Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 38


__ADS_3

Saat membuka kotak tersebut, senyum Nisa langsung terpancar.


"Nenek. Ini cantik banget." ucap Nisa berbinar.


"Kalung cantik untuk cucu Nenek yang paling cantik." sahut Nenek.


"Maksudnya?" tanya Nisa mengernyitkan dahi.


"Ini untuk kamu, sayang. Cucu Nenek yang paling cantik." ucap Nenek.


"Tapi, Nek. Ini pasti harganya mahal. Nisa ga bisa nerima, Nek." kata Nisa.


Nisa menutup kotak tersebut dan ingin mengembalikannya pada Nenek, namun Nenek menahannya.


"Diterima ya, Nduk. Harga kalung ini tidak sebanding dengan kehadiran Kamu diantara Nenek dan Revan. Kamu sangat berharga buat kami." jelas Nenek.


Nisa langsung memeluk Nenek dan menangis.


"Makasih ya, Nek. Udah sayang sama Nisa. Maaf kalau Nisa belum bisa bahagiakan Nenek. Nisa Belum bisa kasih cicit buat Nenek." kata Nisa.


"Nenek tidak masalah, Nduk. Nenek hanya minta supaya Kamu tidak meninggalkan Revan dalam keadaan apapun." ucap Nenek.


"Iya, Nek. Nisa janji Nisa ga akan meninggalkan Mas Revan. Apalagi meninggalkan Nenek yang sudah sayang banget sama Nisa." kata Nisa.


Mereka pun menangis dalam keadaan masih berpelukan. Tak lama kemudian Nenek melepaskan pelukannya.


"Sini biar Nenek pakaikan kalungnya. Kamu pasti tambah cantik dengan kalung ini." ucap Nenek.


Nisa mengangguk pelan pertanda mengiyakan. Nenek membuka kotak tersebut lalu memakaikan kalung di leher Nisa.


Nenek tersenyum memperhatikan Nisa yang cantik alami.


"Kamu cantik sekali, sayang." ucap Nenek.


"Makasih, Nek. Tapi ini terlalu mahal, Nek. Nisa merasa tidak pantas memakainya." kata Nisa menunduk.


"Kamu sangat pantas, Nduk. Jangan pikirkan soal harga ya. Lagipula selama ini kamu tidak pernah membeli perhiasan. Untuk apa Revan bekerja kalau bukan untuk membahagiakan Kamu?" tanya Nenek sambil mengangkat dagu Nisa.


"Nisa sudah bahagia, Nek. Bisa bersama dengan Mas Revan dan Nenek saja itu sudah cukup." jawab Nisa.


Nenek segera memeluk Nisa.


"Kamu memang yang terbaik untuk Revan, Nduk. Bukan wanita itu." kata Nenek dalam hati.


Tiba-tiba Nenek merasa bahwa tubuh Nisa menjadi berat dan lemah. Hampir saja Nisa terjatuh ke lantai karena pingsan. Nenek segera memanggil asisten rumah tangga untuk membantu membawa Nisa ke dalam kamar.


Nenek sangat panik saat ini. Ia langsung menelepon Revan untuk segera pulang. Setelah itu Ia menelepon seorang dokter.


Revan tiba di rumah bersamaan dengan dokter Sarah, dokter keluarganya datang. Dokter Sarah masih kerabat dekat Revan.


Dokter Sarah segera memeriksa kondisi Nisa. Tidak berapa lama kemudian, dokter Sarah keluar dari kamar Nisa.


"Gimana Kak kondisi Nisa? Kenapa dia bisa sampai pingsan? Nisa sakit apa?" tanya Revan begitu khawatir.


"Kamu tenang aja. Nisa ga sakit. Lagipula pingsannya itu masih wajar di awal kehamilan." jawab dokter Sarah.


"Maksudnya?" tanya Revan bingung.


