
"Siapa sih pagi-pagi gini dateng? Ganggu aja. Ga tau apa kalau aku lagi mau makan orang." gerutu Nisa. Rika tersenyum senang.
"Akhirnya aku bebas." ucap Rika dalam hati.
"Kali ini kamu lepas ya Rik. Lihat aja nanti." ucap Nisa sambil menatap tajam wajah Rika. Rika hanya diam dan menelan ludahnya kasar.
Nisa pun pergi meninggalkan Nisa yang masih ketakutan gara-gara tatapan Nisa tadi.
Tok. Tok. Tok.
"Iya sebentar." ucap Nisa sambil membuka pintu. Nisa terkejut saat melihat siapa yang ada di balik pintu.
"Ibuk. Bapak. Nisa kangen banget sama kalian." ucap Nisa sambil memeluk Bu Ani, ibunya Rika.
"Ibuk juga kangen banget sama kamu Nduk." kata Bu Ani.
"Bapak ga dipeluk ini Nduk?" tanya Pak Sugi, ayahnya Rika.
Nisa segera melepaskan pelukannya dari Bu Ani kemudian berpindah memeluk Pak Sugi.
"Bapak ini lho. Nisa udah mau nikah, jangan kayak gitu. Nanti kalau calon suaminya cemburu gimana?" tanya Bu Ani.
"Calon suami Nisa atau Ibuk yang cemburu?" tanya Pak Sugi menggoda Bu Ani.
"Ya calon suaminya Nisa lah Pak. Kalau Ibuk mah ga bakal cemburu." kata Bu Ani melengos.
"Masa' sih buk?" kata Pak Sugi sembari menyenggol lengan Bu Ani.
Nisa hanya menggelengkan kepalanya melihat orang tua Rika yang meskipun sudah tidak muda lagi tapi masih mesra.
"Kita masuk aja yuk Pak, Buk. Masa' ngobrol di pintu gini." ucap Nisa sembari mempersilakan masuk Bu Ani dan Pak Sugi.
"Rika mana Nduk? Kok ga kelihatan. Apa belum bangun anak itu?" tanya Bu Ani sambil celingak-celinguk mencari keberadaan anaknya.
"Udah bangun kok Buk. Paling bentar lagi keluar kamar dia." ucap Nisa.
"Ini siapa yang makan sih Nduk? Jorok banget sampahnya ga diberesin." kata Pak Sugi sambil menutup hidungnya.
"Rika itu Pak. Tadi malem habis makan malah langsung tidur dia" sahut Nisa.
"Dasar anak itu belum juga berubah. Gitu kok pengen nikah dia." ucap Bu Ani kesal.
"Oh iya Buk. Tadi Ibuk bilang calon suamiku bisa cemburu kalau aku dipeluk bapak. Emang Ibuk tau darimana kalau aku mau nikah?" tanya Nisa.
"Ya dari Rika lah Nduk. Dari siapa lagi. Tadi malem dia telepon Ibuk. Katanya calon suami kamu mau kesini buat lamar kamu sekalian bahas soal pernikahan. Maka dari itu kita kesini." jelas Bu Ani.
"Eh Bapak sama Ibuk udah dateng?" tanya Rika yang tiba-tiba muncul dan langsung memeluk ayah dan ibunya secara bergantian.
"Kamu ini lho Nduk, makan kok ga diberesin. Jorok banget." ucap Pak Sugi sambil menunjuk bekas bungkus makanan dimeja.
"Hehe. Itu Nisa Pak. Bukan Rika." kata Rika sambil menunjuk Nisa yang ada disebelahnya.
"Enak aja. Kan kamu yang makan. Kok jadi nyalahin aku." ucap Nisa.
"Katanya kamu mau durinya. Jadi ya kamu yang terakhir makan, kamu juga yang beresin." kata Rika.
"Enak aja. Aku ga mau makan duri ikan. Aku kan bukan kucing." sahut Nisa.
"Udah. Sekarang Rika beresin ini bekas makan kamu. Dan Nisa buatin minum buat Bapak sama Ibuk. Kita haus banget ini. Capek dengerin kalian yang selalu berantem." kata Bu Ani.
"Iya Buk." kata Nisa dan Rika bersamaan sambil menundukkan kepala.
