
"Nis, boleh minta tolong ga?" tanya Rika.
"Boleh Rik. Emang mau minta tolong apa?" sahut Nisa.
"Tolong beliin pereda nyeri datang bulan di apotek ya Nis. Aku ga kuat jalan nih, maklum hari pertama nyerinya kebangetan." kata Rika.
"Oke. Kebetulan aku juga mau ke minimarket. Mau nitip apalagi nih, biar sekalian jalan." ucap Nisa.
"Sama pembalut yang biasanya aja Nis." kata Rika sembari memegangi perutnya yang nyeri.
"Siap bos. Aku pergi dulu ya." ucap Nisa.
"Hati-hati Nis." ucap Rika.
"Pastinya." kata Nisa.
Nisa pun sudah melangkah pergi meninggalkan kontrakan. Terlebih dahulu ia akan ke apotek membeli pesanan Rika sahabatnya, baru setelah itu ke minimarket untuk belanja keperluannya.
Saat sudah hampir tiba di apotek, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Baru saja Nisa akan melihat ponselnya, ada seorang laki-laki yang menabraknya.
Bruuk.
Beruntung Nisa tak jatuh karena laki-laki itu segera memeluknya. Nisa pun segera melepaskan diri dari laki-laki itu karena risih. Baru kali ini ia dipeluk laki-laki selain ayahnya.
"Maaf ya Dek, saya tadi buru-buru." ucap laki-laki itu.
"Saya yang minta maaf Mas, saya sibuk liat HP tadi." ucap Nisa menunduk sambil memungut ponselnya yang terjatuh. Beruntung ponsel itu masih menyala, meskipun tergores sedikit.
"Ponsel kamu rusak Dek. Biar saya ganti ya." kata laki-laki itu sembari mengambil ponsel Nisa dan melihat kerusakannya.
"Ga usah Mas, terimakasih. Saya permisi dulu." ucap Nisa yang lantas mengambil ponselnya dari laki-laki itu lalu pergi ke apotek.
Nisa setengah berlari menuju apotek. Entah kenapa dia justru takut dengan laki-laki itu karena sudah memeluknya. Nisa mencoba menghapus bayangan laki-laki itu dari pikirannya.
Setelah selesai membeli pesanan Rika, Nisa berjalan menuju minimarket. Pengunjung minimarket lumayan ramai saat Nisa tiba di sana. Karena Nisa datang saat jam pulang kantor. Melihat kerumunan orang didalam minimarket saja Nisa sudah lelah. Namun Nisa tetap bergerak menerobos kerumunan pembeli itu, Nisa tak mau membuat Rika menunggu terlalu lama.
Pasta gigi, shampo, sabun cuci, sabun mandi, sabun pencuci piring, dan masih banyak lagi. Nisa juga membeli beberapa makanan ringan. Saat tiba di rak snack, Nisa melihat snack favoritnya tinggal 1 bungkus. Nisa segera mengambilnya. Namun saat sudah memegang bungkus snack itu, tangannya di pegang oleh seseorang. Dia juga hendak mengambil snack favorit Nisa.
Nisa melihat tangan itu kekar, sudah bisa dipastikan pasti pemiliknya laki-laki.Nisa memberanikan diri untuk melihat wajah orang itu.
"Heh?" Nisa terkejut saat melihat wajah orang itu. Dia adalah laki-laki yang sama dengan yang menabraknya tadi.
Tak lama kemudian Nisa tersadar kalau tangannya masih dipegang laki-laki tersebut. Nisa segera menarik tangannya. Kemudian mulai melangkah pergi tanpa snack itu.
"Tunggu Dek, ini buat kamu aja." kata laki-laki tersebut yang sudah berdiri didepan Nisa sambil menyodorkan snack tadi.
"Ga usah Mas. Buat Mas aja ga apa-apa kok. Saya bisa ambil yang lain." ucap Nisa.
"Buat kamu aja. Kan tadi kamu duluan yang pegang." kata laki-laki itu sembari meletakkan snack dalam keranjang belanjaan Nisa.
"Eh. Ya udah Mas kalau gitu saya ambil. Terima kasih ya. Saya permisi dulu. Mari Mas." ucap Nisa sembari melangkah pergi melewati laki-laki itu.
