Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 35


__ADS_3

Revan terkejut saat mengetahui Nisa berada di dalam selimut tanpa memakai pakaian, hanya mengenakan bra dan celana dalam berwarna merah. Revan membuka selimutnya untuk memastikan.


"Kamu mau godain aku ya, Dek?" tanya Revan tersenyum.


"Bukan gitu, Mas." jawab Nisa sambil menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya.


"Tadi Aku cari baju tidurku ga ada. Padahal kemarin Aku inget banget kalau bawa banyak baju tidur. Tapi cuma ada 1 yang aku pake tadi malem." lanjut Nisa.


"Alasan aja Kamu, Dek. Bilang aja kalau mau ngajak Aku olahraga malam." goda Revan.


"Ga, Mas. Aku ga maksud godain Kamu." kata Nisa.


Revan pun membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


"Tuh lihat. Dia aja bangun gara-gara Kamu." ucap Revan sambil menunjuk sesuatu di bawah sana.


"Ih. Mas Revan apaan sih? Kita baru aja selesai lho. Tidur ah." sahut Nisa.


Nisa menutup kembali tubuh Revan dengan selimut. Dia tidak mau mengulang kejadian tadi. Tubuhnya sudah cukup lelah.


"Dek. Ayo lah." kata Revan memelas.


"Tidur, Mas." ucap Nisa.


"Ga bisa, sayang." sahut Revan.


"Kalau gitu aku tidur duluan, Mas." kata Nisa sambil mengubah posisinya membelakangi Revan.


Revan hanya bisa diam sambil menatap rambut Nisa. Sementara Nisa mulai memejamkan matanya. Tidak lama kemudian Ia sudah terlelap.


Revan mengubah posisi tidurnya menjadi telentang. Revan menatap langit-langit kamar sambil membayangkan sedang bercinta dengan Nisa. Namun Revan juga tidak tega jika harus memaksa Nisa. Nisa terlihat begitu lelah hari ini.


Lama-kelamaan Revan pun ikut terlelap.


"Bangun, Mas!" teriak Nisa ditelinga Revan.


"Emm... Jam berapa ini, Dek?" tanya Revan sambil menggeliat.


"Jam 7, Mas. Ayo bangun. Aku pengen jalan-jalan pagi." jawab Nisa menahan tawa.


"Kamu jalan-jalan sendiri ya, sayang. Aku masih ngantuk banget nih." sahut Revan.


"Ya udah. Tapi kalau ada yang godain, jangan nyesel ya." ucap Nisa sembari beranjak dari tempat tidur.


"Eh. Tunggu 10 menit. Aku siap-siap dulu." kata Revan.


Revan segera bangun dan berjalan ke arah kamar mandi untuk cuci muka. Tak sampai 10 menit, Revan sudah siap dengan memakai celana training dan kaos putih polos.


"Duh gantengnya suamiku kalau bangun pagi." puji Nisa.


"Tiap hari kan bangun pagi, Dek. Berarti Aku ganteng terus dong?" tanya Revan tersenyum.


"Tapi ini yang terpagi, Mas. Tuh lihat." ucap Nisa sambil menunjuk ke arah jam dinding.


Revan membelalakkan matanya saat mengetahui masih jam 05:30.


"Dosa Kamu kalau ngerjain suami terus." kata Revan kesal.


"Ngerjain dalam hal baik mah ga apa-apa, Mas. Udah ah. Ayo kita jalan-jalan." sahut Nisa sambil menarik tangan Revan.


Saat di lift.


"Kita nanti pake sepeda ya, Mas. Biar ga terlalu capek." ucap Nisa.

__ADS_1


"Siap, Bos." sahut Revan.


Saat pintu lift terbuka, Revan melihat Bella keluar dari kamar bersama seorang laki-laki yang dikenalnya. Revan mengalihkan pandangan Nisa dengan mengajaknya untuk melewati jalan lain.


"Nanti kamu mau jalan-jalan kemana, sayang?" tanya Revan.


"Kemana aja lah, Mas. Yang penting jalan-jalan. Biar pikiran jernih. Kalau dikamar terus jadi burem nih mata. Terkontaminasi dengan bakteri. Haha." jawab Nisa tertawa.


"Eh! Aku dianggap bakteri dong? Kan aku ada di kamar terus sama kamu." tanya Revan kesal.


"Kamu sendiri yang bilang ya." sahut Nisa tersenyum.


"Hemm. Cepetan, Dek. Aku udah ga sabar lihat yang bening-bening nih." ucap Revan setengah menarik tubuh Nisa.


"Maksud kamu apa, Mas?!" tanya Nisa setengah berteriak.


Nisa menghentikan langkah Revan dan menatapnya tajam.


"Gitu ya? Udah mulai genit sekarang?" tanya Nisa menyelidik.


"Kan Kamu yang ngajarin, Dek." sahut Revan.


"Ya udah. Aku mau balik ke kamar aja." kata Nisa sambil berjalan menuju ke kamarnya.


Revan menghela nafasnya sambil memejamkan mata. Kemudian Ia berbalik hendak menyusul Nisa. Namun belum sempat berjalan, dia malah menabrak seseorang.


Brukk.


"Aduh!" teriak wanita tersebut.


"Maaf, Mbak. Saya ga sengaja." ucap Revan sambil membantu wanita tersebut untuk berdiri.


"Ga apa-apa, Mas." sahut wanita tersebut.


"Mas Revan?" tanya Bella gugup.


"Kamu kok pagi-pagi begini udah di sini?" tanya Revan pura-pura tidak tahu.