Rika segera memungut sampah bekas makannya semalam. Sedangkan Nisa langsung berlari ke dapur untuk membuat minuman. Tak berapa lama kemudian Nisa kembali dengan membawa nampan berisi minuman 4 gelas dan cemilan.
"Ini Pak, Buk. Diminum dulu." ucap Nisa.
Nisa kini duduk disebelah Rika yang baru saja kembali dari membuang sampah.
"Rencananya kapan calon suamimu sama keluarganya datang kemari Nduk?" tanya Pak Sugi pada Nisa.
"Katanya nanti malam habis Maghrib Pak." jawab Nisa.
"Terus kamu sudah menghubungi orang tua kamu belum?" tanya Bu Ani.
"Udah Buk. Insyaallah pagi ini mereka berangkat kesini. Semoga saja siang nanti sudah tiba." ucap Nisa menunduk.
"Kamu kenapa Nduk?" tanya Bu Ani khawatir pada Nisa.
"Nisa ga kenapa-napa kok Buk." ucap Nisa.
"Kamu yakin?" tanya Bu Ani lagi.
__ADS_1
"Yakin Buk. Ibuk ga usah khawatir sama Nisa." kata Nisa sambil memegang tangan Bu Ani.
"Kalau ada masalah, kamu bisa cerita sama Ibuk Nduk." ucap Bu Ani yang kemudian memeluk Nisa.
Nisa tidak kuat menahan air matanya. Nisa menangis di pelukan Bu Ani. Bu Ani mengusap-usap kepala Nisa mencoba memberi kekuatan.
"Menangislah Nduk. Itu akan membuat kamu sedikit lega." kata Bu Ani yang ikut menangis.
Pak Sugi dan Rika pun ikut meneteskan air mata melihat Nisa yang begitu kuat dalam menjalani hidupnya.
"Makasih ya Pak, Buk. Udah sayang sama Nisa selama ini." ucap Nisa sembari melepaskan pelukannya dari Bu Ani.
"Kita akan selalu sayang sama kamu, sampai kapanpun." kata Bu Ani sambil mengusap air mata di pipi Nisa.
"Kamu ini anak Bapak sama Ibuk Nduk. Sama seperti Rika." ucap Pak Sugi.
"Bahkan rasa sayang Bapak sama Ibuk melebihi orang tua angkat ku." sahut Nisa.
"Kamu ga boleh gitu Nisa. Mereka sayang sama kamu. Mereka yang merawat kamu sampai saat ini. Jangan lagi bicara seperti itu ya Nduk. Mereka pasti sedih kalau mendengarnya." kata Pak Sugi sambil mengusap kepala Nisa lembut.
"Aku yang anak kandung aja ga pernah digituin lho Nis." kata Rika mengalihkan pembicaraan.
"Sini Bapak usap kepala kamu Nduk. Ga ada kutunya kan?" tanya Pak Sugi tersenyum sambil mengacak-acak rambut Rika.
"Ya ga lah Pak. Kayak kucing aja ada kutunya. Jangan diacak-acak Pak rambut Rika. Jadi berantakan kan." ucap Rika manyun.
"Tinggal di sisir lagi Nduk. Gitu aja kok repot." kata Pak Sugi.
"Kalian ini Bapak sama anak sama aja. Sama-sama merusak suasana." gerutu Bu Ani.
"Kan buah jatuh tak jauh dari pohonnya Buk." ucap Pak Sugi.
"Padahal Ibuk yang nyimpan kamu 9 bulan didalam perut lho. Terus nyusuin kamu. Masih nyebokin kamu. Dan banyak lagi yang lain. Tapi kok kamu miripnya sama bapak kamu to Nduk. Yang mirip sama Ibuk cuma jenis kelamin doang." kata Bu Ani.
"Ya jangan salahkan aku dong Buk. Salahin gen Bapak yang kuat itu." ucap Rika.
"Udah. Sekarang kita makan aja. Tadi Ibuk bawa bekal dari rumah. Kalian belum masak kan?" tanya Bu Ani.
"Belum Buk. Kebetulan banget hari ini Rika memang malas masak." kata Rika tersenyum bahagia.
