
"Maksud mereka apa ya? Bukannya Mas Revan hanya karyawan biasa?" tanya Nisa dalam hati.
"Kok malah berhenti di sini, Dek?" tanya Revan.
"Eh. Maaf, Mas. Ayo kita jalan lagi." sahut Nisa.
Mereka kembali berjalan menuju pelaminan. Rona bahagia terpancar dari wajah keduanya.
Beberapa tamu mulai berfoto dengan Revan dan Nisa. Tak ada yang Nisa kenali diantara tamu-tamu yang datang. Tapi Nisa tetap tersenyum kepada mereka semua.
"Dek. Nanti jangan minta acara resepsi yang kayak gini ya." ucap Bayu.
Bayu dan Rika saat ini sedang duduk berdua sambil menikmati hidangan yang disediakan oleh pihak katering.
"Memangnya kenapa, Mas?" tanya Rika.
"Sayang uangnya, Dek. Daripada buat acara resepsi, lebih baik kita pakai buat bikin rumah aja uangnya." jawab Bayu.
"Iya juga sih, Mas. Emangnya seberapa mahal sih biaya resepsi pernikahan Nisa dan Mas Revan ini?" tanya Rika penasaran.
"Aku ga tahu pastinya, Dek. Tapi yang jelas lebih dari 50 juta." jawab Bayu.
Rika tersedak makanan saat mendengar jawaban Bayu. Bayu segera mengambil untuk Rika.
"Pelan-pelan aja kali makannya. Masih lama kok acaranya." ucap Bayu.
"Mas Bayu yakin biayanya segitu?" tanya Rika.
Rika menatap wajah Bayu mencoba memastikan bahwa Bayu berbohong atau tidak.
"Yakin, Dek. Tapi itu hanya perkiraan aja sih. Soalnya ada temenku yang pakai dekorasi kayak gini. Di tambah lagi dengan rias pengantin, katering, belum lagi sewa gedung. Bisa 100 juta lebih, Dek." jawab Bayu sambil menyantap makanannya.
Rika melongo mendengar penjelasan Bayu. Ia sungguh tak percaya Revan akan menghabiskan dana sebesar itu untuk acara ini.
"Emang Mas Revan itu sekaya apa sih, Mas?" tanya Rika.
"Aku juga belum tahu, Dek. Tapi sepertinya dia sangat kaya. Lihat saja tamu yang datang berpakaian glamor. Acaranya pun sangat mewah. Lihat itu ada youtuber juga yang datang." sahut Bayu.
Bayu menunjuk beberapa youtuber yang sedang mengambil gambar. Rika melihat tamu-tamu yang datang ke resepsi pernikahan Nisa dan Revan.
"Kamu bener, Mas. Aku jadi penasaran sama Mas Revan." ucap Rika.
Bayu langsung menoleh ke arah Rika.
"Memangnya Nisa ga pernah cerita soal Revan ke kamu, Dek?" tanya Bayu.
"Ga pernah, Mas. Entah Nisa ga tau atau emang ga mau kasih tau aku. Soalnya baru kali ini aku liat Nisa deket sama cowok. Itupun langsung nikah. Dan lagi, aku juga ga mau terlalu ingin tahu urusan pribadi Nisa." jawab Rika.
Bayu hanya manggut-manggut saja mendengar jawaban Rika.
Mereka melanjutkan obrolan mereka membahas masa depan.
Sedangkan di sisi lain, Pak Sugi dan Bu Ani sedang berbincang dengan nenek Revan. Mereka terlihat begitu akrab meskipun baru beberapa kali bertemu.
"Nanti kita nginap di hotel ya, Dek." ajak Revan.
Kini acara sudah selesai. Semua tamu sudah meninggalkan tempat acara berlangsung. Hanya beberapa saudara yang masih ada di sana.
"Tapi aku kan ga bawa ganti, Mas." sahut Nisa.
"Tenang aja, Dek. Aku udah siapin semuanya kok." ucap Revan.
"Em. Oke lah kalau begitu, Mas. Aku ngikut aja." kata Nisa.
Revan menggenggam tangan Nisa sambil tersenyum.
Setelah semua keluarga berpamitan untuk pulang, Revan mengajak Nisa pergi ke kamar hotel tempat acara resepsi pernikahan mereka berlangsung.
