Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 12


__ADS_3

"Kalian ini kayak anak kecil saja. Ga malu apa sama cowok-cowok ganteng ini?" tanya Pak Sugi dengan nada sedikit teriak.


Rika dan Nisa pun segera menoleh ke arah Pak Sugi. Lalu pandangan mereka mengarah pada Bayu dan Revan bergantian. Mereka pun secara bersamaan menutup mulut mereka dengan kedua tangan. Lalu Nisa dan Rika saling pandang satu sama lain.


"Hehe. Maaf, Pak." kata Nisa dan Rika bersamaan sambil tersenyum.


"Bapak bisa kena serangan stroke kalau sebulan tinggal sama kalian. Tiap hari yang ada cuma berantem terus. Tuh lihat calon suami kalian saja sampai heran dengan tingkah laku kalian. Entah bagaimana ceritanya mereka bisa mau sama kalian." kata Pak Sugi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran.


"Bapak kok ngomong kayak gitu sih? Tega banget sama anaknya." ucap Rika cemberut.


"Iya nih. Kita kan cantik, Pak. Jadi wajar dong kalau mereka mau sama kita. Ya kan, Rik?" tanya Nisa sambil melirik ke arah Rika.


"Pastinya, Nis. Lagian kita bukan berantem, Pak. Kita itu lagi debat. Dan debat itu beda dengan berantem." kata Rika.


Bayu dan Revan hanya memperhatikan perdebatan antara Pak Sugi dengan Nisa dan Rika. Mereka hanya tersenyum tanpa berniat menanggapi.


"Ini kok malah pada ngobrol di sini? Ditungguin sampai makanan pada dingin, malah enak-enakan ngobrol. Pada ga lapar atau gimana? Kalau ga lapar biar Ibuk kasih tetangga saja." ucap Bu Ani sambil melangkah kembali menuju dapur.


"Eh. Kita mau makan, Buk." kata mereka bersama-sama.


Akhirnya mereka sudah duduk di meja makan. Nisa dan Rika sengaja dibuat tidak duduk berdampingan agar tidak ada perdebatan sepanjang makan.


Tidak ada yang berani berbicara saat melihat ekspresi Bu Ani yang masih kesal. Bahkan Pak Sugi pun tidak berkutik. Suasana meja makan saat ini sangat sunyi. Hanya terdengar suara piring yang bergesekan dengan sendok dan garpu.


Tidak lama kemudian acara makan malam pun selesai. Pak Sugi, Bayu serta Revan sudah kembali duduk di ruang tamu. Sedangkan Bu Ani, Rika dan Nisa masih berada di dapur membereskan sisa-sisa makanan serta piring kotor.


"Kalian kalau tidak berantem bisa ga to, Nduk? Ibuk pusing dengar kalian berantem. Baru berapa hari di sini, tensi Ibuk sudah naik ini." ucap Bu Ani pada Nisa dan Rika.


"Maaf, Buk." kata Rika dan Nisa berbarengan.


"Sudah lah. Ayo kita nusul Bapak sama calon suami kalian di depan." ucap Bu Ani.


"Iya, Buk." kata Rika dan Nisa berbarengan.


Rika dan Nisa pun berjalan di belakang Bu Ani menuju ruang tamu. Di ruang tamu, Bu Ani duduk di sebelah Pak Sugi. Rika duduk di samping Bayu. Dan Nisa duduk di samping Revan.


Mereka berbincang-bincang santai tanpa perdebatan Nisa dan Rika.


"Oh iya nak Bayu. Kapan kamu mau nyusul Revan buat lamar Rika?" tanya Pak Sugi pada Bayu.


"Sebenarnya saya sudah siap, Pak. Tapi Rika belum siap untuk menikah." jawab Bayu.


"Emang kenapa kamu belum siap, Nduk?" tanya Pak Sugi sambil menatap Rika.


"Aku masih takut, Pak. Teman-teman aku yang menikah muda banyak yang berhenti di tengah jalan. Aku ga mau itu terjadi sama pernikahanku nanti, Pak." sahut Rika.


"Nduk. Gagalnya sebuah pernikahan itu bukan hanya karena faktor usia. Banyak faktor yang lainnya. Jadikan kejadian di sekitar kamu sebagai pembelajaran. Jangan jadikan momok yang menakutkan di hidup kamu." kata Pak Sugi dengan nada serius.


