
Revan menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Nisa.
"Oke. Aku janji akan bermain sampai selesai." kata Nisa sambil menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Revan.
Revan tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa. Nisa yang tidak mengerti pun sedikit panik.
"Mas Revan mau ngapain? Kapan kita mulai permainannya?" tanya Nisa.
Nisa bergerak mundur menghindari Revan. Namun Revan segera meraih pinggang Nisa dan menariknya agar mendekat.
"Kita akan mulai sekarang, sayang. Apa kamu udah siap?" bisik Revan ditelinga Nisa.
Nisa bergidik saat merasakan hembusan nafas Revan di telinganya.
"Aku siap, Mas. Emang permainan apa," sahut Nisa.
Belum sempat Nisa menyelesaikan pertanyaannya, Revan sudah meraih bibir Nisa. Nisa yang sudah mengerti permainan apa yang dimaksud Revan pun membelalakkan matanya.
Nisa mencoba mendorong tubuh Revan, tapi Revan malah mengeratkan pelukannya. Dan akhirnya Nisa hanya bisa mengikuti permainan Revan.
"Udah ya, Mas. Badanku capek banget." ucap Nisa.
Nisa berbaring sambil memeluk Revan.
"Iya, sayang." sahut Revan sambil mengecup kening Nisa.
"Mas Revan tega banget nipu aku." kata Nisa.
"Eh. Aku ga pernah nipu kamu, Dek." ucap Revan.
"Itu tadi. Kalau tahu permainan yang kamu maksud kayak gitu, mending aku nonton acara alay di TV." kata Nisa kesal.
"Hehe. Maaf ya, sayang. Lagian kamu juga menikmati. Ga usah kesel gitu. Enak kan, Dek?" tanya Revan menggoda Nisa.
"Enak apaan? Capek tau! Mas Revan tuh yang keenakan." sahut Nisa.
"Kalau ga enak, kenapa tadi merem melek gitu?" tanya Revan.
"Ya, ya itukan reflek, Mas." sahut Nisa terbata-bata.
"Terus kenapa tadi sampai mendesah nikmat? Sayang, oh. Sayang, ah." kata Revan sambil menirukan kata-kata yang Nisa ucapkan tadi.
Nisa memukul dada Revan karena kesal.
"Apaan sih, Mas? Kayak gitu kok di bahas. Ngeselin." kata Nisa.
"Hehe. Abisnya kamu menggoda banget pas mendesah kayak tadi. Jadi ga pengen berhenti mainnya." ucap Revan.
"Enak aja ga berhenti. Bisa mati aku, Mas." kata Nisa asal.
"Ga boleh ngomong kayak gitu, Dek. Dinikmatin aja. I love you, sayang." ucap Revan sambil mengecup bibir Nisa.
"Aku juga sayang sama kamu, Mas." sahut Nisa.
Tok. Tok. Tok.
"Kayaknya itu pegawai hotel yang nganter makanan kita, Mas." ucap Nisa.
"Ya udah aku keluar dulu. Kamu mandi duluan gih." sahut Revan.
Revan segera memakai celana pendeknya dan berjalan ke arah pintu. Sedangkan Nisa segera berlari ke arah kamar mandi. Revan tersenyum melihat tingkah Nisa yang berlari tanpa menggunakan pakaian.
"Ada-ada aja kamu, Ca." ucap Revan sambil menggelengkan kepalanya.
Revan segera membuka pintu. Dan benar itu adalah pegawai restoran yang hendak mengantar makanan yang ia pesan tadi.
Revan meletakkan semua makanan itu dimeja. Lalu ia segera meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
"Halo." sapa Revan.
"..."
"Tolong carikan baju untukku dan istriku." kata Revan.
"..."
"Iya. Malam ini diantar ke hotel." ucap Revan.
"..."
"Oke. Terima kasih." kata Revan.
"..."
Revan mengakhiri percakapannya di telepon dan memainkan ponselnya sejenak. Revan sibuk mengetik sesuatu di ponselnya hingga tidak sadar bahwa Nisa sudah keluar dari kamar mandi.
"Kamu mandi dulu, Mas. Udah aku siapin airnya." kata Nisa.
Nisa berjalan menghampiri Revan yang sedang duduk di sofa. Revan segera meletakkan ponselnya saat tahu Nisa berjalan ke arahnya.