Kamarnya terletak paling atas dari gedung hotel tersebut. Saat masuk ke dalam kamar, Nisa takjub melihat isi ruangan tersebut.
Kamar itu sangat luas. 4 kali lipat lebih besar dari kamarnya di kontrakan. Kasurnya pun muat untuk tidur 5 orang dewasa.
Di atas kasur ada taburan bunga mawar. Lampu yang redup menambah kesan romantis dalam kamar tersebut.
"Mas. Aku mandi dulu ya." ucap Nisa.
"Iya, Dek. Jangan lama-lama ya." kata Revan.
"Oh iya, Mas. Baju gantinya mana? Katanya sudah disiapin?" tanya Nisa.
"Ada di dalam koper itu, Dek? Ambil aja mana yang kamu suka." jawab Revan sambil menunjuk koper yang ada di samping meja rias.
Nisa berjalan menuju koper yang dimaksud Revan. Lalu ia membukanya. Namun Nisa hanya diam melihat apa isi dalam koper tersebut.
"Mas. Ini kamu ga salah koper kan?" tanya Nisa heran.
"Ga kok, Dek. Emangnya kenapa?" tanya Revan balik.
Revan berjalan menuju ke arah Nisa yang nampak kebingungan.
"Masa' isinya kayak begini semua. Aku kan mau tidur, bukan mau berenang." ucap Nisa sedikit kesal.
"Udah kamu pakai saja apa yang ada. Daripada ga pakai baju." kata Revan sambil tersenyum simpul.
Nisa hanya bisa pasrah. Akhirnya Nisa mengambil salah satu pakaian yang disediakan Revan. Lalu berjalan menuju ke kamar mandi.
Saat keluar kamar mandi, Nisa masih memakai baju handuk.
__ADS_1
"Kamu mau tidur pakai itu, Dek?" tanya Revan.
"Ya mau gimana lagi, Mas? Aku malu." kata Nisa.
"Malu kenapa sih, Dek? Aku kan suami kamu sekarang." tanya Revan.
"Ya malu aja, Mas. Udah Mas Revan mandi sana. Bau banget itu badan kamu." sahut Nisa.
Revan pun berjalan menuju ke kamar mandi. Saat melewati Nisa, Revan menyempatkan diri untuk mengecup pipi Nisa. Meskipun hanya sekilas, namun sanggup membuat hati Nisa bergetar.
"Mas Revan!" teriak Nisa.
Revan tak menyahut nya, ia segera masuk ke dalam kamar mandi.
Saat Revan keluar dari kamar mandi, dilihatnya Nisa sudah berbaring di atas kasur dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Hanya terlihat ujung kepalanya saja.
Saat Revan mendekati Nisa, Revan melihat baju handuk yang Nisa pakai tadi ada di sofa. Revan tersenyum kegirangan.
Revan mulai naik ke atas kasur dan mendekati Nisa. Revan perlahan memindahkan guling yang ada dalam pelukan Nisa. Revan membuangnya ke sembarang tempat.
Revan meletakkan tangan Nisa di pinggangnya, sedangkan kepala Nisa dipindahkan ke bahunya. Hingga posisi mereka saat ini sedang berpelukan.
Nisa yang terlelap pun tak menyadari bahwa kini dirinya sedekat ini dengan Revan. Tanpa jarak sedikitpun.
Revan menciumi kening dan pipi Nisa. Sesekali ia mengecup bibir Nisa. Nisa yang merasa terganggu pun menggeliat.
Revan masih terus mencium wajah Nisa. Nisa perlahan-lahan membuka matanya.
"Eh. Mas Revan. Sudah selesai mandinya?" tanya Nisa.
"Sudah, Dek. Kan sekarang aku di sini sama kamu." jawab Revan.
"Gulingnya mana, Mas? Kok ga ada? Ini kok aku jadi peluk kamu, Mas?" tanya Nisa.
Nisa melepaskan tangannya dari Revan, namun Revan menahan tangannya.
"Gini aja, Dek. Enak peluk aku kan daripada guling?" tanya Revan menggoda.
"Tapi, Mas. Ini kok kamu ga pake baju sih?" tanya Nisa.
