
"Kamu lapar, Dek?" tanya Revan yang langsung menatap wajah Nisa.
"Hehe. Iya, Mas. Habisnya tadi pas lagi mau sarapan, Bu Sari datang. Terus malah ada kejadian tidak terduga. Ga jadi makan deh sampai sekarang." kata Nisa menunduk malu.
"Ya sudah kalau begitu kita cari sarapan buat kamu dulu. Aku ga mau kamu pingsan nanti." ucap Revan tersenyum sambil mencubit pipi Nisa.
"Jangan di cubit terus, Mas. Sakit tahu." kata Nisa yang mengusap-usap pipinya.
"Kamu gemesin, Dek. Pengen rasanya gigit pipi kamu." ucap Revan.
"Mas Revan ih. Masa' gigit pipi. Ntar aku tirus kayak Rika gimana?" tanya Nisa kesal.
"Ga akan, Dek. Nanti kamu akan aku kasih makan yang banyak biar ga tirus. Aku suka kamu yang kayak gini. Ga gendut tapi ga kurus. Pas kalau di peluk. Hehe." sahut Revan tersenyum.
"Ya jadi gendut aku kalau di kasih makan banyak, Mas. Tapi aku pendek, Mas. Ga kayak kamu yang tinggi kayak tiang listrik." kata Nisa yang langsung menutup mulut dengan tangannya.
"Eh. Masa' aku kayak tiang listrik, Dek?" tanya Revan terkejut dan langsung menoleh ke arah Nisa.
"Hehe. Maaf, Mas. Tapi emang Mas Revan tinggi banget." ucap Nisa.
"Tapi kamu suka kan, Dek?" tanya Revan tersenyum mendekati Nisa.
"Apaan sih Mas dekat-dekat gini?" tanya Nisa sambil mendorong tubuh Revan agar menjauh. Nisa menunduk malu.
"Haha. Kamu gemesin banget kalau malu-malu gini. Aku jadi ga sabar ingin segera halalin kamu, Dek. Biar aku bisa gigit kamu." ucap Revan.
"Bentar lagi kan kita sudah sah, Mas. Jadi ya sabar. Ga sampai 60 jam kok dari sekarang." kata Nisa.
"Tetap saja lama, Dek. Pengen deh rasanya bisa mutar waktu biar kita cepat sah." ucap Revan.
"Ga usah burung, Mas." kata Nisa.
"Iya, sayangku. Oh iya, mau sarapan apa nih kamu?" tanya Revan pada Nisa.
"Asal jalan saja lah, Mas. Nanti kalau ada yang jualan, kita berhenti saja." sahut Nisa.
"Oke. Siap bos. Kita jalan sekarang." kata Revan sambil menjalankan mobilnya.
"Lebay ah, Mas." ucap Nisa sambil menepuk bahu Revan.
Revan menoleh ke arah Nisa dan tersenyum.
Setelah berjalan kira-kira 10 menit, mereka melihat ada seorang nenek-nenek yang jualan gudeg di pinggir jalan.
"Berhenti di sana ya, Mas." kata Nisa sambil menunjuk ke arah nenek yang jualan gudeg.
"Siap, bos." ucap Revan.
Revan pun menghentikan mobilnya di tepi jalan raya dekat dengan penjual gudeg tersebut.
"Nek, saya mau nasi gudegnya komplit di bungkus ya. 1 porsi saja." ucap Nisa pada nenek penjual gudeg tersebut.
"Iya, Nduk. Duduk dulu, Nduk." kata Nenek itu sambil menunjuk kursi di depannya.
Nisa pun mengajak Revan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Kenapa di bungkus, Dek?" tanya Revan heran.
"Kan kita sudah ada janji, Mas. Kasihan kalau mereka nungguin kita kelamaan." jelas Nisa.
"Sebenarnya kita telat dikit juga ga apa-apa, Dek." kata Revan.
"Kalau bisa tepat waktu kenapa harus telat, Mas?" tanya Nisa.
"Hem. Iya juga sih. Terserah kamu saja lah, Dek. Aku ngikut." ucap Revan.
"Nah, gitu kan enak." kata Nisa tersenyum.
Tidak lama kemudian, pesanan Nisa sudah selesai di bungkus.