"Iya, Pak. Rika minta maaf." ucap Rika menunduk.


"Jangan minta maaf sama Bapak, Nduk. Minta maaf lah pada Bayu." kata Pak Sugi sambil melihat ke arah Bayu.


"Maafkan aku ya, Mas. Tidak seharusnya aku menolak lamaran kamu hanya karena takut dengan kisah orang lain. Sekarang aku sudah siap Mas." ucap Rika pada Bayu. Bayu tersenyum mendengar pernyataan Rika.


"Makasih, Dek. Kalau gitu, besok setelah Nisa menikah aku akan ajak orang tua ku buat lamar kamu secara resmi." kata Bayu tersenyum sambil memegangi tangan Rika. Rika mengangguk pelan dan tersenyum.


"Nah gitu dong. Kalau gini kan kebahagiaan Ibuk sempurna. 2 anak gadis Ibuk akan menikah." ucap Bu Ani tersenyum sambil memegangi lengan Pak Sugi.


"Iya, Buk. Bentar lagi kita akan punya cucu banyak." sahut Pak Sugi.


"Nikah saja belum, sudah bahas cucu. Dikira kucing apa ya? Sekali dapat langsung banyak." ucap Nisa kesal.


"Nanti kita buat kembar 5 ya, Dek." kata Revan pada Nisa.


"Enak banget kalau ngomong. 1 saja bingung gimana mau merawatnya. Ini malah kembar 5. Jangan ngaco, Mas." ucap Nisa.


"Ya ga apa-apa, Dek. Nanti aku cariin Baby sitter deh." kata Revan tersenyum.

__ADS_1


"Ga. Aku ga mau. Aku maunya rawat anakku sendiri. Dan jangan bahas ini lagi. Belum saatnya." ucap Nisa menatap tajam ke arah Revan.


"Ya udah deh. Lain kali saja kita bahas ini." kata Revan lesu.


"Haha. Belum juga nikah. Sudah berantem saja." ucap Rika tertawa.


Seketika Nisa dan Revan pun langsung menoleh dan menatap tajam ke arah Rika. Rika pun langsung menghentikan tawanya melihat ekspresi wajah Nisa dan Revan. Rika menelan ludah kasar. Lalu tersenyum ke arah Revan dan Nisa.


"Sudah-sudah. Kok malah jadi ribut lagi. Sekarang para calon mantu Bapak pulang dulu, ini kan sudah malam. Lagian besok Revan sama Nisa harus pergi buat cari cincin sama fitting baju pengantin kan?" tanya Pak Sugi pada Revan dan Nisa.


"Iya, Pak." sahut Revan dan Nisa bersamaan.


"Kalau begitu aku balik dulu ya, Dek. Besok aku jemput kamu buat beli cincin sama fitting baju pernikahan kita." ucap Revan tersenyum sambil memegang tangan Nisa. Nisa pun tersenyum dan menganggukan kepalanya.


"Sudah. Jangan mesra-mesraan di depan kita. Ga malu apa sama Bapak Ibuk." ucap Rika.


Revan dan Nisa langsung melepaskan tangan mereka dan menoleh ke arah Pak Sugi dan Bu Ani. Mereka pun tersenyum malu.


"Apaan sih, Nduk? Kamu ini ganggu saja. Ibuk kan lagi nonton drama romantis." kata Bu Ani asal.


"Hah. Drama romantis. Itu bukan romantis tapi alay, Buk." ucap Rika nyinyir.


"Enak saja alay. Bilang saja kalau kamu sebenarnya pengen kan?" sindir Nisa.


"Idih. Siapa juga yang pengen. Males banget." kata Rika sambil memalingkan wajahnya.


"Ya kamu lah, siapa lagi kalau bukan kamu? Dari tadi kan cuma kamu yang senewen." ucap Nisa.


"Sudah! Nak Revan sama Nak Bayu pulang dulu ya." kata Pak Sugi yang sudah berdiri dari duduknya.


"Iya, Pak." sahut Revan dan Bayu bersamaan.


