowen bergetar tertunduk masih mengelus sayang nisan ibunya.
__ADS_1
Kenji menatap punggung putranya yang bergetar, ia kembali merasakan penyesalan yang teramat karena tak menjaga istrinya dengan baik. Dia merasa sangat gagal menjadi ayah dan suami untuk Haowen dan Ayumi. Karena dirinyalah putra dan istrinya tidak bisa hidup bersama dan bahkan keduanya hampir tak saling mengenal.
"Tapi tak apa eomma, kau tak perlu sedih. Appa bilang kau selalu melihatku disana, jadi aku percaya kau akan menghadiri upacara pernikahanku. Aku mencintaimu eomma." Haowen menghapus cepat air matanya dan tersenyum mencium nisan ibunya.
"Nah, waktu kencanku sudah habis denganmu eomma. Sekarang giliran pria tua ini." Kekeh Haowen berjalan ke arah Kenji dan memeluk tubuh ayahnya yang selalu terasa kurus dipelukannya.
"Aku menyayangimu aboji." Bisik Haowen pada Kenji.
"Appa juga menyayangimu nak." Balas Kenji memeluk putranya.
"Aku menunggu di mobil, appa bicaralah dengan eomma hmm" katanya membuat Kenji mau tak mau tersenyum.
"Aku akan sedikit lama bicara dengan ibumu." Kekeh Kenji memberitahu putranya.
"Aku akan menunggumu kakek tua." Goda Haowen membuat Kenji mendelik sebal pada putranya.
Tak lama Haowen melenggang pergi ke parkiran mobil, memutuskan untuk memberikan waktu lebih pada ayahnya untuk menyampaikan rasa rindunya pada ibunya, karena Haowen tahu benar betapa ayahnya sangat merindukan ibunya, tak pernah satu malam pun dilalui Kenji tanpa memeluk atau berbicara pada foto Ayumi, bercerita tentang apa saja yang ia alami hari ini termasuk menceritakan pertumbuhan Haowen, dan betapa bangganya dia pada putra tunggalnya itu.
Haowen menghapus cepat air mata yang sedari ia tahan, ia tahu kalau ayahnya lebih memilih untuk segera menyusul ibunya daripada harus hidup merasakan bagaimana sosok yang sangat ia cintai perlahan benar-benar menghilang dari ingatannya. "Appa.. Berjanjilah kau akan terus bersamaku. Aku tak punya siapa-siapa lagi." Gumam Haowen yang mempercepat langkahnya dan takut membayangkan jika ayahnya juga ikut meninggalkannya.
Sementara itu pria paruh baya yang melihat punggung putranya semakin menjauh hanya tersenyum lirih mengetahui kalau putranya sangat mengkhawatirkannya. Dia kemudian menatap pada nisan istrinya dan tersenyum bahagia.
Kenji kemudian berjongkok dan meletakkan bunga lily di makam Ayumi "Hay sayang" Gumam Kenji mencium nisan yang bertuliskan nama Ayumi agak lama. Berusaha melepas rindunya karena sudah tak mengunjungi makam istrinya beberapa hari ini.
"Bagaimana kabarmu sayang? Kau lihat kan? Haowen sudah dewasa sekarang." Katanya tersenyum memberitahu Ayumi.
__ADS_1
"Dia akan segera menikah dan saat itu janjiku padamu terpenuhi" Kenji kembali mengelus sayang makam Ayumi.
Dia kemudian terdiam cukup lama dan tak lama.
Tes!
Air mata kerinduan itu kembali terjatuh di pipinya. Ayumi memang sudah dua puluh tahun meninggalkannya, tapi kenangan saat dia meminta keinginan terakhirnya masih terngiang jelas dibenak Kenji, membuatnya harus selalu kuat menjalani hidupnya tanpa Ayumi.
"yum, aku merindukanmu. Sangat merindukanmu."
Kenji memejamkan matanya karena hembusan angin begitu menyejukkan hatinya yang sudah dua puluh tahun ini terasa kosong dan sangat hampa.
"Berbahagialah disana sayang, biarkan aku menderita disini, aku pantas menerimanya. Tapi aku mohon satu hal padamu Yum.."
Kenji tertunduk dan tak pernah tak menangis pilu saat mengingat betapa kejamnya dia pada Ayumi saat dulu, saat betapa Ayumi kesakitan berjuang melawan penyakitnya, dan saat pada akhirnya Ayumi menyerah karena tak sanggup lagi menahan rasa sakitnya.
"Berjanjilah tak akan pudar dari ingatanku. Aku takut melupakan wajah cantikmu sayang, aku takut tak bisa mengingat senyum manismu lagi Yum. Aku takut kita tak akan pernah bertemu lagi." Katanya mencengkram dadanya dan batu nisan Ayumi bersamaan.
Ya, selama 20 tahun hidupnya, Kenji hidup dengan rasa penyesalannya, setiap nafas yang ia hembuskan begitu menyesakkan dan sangat menyakitkan, berkali-kali ia berniat ingin menyusul Ayumi agar bisa kembali bersamanya, namun berkali-kali juga niatnya ia kubur dalam-dalam karena janjinya pada Ayumi untuk menjaga putra mereka yang semakin hari terlihat semakin seperti Ayumi.
Kenji kemudian tersenyum lirih kembali menatap nisan Ayumi "Aku akan bertahan semampuku sayang, aku benar-benar akan bertahan untukmu. Aku mencintaimu." Katanya mengecup nisan yang bertuliskan nama Ayumi dengan air mata yang terus membasahi pipinya.
..
..
__ADS_1
Next..