"Ini gudegnya, Nduk." kata Nenek penjual gudeg sambil menyodorkan kantung kresek berisi nasi gudeg.
"Ini Nek uangnya. Kembaliannya untuk nenek saja. Terima kasih ya, Nek." ucap Nisa sambil memberikan selembar uang kertas.
"Ini kebanyakan, Nduk. Nenek ga bisa terima." kata Nenek sambil mencari kembalian uang untuk Nisa.
"Ga apa-apa, Nek. Nisa ikhlas kok. Saya permisi dulu ya, Nek." ucap Nisa sambil melangkah pergi dari tempat itu. Revan pun mengikuti di belakangnya.
"Semoga kamu selalu diberikan kebahagiaan ya, Nduk." gumam nenek penjual nasi gudeg tersebut sambil menatap kepergian Nisa dan Revan.
"Aku makan di mobil ga apa-apa ya, Mas?" tanya Nisa pada Revan saat baru saja duduk di kursi mobil.
"Ga apa-apa, Dek. Tapi apa kamu bisa?" tanya Revan.
"Bisa lah, Mas." kata Nisa.
"Ya sudah kalau begitu." sahut Revan.
"Mas Revan jalan saja. Ga usah lihatin aku." ucap Nisa.
"Aku ga bisa kalau ga lihat kamu sayang." kata Revan tersenyum ke arah Nisa.
"Apaan sih, Mas? Sudah sana. Mas Revan fokus nyetir saja." ucap Nisa yang sudah mulai melahap makanannya.
"Tapi aku pengen lihat kamu, Dek." kata Revan.
__ADS_1
"Malu, Mas. Masa' lagi makan di lihatin." gerutu Nisa.
"Iya deh. Kita jalan nih." ucap Revan sembari menjalankan mobilnya.
Sesekali Revan curi-curi pandang ke arah Nisa. Revan tersenyum melihat Nisa yang belepotan saat makan. Tiba-tiba Revan menghentikan laju mobilnya.
"Kok berhenti, Mas?" tanya Nisa.
Revan mengambil beberapa lembar tisu yang ada di depannya.
"Kamu kayak anak kecil saja, Dek. Makannya belepotan." ucap Revan tersenyum sambil mengusap sisa makanan yang ada di sekitar bibir Nisa.
"Eh. Ga usah, Mas. Biar aku sendiri saja yang bersihin." kata Nisa salah tingkah.
"Ga apa-apa kali, Dek. Ga ada salahnya kan kalau aku bantuin kamu?" tanya Revan pada Nisa.
"Tapi kan malu, Mas." ucap Nisa menunduk.
"Kamu ga perlu malu, Dek. Sebentar lagi kan kita akan menikah. Kita pasti akan tahu baik buruk kita masing-masing." kata Revan.
"Sudah lah, Mas. Ayo jalan lagi. Jangan sampai kita telat." ucap Nisa memperingatkan.
"Baiklah, Dek. Kita jalan lagi." kata Revan.
Revan pun segera menjalankan mobilnya kembali. Hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di tempat tujuan.
"Sudah sampai, Dek. Ayo kita turun sekarang." ucap Revan.
"Ayo, Mas. Aku sudah ga sabar buat lihat baju pengantin kita." kata Nisa tersenyum.
Nisa terlihat lebih bersemangat untuk melihat baju pengantinnya.
"Sabar, Dek. Bareng sini dong. Kan calon pengantin, masa' jalan sendiri-sendiri sih?" ucap Revan.
Nisa pun berjalan mendekat ke arah Revan lalu menggandeng tangannya.
"Gini kan enak kalau di lihat. Kita jadi serasi." kata Revan tersenyum.
"Terpaksa ini, Mas." ucap Nisa sambil tersenyum.
"Tega kamu, Dek. Kalau kamu terpaksa ya kita pulang saja." kata Revan pura-pura kesal.
"Ya jangan dong, Mas. Memangnya Mas mau kalau kita batal nikah?" tanya Nisa sambil menatap wajah Revan.
"Lagian kamu cuma gandeng saja terpaksa. Aku ga mau kalau kamu nanti terpaksa menikah sama aku." sahut Revan cemberut.
"Iya, deh. Maaf. Nih aku ikhlas. Ga terpaksa lagi." ucap Nisa sambil merangkul lengan Revan.
