Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 4


__ADS_3

Mendengar suara pintu diketuk, Rika dan Nisa menoleh.


"Siapa ya Rik? Tumben Mas Bayu ketuk pintu, biasanya sebelum ngetuk pintu kamu udah nungguin di depan. Haha." ucap Nisa tertawa.


"Masa' sih Mas Bayu kesini. Tapi kok ga ngabarin dulu ya." kata Rika dalam hati.


"Heh malah bengong. Itu bukain pintu, kasian Mas Bayu nungguin." ucap Nisa sembari menepuk pundak Rika yang sedang melamun hingga membuat Rika terjingkat.


"Apaan sih Nis pake ngagetin segala. Untung aja aku ga ada riwayat penyakit jantung." kata Rika sambil mengelus-elus dadanya karena kaget.


"Hehe. Lagian kamu disuruh bukain pintu malah ngelamun." ucap Nisa tertawa.


Tok. Tok. Tok.


"Iya bentar."sahut Rika sembari berjalan menuju pintu.


"Selamat pagi Mbak. Ini ada paket bunga untuk Mbak Nisa." kata kurir bunga saat melihat Rika membuka pintu.


"Selamat pagi Mas. Bentar ya aku panggil Nisa dulu." ucap Rika sembari berjalan masuk rumah.


"Kok masuk lagi Rik? Mana Mas Bayu nya?" tanya Nisa yang melihat Rika masuk kembali ke rumah tapi hanya sendiri.


"Lagian bukan Mas Bayu yang dateng. Itu ada kurir bunga nyariin kamu." jawab Rika sambil duduk kembali di sofa ruang tamu.


"Kurir bunga?" gumam Nisa heran.


"Iya kurir bunga. Cepetan sana, kasian kelamaan nunggu." ucap Rika sambil mendorong tubuh Nisa agar segera berdiri.


"Iya nih aku keluar. Ga usah dorong-dorong juga kali." kata Nisa kesal.


"Apa benar ada paket bunga untuk saya Mas?" tanya Nisa pada kurir.


"Dengan Mbak Nisa ya?" tanya kurir bunga itu.


"Iya Mas saya Nisa. Paket bunga dari siapa ya Mas?" tanya Nisa lagi.


"Kurang tau Mbak kalau dari siapa. Tapi didalam ada surat nya. Tolong tanda tangan di sini ya Mbak, untuk tanda terima." ucap kurir itu. Nisa segera menandatanganinya.


"Ini bunganya Mbak." kata kurir bunga sembari memberikan paket bunga tersebut.


"Terima kasih ya Mas." ucap Nisa sedikit membungkuk.


"Sama-sama Mbak. Permisi Mbak." kata kurir sembari melangkah pergi dari kontrakan Nisa.


Nisa segera berbalik dan masuk kerumah. Tak lupa ia menutup pintu terlebih dahulu.


"Cie yang dapet bunga gede. Dari siapa Nis?" kata Rika tersenyum menggoda.


"Apaan sih? Ga tau juga nih. Bentar aku liat note nya dulu." ucap Nisa sembari duduk dan mulai membaca note yang ada di dalam paket bunga tersebut.


*Untuk Nisa yang cantik melebihi bunga-bunga ini


Nanti sore jam 5 aku jemput ya


Love,


😘😘😘


Revan*


Nisa membaca pesan itu gemetar. Senang, bimbang dan takut menjadi satu. Nisa tak berkomentar apapun.


"Uluh uluh. Manis banget sih pake ngirim bunga segala. Jadi pengen aku." Kata Rika menatap ke atas membayangkan jika ia mendapatkan paket bunga seperti Nisa.


"Minta aja sama Mas Bayu Rik. Gitu aja kok repot." ucap Nisa yang terus memandangi bunga tersebut.


"Minta mah gampang Nis. Tapi kasian sama Mas Bayu kalau hasil kerja cuma buat beli bunga ginian. Ini kan mahal Nis. Bisa buat kita jajan seminggu lebih." kata Rika sedih. Nisa tak menanggapi sahabatnya itu.


"Kamu kok diem aja Nis? Kamu ga suka ya sama bunganya?" tanya Rika khawatir saat melihat Nisa murung.


