Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 31


__ADS_3

Nisa menggenggam tangan Revan erat. Hingga Revan dapat merasakan basahnya tangan Nisa karena keringat dingin. Nisa benar-benar gugup saat ini.


Revan memeluk pinggang Nisa dan mengecup puncak kepalanya sesaat untuk menenangkan hati Nisa. Sementara Nisa memejamkan matanya sambil menunduk.


Saat pintu terbuka, senyum Nisa muncul saat melihat Bella, adik angkatnya.


"Bella." ucap Nisa tersenyum.


Namun justru Bella tidak menanggapi Nisa. Bella fokus memperhatikan Revan yang berdiri di samping Nisa. Revan merasa risih mendapatkan tatapan mata dari Bella.


"Siapa, Bel?" tanya Pak Harto yang baru saja muncul dari dalam rumah.


"Nisa? Kamu akhirnya datang juga, Nduk. Bapak kangen sekali sama kamu." ucap Pak Harto yang langsung memeluk Nisa.


"Nisa juga kangen banget sama Bapak." sahut Nisa membalas pelukan Pak Harto.


Revan tersenyum melihat istrinya begitu bahagia bisa bertemu dengan orang yang disayanginya. Lain halnya dengan Bella, dia tidak mengalihkan pandangannya dari Revan.


"Cakep banget sih ni cowok? Aku harus dapetin kamu." kata Bella dalam hati.


"Ayo masuk dulu. Masa' kita ngobrol didepan pintu." ucap Pak Harto.


Mereka pun segera masuk ke dalam rumah Pak Harto. Nisa duduk bersebelahan dengan Pak Harto. Pak Harto terus saja bertanya tentang kehidupan rumah tangga Nisa.


Sementara Revan duduk bersebelahan dengan Bella. Bella dengan sengaja duduk di sebelah Revan tanpa jarak. Revan yang merasa tidak nyaman pun menggeser tubuhnya agar menjauh. Namun Bella ikut menggeser tubuhnya untuk lebih dekat lagi dengan Revan.


"Nama kamu siapa, Mas?" tanya Bella sambil memiringkan tubuhnya menatap wajah Revan.


Nisa yang mendengar pertanyaan Bella pun langsung menoleh.


"Ya ampun, Dek. Kakak sampai lupa ngenalin suami kakak sama kamu." ucap Nisa tersenyum.


"Maksudnya?" tanya Bella bingung.


"Ini namanya Mas Revan. Suami kakak." jawab Nisa sambil duduk di sebelah Revan.


Revan pun tersenyum dan mengangguk. Kemudian ia memeluk Nisa dan langsung mengecup keningnya di depan Bella.


Bella bergerak menjauh dari Revan seakan tidak percaya dengan apa yang terjadi didepannya. Senyum yang sejak tadi terukir di bibirnya seketika hilang. Bella segera pergi dari ruang tamu tanpa sepatah katapun.


"Lhooh. Bella kenapa ya, Pak? Kok tiba-tiba pergi gitu?" tanya Nisa bingung.


"Mungkin lagi putus sama pacarnya, Nduk. Biarin aja. Nanti juga kalau udah baikan dia bakalan keluar kamar lagi." jawab Pak Harto.


Mereka kembali mengobrol hingga Bu Endang muncul dari luar rumah. Bu Endang menatap Nisa sinis.


"Eh. Ibuk udah pulang. Sini, Buk." ucap Pak Harto sambil menepuk-nepuk sofa disampingnya.


"Ga ah, Pak. Ibuk kekamar aja. Ibuk males disini." sahut Bu Endang.


"Buk. Jangan begitu dong. Kasihan Nisa sama Revan. Mereka jauh-jauh datang kesini cuma buat ketemu sama kita. Mereka juga bawa oleh-oleh buat kita." ucap Pak Harto menghampiri Bu Endang.


Pak Harto mengajak Bu Endang untuk duduk bersama dengan Revan dan Nisa.