"Iya, sayang." ucap Revan sambil memeluk dan mencium seluruh wajah Nisa.
"Lepasin, Mas. Kamu bau ih. Aku ga mau dipeluk sama kamu." kata Nisa sambil mendorong tubuh Revan agar menjauh.
"Bentar aja, sayang. Kamu wangi banget sih? Jadi pengen peluk terus." sahut Revan.
"Nanti abis mandi kan bisa peluk lagi, Mas. Udah sana cepetan mandi. Keburu dingin ini makanannya." ucap Nisa.
"Em. Oke. Oke. Tapi nanti abis mandi aku mau peluk kamu dan ga boleh nolak. Oke?" tanya Revan.
"Iya, Mas. Aku ga bakal nolak kalau kamu wangi." sahut Nisa.
Revan menciumi wajah Nisa terlebih dahulu sebelum ia melepaskan pelukannya dan berjalan menuju ke kamar mandi.
"Ish. Untung kamu ganteng, Mas." gumam Nisa.
__ADS_1
Nisa menonton TV sembari menunggu Revan yang sedang mandi.
Tak lama kemudian, Revan sudah keluar kamar mandi dengan rambut yang masih agak basah. Nisa memalingkan wajahnya dari tubuh Revan. Nisa masih saja malu saat melihat Revan bertelanjang dada.
Revan yang melihat istrinya salah tingkah pun berjalan menghampirinya.
"Kamu kenapa, Dek?" tanya Revan sambil menghempaskan tubuhnya ke samping Nisa.
"Eh. Mas Revan ngagetin aja deh." ucap Nisa.
Nisa mencubit pinggang Revan. Revan membalas cubitan Nisa dengan segera memeluknya erat.
"Mas. Lepasin aku." ucap Nisa.
"Ga mau. Tadi kan kamu bilang kalau aku udah wangi, aku boleh peluk kamu." sahut Revan.
Revan terus menciumi seluruh wajah Nisa.
"Nanti aja peluknya, Mas. Kita makan dulu. Lagian kalau peluknya kenceng kayak gini aku ga bisa nafas." kata Nisa.
"Oke lah. Kita makan dulu. Sebelum aku makan kamu lagi." ucap Revan sambil mengecup bibir Nisa.
"Dasar mesum." gerutu Nisa.
"Ga masalah kalau mesumnya sama istri. Udah enak, dapet pahala lagi." ucap Revan sambil tersenyum menggoda Nisa.
Revan dan Nisa pun segera turun dari atas tempat tidur dan berjalan menuju sofa.
"Apaan sih, Mas? Udah ayo makan." kata Nisa.
Nisa duduk dan mengambil nasi serta lauk untuk Revan. Sesekali Revan mencium pipinya. Nisa begitu telaten melayani suaminya.
"Kamu memang yang terbaik, Ica ku." kata Revan dalam hati.
Revan tersenyum sambil terus menatap wajah Nisa.
"Mas. Dimakan itu makanannya. Kok malah liatin aku terus sih?" tanya Nisa.
Nisa merasa kikuk saat Revan terus menatapnya.
"Aku lebih suka liat kamu daripada makanan ini." ucap Revan.
"Apaan sih? Udah cepetan makan. Nanti perut kamu sakit lho kalau ga makan." kata Nisa.
"Suapin." sahut Revan memelas.
"Astaga. Aku berasa nikah sama anak SD kalau kayak gini." kata Nisa sambil menyuapi Revan.
"Mana ada anak SD bisa buat anak." ucap Revan asal.
"Hah?" ujar Nisa terkejut.
Mulut Nisa terbuka karena terkejut mendengar ucapan Revan. Revan segera menyuapi Nisa.
"Ga usah lebar-lebar juga mangapnya. Untung nasi yang masuk. Bukan cicak." ucap Revan tersenyum.
Mereka segera menyelesaikan makan malam yang menurut mereka romantis.
Selesai makan, mereka duduk berdua di sofa sambil saling memeluk. Mereka bercerita tentang kehidupan mereka kecil.
Tok. Tok. Tok.
"Siapa ya, Mas?" tanya Nisa.
"Kayaknya asisten aku, Dek. Aku keluar dulu ya." jawab Revan.
