
Kenji menggenggam erat lengan Ayumi yang diperban membuat tubuh Ayumi refleks menegang karena takut Kenji akan kembali memukulnya.
..
..
"Aku tak lapar." Katanya dengan suara dingin menatap tajam Ayumi.
"Maaf aku membuatmu menunggu lama. Tapi sebentar lagi akan selesai, tunggulah sebentar." Kata Ayumi dengan nada ketakutan yang di sembunyikan mati-matian.
"Aku tak lapar." Desis Kenji mengulang kalimatnya membuat Ayumi kini bergetar ketakutan, Kenji sedikit merasa ada bagian dihatinya yang terasa diiris melihat Ayumi bergetar takut saat menatapnya.
"Baiklah kau tak lapar. Aku permisi kembali kekamar." Katanya melewati Kenji dan sedikit berlari menuju kekamarnya.
"Kenapa kau tak mengatakannya?" Kenji sedikit berteriak membuat Ayumi berhenti di tempatnya, dia kemudian perlahan menoleh ke arah Kenji dengan takut.
"Mengatakan apa?" katanya memberanikan diri bertanya.
"KENAPA KAU TAK PERNAH MENGATAKAN KALAU KAU BUKAN ANAK PEMBUNUH ITU."
Teriakan Kenji membuat Ayumi sedikit terkejut namun tetap menolak untuk memberikan respon.
"JAWAB AKU!" Kenji mulai kehilangan kesabarannya dan mendekati Ayumi yang hanya menunduk tak menjawab.
"AYUMI!" Kenji kembali berteriak membuat tubuh Ayumi kembali bergetar.
"Kau membutuhkan seseorang untuk disalahkan Kenji, kau membutuhkan seseorang untuk melampiaskan rasa sedihmu Kenji, dan aku-.. Aku sudah memutuskan untuk menjadi semua yang kau butuhkan." Katanya memberanikan diri menatap Kenji dengan mata yang sudah berkaca dan menahan perih dihatinya.
"Apa maksudmu?" Kenji bertanya tak mengerti.
"Jika kau tahu aku bukan anak mereka, kau akan mengusirku kan? Kau akan memintaku pergi karena kau tak bisa melihat wajahku."
"Kalau kau tahu aku bukan anak mereka, aku tidak akan pernah bisa melihat wajahmu lagi. Dan aku tak bisa membiarkan hal itu terjadi, aku bertahan selama ini hanya karena ingin bersamamu, melihat wajahmu yang dulu pernah mencintaiku sudah lebih dari cukup untukku. Aku membiarkan kau melakukan apapun yang ingin kau lakukan padaku. Aku bahkan bersedia mati ditanganmu asal kau tak mengusirku. Aku membutuhkanmu Kenjiaa." Katanya sedikit berteriak membuat Kenji hanya terdiam mendengarkan.
"Aku ingin sekali membencimu, tapi bagaimana bisa aku membencimu sementara hatiku menolak untuk membencimu."
"Bagaimana bisa aku membencimu sementara diriku hidup dengan rasa bersalah yang kau tujukan padaku."
__ADS_1
"Bagaimana Bisa aku membencimu sementara aku sangat mencintaimu Kenjiaa!"
Ayumi mengakhiri ucapannya dan segera berlari menuju ke kamarnya, dia tak bisa lagi berbicara dengan Kenji, dia takut setelah ini Kenji akan mengusirnya dan membuatnya kembali tak memilik siapa-siapa, membuatnya harus kembali hidup sebatang kara tak memiliki siapapun untuk diakui menjadi keluarga.
"Ja-jangan usir aku, Aku mohon." Lirihnya yang terduduk di balik pintu kamarnya, rasa takut ini bahkan melebihi rasa sakit yang ia rasakan selama bertahun-tahun ini ditubuhnya.
..
..
Beberapa hari kemudian, suasana dirumah kediaman Oh tampak sepi tak seperti biasa, tak ada teriakan Kenji yang memaki Ayumi, tidak ada jeritan kesakitan Ayumi karena Kenji yang memukulinya setiap pagi, bahkan beberapa maid dirumah Kenji menebak kalau Tuan besar mereka dan Ayumi sudah mulai memperbaiki hubungan mereka.
Namun perkiraan hanyalah perkiraan, karena tak seperti bayangan para pengurus rumah Kenji yang mengatakan tak ada suara marah Kenji dan tangisan Ayumi adalah karena kedua majikan mereka mulai memperbaiki hubungan mereka itu adalah salah. Keheningan yang beberapa hari ini terjadi di kediaman Oh karena Kenji sendiri memutuskan untuk tidak pulang kerumah sudah hampir seminggu ini. Setelah percakapan terakhirnya dengan Ayumi malam itu, Kenji seolah menghindari Ayumi dan memilih untuk pergi dari rumahnya sendiri dan menginap di hotel tak jauh dari kantornya.