Revan tersenyum melihat perubahan sikap Nisa yang manja.
Mereka pun segera masuk ke dalam sebuah butik pilihan Revan.
"Selamat datang di butik kami Mas Revan dan Mbak Nisa. Baju pengantinnya sudah kami persiapkan. Mari ikuti saya." ucap seorang pegawai butik.
Revan dan Nisa pun mengikuti pegawai butik tersebut menuju ke sebuah ruangan. Saat masuk ke dalam ruangan tersebut, Nisa membelalakkan matanya melihat seluruh isi ruangan tersebut. Banyak sekali gaun pengantin, yang pasti sangat indah.
"Mas. Gaunnya bagus-bagus banget. Aku bingung mau pilih yang mana." kata Nisa.
"Kita ga perlu pilih, Dek. Nenek sudah pilih baju pengantin untuk kita." ucap Revan sambil merangkul pundak Nisa.
"Nenek?" tanya Nisa terkejut.
"Iya. Nenek sudah mempersiapkan semuanya, Dek. Kamu tenang saja." sahut Revan.
"Tapi Nisa jadi ga enak sama nenek, Mas. Ini kan acara kita. Masa' nenek yang repot sih?" kata Nisa.
"Ga apa-apa, dek. Lagipula ini semua kemauan nenek kok. Nenek ingin melihat calon cucu menantunya bahagia." ucap Revan.
"Aku bisa memiliki kamu dan nenek saja sudah sangat bahagia, Mas." kata Nisa terharu.
"Bisa saja kamu, Dek." ucap Revan.
"Ini kebaya untuk ijab qobul Mbak Nisa dan ini setelan jas untuk Mas Revan. Bisa di coba dulu di ruang ganti ya." kata pegawai butik sambil menyerahkan kebaya dan setelan jas pada Nisa dan Revan.
Nisa dan Revan pun segera masuk ke dalam ruang ganti yang terpisah. Tidak berapa lama kemudian, mereka keluar dari ruang ganti hampir bersamaan.
"Gimana, Mas?" tanya Nisa pada Revan.
"Cocok banget, Dek. Sangat cantik." ucap Revan.
"Kamu juga ganteng banget Mas pakai itu." sahut Nisa.
"Mas Revan sama Mbak Nisa serasi banget. Duh, jadi pengen nikah aku." ucap pegawai butik tersebut sambil tersenyum.
"Ya nikah saja, Mbak kalau emang pengen. Ga usah di tunda-tunda." kata Nisa.
"Sayangnya pengantin prianya belum ada Mbak Nisa. Hehe." sahut pegawai butik.
"Wah. Itu PR nya buat kamu, Mbak." kata Nisa.
"Sudah pas semua, kan? Kalau begitu kita coba untuk pakaian resepsi. Ini gaun untuk Mbak Nisa dan ini setelan jas untuk Mas Revan. Bisa di coba lagi di dalam." ucap pegawai butik tersebut.
Revan dan Nisa pun kembali masuk ke dalam ruang ganti untuk mencoba pakaian yang akan mereka kenakan saat resepsi nantinya.
"Ini bagus banget, pasti sangat mahal." gumam Nisa.
__ADS_1
Nisa segera mengganti pakaiannya lalu berjalan keluar dari ruang ganti.
"Gimana Mas gaunnya? Ini terlalu mewah buat aku Mas." kata Nisa saat melihat Revan sedang duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
Revan menatap kagum pada Nisa yang memakai gaun pengantin.
"Kamu cantik sekali, Dek. Ini pas banget buat kamu. Pilihan nenek emang ga salah." ucap Revan tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Pasti ini mahal banget ya, Mas?" tanya Nisa.
"Aku ga tahu, Dek. Kan yang pilih sama bayar itu nenek. Bukan aku." sahut Revan.
Nisa menunduk lesu. Dia tidak mungkin memakai gaun semahal ini.
"Ga usah di pikirkan, Dek. Kita nanti berterimakasih pada nenek saja. Apa kamu tega menolak pemberian nenek?" tanya Revan pada Nisa.
"Ya ga tega juga, Mas. Tapi gimana ya? Ini pasti mahal banget." sahut Nisa.
"Ga usah pikirin soal harga, Dek. Sekarang kita ganti baju lagi, terus beli cincin pernikahan kita." kata Revan.
