
Nisa bersin saat Revan memainkan hidungnya. Revan mengusap wajahnya kasar saat terkena air liur Nisa.
"Haduhh. Niatnya mau romantis malah tragis." gerutu Revan.
"Eh. Mas Revan ngapain disitu?" tanya Nisa terkejut melihat Revan yang berjongkok di depannya.
Nisa duduk sambil mengusap hidungnya yang gatal.
"Ga ngapa-ngapain kok, Dek. Tadi cuma ambil semut yang ada di hidung kamu." jawab Revan.
"Oh, pantes aja hidung ku jadi gatal. Ternyata ada semutnya." sahut Nisa.
"Sini tidur, Mas. Ga capek apa jongkok terus kayak gitu?" tanya Nisa.
Revan pun segera berdiri dan langsung berbaring di samping Nisa.
"Maaf ya tadi kena air liur aku." ucap Nisa sambil mengusap wajah Revan.
"Ga apa-apa, sayang. Udah biasa sama air liur kamu kok." sahut Revan tersenyum.
Nisa menoleh sambil membelalakkan matanya karena heran dengan ucapan suaminya itu.
"Jadi pengen tukeran air liur, Dek." ucap Revan sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Nisa.
"Ayo tidur, Mas." sahut Nisa.
Nisa paham dengan apa yang dimaksud Revan. Ia pun merebahkan tubuhnya dan memakai selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Revan membuka selimut yang dipakai Nisa. Ia melemparkannya ke sembarang arah.
"Eh. Kok dibuang sih, Mas? Kan dingin." gerutu Nisa.
Nisa yang sadar akan ucapannya pun langsung menutup mulut dengan tangannya.
"Kalau dingin biar aku bikin hangat, Dek. Ga perlu pake selimut itu." ucap Revan yang langsung memeluk Nisa.
Revan segera melancarkan aksinya untuk menghangatkan tubuh Nisa. Tak hanya hangat, Nisa bahkan merasa panas meskipun AC dikamar tersebut menyala.
Mereka tertidur pulas saat badan sudah segar tapi lelah.
"Mas. Ayo bangun. Udah pagi ini. Kita jadi pulang ga?" tanya Nisa sambil menggoyang-goyangkan tubuh Revan.
"5 menit lagi, sayang. Kamu mandi dulu aja. Baju kamu ada di sofa." sahut Revan tanpa membuka matanya.
Nisa pun segera ke kamar mandi. 30 menit kemudian Nisa sudah selesai mandi dan memakai baju yang sudah disiapkan Revan.
"Kok bisa pas ya bajunya?" gumam Nisa sambil bercermin.
Nisa berjalan menghampiri Revan yang masih tertidur. Nisa mencium kening Revan.
"Mas. Ayo bangun. Aku udah selesai ini." kata Nisa.
"Kok ga ajak aku tadi, Dek?" tanya Revan sambil membuka matanya.
"Kan Mas Revan tadi yang nyuruh aku mandi duluan." jawab Nisa.
"Masa' sih? Kayaknya aku ga ngomong gitu deh." ucap Revan.
"Kamunya aja yang ga sadar. Udah cepetan bangun terus mandi sana." kata Nisa.
"Aku ga mau mandi kalau ga bareng sama kamu." ucap Revan.
"Tapi kan aku udah mandi, Mas." sahut Nisa.
"Kamu mandi lagi aja, Dek." ucap Revan sambil memeluk Nisa.
"Ga mau, Mas. Sana cepetan mandi. Kamu bau banget." kata Nisa meronta.
"Ayolah, sayang. Aku pengen mandi sama kamu." ucap Revan memelas.
"Tapi aku ga mau, Mas. Aku mau beresin itu barang-barang kita. Jadi nanti kalau Mas Revan selesai mandi, kita bisa langsung pulang." jelas Nisa.
"Beneran ga mau nemenin aku mandi nih?" tanya Revan.
"Ga, Mas. Udah sana. Keburu siang nanti sampai kontrakannya." jawab Nisa.
"Oke lah. Nanti kita makan diluar aja ya, Dek. Sekalian jalan pulang." ucap Revan sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
"Siap, Bos." kata Nisa sambil memberi hormat pada Revan.
