
Revan dan Nisa kini sudah berada di depan hotel. Nisa diam sambil menatap beberapa gerobak penjual makanan.
"Kamu mau makan apa, Dek?" tanya Revan.
"Aku bingung, Mas. Semuanya terlihat menggoda selera." jawab Nisa tanpa mengalihkan perhatian dari gerobak tersebut.
"Kalau aku makan kamu gimana, Dek? Soalnya aku tergoda sama kamu." kata Revan tersenyum.
"Apaan sih, Mas? Orang lagi bahas makanan kok jadi bahas gituan." ucap Nisa menepis tangan Revan yang memeluknya.
"Hehe. Lagian kamu ditanyai mau makan apa malah bengong lihatin gerobaknya." sahut Revan.
"Gimana kalau kita makan nasi goreng dulu, Mas. Tapi sebelumnya aku mau beli gorengan buat nemenin makan nasi goreng." ucap Nisa.
"Oke. Kalau gitu kamu pesen aja nasi gorengnya. Biar aku yang beli gorengan." kata Revan.
Nisa mengangguk dan tersenyum sambil melangkah menuju gerobak penjual nasi goreng. Sementara Revan berjalan menuju gerobak penjual gorengan.
Revan terus memandangi Nisa dari kejauhan sambil tersenyum. Hingga tepukan seseorang di pundaknya membuat ia tersadar.
"Mas." sapa Bella.
Revan segera menoleh ke arah Bella.
"Eh. Bella. Kamu ngapain disini?" tanya Revan mencoba tersenyum.
"Duh. Senyumnya bikin hati leleh aja." kata Bella dalam hati.
"Oh. Kebetulan tadi aku pas lewat sini pengen beli gorengan buat di kos. Eh, ga nyangka bisa bareng sama Mas Revan." kata Bella berbohong.
Revan mengernyitkan dahi mendengar ucapan Bella. Dan kemudian tersenyum.
"Oh." sahut Revan singkat.
Bella mendengus kesal karena Revan tak menghiraukannya.
"Oh iya, Mas. Mas Revan nginep di hotel ini ya?" tanya Bella.
"Iya." jawab Revan.
"Terus kapan kalian balik ke Jogja nya?" tanya Bella.
Belum sempat menjawab, penjual gorengan tersebut sudah menyodorkan plastik berisi gorengan pesanan Revan.
"Ini gorengannya, Mas." kata penjual tersebut.
"Oh iya, Pak. Ini uangnya ya. Terimakasih." ucap Revan sambil meraih plastik berisi gorengan tersebut dan mengulurkan uang pada penjual gorengan.
"Bentar ya, Mas. Saya ambil kembalian dulu." ucap penjual gorengan tersebut sambil membalik badannya.
"Ga usah, Pak. Kembaliannya untuk Bapak aja." sahut Revan.
"Tapi kebanyakan ini, Mas." ucap penjual gorengan.
"Ga apa-apa, Pak. Saya ikhlas kok." kata Revan.
"Terimakasih ya, Mas. Semoga Mas selalu bahagia. Yang diinginkan juga segera dikabulkan sama Allah." ucap penjual gorengan tersebut tersenyum bahagia.
"Amin. Terimakasih do'anya, Pak. Saya permisi dulu." sahut Revan tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
"Iya, Mas. Silahkan." kata penjual gorengan tersebut.
"Main tinggal aja sih Mas Revan. Tega banget." gerutu Bella.
"Mbak mau beli apa?" tanya penjual gorengan pada Bella.
"Ga beli gorengan. Lagi diet. Lagian ga level makan makanan pinggir jalan kayak gini." ucap Bella sambil melangkah pergi dari tempat itu.
"Galak bener sih, Mbak." kata penjual gorengan tersebut sambil mengelus dada.
Sementara Revan menghampiri Nisa dan langsung memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Lepasin, Mas. Malu dilihatin orang. Duduk sini." kata Nisa.