Nisa melihat daftar belanjaannya sebentar. Saat dirasa cukup, Nisa segera menuju kasir.
"Duh panjang banget antriannya. Udah hampir Maghrib lagi. Rika udah kelamaan nunggu aku." gumam Nisa.
15 menit sudah Nisa mengantri. Akhirnya tiba saatnya Nisa untuk membayar di kasir. Petugas kasir mulai menghitung jumlah belanjaan Nisa. Nisa pun menyodorkan beberapa lembar uang kertas 100 ribuan.
"Maaf Mbak, uangnya kurang 50 ribu." kata petugas kasir itu pada Nisa.
"Yang bener Mbak?" tanya Nisa memastikan.
"Bener Mbak. Bisa Mbak lihat disini." ucap petugas kasir itu sambil menunjukkan angka-angka di komputer. Nisa pun menelitinya.
"Perasaan tadi udah dihitung bener kok." kata Nisa dalam hati.
"Oh iya, kan tadi buat beli pesanan Rika.". gumam Nisa.
"Kalo gitu barangnya dikurangi aja Mbak." ucap Nisa pada petugas kasir itu.
"Sisanya sama saya aja Mbak." kata seorang laki-laki di belakang Nisa. Nisa pun menoleh.
"Eh ga usah Mas. Aku ga mau ngerepotin." ucap Nisa terkejut melihat laki-laki itu.
"Ga apa-apa. Udah Mbak di lanjut aja ngitungnya. Kasihan yang antri di belakang." ucap laki-laki itu.
Petugas kasir pun menurut dan langsung menghitung belanjaan mereka. Nisa pun tak membantah, karena memang antrian di belakang sangat panjang.
Saat selesai pembayaran, Nisa segera membawa 2 kantung kresek belanjaannya.
"Sini aku bantuin." ucap laki-laki itu sambil menenteng belanjaan Nisa.
"Masa' aku ga bawa apa-apa Mas. Itu kan belanjaan ku semua." kata Nisa, tangannya berusaha meraih belanjaannya. Namun laki-laki itu menjauhkannya. Lalu dia menyodorkan 1 kantung kresek kecil.
__ADS_1
"Kamu bawa yang ini aja." kata laki-laki itu sambil tersenyum.
"Tapi Mas," ucap Tisya.
"Udah ga apa-apa. Kita cari tempat makan dulu ya?" tanya laki-laki itu meminta persetujuan Nisa.
"Tapi sebentar aja ya Mas. Soalnya aku udah ditungguin sama temenku." sahut Nisa.
"Oke. Kita makan di pecel lele sebelah minimarket ini aja." kata laki-laki itu.
"Terserah Mas aja." kata Nisa.
Akhirnya mereka berjalan menuju warung pecel lele yang dekat dengan minimarket. Mereka segera duduk dan memesan makanan. Sembari menunggu pesanan, Nisa mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Rika bahwa dia pulang agak telat.
"Boleh pinjam ponselnya ga Dek?" kata laki-laki itu mengagetkan Nisa.
"Eh boleh Mas. Silahkan." ucap Nisa sambil memberikan ponselnya. Laki-laki itu pun segera menerima ponsel Nisa. Dia tampak menulis sesuatu lalu melihat-lihat keadaan ponsel tersebut.
"Udah nih. Makasih ya." kata laki-laki itu sembari mengembalikan ponsel Nisa.
"Sama-sama Mas. Aku yang harusnya terima kasih sama Mas karena udah bayarin belanjaan ku yang kurang tadi. Besok aku kembalikan uangnya." ucap Nisa.
"Ga usah dikembalikan juga ga apa-apa kok. Aku ikhlas kok bantuin kamu." kata laki-laki itu.
"Tapi kan ga enak Mas." sahut Nisa.
"Ya udah kalau kamu mau kembalikan uang tadi. Besok kita ketemu ditempat ini lagi aja." ucap laki-laki itu.
"Oke Mas." kata Nisa tersenyum. Laki-laki membulatkan matanya melihat Nisa tersenyum.
"Manis banget." kata laki-laki itu dalam hati.
"Eh iya dari tadi udah ngobrol banyak tapi aku belum tahu nama kamu siapa. Kenalin nama aku Revan. Nama kamu siapa?" tanya laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya hendak menyalami Nisa.
