
"Kejutan apa, Mas?" tanya Nisa penasaran.
"Rahasia, sayang. Namanya juga kejutan." sahut Revan.
"Iih... Nyebelin banget sih." gerutu Nisa sembari menyilangkan tangannya di depan dada.
Revan hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Tidak berapa lama kemudian, Revan sudah menyelesaikan tugasnya.
Satu tangan Revan menggandeng tangan Nisa. Sementara tangan satunya menarik koper berisi keperluan Nisa.
"Kita mau ke mana, Mas? Ini kayaknya bukan arah keluar rumah sakit." tanya Nisa penasaran.
"Kamu ikut aja, sayang. Aku jamin Kamu pasti senang." sahut Revan tersenyum.
"Kamu ga akan ajak Aku ke kamar mayat kan, Mas? Aku takut." ucap Nisa yang langsung memeluk lengan Revan.
"Tenang aja, sayang. Nanti Aku ajak Kamu ke pemandian jenazah aja." gurau Revan.
"Isshh.... Itu sama aja, Mas." kata Nisa cemberut.
Nisa segera melepas tangannya dari lengan Revan dan memukulnya karena kesal.
"Bercanda kali, Dek. Jangan manyun gitu ah. Atau mau Aku makan di sini?" tanya Revan menggoda.
Revan mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum ke arah Nisa. Nisa yang mengerti maksud Revan pun memalingkan wajahnya dari Revan.
"Dasar mesum." gerutu Nisa.
"Gimana ga mesum coba? Udah 2 mingguan Aku ga nengokin jagoan. Pasti jagoan juga kangen banget sama ayahnya." ucap Revan.
"Itu mah bisa-bisanya Kamu aja, Mas." sahut Nisa.
Tak lama kemudian, mereka sudah tiba di depan sebuah ruang perawatan. Nisa menatap wajah Revan seolah bertanya untuk apa mereka di sana.
"Ayo Kita masuk. Kejutannya ada di dalam." ucap Revan tersenyum.
"Kamu ga ngerjain Aku kan, Mas?" tanya Nisa menelisik.
"Tidak, sayangku. Ayo masuk sekarang. Keburu kaki Aku pegal kalau kelamaan berdiri di sini." sahut Revan sambil membuka pintu.
Revan merangkul tubuh Nisa dan mengajaknya masuk ke dalam ruang perawatan itu. Nisa terdiam saat melihat siapa yang terbaring di atas kasur.
"Bapak." ucap Nisa pelan.
Nisa berjalan mendekati Pak Harto. Pak Harto tersenyum melihat kedatangan Nisa. Nisa segera memeluk Pak Harto. Nisa menangis karena rindu yang Ia rasakan selama ini.
Pak Harto pun membalas pelukan Nisa. Ia ikut menangis. Mengingat kejadian buruk yang menimpa Nisa adalah akibat dari perbuatan istri dan anaknya.
__ADS_1
Lama mereka berpelukan. Revan hanya menatap haru melihat sepasang anak dan ayah yang sedang melepas rindu sambil duduk di sofa.
"Kamu duduk dulu, Nduk. Pasti capek berdiri terus." ucap Pak Harto.
Nisa pun menurut dan duduk di samping Pak Harto.
"Maafkan Bapak ya, Nduk. Maafkan Ibuk dan juga adekmu." ucap Pak Harto sambil menggenggam tangan Nisa.
"Sudah, Pak. Nisa ga apa-apa kok. Nisa udah maafin mereka. Lagipula mereka juga keluarga Nisa. Tapi maaf kalau Nisa ga bisa bebaskan mereka." sahut Nisa.
"Ga masalah, Nduk. Biar jadi pelajaran buat mereka." kata Pak Harto.
Cukup lama mereka berbincang-bincang. Hingga akhirnya Revan mengajak Nisa untuk pulang. Nisa baru saja sembuh, Ia tidak ingin terjadi apa-apa dengan Nisa.
Setelah berpamitan, mereka segera pulang ke rumah. Rumah yang sudah cukup lama Nisa tinggalkan. Meskipun bukan keinginannya untuk pergi dari rumah itu.
Sesampainya di rumah, Nisa di sambut oleh Nenek dan beberapa hidangan yang di masak langsung olehnya.
Kini mereka sudah berada di kamar. Setelah selesai membersihkan diri, Nisa berbaring di atas ranjang. Tak lama kemudian, Revan ikut berbaring di samping Nisa.