"Kamu mah males terus Rik. Heran aku kok Mas Bayu mau ya sama kamu yang males ini?" tanya Nisa tertawa.
"Kayaknya Rika pakai pelet Nduk." bisik pak Sugi.
"Ya ga lah Buk. Mana berani Rika main gituan. Lagian Bapak ngomong asal kok dipercaya." kata Rika kesal.
"Soalnya aneh Rik. Masa' Bayu ganteng gitu mau sama kamu yang kurus kering kurang gizi ini?" kata Bu Ani.
"Kayak Ibuk udah cukup gizi aja. Itu badan cuma tulang sama kulit kok." ucap Rika.
"Udah. Sesama kurang gizi ga usah berantem." kata Pak Sugi yang langsung mendapat tatapan tajam dari anak dan istrinya.
"Bapak ngatain Ibuk kurang gizi?" tanya bu Ani.
"Ga kok Buk." jawab pak Sugi.
"Oke. Selama seminggu Bapak ga dapet jatah." ucap Bu Ani berdiri sambil menenteng kantung kresek berisi makanan.
"Jangan dong Buk. Ibuk ga kasian sama Bapak?" tanya Pak Sugi memelas.
"Ga." jawab Bu Ani singkat.
Rika dan Nisa hanya melongo menyaksikan Pak Sugi yang meminta belas kasihan Bu Ani.
"Rika, Nisa, sini kita sarapan dulu." kata Bu Ani.
"Iya Buk." kata Nisa dan Rika bersamaan.
Saat sampai di meja makan, Nisa heran dengan tingkah Pak Sugi dan Bu Ani. Sebelumnya mereka bertengkar seperti anak kecil, namun sekarang udah kayak perangko sama amplop.
"Bapak sama Ibuk ga kenapa-napa kan?" tanya Nisa kemudian.
"Bapak sama Ibuk ga kenapa-napa Nduk. Emang kenapa to?" tanya Bu Ani.
"Ga apa-apa Buk. Nisa aneh aja liatnya. Tadi Bapak sama Ibuk berantem, tapi sekarang nempel kayak perangko sama amplop." kata Nisa sembari mengambil nasi.
"Iya. Bapak sama Ibuk aneh banget." ucap Rika.
"Nanti kalau kalian udah nikah, kalian akan tahu jawabannya." kata Bu Ani.
"Kelamaan Buk kalau nunggu nikah." sahut Rika.
__ADS_1
"Makanya cepat ajak Bayu nikah biar tahu jawabannya." kata Pak Sugi.
"Sebenarnya Mas Bayu udah ngajak Rika nikah Pak. Tapi Rika nya yang ga mau. Katanya belum siap." kata Nisa.
"Ngapain sih pakai ngomong sama Bapak Ibuk. Kena omel ntar aku." bisik Rika pada Nisa.
"Udah siap atau belum kalau emang udah jodoh ya pasti nikah. Kalau nunggu kamu siap lahir batin, bisa-bisa kamu jadi perawan tua. Dan pasti Bayu tidak akan mau sama kamu." jelas Bu Ani.
" Iya Buk." ucap Rika menunduk.
Mereka pun segera sarapan. Rencananya hari ini Bu Ani akan mengajak Nisa dan Rika untuk masak buat acara lamaran nanti malam. Karena kalau mau pesan katering pasti mahal.
"Nduk. Habis ini kita ke pasar ya buat belanja bahan makanan." kata Bu Ani sambil meminum teh hangat nya.
"Iya Buk." ucap Nisa dan Rika bersamaan.
Mereka segera membereskan meja makan lalu berjalan menuju ke kamar masing-masing untuk mengganti pakaian.
"Nisa. Rika. Ayo cepetan. Keburu habis nanti sayurnya." panggil Bu Ani.
Nisa dan Rika berlari tergopoh-gopoh menuju ruang tamu.
"Lama banget. Ganti baju aja kayak lagi spa." ucap Bu Ani kesal.
"Maaf Buk. Tadi Mas Bayu telpon. Jadi Rika angkat dulu." kata Rika.
"Kamu juga di telpon sama calon suamimu?" tanya Bu Ani pada Nisa. Nisa hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Mending nikah aja sekalian. Daripada mau ngomong aja harus lewat telpon. Bicara langsung kan lebih enak." jelas Bu Ani.