"Oke, Mas. Tapi jangan yang mahal-mahal ya." kata Nisa memperingatkan.
"Kita lihat nanti saja, Dek." ucap Revan.
Revan dan Nisa pun kembali mengganti pakaian mereka. Tak lama kemudian mereka keluar sudah memakai baju mereka yang sebelumnya. Pegawai butik segera membungkus pakaian pengantin mereka. Kira-kira 10 menit kemudian, pegawai butik sudah muncul dengan membawa paper bag berisi baju pengantin mereka.
"Makasih ya, Mbak." kata Nisa.
"Sama-sama, Mbak Nisa. Semoga pernikahan Mas Revan sama Mbak Nisa berjalan dengan lancar." ucap pegawai butik.
"Amin. Dan semoga kamu segera menyusul ya." kata Nisa tersenyum.
"Amin. Makasih Mbak Nisa." ucap pegawai butik.
"Kalau begitu kita pergi dulu ya." kata Revan sambil menggandeng tangan Nisa.
Pegawai butik tersebut tersenyum dan mengangguk menunduk memberi hormat pada Revan dan Nisa. Revan dan Nisa pun segera meninggalkan butik tersebut.
"Pasangan yang serasi. Yang cowok ganteng dan kaya. Yang cewek cantik banget. Semoga aku bisa segera menikah." gumam pegawai butik tersebut.
"Oke. Kita jalan lagi sekarang." kata Revan yang sudah memasuki mobil.
"Jauh ga, Mas?" tanya Nisa.
"Ga kok, Dek. Emang kenapa?" tanya Revan balik.
"Ga apa-apa sih, Mas. Ya sudah ayo jalan sekarang." kata Nisa.
"Kamu sudah ga sabar pengen cobain cincin pernikahan kita ya, Dek?" tanya Revan menggoda.
"Mana ada? Aku biasa saja kok." sahut Nisa.
"Ah, masa' sih?" tanya Revan lagi.
"Beneran, Mas. Sudah ah. Ayo jalan sekarang. Kalau ga jalan, aku mau turun saja jalan kaki." kata Nisa mengancam.
"Ya jangan dong, Dek. Nanti kalau kamu di ambil laki-laki lain gimana? Aku sendirian dong?" tanya Revan manyun.
"Makanya ayo jalan sekarang." kata Nisa.
"Oke. Oke. Kita jalan nih." ucap Revan sembari menjalankan mobilnya.
"Dari tadi kek. Masa' harus di ancam dulu." gerutu Nisa.
"Kamu ngomong apa, Dek?" tanya Revan.
"Ah. Bukan apa-apa kok, Mas. Sudah, Mas Revan fokus saja nyetir mobil." sahut Nisa.
Revan pun akhirnya fokus menyetir mobilnya. Meskipun kadang-kadang dia juga curi-curi pandang ke arah Nisa.
Nisa pun hanya fokus menatap ke depan. Entah kenapa tatapan matanya kali ini kosong.
"Kamu kok diam saja, Dek?" tanya Revan sambil menyentuh tangan Nisa.
"Eh. Ga apa-apa kok, Mas." sahut Nisa yang sedikit terkejut.
"Kamu ngelamun, Dek?" tanya Revan lagi yang kemudian menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Aku ga ngelamun kok, Mas. Lagian aku ngelamunin apa coba?" tanya Nisa tersenyum.
"Ya ga tahu, Dek. Kan yang ngelamun kamu, kok malah tanya sama aku." sahut Revan.
"Ayo jalan lagi saja, Mas. Kasihan pengendara lain jadi terganggu." kata Nisa.
"Tapi kamu beneran ga apa-apa kan, Dek?" tanya Revan lagi untuk memastikan.
"Ga apa-apa, Mas. Aku baik-baik saja. Aku sangat baik." kata Nisa.
"Oke. Kita jalan lagi. Tapi kamu ga boleh ngelamun kayak tadi." ucap Revan.
"Siap, bos." kata Nisa sambil memberi hormat pada Revan.
Revan tersenyum sambil mengacak-acak pelan rambut Nisa.
"Jangan di acak-acak dong, Mas. Berantakan nih." gerutu Nisa.
__ADS_1
•••