Nisa mulai membereskan barang-barang mereka yang akan dibawa pulang. Sebelum Revan selesai mandi, Nisa sudah selesai mengepak semua barang.
"Ini bajunya, Mas." kata Nisa sambil saat melihat Revan yang sudah keluar dari kamar mandi.
"Kok bajunya kayak gini, sih?" tanya Revan.
"Emang bajunya kenapa, Mas?" tanya Nisa.
"Warnanya beda sama baju kamu, Dek. Aku ga suka." jawab Revan.
"Bukannya kamu sendiri yang pilih, Mas?" tanya Nisa.
"Bukan, Dek. Ini yang beliin asisten aku yang tadi malem itu. Jadi males pake baju kalau gini." sahut Revan kesal.
"Suka ga suka ya harus pake baju dong, Mas. Ntar dikira aku istrinya orang gila lagi." ucap Nisa.
"Kamu ngatain aku gila, Dek?" tanya Revan sambil menatap Nisa.
"Ya itu kalau kamu ga mau pake baju. Mending aku pulang sendiri daripada bareng sama orang gila." jawab Nisa.
"Huh. Aku pake nih bajunya." ucap Revan sambil memakai pakaian.
Nisa tersenyum melihat tingkah suaminya.
__ADS_1
"Aku harus potong gaji si Adit nih." gumam Revan.
"Apa, Mas?" tanya Nisa.
"Ga apa-apa kok, sayang." jawab Revan.
"Untung aja kamu mau pake baju ini, Mas. Kamu jadi tambah ganteng." puji Nisa.
"Lebih ganteng lagi kalau ga pake apa-apa kan, Dek?" tanya Revan tersenyum sambil memeluk Nisa.
"Apaan sih, Mas? Ayo kita pulang sekarang." ucap Nisa tersipu malu.
"Hehe. Kamu lucu banget kalau malu-malu gini." kata Revan sambil mengecup pipi Nisa.
Mereka segera keluar dari kamar hotel tersebut. Saat di jalan menuju ke parkiran, beberapa pegawai hotel memberi hormat pada mereka. Nisa hanya tersenyum heran.
Tangan Revan tidak lepas dari pinggang Nisa selama perjalanan menuju tempat parkir. Tak sedikit orang-orang yang membicarakan keromantisan mereka.
"Kamu mau makan apa, sayang?" tanya Revan saat ia baru saja menutup pintu mobil.
"Aku ngikut aja, Mas." jawab Nisa.
"Oke. Nanti kalau ada yang jual sarapan kita langsung berhenti aja ya." ucap Revan.
"Iya, Mas." sahut Nisa.
Revan mulai menjalankan mobilnya ke arah kontrakan Nisa. Ia menghentikan mobilnya saat melihat ada warung makan yang sudah buka.
"Kita makan di sini aja ya, Dek?" tanya Revan.
"Iya, Mas." jawab Nisa.
Mereka segera masuk ke dalam warung makan tersebut. Tidak terlalu ramai karena waktu masih menunjukkan pukul 07:10.
Mereka segera makan tanpa harus antri panjang. Bahkan mereka selesai sebelum jam 8 pagi.
Setelah membayar, mereka segera meneruskan perjalanan menuju ke kontrakan.
"Aku kangen banget sama rumah ini, Mas." ucap Nisa saat turun dari mobil.
"Padahal baru berapa jam kamu pergi, Dek." kata Revan sambil merangkul pundak Nisa.
"Ya tetep aja aku kangen, Mas. Apalagi sama Rika." sahut Nisa.
"Ya udah ayo cepat masuk. Kayaknya Bapak sama Ibuk masih ada di sini." ucap Revan sambil menunjuk mobil Pak Sugi.
"Iya, Mas." kata Nisa mengangguk.
"Rika!" teriak Nisa saat memasuki kontrakan.
"Ga usah teriak-teriak, Dek. Kayak di hutan aja." ucap Revan.
"Hehe. Maaf." kata Nisa.
"Nisa!" teriak Rika yang langsung memeluk Nisa.
"Aku kangen banget sama kamu. Mentang-mentang udah nikah, aku jadi dilupain. Sampai pesanku aja ga di bales." ucap Rika kesal.
"Maaf, Rik. Kan ponselku di kamar. Mana aku tahu kalau kamu kirim pesan." sahut Nisa.
