
Nisa seperti melihat Bella, adik angkatnya. Nisa terus memperhatikan gadis yang mirip dengan Bella itu.
"Dek!" kata Revan sambil menepuk pundak Nisa.
Nisa terjingkat karena terkejut dan langsung menoleh ke arah Revan.
"Kamu ngagetin aja, Mas. Untung aku ga kena serangan jantung." ucap Nisa sambil mengusap dadanya.
"Maaf, Dek. Lagian dari tadi aku panggil kamu ga nyaut. Kamu liat apaan sih?" tanya Revan.
"Aku tadi kayak liat adik angkat ku, Mas." jawab Nisa.
Nisa menoleh ke arah tempat Bella berdiri. Namun ternyata Bella sudah tidak ada di sana.
"Yang mana adik kamu, sayang?" tanya Revan.
Revan mengikuti arah pandangan Nisa.
"Udah ga ada, Mas. Orangnya udah pergi. Gara-gara kamu kagetin tadi, aku jadi ga tau dia pergi kemana." ucap Nisa sambil menghempaskan tubuhnya ke jok mobil.
"Ya maaf, Dek. Kan aku ga tau kalau kamu lagi liat adik angkat kamu itu. Lagian ga usah sedih juga, nanti kan kita juga ketemu pas kerumah Bapak." sahut Revan.
"Belum tentu, Mas. Yang aku denger dari Bapak, katanya sekarang dia ngekos di dekat kampus. Jarang pulang ke rumah." ucap Nisa.
"Kamu kangen banget ya sama dia?" tanya Revan.
"Kangen, Mas. Tapi kok sekarang penampilannya beda ya?" tanya Nisa.
"Beda gimana maksud kamu? Tambah cantik atau malah jelek?" tanya Revan.
"Tambah sexy, Mas." jawab Nisa pelan.
"Eh. Maksud kamu?" tanya Revan.
"Masa' tadi yang aku liat dia pake pakaian yang mini banget. Terus dia gandengan sama cowok yang udah matang, mungkin usianya sekitar 40 tahun." jelas Nisa.
"Mungkin itu dosennya, Dek." kata Revan.
"Mana ada mahasiswi sama dosen gandengan tangan, Mas?" tanya Nisa.
"Udah. Ga usah ngomongin dia. Kita lanjut ke hotel aja sekarang." sahut Revan.
Nisa masih tidak habis pikir dengan Bella yang barusan ia lihat.
"Kenapa penampilan Bella sekarang kayak gitu? Bapak sama Ibuk tau ga ya?" tanya Nisa dalam hati.
Pikiran Nisa dipenuhi dengan bayang-bayang Bella. Bella jauh berbeda dibandingkan terakhir mereka bertemu. Waktu itu Bella memang memakai pakaian yang ketat, tapi masih menutupi tubuhnya. Tapi sekarang, hampir semua bagian tubuhnya terekspos.
"Sayang. Ayo turun. Udah sampe di hotel nih." ucap Revan.
Namun Nisa tak bergeming. Nisa masih sibuk dengan lamunan nya. Melihat Nisa yang tak bergerak, Revan melambaikan tangannya di depan wajah Nisa.
__ADS_1
Tapi Nisa masih belum bergerak. Akhirnya Revan memajukan tubuhnya dan mencium bibir Nisa. Nisa yang terkejut hanya bisa membulatkan matanya.
Saat hendak melepaskan diri, Revan menarik tengkuknya dan memperdalam ciumannya. Akhirnya Nisa pun ikut menikahi ciuman tersebut.
Mereka berhenti saat nafas mereka mulai tersengal-sengal.
"Apaan sih, Mas? Main nyosor aja di mobil." tanya Nisa kesal.
"Lagian kamu dari tadi ngelamun terus. Sampe aku dicuekin. Masih mikirin adik angkat kamu tadi?" tanya Revan.
"Iya, Mas. Maaf ya." jawab Nisa menunduk.
"Kamu ga salah kalau mikirin dia. Tapi jangan berlebihan. Lagian itu kan sudah pilihannya. Kita do'akan aja semoga dia bisa jaga diri." jelas Revan.
Nisa mengangguk pelan. Ia merasa bersalah karena telah mengabaikan suaminya sendiri.
"Tuh kan ngelamun lagi. Kamu mau aku tinggal di mobil sendiri?" tanya Revan.
"Hah? Ayo keluar, Mas. Aku pengen mandi." kata Nisa yang buru-buru keluar dari mobil.