Nisa menutup matanya. Baru kali ini Nisa melihat tubuh polos seorang laki-laki. Meskipun kini mereka sudah sah menjadi suami istri, tapi masih ada rasa malu dalam dirinya.
"Kan kamu ga pake baju, jadi ya aku ikutan ga pake baju." ucap Revan.
"Eh iya. Aku pake baju handuk tadi aja, Mas." kata Nisa.
"Ga usah, sayang. Kamu cantik kayak gini." sahut Revan.
Revan memegang dagu Nisa lalu mencium bibirnya. Mula-mula Nisa hanya diam tidak merespon Revan.
Ini adalah pertama kalinya untuk Nisa. Revan pun menggigit pelan bibir bawah Nisa. Seketika Nisa pun membuka mulutnya.
Revan segera melepaskan bibirnya saat Nisa mulai kehabisan nafas. Revan terus menatap Nisa. Namun Nisa menunduk karena malu.
"Maaf ya, Dek. Kalau kamu belum siap, kita lakukan lain kali aja." kata Revan.
"Aku siap kok, Mas." sahut Nisa.
Revan tersenyum mendengar jawaban Nisa.
"Aku hanya malu aja." lanjut Nisa.
"Ga perlu malu, sayang. Aku milikmu dan kamu adalah milikku." kata Revan.
Revan mengangkat dagu Nisa agar menatapnya.
"Tapi aku takut, Mas. Itu pasti sakit." ucap Nisa pelan.
"Jangan takut, Dek. Kan ada aku, suami kamu. Lagipula sakitnya hanya sebentar. Dan aku janji akan pelan-pelan melakukannya, biar kamu ga sakit." kata Revan.
Nisa akhirnya tersenyum mengangguk.
"Aku siap untuk melaksanakan kewajibanku sebagai istri kamu, Mas." ucap Nisa.
Revan pun tersenyum bahagia. Dia mula-mula mengecup kening Nisa beberapa saat. Nisa memejamkan matanya.
Malam ini adalah malam yang paling indah untuk Revan dan Nisa.
"Terima kasih ya, Dek. Kamu sudah menjaganya untukku." kata Revan sambil memeluk Nisa erat.
"Itu sudah seharusnya aku lakukan, Mas. Bahkan semua wanita akan berusaha untuk menjaganya." sahut Nisa.
"Aku sayang kamu, Dek." ucap Revan.
"Aku juga sayang sama kamu, Mas." kata Nisa.
"Lebih baik kamu istirahat dulu, Dek. Ini udah malem banget." ucap Revan.
"Iya, Mas." sahut Nisa.
Mereka pun tertidur dalam posisi berpelukan.
Nisa terbangun saat waktu menunjukkan pukul 05:30. Saat Nisa hendak bangun, Nisa merasa begitu sulit untuk menggerakkan tubuhnya.
Ternyata itu tangan Revan yang memeluk tubuhnya sangat erat. Dan salah satu kaki Revan menindih kakinya.
Nisa menyadari bahwa kini ia sama sekali tak berpakaian.
__ADS_1
"Argh!" teriak Nisa.
"Ada apa, Dek?" tanya Revan.
Revan mencoba membuka matanya saat mendengar teriakan Nisa.
"Apa yang Mas Revan lakuin sama aku? Sampai aku ga pake baju kayak gini? Lagian ngapain Mas Revan ada di kamar aku?" tanya Nisa.
Bukannya menjawab, tapi Revan justru tertawa terbahak-bahak. Beruntung kamar hotel yang mereka tempati kedap suara. Kalau tidak, mungkin sekarang mereka sudah digerebek pegawai hotel.
"Kok malah ketawa sih, Mas? Aku serius ini." ucap Nisa kesal.
Tiba-tiba Nisa menangis. Dan itu berhasil membuat tawa Revan berhenti.
"Maaf, sayang. Udah buat kamu nangis. Habisnya kamu lucu sih." kata Revan sambil mengecup kening Nisa.
Revan mengusap air mata Nisa pelan.
"Apanya yang lucu coba? Kita udah ngelakuin hal yang seharusnya ga kita lakukan, Mas." sahut Nisa sesenggukan.
"Dek. Lihat ini." kata Revan.
Revan menunjuk cincin yang melingkar di jari manis Nisa.