Nisa melepaskan tangan Revan dari pinggangnya dan menunjuk ke arah kursi plastik yang ada disampingnya.
"Peluk bentar aja, Dek." ucap Revan manyun.
"Peluknya di kamar aja, Mas. Oh, iya. Mana gorengannya?" tanya Nisa sambil mengulurkan tangannya.
"Nih gorengannya." jawab Revan sambil menyodorkan plastik berisi gorengan.
"Banyak banget gorengannya, Mas?" tanya Nisa terkejut.
"Buat stok nanti di kamar, Dek." jawab Revan asal.
"Haha. Iya juga sih, Mas. Aku kalau malem suka laper tapi ga ada makanan." ucap Nisa.
"Aku juga kalau malem suka laper, Dek. Tapi aku pengennya makan kamu." kata Revan tersenyum.
"Heleeeeh." ucap Nisa sambil menggelengkan kepalanya.
Tak lama kemudian, nasi goreng pesanan mereka sudah datang. Nisa begitu lahap menyantap nasi goreng tersebut. Seolah-olah dia tidak makan 2 hari.
"Pelan-pelan aja kali, Dek." ucap Revan.
"Hehe. Ini enak banget, Mas. Rasanya pengen nambah, tapi aku pengen makan yang lain juga." sahut Nisa.
"Besok kan bisa beli lagi, Dek." kata Revan.
"Udah selesai, Mas." ucap Nisa yang sudah menghabiskan nasi gorengnya.
"Abis ini kamu mau beli apa? Buat stok nanti malam." tanya Revan.
"Aku mau beli cemilan aja. Mas Revan tunggu sini, abisin makannya dulu. Biar aku beli sendiri." jawab Nisa.
"Hati-hati, Dek. Ga usah genit." kata Revan.
"Iya, Mas. Lagian kamu kan bisa lihat aku dari sini." sahut Nisa.
"Siap, bos." sahut Nisa sambil memberi hormat pada Revan.
Nisa pun berjalan menuju gerobak yang berjajar rapi di depan hotel. Nisa membeli beberapa makanan. Setelah selesai, Ia segera berjalan menghampiri Revan dengan menenteng beberapa plastik berisi makanan.
"Banyak banget, Dek? Kamu beli apa aja?" tanya Revan bingung.
"Macam-macam, Mas. Ayo masuk sekarang." ajak Nisa.
"Sini aku aja yang bawa." kata Revan sembari mengambil semua belanjaan Nisa.
"Nih, Mas. Aku juga udah capek dari tadi bawa itu." ucap Nisa.
Mereka berjalan berdampingan menuju ke kamar. Setelah sampai di kamar, Nisa segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Haaah. Nyamannya." ucap Nisa.
"Kamu udah ga sabar ya, Dek?" tanya Revan sambil berjalan mendekati Nisa.
"Eh iya, Mas. Aku ga sabar pengen cobain martabaknya. Tadi kata pelanggannya, ini enak banget." kata Nisa beranjak dari tempat tidur menuju ke sofa.
Meninggalkan Revan yang bengong sambil menatap Nisa.
"Sini, Mas. Kamu harus cobain. Ini enak banget. Manisnya pas." ucap Nisa sambil melambaikan tangannya ke arah Revan.
Revan berjalan menghampiri Nisa dengan wajah lesu. Sama dengan Dia yang ikut lesu karena Nisa menghindar.(Haha. Yang sudah nikah pasti paham.)
"Aku suapin ya. Aaa," ucap Nisa.
Revan pun membuka mulutnya dan melahap martabak yang ada di tangan Nisa.
"Gimana rasanya? Enak, kan?" tanya Nisa.
"Emmm. Enak sih. Tapi masih enak bibir Kamu." jawab Revan tersenyum menggoda Nisa.
__ADS_1
"Isshh. Jangan bahas gituan kalau lagi makan." sahut Nisa.