"Nisa sedang hamil sekarang. Usia kandungannya 4 minggu." jawab dokter Sarah tersenyum.


"Nek. Nisa hamil. Revan akan jadi ayah, Nek." kata Revan yang langsung memeluk neneknya.


Revan menangis bahagia di pelukan Nenek. Akhirnya dia akan punya anak. Revan tak sanggup berkata-kata lagi.

__ADS_1


Nenek pun ikut menangis. Cucu satu-satunya yang ia miliki akan memberikannya cicit.


"Kamu temui Nisa dulu, Le. Dia saat ini sangat membutuhkan Kamu." kata Nenek.


Revan mengangguk dan langsung masuk ke dalam kamar mereka.


Nenek dan dokter Sarah hanya tersenyum melihat tingkah Revan. Nenek mengajak dokter Sarah untuk duduk di ruang tamu.


Saat Revan masuk ke dalam kamar, Nisa masih berbaring di tempat tidur. Revan langsung memeluk Nisa dan berbaring di sebelahnya. Revan menciumi seluruh wajah Nisa.


"Mas Revan kenapa nangis? Terus kenapa jam segini udah pulang?" tanya Nisa.


"Terima kasih, sayang." bisik Revan sesenggukan.


"Terima kasih buat apa, Mas? Ini kenapa coba nangis segala?" tanya Nisa bingung.


"Kamu akan jadi bunda, sayang." jawab Revan sambil menatap wajah Nisa.


"Maksudnya aku sekarang __"


"Iya, sayang. Kamu hamil. Kita akan jadi orang tua." lanjut Revan.


Air mata bahagia membanjiri pipi Nisa. Nisa hanya diam sambil memeluk erat tubuh suaminya.


"Kamu ga bohong kan, Mas?" tanya Nisa.


"Buat apa Aku bohong, sayang? Disini sudah ada Dia." jawab Revan sambil mengusap perut Nisa yang masih rata.


Mereka kembali berpelukan.


"Ehm. Jangan kenceng kenceng peluknya. Kasihan bayi kalian." kata dokter Sarah.


Mereka segera melepaskan pelukan lalu menghadap ke arah Nenek dan dokter Sarah.


"Hah? Berapa lama tidak boleh olahraga?" tanya Revan penasaran.


"Biasanya sampai usia kandungan 3 bulan. Bisa juga lebih dari 3 bulan. Tergantung kondisi bayi kalian." jawab dokter Sarah.


Sangat terlihat wajah kecewa Revan. Tapi dia tidak boleh egois. Sekarang yang terpenting adalah kesehatan istri dan anaknya.


Dokter Sarah pun menjelaskan apa saja yang harus di lakukan dan harus di hindari saat mengandung. Setelah selesai, dokter Sarah pamit pulang.


Kini tinggal Revan dan Nisa di dalam kamar.


"Mas Revan ga balik kerja?" tanya Nisa.


"Ga, Dek. Aku mau dirumah temenin Kamu. Tadi Aku sudah suruh Adit buat ngurus kantor hari ini." jawab Revan.


"Sebenarnya Mas Revan balik juga ga apa-apa. Kan ada Nenek yang temenin Nisa. Mas Revan ga perlu khawatir." kata Nisa.


"Biarin aja. Yang pasti hari ini Aku ingin dirumah sama Kamu. Aku ambilkan makan dulu ya, Dek." ucap Revan.


"Aku bisa ambil sendiri, Mas." sahut Nisa.


"Ga, Dek. Wajah Kamu pucat gitu. Aku ga mau Kamu dan bayi kita kenapa-napa." kata Revan yang sudah berdiri.


Nisa akhirnya mengangguk pasrah. Revan pun segera pergi ke dapur untuk mengambil makan siang Nisa.


"Gimana keadaan Nisa, Le?" tanya Nenek.


"Baik, Nek. Hanya saja masih lemah. Ini Revan mau ambil makan siang buat Nisa." jawab Revan.


