
"Es krimnya leleh, Mas." jawab Nisa.
Pandangan Revan beralih ke kotak es krim. Dan benar saja, bagian atas es krim tersebut sudah cair.
"Cepetan di makan, Mas. Keburu cair semua nanti." ucap Nisa.
"Suapin ya, Dek." pinta Revan.
"Manja sekali ayahnya anakku." kata Nisa tersenyum.
"Ga apa-apa, Dek. Nanti kalau anak Kita udah lahir, bakal susah manja-manja sama Kamu." ucap Revan.
Akhirnya Nisa menyuapi Revan hingga es krim nya habis. Sesekali Revan menggoda Nisa.
"Akhirnya habis juga, Mas." ucap Nisa.
"Aku udah kayak orang hamil aja, Dek." sahut Revan.
Revan membuka kemeja dan menunjukkan perutnya yang sedikit membuncit pada Nisa. Begah. Itu yang dirasakan Revan saat ini.
"Perut Kamu gemesin kalau kayak gini, Mas." ucap Nisa.
Nisa mengusap-usap pelan perut Revan. Entah kenapa, dia tidak ingin berhenti mengusapnya. Dan tanpa ia sadari, perlakuannya justru membangunkan hasrat Revan.
Revan memejamkan mata menahan hasrat yang membara di dalam tubuhnya. Kalau tidak ingat peringatan dari dokter, mungkin ia akan segera menerkam Nisa.
"Sayang. Jangan diusap lagi ya." ucap Revan pelan.
Tapi Nisa tak menggubris perkataan Revan. Nisa begitu senang bermain-main di perut Revan.
"Sayang...." kata Revan pelan.
"Kenapa sih, Mas? Aku kan cuma pengen pegang aja. Masa' ga boleh?" tanya Nisa kesal.
"Bukan ga boleh, Dek. Tapi kalau Kamu elus-elus kayak gini, yang bawah perut jadi bangun. Tuh liat." jelas Revan sambil menunjuk bagian bawah perutnya.
Nisa tertawa saat melihat celana Revan jadi penuh.
"Kok malah ketawa sih, Dek?" tanya Revan heran.
"Lagian Kamu mesum banget, Mas. Yang Aku usap kan cuma perut. Kenapa jadi dia yang bangun?" tanya Nisa tertawa.
Nisa mengusap bagian celana Revan yang menggembung. Sementara Revan? (Jangan di tanya lagi, sudah pasti langsung merem)
"Dek. Udah ya. Jangan siksa Aku kayak gini. Aku ga kuat, sayang." ucap Revan.
Revan masih memejamkan matanya. Tiba-tiba Nisa melepaskan tangannya.
Cup.
Nisa mencium bibir Revan. Meskipun awalnya terkejut, tapi Revan mulai mengikuti permainan Nisa.
Setelah beberapa saat, Nisa melepaskan ciumannya dan menatap wajah Revan yang sendu.
"Aku bantuin, ya. Maaf udah buat kamu tersiksa kayak tadi. Abisnya Aku gemes banget liat perut Kamu." kata Nisa.
"Kamu yakin, Dek?" tanya Revan.
Nisa mengangguk pelan dan tersenyum. Revan sedikit heran dan tidak yakin dengan keputusan Nisa. Karena Nisa belum pernah melakukan ini sebelumnya.
Dan kini Nisa mulai beraksi. Hingga tak terasa 15 menit. Sesekali Nisa melirik wajah Revan. Revan terus memejamkan mata serta sesekali suara lenguhan keluar dari mulutnya.
Nisa tersenyum melihat ekspresi Revan. Seandainya tidak ada peringatan dari dokter, mungkin mereka akan melanjutkan permainan yang sesungguhnya.
"Sayang. Emmm...." ucap Revan pelan sembari memegangi kepala Nisa.
__ADS_1
"Aahhh...." akhirnya Revan selesai dengan imajinasinya.
Revan mengatur nafasnya yang memburu. Sementara Nisa membereskan kekacauan yang terjadi barusan.
"Makasih ya, sayang." ucap Revan sambil mengecup bibir Nisa.
"Iya, Mas. Maaf ya kalau ga sesuai dengan keinginan Kamu." kata Nisa.
"Ga masalah, sayang. Aku malah ga kepikiran kalau Kamu mau lakuin hal kayak gini. Kamu belajar dari siapa sih bisa senakal ini?" tanya Revan sambil mencubit pipi Nisa.
"Emm. Tapi jangan marah ya, mas. Kemarin Aku ga sengaja liat di laptop Kamu." jawab Nisa malu-malu.
"Hah?!" sahut Revan terkejut.
Revan benar-benar malu karena ketahuan menyimpan video tersebut.
"Emang kapan Kamu liatnya?" tanya Revan.
"Pas Kita di Semarang. Waktu itu Kamu lagi sibuk sama laptop, Aku panggil ga nyahut. Pas Kamu ke kamar mandi, Aku intip dikit. Hehe." jawab Nisa malu-malu.
"Lain kali nonton bareng aja, Dek. Biar lebih seru." ucap Revan.
"Ga mau. Capek kalau harus nurutin Kamu kayak tadi." sahut Nisa.
"Tadi kan kemauan Kamu sendiri, Dek." kata Revan tersenyum.
Nisa menunduk malu.
"Enak ga, Dek?" tanya Revan menggoda.
"Apaan sih, Mas? Ayo pulang sekarang." ucap Nisa tersipu malu.
"Hehe. Kayaknya Kamu lebih suka lolipop daripada es krim ya, Dek." goda Revan.
Revan memegang tangan Nisa dan meletakkannya di atas lolipop yang ia maksud sambil tersenyum. Tapi Nisa segera menarik tangannya.
"Hih. Udah ah. Ayo pulang sekarang." ucap Nisa memalingkan wajahnya.