"Dikit, Dek. Eh. Diem dulu, Dek. Ini ada sesuatu yang nempel di bibir kamu." ucap Revan.
Cup.
Revan mencium bibir Nisa. Dan langsung memegang tengkuknya agar Nisa tidak dapat menghindar. Revan mulai mengeksplor seluruh bagian bibir Nisa.
Revan mendekatkan tubuhnya ke arah Nisa. Tangannya memeluk Nisa, sedangkan yang satu masih menahan tengkuk Nisa.
Tiba-tiba Revan melepaskan ciumannya dan memandang wajah Nisa yang tersipu malu.
"Lanjut ya, Dek?" tanya Revan.
Nisa mengangguk pelan. Revan kembali mencium bibir Nisa. Merasakan sesuatu yang manis di dalam sana.
Sementara tangan Revan mulai bermain di beberapa bagian sensitif Nisa. Berkali-kali Nisa menggeliat. Hingga akhirnya Nisa mencapai kenikmatan nya.
Revan tersenyum melihat Nisa yang sudah kalah. Dan Ia baru saja memulai permainan yang sesungguhnya.
"Jangan dilihatin terus, Mas." kata Nisa.
Nisa dan Revan kini duduk di sofa dalam keadaan tanpa busana. Jelas saja Nisa malu meskipun Revan sudah berkali-kali melihat tubuhnya.
"Kamu sexy banget, Dek. Apalagi ini. Uhhh, tambah gede aja sih." ucap Revan sambil memegangi dada Nisa.
"Ih! Jangan kenceng kenceng, Mas. Sakit." sahut Nisa sambil menepis tangan Revan.
"Sakit apa geli? Hayoo jujur." tanya Revan menggoda.
"Sakit, Mas. Beneran sakit kalau ditekan." jawab Nisa kesal.
"Ya udah deh. Maaf. Sini aku usap." ucap Revan sambil mengulurkan tangannya.
Belum sempat tangannya menyentuh dada Nisa, Nisa sudah menepis tangan Revan.
"Jangan pegang-pegang. Nanti Dia bangun lagi gimana? Aku ga mau nidurin dia. Aku mau tidur sendiri." kata Nisa sambil berjalan menuju ke kamar mandi.
"Kok gitu, Dek? Kasihan dong kalau Dia tidur sendiri." ucap Revan memelas.
"Biarin. Lagian kalau bangun ga kira-kira. Bikin aku capek aja." sahut Nisa.
Revan segera mengangkat tubuh Nisa dan membawanya ke kamar mandi. Dan menutup pintu dengan kakinya.
"Mas. Aku bisa sendiri." ucap Nisa.
"Tapi aku mau bantuin kamu, Dek." sahut Revan.
"Tapi Dia ga boleh bangun ya." kata Nisa cemberut.
"Dia bangun kan bukan aku yang suruh, Dek. Itu kemauannya sendiri dan aku ga bisa melarangnya." sahut Revan.
"Hem. Terserah Kamu aja lah, Mas." ucap Nisa sambil membersihkan tubuhnya.
Setelah selesai bersih-bersih, Nisa mencari pakaian tidurnya di dalam koper.
"Kamu cari apaan, sayang?" tanya Revan.
"Cari baju ganti, Mas." jawab Nisa tanpa menoleh ke arah Revan.
"Ga usah pake, Dek. Kamu kayak gitu aja udah cantik. Lagian percuma juga Kamu pake baju, nanti juga aku lepas." ucap Revan tergelak.
Nisa langsung menoleh dan menatap tajam wajah Revan. Seketika tawa Revan terhenti.
"Oke. Oke. Terserah Kamu aja kalau mau pake baju. Yang penting aku bisa peluk kamu." kata Revan.
Revan segera naik keatas ranjang. Tak lama kemudian, Nisa juga menyusulnya.
"Eh. Apa ini?" tanya Revan terkejut.
•••
__ADS_1