"Ini oleh-oleh buat Ibuk." ucap Pak Harto sambil menyerahkan paper bag pada Bu Endang.


"Buat Bapak aja. Ibuk ga butuh. Ibuk mau ke kamar dulu. Ibuk capek mau istirahat." kata Bu Endang sambil melangkah pergi.


"Buk. Tunggu." ucap Pak Harto hendak mengejar Bu Endang.

__ADS_1


Namun Nisa mencegahnya. Nisa mendudukkan kembali Pak Harto.


"Udah, Pak. Nisa ga apa-apa kok. Nisa seneng udah bisa liat Bapak, Ibuk, sama Bella baik-baik aja. Nisa ga mau memaksa mereka." kata Nisa sambil menggenggam tangan Pak Harto yang sudah keriput.


Revan menatap prihatin pada Nisa.


"Apa tak ada rasa sayang mereka sedikitpun untuk kamu, Dek?" tanya Revan dalam hati.


"Maafkan Ibuk sama Bella ya, Nduk." ucap Pak Harto berkaca-kaca.


"Ga apa-apa, Pak. Nisa ga masalah kok." sahut Nisa tersenyum.


Nisa menahan air matanya agar tidak keluar. Dalam hati Nisa ia tengah menangis karena kejadian tadi.


"Kalau gitu Nisa sama Mas Revan pergi dulu ya, Pak." kata Nisa.


"Apa ga nginep sini aja, Nduk?" tanya Pak Harto.


"Ga usah, Pak. Nisa ga mau ngerepotin." sahut Nisa.


Pak Harto paham apa yang dimaksud Nisa. Akhirnya Pak Harto mengijinkan Nisa dan Revan untuk pergi. Meskipun dalam hatinya masih sangat merindukan anak angkatnya itu.


Saat mereka sudah pergi dari rumah Pak Harto, tangis Nisa pecah. Sejak tadi ia menahan air mata itu agar tidak mengalir. Dan sekarang ia sudah benar-benar tidak bisa menahannya.


Revan segera menghentikan mobilnya dan segera meraih tubuh Nisa ke dalam pelukannya. Nisa menangis sesenggukan di dada Revan. Mendengar isakan tangis istrinya, Revan ikut meneteskan air matanya.


"Menangislah, sayang. Itu akan membuat beban pikiran kamu berkurang." ucap Revan.


Entah berapa lama mereka berpelukan. Saat isakan tangis Nisa mulai mereda, Revan melepaskan pelukannya. Lalu menatap wajah Nisa.


"Kita jalan-jalan dulu ya, Dek. Mumpung kita masih di luar hotel. Gimana?" tanya Revan sambil mengusap sisa air mata yang mengalir di pipi Nisa.


Revan mencoba mengalihkan perhatian Nisa agar tidak terus bersedih.


"Kamu bosen berduaan sama suami kamu di kamar hotel, sayang?" tanya Revan kesal.


"Iya," ujar Nisa.


"Apa, Dek?" tanya Revan tidak percaya.


"Eh. Ga gitu maksud aku, Mas. Aku cuma bosen karena ga bisa liat aktifitas di luar ruangan. Itu aja." jelas Nisa.


"Oh. Kirain beneran kamu bosen berduaan sama aku." ucap Revan lega.


"Hehe. Ya ga lah, Mas. Masa' bosen sih sama suami ganteng kayak gini." kata Nisa sambil mencubit pipi Revan.


"Aku emang bosen kalau di kamar berdua pasti cuma diajak olahraga terus. Capek tau." kata Nisa dalam hati.


"Jangan godain aku ya, Dek. Ini masih dijalan. Atau kamu mau kita olahraga di dalam mobil?" tanya Revan menggoda.


Nisa segera menarik tangannya dari pipi Revan. Nisa membenarkan duduknya dan menatap lurus ke depan. Revan tersenyum melihat istrinya yang begitu takut dengan ancamannya.