"Em. Oh. Itu. Anu. Tadi aku nganter makanan buat temen ku. Kebetulan tadi ketinggalan di kos. Jadi aku bawain sekalian kekampus." jawab Bella sedikit panik.


"Oh. Ya udah kalau gitu. Aku pergi dulu ya." kata Revan sambil melangkah pergi meninggalkan Bella.


"Duh. Untung aja ga curiga kalau aku tadi malem nginep di sini sama om-om. Bisa gagal rencana aku." gumam Bella.


"Sayang." sapa seorang laki-laki pada Bella.


"Eh. Ada apa, sayang?" tanya Bella dengan senyum hambar.


"Katanya tadi buru-buru, kok masih ada di sini? Atau mau balik ke kamar lagi?" tanya laki-laki tersebut sambil tersenyum menggoda.


"Tadi Aku di tabrak sama orang, sayang. Makanya Aku masih ada di sini." jawab Bella.


"Mana yang sakit, sayang? Parah ga? Siapa yang nabrak? Biar Aku kasih pelajaran dia. Berani-beraninya dia nabrak pacar Aku yang cantik ini." kata laki-laki tersebut.


Laki-laki tersebut terlihat panik sambil terus memegangi tangan Bella dan memeriksa tubuh Bella apakah ada yang lecet atau tidak.


"Aku ga apa-apa kok, sayang. Ya udah, Aku pergi dulu ya. Udah di tungguin temen nih. Ga enak kalau nunggunya kelamaan." kata Bella sembari melepaskan tangan laki-laki tersebut.


"Ya udah kamu hati-hati. Atau Aku antar aja gimana?" tanya laki-laki.


"Eh. Ga usah. Aku ga mau ngerepotin Kamu. Lagian kan di sini ada bos kamu. Kamu harus jaga image dong." kata Bella tersenyum.


"Oh iya. Makasih udah ingetin. Kamu emang yang terbaik. Nanti kalau uang sakunya habis bilang aja. Aku akan langsung transfer buat kamu." ucap laki-laki tersebut.

__ADS_1


"Oke, sayang. Aku pergi dulu ya." kata Bella sambil melambaikan tangan ke arah laki-laki tersebut.


"Hati-hati, sayang." ucap laki-laki tersebut sambil melambaikan tangan.


Setelah bayangan Bella sudah menghilang, tiba-tiba Ia dikagetkan oleh suara dibelakangnya.


"Pak. Tolong siapkan sepeda. Saya tunggu di depan." kata Revan.


"Baik, Bos." sahut laki-laki tersebut sambil menunduk.


Laki-laki tersebut segera meninggalkan Revan dan Nisa untuk mengambil sepeda.


"Sayang. Udah dong ngambek nya. Udah pake masker sama kacamata hitam lho kita. Udah kayak detektif. Udah ga bisa genit lagi. Udah dong cemberut nya." kata Revan sambil memeluk pinggang Nisa.


"Lepasin, Mas. Malu dilihatin orang." ucap Nisa sambil menepis tangan Revan.


"Malu kenapa coba? Baju kita sopan. Kita juga pake kacamata sama masker. Ga ada yang kenal sama kita, Dek." sahut Revan.


"Tetap aja malu, Mas. Tuh pada lihatin kita." ucap Nisa sambil menunjuk beberapa pengunjung hotel.


"Ini sepedanya, Bos. Maaf kelamaan." ucap Pak Budi yang tiba-tiba muncul di depan mereka.


"Oke. Terimakasih. Kita pergi dulu." kata Revan sambil menarik tangan Nisa.


Mereka pun meninggalkan Pak Budi yang masih memandangi mereka.


"Istrinya Pak Revan kayak gimana ya? Badannya bagus banget. Lebih bagus dari Bella. Jadi penasaran nih." gumam Pak Budi.


Revan dan Nisa mengayuh sepeda mereka menuju ke taman. Nisa tampak gembira melihat bunga warna-warni.


"Dek. Duduk sini yuk. Capek banget Aku." ajak Revan.


Revan duduk di salah satu kursi yang ada di taman tersebut. Nisa pun ikut duduk di samping Revan.


Nisa sibuk memperhatikan interaksi antara ayah dan anak. Sementara ibunya duduk tersenyum sambil memperhatikan anak dan suaminya yang sedang bermain.


"Dek." sapa Revan sambil melambaikan tangan di depan wajah Nisa.


"Eh. Ada apa, Mas?" tanya Nisa.


"Kamu ngelamun, ya? Dari tadi Aku ajak ngomong diem aja." tanya Revan.


"Aku ga ngelamun kok, Mas." jawab Nisa.


"Terus kenapa diem aja?" tanya Revan lagi.


Nisa mengarahkan pandangannya ke arah keluarga kecil itu. Revan pun mengikuti arah pandangan Nisa. Revan pun mengerti apa yang membuat Nisa diam.


"Sayang. Aku yakin Dia sekarang sudah ada didalam sini." ucap Revan sambil mengusap-usap perut Nisa yang rata.


"Sok tahu kamu, Mas." sahut Nisa.


"Aku emang tahu, sayang. Aku ngerasa kalau Dia sudah ada diantara Kita." ucap Revan.


"Semoga saja itu benar, Mas." kata Nisa sembari menyentuh perutnya.


"Amin." ucap mereka bersamaan.


Revan pun merangkul pundak Nisa. Mereka terus memandangi keluarga kecil yang sedang bahagia itu.


"Sayang." ucap Revan.


"Iya, Mas." sahut Nisa.

__ADS_1


•••


__ADS_2