
Nisa menoleh kearah sumber suara.
"Rika? Kok kamu disini?" tanya Nisa terkejut melihat Rika dan Bayu.
"Ini kan tempat umum Nis. Kamu ya, katanya ga mau pacaran. Tapi sekarang udah makan berdua gini." kata Rika.
"Eh. Eh. Ini ga kayak yang kamu liat Rik. Dia bukan pacar aku kok." kata Nisa mengelak.
"Beneran pacar juga ga apa-apa kali Nis. Kamu kok kayak maling ketangkep basah gitu sih." kata Bayu.
"Hahahaha." tawa Rika dan Bayu bersamaan. Nisa pun jadi salah tingkah.
"Udah yang kita pergi aja, aku ga mau dia gangguin kita lagi." ucap Bayu sembari merangkul pundak Nisa. Mereka pergi dari tempat itu. Nisa menunduk malu.
"Kamu ga apa-apa Dek?" tanya Revan.
"Ah. Eh. Iya Mas. Aku ga apa-apa kok." jawab Nisa.
"Kita makan dulu yuk. Udah laper banget aku." kata Revan.
"Rika nyebelin banget sih. Bisa-bisanya dia nongol disini. Bikin malu aja. Awas aja ntar sampai rumah aku kasih pelajaran kamu." gumam Nisa.
"Kamu baik-baik aja kan Dek?" tanya Revan yang heran melihat Nisa hanya mengaduk-aduk makanannya.
"Eh. Baik kok Mas." sahut Tisya lalu melahap makanan yang ada didepannya.
"Kamu lucu ya." ucap Revan.
"Emang aku kayak badut Mas?" tanya Nisa membulatkan matanya.
"Bukan gitu. Tapi, ga usah dibahas lah Dek. Udah makan aja. Keburu pingsan nanti." kata Revan tak meneruskan kata-katanya.
"Apaan sih Mas. Ga jelas banget deh." gerutu Nisa. Tapi Revan hanya tersenyum mendengarnya.
Mereka pun segera menyelesaikan makannya. Saat sudah selesai makan, Nisa merogoh sesuatu didalam tasnya.
"Mas Revan. Aku mau kembalikan uang yang kemarin itu ya." kata Nisa sembari meletakkan uang tersebut di depan Revan. Revan hanya melihat sekilas uang itu.
"Aku kira kamu lupa Dek. Oh iya ini aku mau ganti ponsel kamu yang rusak kemarin." kata Revan sembari mengambil kotak ponsel dari ranselnya dan memberikannya pada Nisa. Nisa melirik merk ponsel itu. Nisa sangat terkejut saat melihat dengan jelas merk ponsel itu. Ponsel itu dari merk terkenal dan model terbaru yang harganya pasti tidak murah.
"Ga usah Mas. Ini terlalu mahal buat aku. Lagian ponselku masih bisa dipakai kok." kata Nisa yang berniat mengembalikan ponsel tersebut pada Revan. Namun Revan menahannya.
"Udah kamu pakai aja. Aku ikhlas kok. Please. Aku ga mau dihantui rasa bersalah." ucap Revan memohon.
"Tapi Mas. Aku ga marah kok. Beneran deh." sahut Nisa.
"Tolong ya Dek di terima. Kan aku juga udah terima uang kamu nih." ucap Revan sembari memegang uang yang diberikan oleh Nisa tadi.
"Gimana ya Mas. Ini mahal banget lho." kata Nisa.
"Please." ucap Revan sembari menangkupkan kedua tangannya memohon.
"Oke lah Mas. Aku terima ya. Makasih banget Mas." ucap Nisa sambil melihat-lihat ponsel itu.
"Sama-sama Nis. Kamu suka ga?" tanya Revan.
"Ya suka lah Mas. Mana ada sih orang yang ga suka ponsel baru. Tapi ini terlalu mahal buat aku Mas." sahut Nisa.
"Syukurlah kalau kamu suka sayang." ucap Revan.
"Hah. Mas Revan tadi bilang apa?" tanya Nisa. Dia seperti mendengar Revan bilang sayang.
"Yang mana Dek?" tanya Revan pura-pura tidak tahu.