"Bukan ga suka Rik. Tapi aku bingung harus bagaimana nanti sore." sahut Nisa.

__ADS_1


"Kamu udah coba telpon orang tua kamu belum?" tanya Rika.


"Tadi udah coba telpon tapi ga diangkat. Terus aku kirim pesan ke Ayah. Aku bilang kalau aku nikah gimana gitu. Katanya terserah, tapi mereka ga mau biayai pernikahan aku. Mereka pun hanya datang untuk ijab qobul. Dan setelah menikah mereka ga akan biayai aku kuliah lagi. Aku bingung Rik. Aku harus gimana." jelas Nisa sambil memeluk Rika. Nisa menangis karena orang tuanya tidak peduli dengannya. Tapi Nisa sadar bahwa memang dia bukan anak kandung. Nisa hanya mengalah.


"Kamu yang sabar Nis. Pasti ada jalan keluar. Terus untuk Revan, apakah kamu sudah punya jawaban untuknya nanti sore." tanya Rika.


"Aku belum yakin dengan jawaban ku Rik." kata Nisa menunduk.


"Apapun jawaban kamu, aku setuju Nis. Aku akan selalu dukung kamu." ucap Rika.


"Makasih ya Rik." kata Nisa menatap Rika sembari tersenyum.


"Sama-sama Nis. Kita ke salon aja yuk Nis. Buat persiapan nanti sore ketemu sama pujaan hati. Hehe." ajak Rika.


"Tapi Rik. Aku kan ga pernah ke salon." ucap Nisa memeluk bunga dari Revan.


"Ya kita creambath atau ngapain gitu. Biar fresh ini otaknya." kata Rika menoyor kepala Nisa.


"Aduh. Iya deh aku ngikut aja. Bentar, aku ganti baju dulu." ucap Nisa sembari melangkah ke kamarnya. Nisa membawa bunga itu ke kamarnya dan meletakkannya di atas kasur.


"Semoga keputusan yang aku ambil adalah yang terbaik." gumam Nisa sambil memandang ke arah bunga tersebut.


Buket bunga tersebut memang sangat cantik dan besar. Dan pastinya harum. Nisa merasa damai saat mencium aroma bunga tersebut.


Nisa sudah selesai mengganti baju. Dia segera mengambil tasnya lalu pergi ke luar kamar menyusul Rika yang sudah menunggu di ruang tamu.


"Kamu lama banget Nis ganti baju doang." kata Rika kesal. Namun Nisa justru tersenyum melihat wajah kesal sahabatnya itu.


"Cuma 10 menit lho Rik. Kamu aja yang ga sabaran." kata Nisa.


"Udah ayo cepetan jalan. Keburu panas banget ini." kata Rika sembari menarik tangan Nisa agar cepat keluar dari rumah itu.


Nisa dan Rika segera pergi menuju salon. Nisa sebenarnya tidak suka ke salon, alasannya ya karena pasti lama dan membosankan. Tak sampai 15 menit mereka berjalan, akhirnya mereka pun tiba di salah satu salon langganan Rika.


"Aku kok grogi gini ya Rik." ucap Nisa saat sudah berada di depan pintu salon.


"Baru mau masuk salon aja kamu grogi. Gimana nanti kalau pas ketemu sama calon suami kamu Nis. Bisa pingsan di tempat. Haha." ucap Rika mentertawakan Nisa.


"Kamu mah gitu sama aku. Tega banget. Aku pulang aja lah." kata Nisa berbalik hendak melangkah pulang. Rika pun segera menarik tangan Nisa.


Mereka disambut beberapa pegawai salon. Lalu mereka memulai perawatan di salon tersebut. Sudah satu jam mereka di salon tersebut. Dan Nisa sudah mulai bosan.


"Aku bosan banget Rik. Ini kapan selesainya sih." tanya Nisa kesal.


"Kamu nonton YouTube aja kalau bosen. Gitu aja kok repot lho." sahut Rika.


"Huuh dasar Rika." gerutu Nisa. Tapi Nisa berpikir ada benarnya juga jika ia nonton YouTube paling tidak bisa mengurangi sedikit kebosanannya.


Nisa membuka tasnya dan mengambil ponsel yang diberikan oleh Revan kemarin.