"Eh. Ada pengantin baru. Duduk dulu. Masa' ngobrolnya sambil berdiri." kata Pak Sugi yang baru saja muncul dari dapur.
"Iya, Pak." sahut Revan.
"Aku ke dapur dulu ya sama Rika." ucap Nisa.
"Iya, Nduk." sahut Pak Sugi tersenyum.
"Ibuk!" teriak Nisa yang langsung memeluk Bu Ani dari belakang.
"Kamu ngagetin aja, Nduk. Untung aja piringnya ga pecah. Udah sarapan belum?" tanya Bu Ani.
"Udah kok, Buk. Nisa kangen banget sama Ibuk." ucap Nisa.
"Ibuk juga kangen, Nduk. Ga ada kamu, rumah ini jadi sepi." kata Bu Ani.
Mereka pun duduk di meja makan.
"Masa' sih, Buk? Oh iya, Buk. Rencananya hari ini Nisa mau pindah ke rumah Mas Revan." kata Nisa.
"Aku sendiri lagi dong, Nis. Payah kamu mah." gerutu Rika.
"Kamu ga boleh gitu, Nduk. Nisa kan udah nikah, udah sepantasnya kalau Nisa ikut suaminya." ucap Bu Ani.
"Tapi, Buk." kata Rika cemberut.
"Kamu pindah ke rumah Bapak lagi aja, Nduk. Daripada di sini sendirian." sahut Bu Ani.
"Liat nanti aja deh, Buk." kata Rika.
"Ibuk bener, Rik. Mending kamu tinggal sama Bapak Ibuk aja." ujar Nisa.
"Jauh kalau mau ke kampus, Nis." sahut Rika.
"Sama, Rik. Aku juga jadi jauh kalau kekampus dari rumah Mas Revan." kata Nisa.
"Tapi kan kamu ada yang antar jemput." ucap Rika.
"Sama kan, Rik. Kamu juga ada yang antar jemput." kata Nisa tersenyum menggoda Rika.
"Apaan sih?" tanya Rika kesal.
__ADS_1
"Dek. Jadi beresin barang kamu ga nih?" tanya Revan.
"Jadi, Mas." jawab Nisa.
Nisa pun membereskan barang-barangnya untuk dibawa ke rumah Revan. Dengan dibantu oleh Rika dan Bu Ani, tak sampai 2 jam semua sudah beres. Pak Sugi dan Revan yang mengangkat semua barang tersebut ke dalam mobil Revan.
"Sudah semua belum, Dek?" tanya Revan.
"Sudah kok, Mas. Tinggal berangkat aja." jawab Nisa.
"Perginya habis makan siang aja, Nduk." kata Pak Sugi.
"Iya, Pak. Nisa juga pengen makan masakan Ibuk. Dari kemarin kepikiran masakan Ibuk." ucap Nisa.
"Bukannya malah enak makanan di hotel ya, Nduk?" tanya Bu Ani.
"Lidah aku udah terbiasa sama makanan yang di masak Ibuk. Jadi makanan yang ada di hotel rasanya biasa aja." jawab Nisa.
"Biasa aja, tapi habis juga." ucap Revan tersenyum.
"Haha. Nisa mah enak ga enak tetep aja dimakan." sahut Rika tertawa.
Semua ikut tertawa kecuali Nisa yang cemberut karena kesal.
"Ya mau gimana lagi. Daripada kelaparan ya mending makan aja apa yang ada." ucap Nisa.
"Lagian kalau ga enak kan bisa beli diluar, Nduk." sahut Bu Ani.
"Ga bisa, Buk." kata Nisa.
"Udah udah. Kok malah jadi ngobrol. Mending masak buat makan siang." ucap Pak Sugi.
"Oh, iya. Ibuk sampai lupa. Ayo bantuin Ibuk biar cepat selesai." ajak Bu Ani pada Nisa dan Rika.
Nisa dan Rika pun membantu Bu Ani untuk menyiapkan makan siang. Tak lupa sambil mengobrol melepas kangen.
"Nanti jangan lupain kita ya, Nduk. Meskipun kamu udah punya keluarga baru." kata Bu Ani sambil menggoreng ayam.
"Aku ga akan lupa sama kalian. Apalagi kalian sudah sangat baik sama aku. Tanpa kalian, aku ga mungkin kuat menghadapi ujian ini semua." sahut Nisa.