"Sayang." ucap Revan.
"Iya, Mas." sahut Nisa.
Revan memeluk Nisa sambil menciumi wajah Nisa.
"Kalian?" tanya Nisa sambil mengernyitkan dahinya.
Revan menganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Bilang aja kalau pengen nengokin jagoan." ucap Nisa.
"Hehe. Boleh, kan?" tanya Revan.
Nisa tersenyum sambil mengangguk pelan. Revan pun segera melaksanakan tugasnya untuk memberi nafkah batin untuk Nisa. Dengan perlahan, karena Ia tak mau sampai menyakiti jagoannya.
Akhirnya tiba waktunya untuk jagoan lahir ke dunia. Kandungan Nisa sudah 9 bulan lebih 5 hari. Sejak pagi tadi, Nisa sudah merasakan mulas di perutnya.
Revan yang baru pertama kali melihat orang yang mau melahirkan pun panik. Berkali-kali Ia menyarankan Nisa untuk operasi, tapi Nisa menolak. Revan tidak tega melihat Nisa yang kesakitan. Tapi Ia juga tidak bisa memaksa Nisa.
Setelah 5 jam menunggu, tiba saatnya untuk Nisa melahirkan. Berkali-kali Revan mengecup kening Nisa untuk memberinya semangat.
"Kamu pasti kuat, sayang. Demi anak Kita. Jagoan kecil Kita." ucap Revan.
Nisa hanya mengangguk pelan. Tak lama kemudian, jagoan kecil sudah lahir. Revan terus menciumi wajah Nisa.
"Terima kasih, sayang." ucap Revan tersenyum.
__ADS_1
"Di mana jagoan Kita, Mas?" tanya Nisa.
Kini Nisa sudah berada di ruang perawatan.
"Sebentar lagi suster akan mengantar jagoan kecil Kita kesini. Sekarang lagi mandi biar ganteng pas ketemu sama bunda nya." jawab Revan tersenyum.
Di ruangan itu sudah ada Pak Harto dan Nenek yang ikut menunggu kelahiran jagoan kecil mereka. Mereka bahagia melihat Nisa dan Revan yang bersatu kembali.
Tak lama kemudian, suster muncul dengan menggendong anak laki-laki mereka. Senyum merekah di bibir mereka.
"Uh. Jagoan Bunda. Kamu ganteng banget sih, nak?" ucap Nisa sambil menciumi pipi anaknya.
"Anak ayahnya lah, Bun. Tuh liat gantengnya sama kayak Ayah." sahut Revan.
"Tapi matanya mirip Nisa, Le. Bibirnya juga." kata Nenek.
"Iya, bener. Mirip Nisa kecil." sahut Pak Harto.
Revan cemberut mendengar pendapat Nenek serta mertuanya. Sementara Nisa tersenyum melihat ekspresi Revan.
"Ikut Nini ya, sayang." kata Nenek sembari menggendong cicitnya.
"Uluh-uluh, gantengnya Nini. Namanya siapa, Nduk?" tanya Nenek.
Nisa menatap Revan. Revan tersenyum dan mengangguk.
"Rensa, Nek. Gabungan dari nama ayah bunda nya. Revan dan Nisa. Rensa." jawab Nisa.
"Halo, Rensa. Nanti Kamu bobok sama Nini aja ya. Nini kan boboknya sendirian. Biar ayah sama bunda bikin adik Vanissa buat Kamu." ucap Nenek.
Semua yang ada di dalam ruangan tersebut membelalakkan mata mendengar ucapan Nenek.
"Nenek apaan, sih? Umur Rensa baru berapa jam, masa' udah mau bikin adik aja." kata Revan.
"Ya ga apa-apa, Le. Keburu Kamu tua nanti." sahut Nenek.
"Astaga. Revan masih muda, Nek." gerutu Revan.
"Bercanda kali, Le. Lagian biasanya juga Kamu paling semangat kalau tentang itu." ucap Nenek.
Nisa menunduk malu. Sementara Revan melongo mendengar ucapan neneknya. Mereka tertawa bersama menyambut keluarga baru, yaitu Rensa.
Dan semoga kebahagiaan ini berlangsung untuk selamanya. Kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Kebahagiaan yang hanya ada saat Kita percaya dan yakin dengan apa yang ditakdirkan oleh Allah SWT.
Sekian dan terima kasih.
TAMAT
__ADS_1
•••