"Gantian dong Buk. Biar Nisa duluan. Kalau barengan ntar gedungnya ga muat buat nampung tamu undangan." ucap Rika asal.
"Alasan aja kamu ini. Nanti malem jangan lupa, Bayu suruh datang kesini." kata Bu Ani pada Rika.
"Ngapain Mas Bayu kesini Buk?" tanya Rika.
"Kok ngapain. Nisa kan mau lamaran. Masa' dia ga di undang." kata Bu Ani.
"Ya udah nanti aku suruh Mas Bayu buat datang. Nanti datang sendiri dulu. Besok harus ajak keluarganya." ucap Bu Ani sambil melangkah menuju mobil.
"Hah. Maksud Ibuk apaan sih?" tanya Rika.
"Maksudnya dia datang sama keluarganya buat lamar kamu gitu. Paham?" tanya Bu Ani.
"Ibuk apaan sih." gerutu Rika.
"Ibuk pengen segera punya cucu Nduk. Nisa kan udah mau nikah. Abis itu kamu. Biar nanti cucu Ibuk langsung banyak." kata Bu Ani sambil tersenyum.
"Dikira kita kucing apa gimana sih Buk. Masa' langsung punya cucu banyak." kata Rika.
"Ya ga apa-apa Nduk. Ibuk kan cuma berharap." sahut Bu Ani.
"Kalian ini lama banget to. Bapak sampai berakar ini nungguin kalian. Emang ya para wanita itu selalu lama." ucap Pak Sugi yang sudah kesal karena terlalu lama menunggu di mobil.
"Bapak ikhlas ga ini mau antar kita ke pasar?" tanya Bu Ani sambil menutup pintu mobil.
"Ikhlas Buk. Bapak cuma kesal aja nunggu anak-anak ini dandan. Ke pasar aja pakai dandan segala. Ntar kalau keringetan juga luntur itu bedak." ucap pak Sugi.
"Terus apa maksud Bapak tadi bilang kalau para wanita itu lama? Ibuk termasuk dong?" tanya Bu Ani sambil menatap tajam ke arah Pak Sugi.
"Kalau Ibuk mah lain dari yang lain." kata Pak Sugi tersenyum.
"Udah Pak, Buk. Ini kita jadi berangkat ga? Kita pusing dengar Bapak sama Ibuk berantem terus." kata Rika.
Akhirnya Pak Sugi mulai menjalankan mobilnya. Sepanjang perjalanan, Nisa dan Rika hanya diam menyaksikan perdebatan antara pak Sugi dan Bu Ani. Mereka hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sesekali mereka melirik ponsel atau melihat suasana di luar mobil.
Pak Sugi dan Bu Ani memang sudah biasa berdebat. Namun perdebatan mereka tidak pernah bertahan lama. Paling lama 2 jam. Dan setelah itu mereka akan kembali mesra seperti anak muda.
Nisa dan Rika pun sudah tidak terkejut melihat perdebatan orang tuanya. Justru mereka merasa punya hiburan tersendiri.
Tak sampai 15 menit, mereka sudah tiba di pasar tradisional. Mereka segera masuk dan membeli beberapa bahan makanan untuk acara nanti malam.
Pak Sugi terus menggerutu dibelakang 3 wanita itu. Pak Sugi kesal karena hanya di anggap supir dan kuli panggul karena membawa semua belanjaan. Bu Ani tak menghiraukan gerutu an Pak Sugi karena masih kesal dengan suaminya itu.
"Udah belum belanjanya? Ini tangan Bapak udah ga muat lagi." tanya Pak Sugi memelas.
"Kalau gitu Bapak ke mobil aja bawa barang belanjaannya. Ini juga tinggal dikit yang belum dibeli." kata Nisa.
"Habis naruh belanjaan di mobil langsung balik ke sini lagi. Ga kasihan apa melihat wanita bawa barang belanjaan banyak?" ucap Bu Ani.
Pak Sugi hanya menghela nafas panjang. Lalu dia berjalan menuju ke mobil untuk menaruh semua barang belanjaan dan kembali menyusul istrinya beserta Nisa dan Rika.
__ADS_1
•••