Revan tersenyum melihat istrinya ketakutan.
Mereka segera masuk ke dalam hotel. Kamar mereka ada dilantai paling atas gedung tersebut.
"Ini bagus banget, Mas." kata Nisa.
Nisa kagum dengan kamar hotel tersebut. Kamar ini hampir sama dengan kamar malam pengantin mereka.
"Kamu suka ga, Dek?" tanya Revan.
"Ga mahal kok, Dek." sahut Revan.
"Atau jangan-jangan ini hotel kamu ya? Ini desainnya mirip sama hotel kamu. Bentar." kata Nisa.
Nisa melihat ke atas mengingat-ingat sesuatu.
"Benar ini hotel kamu. Aku ingat nama hotel ini kan 'RESI hotel'. Sama kayak hotel kamu yang di Jogja." ucap Nisa.
"Pinter banget sih istri ku ini." sahut Revan sambil mencubit pipi Nisa.
"Sakit, Mas. Tega banget sama istri." kata Nisa kesal.
Nisa mengusap-usap pipinya dengan wajah cemberut.
Cup.
Revan mengecup bibir Nisa. Revan tidak tahan melihat bibir Nisa yang manyun.
"Apaan sih, Mas? Aku lagi kesel sama kamu lho." gerutu Nisa.
Nisa berjalan menjauh meninggalkan Revan. Nisa membuka pintu yang mengarah ke balkon.
__ADS_1
"Maaf deh. Abisnya kamu nggemesin banget, Dek." kata Revan tersenyum dan sembari memeluk Nisa dari belakang.
"Hem." ucap Nisa singkat.
Lama mereka terdiam menikmati pemandangan indah. Sesekali Revan mencium pipi Nisa.
"Dek." kata Revan.
"Iya, Mas. Kenapa?" tanya Nisa.
Revan tak menyahut. Revan mengecup tengkuk Nisa yang terekspos. Nisa merasa ada aliran listrik saat Revan mengarahkan bibirnya ke leher Nisa.
"Em." lenguh Nisa.
Tangan Revan mulai bergerak lincah saat tak ada penolakan dari Nisa. Desahan nikmat keluar dari mulut Nisa.
Revan membalikkan tubuh Nisa agar menghadapnya. Revan meraih bibir sexy itu. Dan mulai bermain lidah di dalamnya.
Revan mengangkat tubuh Nisa. Kaki Nisa mengapit pinggang Revan agar tak terjatuh. Sementara kedua tangannya ia kalungkan dileher Revan. Revan berjalan menuju ranjang tanpa melepaskan ciumannya.
Revan perlahan membaringkan tubuh Nisa diranjang. Revan melepaskan ciumannya. Kini bibirnya bergerak turun ke leher Nisa. Nisa mendongakkan kepalanya agar mempermudah Revan dalam menjalankan aksinya.
Sungguh sore yang panas untuk Revan dan Nisa.
"I love you." ucap Revan sambil mengecup bibir Nisa.
"I love you too." sahut Nisa tersenyum.
Revan merebahkan tubuhnya di samping Nisa.
"Nanti mau makan malam di hotel atau keluar aja, Dek?" tanya Revan.
"Di hotel aja, Mas. Aku lagi pengen berdua sama kamu." jawab Nisa.
Nisa langsung menghambur ke pelukan Revan. Revan tersenyum lalu menutupi tubuh mereka dengan selimut.
"Kamu mau lagi, Dek?" tanya Revan menggoda.
"Istirahat dulu, Mas. Capek tau." sahut Nisa.
"Hehe. Iya, Dek. Nanti pas bangun di lanjut lagi ya?" tanya Revan.
Nisa yang sudah terbiasa dengan sikap mesum Revan hanya menanggapi dengan helaan nafas.
Mereka tertidur pulas setelah lelah karena perjalanan dan aktivitas olahraga ranjang.
Nisa bangun dan langsung mandi karena hari sudah gelap. Saat keluar dari kamar mandi, dilihatnya Revan masih terlelap.
Muncul ide untuk menjahili suaminya itu. Nisa tersenyum sambil berjalan mendekati Revan.
"Mas! Bangun, Mas! Ada gempa! Mas! Ayo cepat bangun!" teriak Nisa sambil memukul-mukul tubuh Revan.
__ADS_1
Revan yang terkejut pun segera bangun dari tidurnya dan menarik tangan Nisa agar segera keluar dari kamar tersebut.
•••