"Kamu mau jalan-jalan ke mana, Dek?" tanya Revan kemudian.


"Terserah kamu aja, Mas. Yang penting bisa jalan-jalan. Bisa liat dunia luar." jawab Nisa.


"Oke, sayang." sahut Revan.


Mereka menikmati hiruk-pikuk kehidupan siang itu. Nisa sangat senang menatap keluar jendela. Tatapannya berhenti pada seorang ibu muda yang sedang memarahi anaknya.

__ADS_1


"Mas. Berhenti dulu." ucap Nisa sambil menepuk bahu Revan.


Revan yang terkejut pun segera menghentikan laju mobilnya.


"Ada apa, sayang?" tanya Revan.


"Itu lho, Mas." kata Nisa sambil menunjuk ke arah anak kecil yang sedang dimarahi oleh ibunya.


Revan mengalihkan pandangannya mengikuti telunjuk Nisa.


"Kasian banget anak itu. Apa ibunya ga sayang sama anaknya ya? Dikasih amanat buat jaga anak kok malah dikasarin. Aku ga tega, Mas." jawab Nisa.


Revan menatap wajah Nisa yang mulai basah karena air mata yang mulai mengalir.


"Mungkin anaknya bandel, Dek." ucap Revan.


"Sebandel apapun anaknya kan ga harus main kasar, Mas." sahut Nisa sesenggukan.


"Kita udah nikah lama aja, belum dikasih anak. Dia yang dikasih cepet malah dikasarin kayak gitu." lanjut Nisa.


Revan menarik tubuh Nisa ke dalam pelukannya. Revan tahu bahwa Nisa sedih saat ini karena belum memiliki momongan.


"Udah ya, sayang. Kita pergi dari sini aja. Aku ga mau kamu sedih kayak gini. Aku ga bisa liat kamu nangis." kata Revan sambil mengecup kening Nisa.


"Tapi, Mas. Gimana dengan anak itu?" tanya Nisa.


"Itu urusan keluarga mereka, sayang. Kalau kita kesana buat menegur perbuatan ibunya, yang ada kita juga yang malu. Kita belum punya anak tapi sok-sokan nasihati." kata Revan.


Nisa terdiam sejenak memikirkan kata-kata Revan barusan.


"Ya udah, Mas. Ayo kita cari makan siang aja sekarang. Semoga nanti kalau kita punya anak, aku ga galak kayak gitu ya, Mas." ucap Nisa.


"Amin." kata mereka bersamaan.


"Kamu cukup galak di ranjang aja, Dek." sahut Revan.


"Astaga. Mesum sekali suamiku ini. Udah jalan sana. Keburu pingsan gara-gara kelaparan ini." kata Nisa.


Revan pun menjalankan mobilnya mencari tempat makan siang untuk mereka.


"Hehe. Abis makan langsung balik ke hotel ya, Dek?" tanya Revan.


"Ga lanjut jalan-jalan aja, Mas? Balik ke hotel sore aja." sahut Nisa.


"Apa kamu ga capek duduk di mobil sampe sore?" tanya Revan.


"Ga. Aku lebih capek kalau di hotel, Mas." kata Nisa.


"Kok bisa?" tanya Revan bingung.


"Ya bisa lah. Gimana ga capek kalau di kerjain terus." jawab Nisa.


"Hehe. Ya maaf. Yuk turun. Kita makan disini aja." kata Revan yang sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran.


"Ayo, Mas." sahut Nisa.


Mereka segera masuk ke dalam restoran tersebut. Nisa mengajak Revan duduk didekat jendela agar bisa melihat pemandangan di luar restoran.


Setelah mereka memesan makanan, Revan merangkul pinggang Nisa sambil menikmati pemandangan di luar restoran.

__ADS_1


Tiba-tiba Nisa melepaskan pelukan Revan dan berjalan menuju ke arah jendela.


•••


__ADS_2