"Ini baru permulaan, Nduk. Nanti masih ada lagi ujian untuk kamu. Entah ujian itu ringan atau berat, kamu ga boleh ninggalin suami kamu. Kalian harus tetap bersama. Kalau ada masalah, bicarakan dengan baik-baik. Jangan mengambil keputusan dalam keadaan emosi." jelas Bu Ani.
"Iya, Buk. Nisa akan selalu ingat pesan Ibuk. Semoga Nisa dan Mas Revan bisa menghadapi ujian dalam rumah tangga kami." kata Nisa.
"Amin." ucap mereka bersamaan.
Tidak sampai 1 jam, hidangan makan siang pun sudah matang. Rika memanggil Pak Sugi dan Revan untuk makan siang.
Mereka pun makan siang dengan penuh canda tawa. Saat-saat seperti inilah yang selalu membuat Nisa rindu.
Setelah selesai makan siang, mereka berbincang-bincang sebentar diruang tamu sebelum Nisa dan Revan pergi dari kontrakan.
"Kita pergi dulu ya, Pak, Buk, Rika." ucap Revan.
"Iya, Le. Nitip Nisa ya. Jaga dia. Jangan buat Nisa nangis. Kalau sampai Nisa nangis, kamu berurusan sama Bapak." kata Pak Sugi.
"Siap, Pak. Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar tidak membuat Nisa nangis, kecuali nangis karena bahagia." sahut Revan sambil merangkul pundak Nisa.
"Mentang-mentang udah nikah, langsung lupa kalau disini ada yang belum nikah. Mesra-mesraan ga tau tempat." sindir Rika.
"Ih, Rika sewot. Makanya kamu cepat nikah, biar ga iri." sahut Nisa.
Semua tertawa dengan kelakuan Rika dan Nisa. Mereka memang tidak pernah bisa diam jika sudah bersama.
Akhirnya mereka meninggalkan kontrakan Nisa.
Dalam perjalanan, Nisa merasa berat meninggalkan kontrakan tersebut. Rumah yang selama ini ia tempati bersama Rika. Suka duka mereka jalani bersama.
Dan kini ia harus meninggalkan tempat itu sebelum kuliahnya selesai. Nisa pasti akan sangat rindu dengan suasana kontrakan itu.
Nisa diam memandang keluar jendela.
"Kok diem aja, Dek?" tanya Revan.
"Eh. Iya, Mas. Ada apa, Mas?" tanya Nisa.
"Kamu kok diem aja, sayang? Kamu ga suka ya kita pergi dari kontrakan?" tanya Revan.
"Bukan gitu, Mas. Aku hanya kepikiran gimana nanti Rika tanpa aku. Selama ini kan kita selalu bersama. Tiba-tiba kita terpisah, dan mungkin hanya ketemu di kampus." jawab Nisa.
"Kamu kan masih bisa main ke sana, sayang. Aku ga larang kok. Tapi harus aku yang anterin kamu. Aku ga mau kamu digodain laki-laki lain kalau kamu kesana sendirian." jelas Revan sambil mencolek dagu Nisa.
"Apaan sih, Mas? Aku ga mau ngerepotin kamu. Kan kamu harus kerja juga." ucap Nisa.
"Ga apa-apa, Dek. Lagipula itu kan sudah tanggung jawabku sebagai suami kamu." kata Revan.
"Ya kalau emang ga ngerepotin kamu sih ga apa-apa, Mas. Tapi kalau kamu sibuk, biar aku kesana sendirian aja." sahut Nisa.
"Kalau aku sibuk, nanti kamu diantar sopir, sayang." ucap Revan.
"Duh, Mas. Masa' pakai sopir segala. Kayak orang penting aja." kata Nisa.
"Kamu emang orang penting, Dek. Bahkan sangat penting di hidup aku." ucap Revan tersenyum.
"Gombal aja terus. Bisa banget mainin katanya." kata Nisa tersipu malu.
"Ga apa-apa kalau cuma main kata mah. Yang penting ga mainin hati kamu." ucap Revan.
"Kalau sampai main hati, aku laporin sama Bapak." kata Nisa sambil menatap tajam ke arah Revan.
•••
__ADS_1