"Oh. Iya. Aku mau ke kamar mandi dulu." ucap Nisa sambil berjalan ke kamar mandi.
Revan segera membuka pintu kamar hotel.
"Eh. Adit. Gimana? Sudah dapet pesenanku tadi?" tanya Revan.
"Sudah dapet, Bos. Gimana rasanya jadi pengantin baru, Bos?" tanya Adit.
Adit menyodorkan paper bag berisi baju Revan dan Nisa.
"Beneran mau tau? Nikah sana." kata Revan tergelak.
"Mau nikah sama siapa, Bos? Pacar aja ga punya." sahut Adit memelas.
"Kasihan banget kamu, Dit." ucap Revan.
"Heleeeeh. Sombong mentang-mentang udah nikah." kata Adit.
"Biarin. Udah kamu pergi sana. Keburu istriku keluar dari kamar mandi. Kita mau nyetak anak lagi." ucap Revan asal.
"Aih. Perlu bantuan ga Bos nyetak anaknya?" tanya Adit tersenyum.
Revan langsung memukul bahu Adit saat mendengar pertanyaan dari asisten pribadinya itu.
"Enak aja. Aku masih bisa nyetak sendiri." ucap Revan.
"Ya kali aja kecebong si Bos ga lincah." kata Adit tertawa sambil mengusap-usap bahunya.
"Eits. Jangan salah. Kecebong aku itu adalah kecebong unggul. Sudah pasti lincah dan gesit." sahut Revan.
"Oh, ya? Kita tunggu sebulan lagi untuk membuktikan." ucap Adit.
"Udah. Mending kamu pergi aja sana. Ganggu orang lagi nyetak aja." kata Revan sambil mendorong Adit agar menjauh dari pintu.
"Tega banget, Bos. Pake di usir segala. Mana ga terima kasih lagi." gerutu Adit.
"Terima kasih." ucap Revan yang langsung menutup pintu kamar.
Revan melemparkan paper bag berisi pakaian itu ke sofa. Lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Tak lama kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka. Nisa berjalan menghampiri Revan.
"Lhaah. Udah tidur aja." gumam Nisa.
Nisa merangkak naik ke atas kasur di samping Revan. Nisa meletakkan sebuah guling sebagai pembatas agar Revan tidak mendekat.
Nisa menyelimuti tubuhnya hingga hanya terlihat kepalanya saja. Revan tersenyum sambil melirik Nisa. Revan hanya pura-pura tertidur.
Pelan-pelan Revan mengambil guling pembatas itu. Dan melemparkannya ke bawah. Revan mendekati Nisa dan memeluk Nisa dari belakang.
Nisa yang terkejut pun langsung terduduk.
"Eh. Mas Revan kok bangun?" tanya Nisa.
"Aku belum tidur, sayang." jawab Revan.
"Masa' sih? Kayaknya tadi aku liat pules banget." ucap Nisa.
"Sini, Dek. Aku peluk." kata Revan sambil merentangkan kedua tangannya.
"Ga ah, Mas. Eh gulingnya mana?" tanya Nisa.
Nisa mencari-cari guling yang ia pakai sebagai pembatas tadi.
"Ngapain cari guling yang kecil kalau ada yang lebih besar, Dek?" tanya Revan.
Nisa menatap Revan dengan tatapan bingung.
"Maksud Mas Revan apaan sih?" tanya Nisa.
"Peluk suami mu yang paling ganteng ini aja, sayang. Anggap aja aku guling." ucap Revan sambil merentangkan kedua tangannya.
"Mana ada guling mesum. Lagian bahaya kalau kita pelukan. Pasti ujung-ujungnya begitu." kata Nisa.
Nisa turun dari kasur untuk mengambil guling yang di buang Revan.
"Begitu gimana sih, Dek?" tanya Revan tersenyum pura-pura tidak tahu.
"Ya begitu pokoknya, Mas? Masa' Mas Revan ga paham sih?" tanya Nisa sambil membaringkan tubuhnya kembali.
"Ya gimana aku mau paham kalau kamu aja ngomongnya ga jelas. Maksud kamu begitu gimana, Dek?" tanya Revan.
"Gitu-gitu lho, Mas." jawab Nisa sambil menunjuk ke dalam selimut.