"Yang terakhir itu tadi." ucap Nisa.
"Yang mana Dek? Aku lupa." kata Revan setengah tersenyum.
"Ah udah lah ga penting juga. Mungkin aku salah dengar." ucap Nisa. Nisa melupakan kejadian tadi.
"Abis ini ikut aku jalan-jalan mau ga Dek?" tanya Revan.
"Jalan-jalan kemana mana Mas. Asal jangan malem-malem pulangnya." kata nisa.
"Oke bos." ucap Revan tersenyum. Nisa pun ikut tersenyum.
Mereka pun segera beranjak dari tempat itu. Kebetulan malam ini ada pasar malam di alun-alun kota, jadi Revan mengajak Nisa kesana. Nisa sangat senang saat melihat ramainya tempat itu.
"Wah seru banget Mas. Gimana kalau kita main semua wahana mas?" kata Nisa tertawa. Revan yang melihatnya pun ikut senang.
__ADS_1
Nisa benar-benar seperti anak kecil malam ini. Mereka main semua wahana. Sampai tak terasa sudah hampir 2 jam mereka ditempat itu. Revan mulai kewalahan dengan Nisa.
"Dek. Udah ya. Aku capek banget." ucap Revan dengan nafas terengah-engah.
"Baru bentar lho Mas. Masa' udah capek sih?" sahut Nisa.
"Liat nih jam berapa?" kata Revan sembari menunjuk jam tangannya.
"Astaga Mas. Ayok pulang." ucap Nisa sembari menarik tangan Revan agar cepat pergi dari tempat itu.
Saat akan menyebrang jalan, tiba-tiba Revan melihat ada sepeda motor melaju kencang mengarah ke Nisa. Revan segera menarik Nisa kebelakang.
"Awas Dek." teriak Revan yang menarik Nisa dan jatuh dalam pelukannya. Kepala Nisa berada tepat di dada Revan. Bahkan Nisa dapat mendengar jelas detak jantung Revan yang tidak beraturan. Nisa merasakan Revan memeluknya erat.
Kini mereka menjadi tontonan oleh orang sekitar. Karena adegan romantis dari seorang pangeran. Revan perlahan mengendurkan pelukannya.
"Kamu ga apa-apa kan Dek?" tanya Revan.
"Ga apa-apa Mas. Sebenarnya tadi ada apa sih kok Mas Revan teriak gitu. Aku kan jadi takut." ucap Nisa menunduk.
"Tadi ada motor yang melaju kenceng banget kearah kamu, makanya aku teriak terus narik tangan kamu. Maaf ya udah peluk peluk kamu." kata Revan sembari melepaskan pelukannya.
"Justru aku harusnya terima kasih sama kamu Mas. Kalau ga ada kamu, ga tau lah keadaan ku sekarang kayak gimana." ucap Nisa.
"Kita pulang sekarang ya. Pelan-pelan aja, yang penting selamat." ucap Revan sembari merangkul pundak Nisa. Nisa melihat tangan Revan yang dipundak Nisa, lalu menoleh kearah Revan.
"Makasih ya Mas." ucap Nisa tersenyum kearah Revan. Revan yang melihat Nisa tersenyum ikut menyunggingkan senyuman.
"Kamu jangan senyum kayak gitu lagi ya Dek." kata Revan sembari mencolek dagu Nisa. Nisa hanya mengernyitkan dahi karena heran dengan kata-kata Revan.
"Senyum kan ibadah Mas. Kok malah ga boleh?" sahut Nisa.
"Karena senyum kamu terlalu manis Dek. Aku ga mau diabetes sebelum menikah." kata Revan tersenyum geli melihat ekspresi wajah Nisa.
"Haaaaah. Apaan sih Mas. Oh iya, emang kapan Mas Revan mau nikah?" tanya Nisa.
"Nanti kalau kamu udah siap." ucap Revan tersenyum sambil memandang lurus ke depan.
"Hah. Maksud mas Revan gimana sih? Kok aku ga paham." kata Nisa bingung.
"Bukan apa-apa kok. Udah ayo naik. Kita cus pulang." kata Revan yang sudah naik di motornya. Revan menarik tangan Nisa agar cepat naik motor.