"Ya udah buruan. Kasian Nisa kelamaan nunggu." ucap Nenek.

__ADS_1


"Iya, Nek. Revan ke kamar dulu ya, Nek." kata Revan.


"Iya." sahut Nenek.


"Sayang. Ayo makan dulu." ucap Revan yang baru saja memasuki kamar mereka.


Kini posisi Nisa berbaring membelakangi Revan. Revan menyentuh pundak Nisa pelan-pelan. Ternyata Nisa sedang tidur.


"Sayang. Ayo makan dulu. Nanti dilanjut tidurnya." kata Revan.


"Emm... Mas. Pahit. Ga mau makan." ucap Nisa pelan.


"Kamu harus makan, Dek. Sedikit ga apa-apa. Yang penting ada yang masuk dalam perut. Kan sekarang ada adik bayi, Kamu juga harus mikirin Dia. Kamu ga boleh egois." jelas Revan.


"Tapi, Mas. Pahit. Badan Aku juga lemes banget." kata Nisa.


"Kamu lemes karena belum makan, sayang. Aku suapin ya?" tanya Revan.


Nisa mengangguk pelan. Kemudian Revan membantu Nisa untuk duduk. Dengan telaten, Revan menyuapi Nisa. Bahkan tak terasa, makanan di piring sudah hampir habis.


"Sudah ya, Mas. Aku udah kenyang." kata Nisa.


"Tinggal satu suap lagi, sayang. Abis ini Kamu boleh tidur." ucap Revan.


Akhirnya Nisa membuka mulut melahap suapan terakhir. Revan membantu Nisa untuk minum obat, lalu pergi untuk meletakkan piring kotor di wastafel.


Saat Revan kembali, Nisa belum tidur. Dia sibuk membolak-balikkan badannya karena tidak nyaman. Revan segera berbaring di samping Nisa. Memeluk Nisa dan menjadikan lengannya untuk bantalan Nisa.


Akhirnya Nisa terlelap dengan posisi seperti ini. Revan menyelipkan anak rambut dari wajah nisa ke telinga. Revan pandangi wajah istrinya yang sedang tidur.


"Aku sayang kalian." ucap Revan sambil mengusap perut Nisa.


Tak lama kemudian Revan ikut tertidur tanpa melepaskan pelukannya.


Keesokan paginya, Revan tidak berangkat ke kantor karena ingin mengantarkan Nisa periksa ke dokter kandungan.


Mereka kini sedang sarapan sebelum pergi ke dokter.


"Tolong kandungan Nisa dirahasiakan dulu ya, Le." kata Nenek.


"Kenapa, Nek. Bukankah ini berita bahagia?" tanya Revan.


Nisa dan Revan saling menatap bingung.


"Nenek tahu ini berita bahagia. Kalian bisa mengumumkannya saat kandungan Nisa sudah kuat. Nenek ga mau terjadi sesuatu yang buruk pada Nisa. Mengingat kondisi Nisa yang masih lemah." jelas Nenek.


"Apa itu termasuk orang tua angkat Nisa, Nek?" tanya Nisa.


"Iya, Nduk." jawab Nenek.


Nisa menunduk sedih.


"Maafkan Nenek, Nduk." kata Nenek sembari memegang tangan Nisa.


"Iya, Nek. Nisa ga apa-apa, kok. Meskipun Nisa sedih, tapi Nisa yakin kalau keputusan Nenek pasti yang terbaik." sahut Nisa tersenyum.


"Terima kasih atas pengertiannya, Nduk." ucap Nenek.


Nisa mengangguk pelan. Mereka pun melanjutkan sarapan. Tapi Revan masih penasaran dengan keputusan Nenek yang melarang mereka untuk mengumumkan kehamilan Nisa.


Revan menatap wajah Nenek, ada kekhawatiran di wajah Nenek yang sudah mulai menua itu.


•••

__ADS_1


__ADS_2