"Namaku Nisa Mas." kata Nisa menjabat tangan Revan.
"Nama yang cantik. Seperti orangnya." ucap Revan.
"Mas Revan bisa aja." kata Nisa tersenyum lalu menunduk malu.
"Kamu udah punya pacar belum?" tanya Revan.
"Belum Mas. Lagian aku mau fokus kuliah dulu." jawab Nisa.
"Terima kasih." ucap Nisa dan Revan bersamaan.
"Emang kamu kuliah dimana Dek?" tanya Revan.
"Di universitas Y Mas." jawab Nisa sambil meminum es teh nya.
"Oh ya. Aku malah baru aja lulus dari universitas itu. Emang kamu semester berapa?" tanya Revan.
"Semester 6 Mas." ucap Nisa.
"Masa' sih? Kok aku ga pernah liat kamu ya." kata Revan.
"Kan kampusnya luas Mas." sahut Nisa yang tak berhenti melahap makanan di depannya.
"Iya juga sih. Oh iya, kamu tinggal dimana?" tanya Revan lagi.
"Cuma dekat sini kok Mas." kata Nisa.
"Emang kamu tinggal sama siapa?" tanya Revan.
"Sama temenku Mas. Kita tinggal di kontrakan berdua." ucap Nisa.
"Kalau gitu sekalian bungkus makanan buat temen kamu aja." kata Revan.
"Eh ga usah Mas. Aku ga mau ngerepotin Mas Revan lagi." ucap Nisa.
"Ga ngerepotin Dek. Anggap aja aku traktir kalian." kata Revan.
"Tapi Mas," sahut Nisa.
"Udah ga apa-apa." ucap Revan.
"Mbak." panggil Revan pada pegawai warung.
"Iya Mas." sahut pegawai warung itu.
"Tolong pesen yang di bungkus 1 porsi ya." kata Revan.
"Oke Mas." kata pegawai itu dan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
__ADS_1
Revan dan Nisa pun segera menghabiskan makanan mereka. Revan heran melihat Nisa yang menghabiskan makanannya. Baru kali ini dia melihat perempuan yang tidak menyisakan makanannya. Apalagi ini sudah malam. Banyak perempuan yang takut gemuk kalau makan malam.
"Kamu ga takut gemuk Dek?" tanya Revan tiba-tiba.
"Haha. Mas Revan ada-ada aja. Masa' takut sama gemuk. Emang kenapa kok Mas Revan tanya gitu sama aku." kata Nisa tertawa.
"Ya ga apa-apa sih. Cuma jarang banget aku liat cewek habisin makanannya. Apalagi sekarang udah malem gini." ucap Revan.
"Aku ga takut gemuk Mas. Lagian kata orang jaman dulu gemuk itu tanda bahagia. Lagipula sayang kan kalau makanannya di buang. Di luar sana masih banyak orang yang tidak bisa makan sehari 3 kali." jelas Nisa.
"Aku salut sama kamu Dek." kata Revan.
"O iya Mas. Kalau aku pulang duluan gimana? Aku kasihan sama temen aku. Udah 2 jam dia nungguin aku." ucap Nisa.
"Ya udah ayok aku anterin." kata Revan yang langsung berdiri.
"Ga usah Mas. Aku pulang sendiri aja. Cuma deket kok." ucap Nisa.
"Ya udah kalau gitu. Aku bayar dulu ya." kata Revan sambil melangkah menuju meja kasir.
Tak lama kemudian Revan kembali menghampiri Nisa sambil membawa 1 kantung kresek kecil berisi nasi bungkus untuk Rika.
"Nih buat temen kamu." kata Revan sembari menyodorkan kantung kresek itu.
"Makasih ya Mas. Kalau gitu aku balik duluan. Bye Mas." kata Nisa melambaikan tangan lalu pergi meninggalkan Revan.
"Bye Nisa cantik." gumam Revan sambil tersenyum.
Nisa berjalan cepat menuju kontrakan. Tak sampai 10 menit, Nisa sudah sampai di kontrakan. Nisa mencari kunci kontrakan di dalam tasnya, namun tak kunjung ketemu. Kemudian Nisa mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
"Rika. Ini aku Nisa." teriak Nisa.