"Pegangan Dek. Kamu mah lupa mulu." kata Revan menarik tangan Nisa. Tangan Nisa kini sudah melingkar di perut Revan.
"Mas." ucap Nisa.
"Kenapa Dek?" tanya Revan.
"Perasaan kita tadi makan banyak deh. Tapi kok perut kamu bisa rata gini ya." kata Nisa sembari mengelus-elus perut Revan. Revan melihat tangan Nisa yang masih berada di perutnya, kemudian menggenggamnya.
"Duh kok malah kayak drama Korea gini sih." ucap Nisa dalam hati.
"Perut aku kan termasuk perut bagus Dek." sahut Revan.
"Halah. Semua perut mah sama aja." kata Nisa.
"Oh iya. Perasaan kamu kalau makan juga banyak, tapi kok ga gendut sih Dek?" tanya Revan balik.
"Hahahaha. Mungkin takdir belum mengijinkan aku untuk gendut Mas. Aku gendutnya kalau hamil mungkin." jawab Nisa.
"Emang kamu udah siap hamil Dek?" tanya Revan.
"Aku mah selalu siap Mas. Tapi jodohnya aja belum ada. Masa' mau hamil sama kucing. Haha." kata Nisa bercanda.
Tiba-tiba Revan menghentikan motornya dipinggir jalan yang agak sepi.
"Kalo nikah sama aku mau ga Dek?" tanya Revan sembari berbalik dan menatap Nisa.
"Hah?" ucap Nisa bingung mau jawab apa.
"Apaan sih Mas. Kita kan baru kenal kemarin. Masa' iya langsung nikah. Bahkan Mas Revan kan belum tau siapa aku. Aku juga belum tau siapa Mas Revan. Pernikahan bukan permainan lho Mas. Ini hal serius." sahut Nisa.
"Aku tau Dek. Kalo kamu belum siap, aku akan tunggu kamu siap. Untuk kepastiannya aku tunggu besok sore ya." kata Revan tersenyum. Nisa hanya terdiam sejenak.
"Ya udah sekarang lanjut jalan lagi." ucap Revan berbalik dan melajukan kembali motornya.
Di sepanjang jalan, Nisa hanya diam. Revan pun tak bergeming. Tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai didepan kontrakan Nisa. Nisa segera turun dari motor. Revan pun pamit pulang karena waktu sudah larut malam.
Nisa membuka pintu kontrakan dengan kunci cadangan. Namun saat dibuka, Rika duduk di sofa sembari memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Kamu kok belum tidur Rik?" tanya Nisa.
"Gimana mau tidur kalo kamu aja belum pulang. Ini kayak bukan kamu lho Nis." kata Rika yang tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Maaf Rik. Tadi Mas Revan ngajak ke pasar malam. Nih aku beliin oleh-oleh." ucap Nisa sembari menyodorkan kantung kresek pada Rika.
"Kalian udah pacaran?" tanya Rika sembari membuka oleh-oleh dari Nisa.
"Kita ga pacaran kok." jawab Nisa.
"Terus?" tanya Rika lagi.
"Mas Revan ngajakin aku nikah." kata Nisa menunduk. Tiba-tiba Rika tersedak karena terkejut dengan pernyataan Nisa. Nisa segera mengambil air putih di meja dan memberikannya pada Rika.
"Pelan-pelan Rik." ucap Nisa.
"Kamu beneran mau nikah sama dia?" tanya Rika.
"Aku ga tau Rik." kata Nisa.
"Kok ga tau sih Nis? Emang apa yang membuat kamu ragu?" tanya Rika.
"Kita baru kenal kemarin sore Rika sayang." jawab Nisa.
"What? Baru kenal udah langsung ngajak nikah?" tanya Rika terkejut.
"Iya. Padahal kan dia belum kenal aku siapa. Aku juga belum tau dia siapa. Pernikahan kan bukan mainan. Masa' tiba-tiba langsung nikah gitu aja. Gimana nanti reaksi Ayah Ibu Rik? Dan dia cuma ngasih waktu sampai besok sore. Pusing aku." kata Nisa sambil memegangi kepalanya.
"Emang kamu punya perasaan apa sama dia?" tanya Rika.