"Wah sist, itu ponsel model terbaru." ucap pegawai salon melongo melihat ponsel Nisa. Nisa hanya tersenyum.


"Lhooh Nis, kapan kamu belinya? Itu kan mahal banget." ucap Rika terkejut melihat ponsel sahabatnya itu.


Sedangkan yang ia tahu, Nisa bukanlah orang yang menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting. Dan lagi, saat Rika akan mengganti ponselnya yang rusak saja ia tidak mau. Tapi sekarang dia malah beli ponsel model terbaru.


"Ini bukan aku yang beli kok Rik." sahut Nisa sambil mencari-cari film yang bagus di YouTube.


"Terus siapa yang beliin Nisa, ga mungkin orang tua kamu yang beliin. Atau jangan-jangan kamu nyopet ya." tanya Rika curiga pada Nisa.


"Heh. Enak aja nuduh aku nyopet. Emang aku ada tampang nyopet apa? Ini yang beliin Mas Revan kemarin. Sebenarnya aku udah nolak, tapi dia maksa." jawab Nisa.


"Baik banget pacarnya sist beliin ponsel mahal gitu. Pasti kaya banget pacarnya." kata pegawai salon.


"Dia bukan pacar saya kok Mbak." sahut Nisa yang masih sibuk dengan video di YouTube.


"Emang bukan pacar tapi calon suami." kata Rika tersenyum sembari mencolek pinggang Nisa.


"Sok tau kamu Rik. Kayak peramal aja." ucap Nisa tanpa menoleh kearah Rika.


"Aku emang peramal Nisa. Peramal pribadi kamu. Haha." kata Rika tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Hish. Peramal kok masa depannya suram. Hahahaha." kata Nisa berbalik meledek Rika.


"Amit-amit Nisa. Kok ngomong gitu." ucap Rika manyun.


"Lagian kamu ada-ada aja. Sok-sokan jadi peramal." sahut Nisa.


"Ya ga apa-apa Nis. Yang penting kan halal." ucap Rika.


Pegawai salon itu tersenyum melihat perdebatan lucu antar sahabat tersebut. Sampai mereka selesai perawatan pun mereka masih berdebat kecil.


Waktu sudah menunjukkan pukul 14:00 saat mereka keluar dari salon tersebut. Nisa memang merasakan kesegaran dalam tubuhnya setelah perawatan. Tapi tetap saja ia masih kesal karena menghabiskan banyak waktu yang membuatnya bosan.


"Makan dulu yuk Rik. Aku laper banget." ucap Nisa sambil memegangi perutnya.


"Iya. Kita makan di warteg depan aja." sahut Rika.


Mereka segera menuju warteg tersebut. Pengunjung di warteg itu sudah sepi karena sudah lewat jam makan siang. Dan itu membuat mereka bebas memilih tempat duduk. Mereka memesan beberapa menu.


Tak berapa lama kemudian, muncul laki-laki dari arah pintu. Nisa tak melihatnya karena posisi duduknya membelakangi pintu. Sedangkan Rika membelalakkan matanya saat melihat laki-laki itu.


Rika mengedipkan matanya beberapa kali pada Nisa, namun sayangnya tidak tidak mengetahui maksud dari kedipan mata Rika.


"Mata kamu kenapa sih Rik? Kena cabe ya?" tanya Nisa sambil menghentikan aktivitas makannya. Rika hanya menggelengkan kepalanya.


"Terus kenapa? Ngomong dong." kata Rika yang mulai khawatir dengan kondisi Rika.


Rika bingung harus memberitahu Nisa dengan cara apa. Hingga akhirnya ia menunjuk ke arah belakang Nisa. Nisa menoleh ke arah belakang, namun pandangannya tertutup oleh perut seseorang.


Ya. Laki-laki itu sudah didepannya. Nisa mendongakkan kepalanya hendak melihat siapa orang itu. Nisa gemetaran saat melihat laki-laki itu.


"Halo Nisa sayang. Kayaknya kita jodoh deh bisa ketemu disini. Hehe." kata laki-laki itu sembari duduk di samping Nisa. Nisa pun menggeser posisi duduknya menjauh dari laki-laki tersebut.