Hal itu pun disadari oleh Ayumi yang kemudian merasa tak enak hati karena perkiraannya tak meleset sedikit pun mengenai sikap Kenji jika mengetahui dia bukan anak dari kedua orang yang dia anggap sebagai orang tuanya. Ayumi tahu Kenji menghindarinya, tapi dia tidak tahu Kenji akan sampai meninggalkan rumahnya karena keberadaannya di rumah milik Kenji.
Cklek!
Ayumi baru saja keluar dari kamarnya, dia kemudian menoleh ke arah kamar Kenji dan tersenyum pahit mengetahui kamar Kenji yang masih sama seperti seminggu lalu, sepi tak berpenghuni, menandakan kalau Kenji belum juga pulang ke rumahnya sendiri.
"Ayumi ? Kau mau kemana?"
Keiko menaikkan kedua alisnya cemas, tapi karena dia tahu Ayumi masih dalam keadaan berduka karena kehilangan bayinya, bukankah bagus untuknya pergi keluar dan tak terus tinggal dirumah, begitulah sekiranya yang Keiko pikirkan.
"Baiklah, tapi kau harus makan dulu." Keiko sedikit mendorong Ayumi ke meja makan untuk menghabiskan sarapan yang telah ia buat untuk Ayumi.
"Gomawo Keii." Ujar Ayumi tersenyum senang, dia kemudian memakan lahap sarapan yang dibuatkan Keiko, takut jika ini adalah terakhir kalinya dia bisa merasakan masakan buatan Keiko.
Keiko sendiri entah mengapa mempunyai perasaan yang mengganggunya mengenai Ayumi, tapi kemudian dia membuang jauh-jauh pikiran tentang dirinya yang sangat mencemaskan Ayumi, karena untuk sekarang dia sangat lega Ayumi tampak sudah bisa menerima keadaan walau dia tahu benar jauh didasar hati Ayumi yang paling dalam dia hancur dan hanya menyimpan kesedihannya untuk dirinya sendiri.
..
..
Tok! Tok!
"Masuk."
__ADS_1
Terdengar suara pintu ruangan kantor diketuk dan menampilkan sekertaris Kenji yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kenji "Ada apa? Aku sudah bilang tak ingin diganggu." Geram Kenji tanpa melihat ke arah sekertarisnya.
"Maaf direktur, tapi ada seseorang diluar yang sedang menunggu anda." Sekertaris Choi memberitahu Kenji.
"Katakan aku sedang sibuk." Perintahnya masih tak melihat sekertarisnya.
"Tapi wanita ini sudah menunggu sejak pagi hari direktur." Katanya kembali memberitahu Kenji, kali ini Kenji melihat ke arah sekertarisnya dengan tatapan bertanya "Siapa?" tanyanya lagi.
"Namanya Ayumi, dia bilang ada sesuatu yang penting ingin dibicarakan dengan anda."
Kenji sedikit membelalak terkejut mendapati Ayumilah yang menunggunya dikantornya "Suruh dia masuk." Katanya memberi perintah dan si sekertaris mengangguk mengerti.
Tak lama saat sekertarisnya pergi, ruangan Kenji pun kembali diketuk.
"Masuk." Ujarnya dan pintu itu terbuka menampilkan sosok Ayumi, sosok yang tanpa ia sadari mulai ia rindukan karena sudah seminggu lamanya Kenji tak melihat wajah yang dulunya selalu tersenyum itu. Namun Kenji mengernyit menyadari wajah Ayumi yang luar biasa pucat, awalnya Kenji menebak Ayumi hanya ketakutan, tapi karena melihat wajahnya yang terlalu pucat, dia yakin kalau Ayumi sedang sakit dan tak dalam kondisi yang baik.
"Ada urusan apa kau kesini?" katanya yang kembali dingin menyapa Ayumi.
"Bukan urusan yang penting Kenji, maaf mengganggu waktumu." Kata Ayumi takut-takut.
"Kalau begitu cepat pergi." ujarnya dingin membuat Ayumi harus kembali menahan rasa sakit dihatinya.
"Kenapa kau tak pulang?"
Tanpa berlama lagi, Ayumi bertanya menatap Kenji dengan berkaca-kaca.
Kenji pun sedikit terkejut dengan pertanyaan Ayumi, dia kemudian menatap Ayumi yang sudah bergetar ketakutan dengan wajah pucatnya. "Bukan urusanmu." Desisnya membuat Ayumi hanya bisa tersenyum pahit.
"Pulanglah Kenji, aku mohon. Kau tak boleh meninggalkan rumahmu hanya karena ingin menghindariku."
Dengan sisa keberanian yang ia miliki, Ayumi berjalan mendekati Kenji yang masih menatap tajam ke arahnya.
"Aku bilang bukan urusanmu." Desisnya yang semakin merasa dan menyadari kalau Ayumi adalah sosok rapuh yang sangat keras kepala.
..
..
__ADS_1
Next chapter...
tar mlm lagi ya😉