Akhirnya mereka pulang setelah perdebatan panjang.
Kini usia kandungan Nisa sudah memasuki bulan kelima. Perutnya juga sudah mulai membuncit. Dan yang pasti, Revan sudah aman untuk berolahraga.
Selama kehamilan berlangsung, Nisa merasa sangat manja dengan Revan. Setiap Revan akan pergi kerja, Ia selalu menangis.
Bahkan pernah Revan tidak jadi berangkat kerja karena Nisa tidak berhenti menangis. Revan yang tidak tega pun menemani Nisa dirumah.
Begitu pun dengan hari ini. Nisa terus memeluk Revan, menciumi aroma badan Revan.
"Sayang. Sudah, ya. Kasian Adit sendiri di kantor. Hari ini ada meeting beberapa tempat." ucap Revan.
"Tapi Aku pengen peluk Kamu, Mas." sahut Nisa dengan tatapan memelas.
"Gimana kalau Kamu ikut aja." kata Revan kemudian.
"Apa Kamu ga malu kalau Aku ikut? Aku kan gendut." tanya Nisa menunduk.
"Aku ga malu, sayang. Kamu gendut kan gara-gara Aku juga." jawab Revan.
Revan membantu Nisa untuk mencari baju yang nyaman. Namun beberapa kali Nisa menolak.
"Kamu mau yang gimana, sayang? Dari tadi Kamu ga mau terus." tanya Revan.
"Aku mau pake yang ini aja, Mas." ucap Nisa sembari mengambil 1 baju.
Revan membelalakkan matanya melihat pakaian yang di pilih Nisa. Itu adalah pakaian yang Revan pilih pertama tadi.
__ADS_1
Revan mendudukkan tubuhnya di sofa dengan lemah.
"Sabar. Sabar. Sabar. Tinggal 4 bulan lagi." gumam Revan sambil mengusap dadanya.
Tak lama kemudian Nisa sudah selesai berganti pakaian. Revan tertegun melihat penampilan Nisa. Meskipun hamil, tapi badan Nisa tidak segemuk ibu hamil lainnya.
"Ayo, Mas. Nanti Kamu telat meeting nya." ajak Nisa.
Revan tak bergeming, Dia masih sibuk menatap penampilan Nisa.
"Aku jelek ya, Mas?" tanya Nisa kemudian.
"Ga, Dek. Kamu sama sekali ga jelek. Malah Kamu cantik banget. Dan ini, sexy pake banget." jawab Revan sembari memegang dada Nisa.
"Issh. Udah. Ayo jalan sekarang." ucap Nisa yang langsung memeluk Revan.
Revan tersenyum lalu mencium bibir Nisa sekilas. Mereka pun segera pergi ke kantor.
Sesampainya di kantor, Revan segera mengambil berkas-berkas untuk meeting. Tak lama kemudian, Adit masuk ke ruangan Revan.
"Eh. Ada nyonya muda juga." kata Adit tersenyum.
"Jangan di godain kalau masih mau kerja di sini." ucap Revan.
"Hiii.... Si bos galak bener. Nyonya kok bisa tahan punya suami galak model begini?" tanya Adit tersenyum.
"Dit," ujar Revan yang menatap tajam ke arah Adit.
"Oke, Bos." sahut Adit.
Nisa tersenyum melihat suaminya. Dia bisa galak kayak singa di kantor. Tapi jadi kelinci imut saat dirumah.
"Nonya muda senyum-senyum, Bos. Kayaknya terpesona sama seorang Adit deh, bos." ucap Adit tersenyum.
Revan segera menoleh ke arah Nisa. Ternyata Nisa sedang menatapnya, bukan menatap Adit. Revan pun langsung menatap tajam ke arah Adit. Revan menjitak kepala Adit.
"Aduh, bos. Tega amat sih sama orang ganteng." kata Adit sambil mengusap-usap kepalanya.
"Makanya fokus." ucap Revan singkat.
"Jangan galak-galak, Mas." kata Nisa.
"Aku galaknya cuma sama anak ini kok, sayang." sahut Revan tersenyum ke arah istrinya itu.
Revan pun kembali memeriksa berkas-berkas tersebut. Saat semua sudah siap, mereka segera berangkat menuju restoran yang akan menjadi tempat meeting mereka.
Setelah tiba di restoran, Revan mencari meja yang nyaman untuk Nisa menunggu. Karena tidak mungkin mengajak Nisa untuk satu meja dengan klien.
Setelah memesankan makanan untuk Nisa, Revan pamit untuk menyusul Adit yang sedang mempersiapkan meeting.
Dari kejauhan Revan tampak mengawasi Nisa. Entah kenapa, kali ini Ia merasa khawatir melihat Nisa sendirian di sana. Meskipun hanya berjarak beberapa langkah dari tempatnya duduk.
Meeting masih berjalan, tapi pandangan Revan tidak lepas dari Nisa. Ingin sekali Ia meninggalkan mejanya dan menghampiri Nisa. Tapi itu tidak mungkin. Ini adalah meeting penting.
Sementara Nisa sibuk memperhatikan lalu lalang di luar restoran untuk mengusir rasa jenuh nya.
Saat Nisa mulai bosan, Ia memainkan ponselnya. Memutar video yang ada dalam aplikasi YouTube.
Sesekali Nisa tertawa kecil saat ada kejadian lucu dalam video tersebut. Tawanya terhenti saat ada notifikasi pesan dari nomor asing.
Awalnya Nisa tidak peduli, tapi lama-kelamaan dia jadi penasaran. Lalu Ia pun membuka pesan tersebut.
Nisa membelalakkan matanya tak percaya dengan isi pesan tersebut. Tiba-tiba air matanya menetes.
•••
__ADS_1