"Dan lihat ini." kata Revan.
Revan menunjuk cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Kita udah nikah, Dek. Kita udah sah jadi suami istri. Lagipula tadi malam kan kamu juga bilang kalau udah siap. Kenapa sekarang malah nangis?" tanya Revan.
Nisa mengingat-ingat kejadian semalam. Saat Nisa berhasil mengingatnya, pipi Nisa memerah karena malu.
"Maaf ya, Mas. Aku lupa kalau kita udah jadi suami istri." kata Nisa menunduk.
"Ga apa-apa, sayang. Yang penting kamu ga lupa sama rasa nikmat tadi malam." ucap Revan.
Revan tersenyum menggoda Nisa. Nisa memukul dada bidang Revan pelan.
"Apaan sih, Mas? Jangan bahas itu, aku malu." kata Nisa.
"Kamu godain aku ya, Dek. Nih dia jadi bangun kan." ucap Revan.
Nisa merasakan ada sesuatu yang keras di pahanya. Saat Nisa menyadari apa itu, Nisa menutup mulutnya dengan tangan.
"Astaga, Mas. Ini masih pagi lho. Nanti malem aja." kata Nisa.
"Tapi aku maunya sekarang, Dek. Ayolah. Sebentar saja. Apa kamu ga kasihan sama dia?" tanya Revan.
Revan pun menatap wajah Nisa sambil memasang wajah memelas. Nisa yang tidak tega pun akhirnya mengiyakan.
"Tapi pelan-pelan aja ya, Mas. Ini masih sedikit sakit." ucap Nisa.
"Beres, sayang." sahut Revan.
Mereka pun memadu kasih sebelum memulai hari ini.
"Kita mau pulang kapan, Mas?" tanya Nisa.
Nisa masih saja berbaring di lengan Revan meskipun dia tahu kini sudah jam 7 pagi.
"Besok aja, Dek. Aku masih pengen sama kamu di sini." jawab Revan.
Revan terus saja mencium seluruh wajah Nisa.
"Tapi aku ga punya baju di sini, Mas." ucap Nisa.
"Kamu ga usah pake baju, sayang. Lebih cantik kayak gini." kata Revan sambil membuka selimut yang menutupi tubuh mereka.
Nisa segera menarik kembali selimut itu.
"Masa' kayak gini terus, Mas? Malu kalau keluar kamar." tanya Nisa.
"Lagian percuma pake baju kalau ujung-ujungnya dilepas juga. Lagian keluar kamar mau ngapain, Dek?" tanya Revan.
"Ya cari makan lah, Mas. Emangnya Mas Revan mau mati kelaparan di kamar ini?" tanya Nisa.
"Kamu lapar, Dek?" tanya Revan.
"Ya pasti lah, Mas. Capek karena acara seharian kemarin yang sampai malem. Ditambah lagi sama kegiatan tadi malem sama yang barusan." jelas Nisa.
"Aku pesenin makanan aja. Biar pegawai hotel yang antar ke kamar kita. Kita mandi dulu aja, dek. Sambil nunggu makanan dateng." kata Revan.
Revan segera meraih telepon yang ada di samping tempat tidurnya. Lalu dia memesan beberapa menu makanan. Setelah selesai, ia meletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya.
"Sudah beres, Dek. Ayo kita mandi." kata Revan.
Revan segera membuka selimutnya dan mengangkat tubuh Nisa.
"Gantian aja ya, Mas." ucap Nisa.
Nisa mencoba untuk turun dari gendongan Revan. Namun itu sungguh sulit. Tangan Revan begitu kuat memegangi tubuhnya.
"Bareng aja, Dek. Biar pas makanannya dateng kita bisa langsung makan. Ga harus nunggu salah satu dari kita lagi mandi." sahut Revan.
"Tapi, Mas. Nanti kalau si dia bangun lagi gimana?" tanya Nisa.
Revan tersenyum saat mengerti apa yang di maksud Nisa dengan 'si dia'.
__ADS_1
"Ya kita tidurin lah, Dek. Gitu aja kok repot. Udah ah. Kamu harus nurut sama suami lho. Masih ingat sama apa yang dikatakan Pak ustadz pas ijab qobul kemarin kan?" tanya Revan.
•••