"Emang di dalam selimut ada apaan, sayang?" tanya Revan sambil mengintip ke dalam selimut.
"Eh. Mas Revan apaan sih? Udah ah tidur sana. Besok kan kita mau pulang." sahut Nisa sambil menutup kembali selimut yang ia pakai.
"Aku ga mau tidur kalau ga kamu peluk, Dek." ucap Revan.
" Alasan. Biasanya juga tidur sendiri kan sebelum nikah sama aku?" tanya Nisa.
"Itu kan sebelum nikah, Dek. Sekarang kita kan udah nikah. Ga apa-apa dong kalau kita tidur sambil pelukan. Ga dosa. Malah dapet pahala." jelas Revan.
"Ya. Ya. Ya. Oke sini aku peluk. Tapi ga boleh usil ya. Aku capek banget, Mas. Pengen tidur nyenyak malam ini." kata Nisa.
"Oke, sayang." ucap Revan.
Nisa pun bergerak mendekat ke arah Revan lalu memeluknya.
"Oh iya, Dek. Besok kita mau pulang ke mana dulu?" tanya Revan.
"Ke kontrakan dulu, Mas." jawab Nisa.
"Terus nanti mau tinggal sama nenek atau tinggal di rumah sendiri aja?" tanya Revan lagi.
"Sebenarnya aku pengen tinggal di rumah sendiri, Mas. Tapi gimana ya? Kasihan nenek kalau sendirian." jawab Nisa.
"Kalau gitu tinggal sama nenek aja, ya? Nenek pasti seneng banget. Apalagi kalau kita kasih buyut buat dia." ucap Revan tersenyum sambil membayangkan dia sedang menggendong anak.
Nisa segera melonggarkan pelukannya dari Revan.
"Kok jadi bahas itu sih, Mas?" tanya Nisa.
"Ya ga apa-apa, Dek. Aku lagi ngebayangin gendong anak kita. Pasti ganteng banget kayak aku." kata Revan.
"Ya, kalau anak kita cowok. Kalau anak kita cewek gimana?" tanya Nisa.
"Kalau cewek pasti cantik kayak kamu. Lagian mau cowok atau cewek ga masalah buat aku. Yang penting sehat." jawab Revan.
Tiba-tiba Nisa memeluk Revan lagi. Nisa menangis.
"Kok jadi nangis, Dek? Aku salah bicara ya?" tanya Revan panik saat tahu Nisa menangis.
"Mas Revan ga salah kok. Aku cuma ingat sama almarhum orang tua aku. Aku sedih aja mereka ga bisa liat aku nikah. Ga bisa liat aku punya anak." ucap Nisa sesenggukan.
"Sayang. Mereka liat kok semua kejadian yang kamu alami selama ini. Mereka selalu ada di samping kamu. Meskipun kamu ga bisa liat mereka. Kamu do'ain mereka agar mereka juga ikut bahagia dengan keadaan kita saat ini." jelas Revan.
Nisa tidak menanggapi ucapan Revan. Nisa terus menangis di pelukan Revan. Setelah lelah menangis, Nisa pun terlelap di pelukan Revan.
"Semoga mimpi indah, Dek. Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar kamu tidak menangis karena sedih. Kamu hanya akan menangis karena bahagia." ucap Revan sambil mengecup kening Nisa.
"Ma, Pa. Revan janji akan menjaga Ica. Revan Ga akan pernah tinggalin Ica lagi." kata Revan dalam hati.
Revan membenarkan posisi tidurnya dan ikut terlelap tanpa melepaskan pelukannya dari Nisa.
Revan terbangun saat waktu menunjukkan pukul 03:30. Perlahan Revan beranjak dari tempat tidur menuju ke kamar mandi.
Saat keluar dari kamar mandi, Revan berjalan dan berjongkok di samping kasur. Revan memandangi wajah Nisa yang begitu lelap.
Revan mengusap kepala Nisa pelan agar Nisa tidak terbangun. Perlahan tangannya turun mengusap kedua mata Nisa.
Revan berhenti sejenak memperhatikan bulu mata Nisa yang begitu lentik. Lalu tangannya mulai bergerak turun lagi ke arah hidung Nisa.
Hidung itu tidak terlalu mancung, tapi cukup menarik untuk Revan.
__ADS_1
"Hachin."
•••