"Iya bentar Nis." ucap Rika dari dalam rumah.
"Kamu lama banget Nis." kata Rika saat membuka pintu.
"Maaf Rik. Tadi ada sedikit insiden kecil." sahut Nisa sembari masuk ke dalam rumah.
"Kamu ga apa-apa kan Nis?" tanya Rika khawatir.
"Ga apa-apa Rik. Oh iya ini pesenan kamu." kata Nisa sembari memberikan kantung kresek dari apotek.
"Dan ini makan malam kamu." lanjut Nisa dan langsung memberikan kantung kresek makanan.
"Waah. Makasih ya Nis. Ga rugi aku nunggu 2 jam lebih. Untung aja tadi aku ketiduran. Hehe." ucap Rika sembari berjalan ke dapur.
"Tau gitu aku ga buru-buru pulang Rik." ucap Nisa sambil duduk di kursi dapur.
"Emang tadi kamu kemana Nis?" tanya Rika sambil membuka bungkus makanan yang dibawakan Nisa.
"Tadi aku ketemu cowok ganteng banget Rik." kata Nisa masih tersenyum. Rika yang melihat Nisa tersenyum pun heran.
"What? Sejak kapan seorang Nisa tertarik sama cowok?" tanya Rika setengah berteriak.
"Ga usah teriak juga kali Rik. Aku bukannya ga tertarik sama cowok, tapi emang belum tertarik aja. Lagian aku cuma kagum aja sama dia." jelas Nisa.
"Tetep aja aneh Nis walaupun cuma kagum. Secara selama ini tiap ada cowok yang deketin kamu pasti menghindar. Tapi sekarang kamu kagum sama cowok. Ini sebuah keajaiban dunia Nis." kata Rika sembari mengunyah makanan yang ada didepannya.
"Seaneh itu ya Rik?" tanya Nisa.
"He'em." sahut Rika.
"Udah ah kalau gitu. Aku mau beresin belanjaan dulu. Makan sampai habis, ga boleh ada yang di buang." kata Nisa sambil menunjuk makanan Rika.
"Siap bos." ucap Rika.
Rika pun melanjutkan acara makannya. Sedangkan Nisa membereskan barang belanjaannya. Setelah selesai membereskan semuanya, Nisa ke dapur untuk mengambil minuman dingin. Dilihatnya dapur sudah kosong, itu berarti Rika sudah kekamar. Setelah minum, Nisa berjalan menuju kamarnya. Saat berada didepan kamar Rika, terlihat bahwa lampu kamar sudah mati.
"Dasar kebo. Abis makan langsung tidur. Tapi badan kok masih kurus kering aja dia." gumam Nisa.
Nisa pun terus berjalan menuju kamarnya. Hari ini Nisa sangat lelah. Ingin rasanya segera lulus kuliah, terus bisa kerja ditempat impian.
Nisa kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Nisa memejamkan matanya, merasakan kenyamanannya. Sudah bertahun-tahun Nisa tidur di kamar itu, namun rasanya baru beberapa hari.
Nisa membuka matanya dan melihat sekeliling, tak pernah ada yang berubah. Nisa kemudian meraih ponselnya. Nisa mencoba menelpon orang tuanya. 1 kali. Tak dijawab. 2 kali. Tak dijawab. 3 kali. Di tolak.
"Kok di tolak sih? Aku kan kangen sama mereka. Apa mereka ga kangen sama aku ya?" gumam Nisa. Nisa menangis jika mengingat keluarganya. Lebih tepatnya keluarga angkatnya. Orang tua kandung Nisa sudah meninggal karena kecelakaan saat Nisa masih berusia 5 tahun. Saudara dari orang tuanya pun tak ada yang mau merawat Nisa. Akhirnya Nisa di bawa ke panti asuhan oleh RT setempat. Nisa kecil terus menangis mencari Ayah dan ibunya.
Selang beberapa bulan kemudian, Nisa diadopsi oleh sepasang suami istri. Saat Nisa sedang mengenang masa lalunya tiba-tiba ponselnya bergetar. Nisa berharap itu adalah orang tuanya. Namun saat membukanya, Nisa justru mengernyitkan dahi.
"Selamat malam Nisa cantik."
__ADS_1
•••