"Jangan jauh-jauh dong Nisa sayang. Aku kan pengen deket sama kamu. Sini deketan lagi." kata laki-laki itu sambil menepuk kursi disebelahnya.


"Kamu ngapain kesini sih Wisnu? Ngilangin nafsu makan kita aja." ucap Rika.


"Apaan sih Rika ganggu aja. Aku kan mau makan bareng sama Nisa ku yang cantik ini." kata Wisnu tersenyum sambil menatap wajah Nisa.


Wisnu adalah salah satu laki-laki yang mengejar cinta Nisa. Namun Nisa tak mempedulikan Wisnu. Dia justru geli saat Wisnu ada didekatnya. Wisnu sudah mengejar cinta Nisa sejak mereka SMA. Saat kuliah, Wisnu memilih universitas yang sama dengan Nisa. Dengan tujuan agar Wisnu segera mendapatkan hati Nisa.


Nisa merasa risih dengan kehadiran Wisnu. Dia ingin sekali pergi meninggalkan Wisnu ditempat itu, tapi sayang makanannya masih setengah. Nisa tak mungkin membuat makanan itu terbuang sia-sia. Akhirnya Nisa memutuskan untuk menghabiskan makanannya tanpa peduli dengan Wisnu.


"Ibuk, saya pesen makanan yang sama dengan cewek cantik ini ya." kata Wisnu pada pemilik warteg sambil menunjuk Nisa.


"Tapi telur ceplok nya habis Mas." ujar pemilik warung.


"Buatin ya buk. Pokoknya harus sama menunya." kata Wisnu setengah memaksa pemilik warung.


"Baik Mas. Tunggu sebentar biar saya buatkan." kata pemilik warung yang langsung berjalan ke dapur untuk membuat pesanan Wisnu.


Rika dan Nisa menghela nafas melihat tingkah konyol Wisnu. Laki-laki itu seolah dibutakan cinta Nisa.


"Nisa sayang. Kamu cantik banget hari ini. Aku jadi makin sayang sama kamu." kata Wisnu sambil menatap wajah Nisa yang masih sibuk mengunyah. Nisa tak menyahut. Rika mulai jengah dengan Wisnu.


"Udah selesai kan Nis? Kita pulang sekarang yuk! Udah sore juga nih." ucap Rika mengajak Nisa pulang agar terbebas dari Wisnu.


"Ayok Rik. Lagian habis ini aku juga ada urusan." sahut Nisa. Nisa dan Rika pun berdiri hendak beranjak dari tempat duduknya.


"Lhooh. Kok aku ditinggal sendirian sih Nisa sayang. Aku ikut ya?" ucap Wisnu merengek pada Nisa.


"Kamu makan aja dulu. Tuh pesenan kamu udah dateng. Kasian kan ibuknya udah capek-capek masak tapi ga kamu makan." ucap Nisa sambil menunjuk pemilik warung yang datang dengan membawa pesanan Wisnu. Wisnu menoleh pada pemilik warung tersebut. Dia meletakkan piring berisi makanan di depan Wisnu.


"Tapi Nisa sayang, aku pengen di temani kamu." kata Wisnu.


"Maaf Wisnu, aku ga bisa temenin kamu. Aku ada urusan. Aku pergi dulu ya." ucap Nisa sembari melangkah keluar warteg.


"Jangan lupa dihabisin tuh makanannya. Kalo ga habis aku laporin Nisa. Hahahaha." kata Rika mengejek Wisnu dan langsung berlari menyusul Nisa. Wisnu langsung terduduk lemas.


"Duh gagal lagi mau berduaan sama Nisa cantik." gumam Wisnu kesal. Wisnu pun akhirnya memakan makanan yang sama persis dengan yang dimakan Nisa tadi. Meskipun tanpa kehadiran Nisa di sebelahnya.


"Huh. Lega banget bisa bebas dari Wisnu. Makasih ya Rik." ucap Nisa sembari merangkul pundak Rika.

__ADS_1


"Sama-sama Nis. Udah ayo jalannya cepetan. Kamu kan harus siap-siap buat ketemu sang pangeran." kata Rika sambil tersenyum.


•••


__ADS_2