"Aku ga tau Rik. Ini pertama kalinya aku dekat sama cowok." ucap Nisa.
"Duh repot nya punya temen ga pernah jatuh cinta." kata Rika menepuk keningnya.
"Gimana dong Rik? Aku bingung nih." ucap Nisa sembari menatap wajah Rika.
"Aku juga ga tau Nis. Aku bingung. Ini aja aku diajak nikah sama Mas Bayu. Tapi aku masih belum siap. Ya, paling ga kan nunggu lulus kuliah dulu. Itu aja aku pacaran. Lha kamu? Kenal aja baru kemarin. Kalo saran aku sih ya, sekarang kamu istirahat dulu deh. Tenangin pikiran kamu. Ikuti kata hati kamu." kata Rika.
"Gimana aku bisa tidur Rik? Kemarin aku baru ketemu sama dia aja, semalaman ga bisa tidur." ucap Nisa polos.
"Duh. Gimana ya?" gumam Rika sembari memegang dagunya.
"Gimana nih? Bisa gila aku karena semua ini." kata Nisa menggaruk-garuk kepalanya karena frustasi.
"Pokoknya kamu sekarang kekamar. Bagaimanapun caranya kamu harus cepat tidur. Lagian besok kan libur tanggal merah, jadi kita bisa mikir untuk selanjutnya." kata Rika menenangkan.
"Ya udah kalau gitu. Aku akan coba istirahat dulu. Nanti kalau ga bisa tidur, aku pindah ke kamar kamu. Oke?" kata Nisa.
"Oke bos." sahut Rika.
Mereka pun langsung menuju kamar masing-masing. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Nisa segera berbaring di atas tempat tidurnya. Nisa mematikan lampu kamarnya. Karena hari ini terlalu melelahkan, Nisa segera terlelap. Begitu juga dengan Rika. Dia yang sudah mengantuk karena menunggu Nisa pulang tadi, tanpa menunggu lama dia sudah pergi ke alam mimpi.
Keesokan paginya, Nisa dan Rika memang kesiangan bangun. Beruntung hari ini mereka libur. Saat Nisa keluar kamar, waktu sudah menunjukkan pukul 08:00. Dia segera memasak untuk sarapan. Sedangkan Rika, dia keluar kamar saat Nisa sudah selesai memasak.
"Katanya ga bisa tidur, tapi langsung molor." ledek Rika.
"Aku capek banget Rik gara-gara seharian kemarin di kampus. Di tambah lagi jalan-jalan sama Mas Revan kemarin." sahut Nisa.
"Eh iya. Ngomong-ngomong soal Mas Revan, kamu udah tau jawabannya belum Nis?" tanya Rika sembari mengambil air dingin di kulkas.
"Aku akan coba telpon Ayah dulu Rik." jawab Nisa.
"Kamu yakin mau tanya Ayah kamu?" tanya Rika memastikan.
"Iya Rik. Bagaimana pun juga kan mereka yang merawat ku Rik. Hanya mereka yang aku miliki saat ini." ucap Nisa sembari mengusap air matanya yang menetes.
"Kasian banget kamu Nis. Punya keluarga, tapi mereka tak menganggap kamu ada." kata Rika dalam hati.
"Udah jangan nangis. Kamu kuat Nis. Kamu pasti bisa mengambil keputusan yang tepat." kata Rika sambil memeluk Nisa agar lebih tenang.
Selesai bersedih sedih, mereka pun makan sarapan yang terlambat. Hari ini benar-benar kacau untuk mereka berdua. Sebenarnya hari ini Bayu akan mengajak Rika untuk bertemu dengan keluarganya, namun Rika membatalkannya karena ingin menemani Nisa sahabatnya.
Mereka kini duduk bersantai didepan TV sembari menonton acara berita. Namun pikiran Nisa jauh terbang membayangkan Revan. Rika melihat Nisa bengong justru tersenyum lalu menatap wajah itu.
"Kamu ga pernah jatuh cinta, tapi sekali jatuh cinta kamu langsung nikah Nis. Jalan hidup memang sulit ditebak." kata Rika dalam hati.
Tok. Tok. Tok.
•••
__ADS_1