Revan dan Bayu pun segera pergi meninggalkan kontrakan tersebut. Dan kini hanya tinggal Pak Sugi, Bu Ani, Rika serta Nisa di ruang tamu. Rika dan Nisa masih duduk sambil menundukkan kepala. Karena jika mereka mendongakkan kepalanya, mereka akan melihat ekspresi marah dari Pak Sugi.


"Nduk." kata Pak Sugi memulai pembicaraan.


"Maaf, Pak." ucap Nisa dan Rika bersamaan.


"Jangan minta maaf sama Bapak. Minta maaf sama diri kalian sendiri. Lagipula kalian telah mempermalukan diri kalian sendiri di depan Revan dan Bayu tadi." sahut Pak Sugi.


"Ibuk tahu kalau perdebatan kalian itu karena kalian memang sudah sangat dekat seperti saudara kandung. Tapi ada tempatnya juga jika kalian ingin berdebat. Jangan sampai kalian berdebat di depan mertua kalian. Bisa-bisa kalian langsung di pecat jadi mantu sama mereka." ucap Bu Ani.


"Ya jangan dong, Buk. Jadi mantu saja belum masa' sudah mau dipecat." kata Rika cemberut.


"Maka dari itu kalian harus jaga sikap. Kalau hanya Bapak Ibuk yang lihat mungkin sudah biasa, meskipun kadang-kadang juga kita pasti pusing dengan tingkah kalian. Tapi orang lain belum tentu bisa menerimanya." ucap Pak Sugi.


Rika dan Nisa pun mengangguk pelan. Mereka tidak berani menyahut lagi.


"Sudah malam. Lebih baik kita istirahat sekarang. Ibuk juga capek banget." kata Bu Ani yang langsung berdiri dari tempat duduknya.


"Iya, Buk. Nisa juga capek banget. Pengen segera ketemu sama bantal dan guling. Nisa sudah kangen sama mereka." ucap Nisa yang ikut berdiri.


"Kamu capek ngapain, Nis? Kan cuma foto-foto doang." kata Rika dengan nada sinis.


"Ya pasti capek lah, Rik. Kita tadi panas-panasan. Belum lagi harus beberapa kali ganti baju. Apalagi kalau adegan salah, harus di ulang." sahut Nisa sambil menatap tajam ke arah Rika.


"Ehm. Ehm." Pak Sugi berdehem.


Rika dan Nisa menoleh ke arah Pak Sugi yang sudah melotot ke arah mereka. Nyali mereka langsung menciut.


"Sudah mau mulai lagi?" tanya Pak Sugi tanpa mengubah ekspresi wajahnya.


Rika dan Nisa hanya menggelengkan kepalanya.


"Kalau begitu sekarang kalian masuk kamar dan istirahat. Ibuk akan antar kalian sampai ke kamar. Awasi mereka ya, Buk. Jangan sampai mereka berantem lagi malam ini. Ini yang terakhir." kata Pak Sugi sambil melirik Bu Ani.


"Siap, Pak." kata Bu Ani sambil memberi hormat pada pak Sugi.

__ADS_1


"Ayo cepetan kita ke kamar kalian." kata Bu Ani pada Rika dan Nisa.


Rika dan Nisa pun berjalan menuju ke kamar masing-masing dengan di antar oleh Bu Ani. Sepanjang jalan menuju kamar, mereka hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Mereka tidak berani bersuara sedikit pun karena di belakang mereka ada pengawas, yaitu Bu Ani.


"Sekarang kalian masuk dan istirahat. Kalau mau berantem lagi lihat-lihat tempat dulu. Jangan bikin malu." kata Bu Ani.


"Iya, Buk." ucap Nisa dan Rika bersamaan.


Rika dan Nisa pun segera masuk ke dalam kamar. Setelah anak-anaknya sudah masuk ke dalam kamar masing-masing, Bu Ani berjalan menuju ke kamarnya sendiri menyusul Pak Sugi yang sudah berada di kamar.


"Sudah beres, Buk?" tanya Pak Sugi saat melihat Bu Ani masuk ke dalam kamar.


"Sudah, Pak. Aman semua." sahut Bu Ani.


"Kalau begitu kita mesra-mesraan sekarang, Buk." kata Pak Sugi tersenyum pada Bu Ani.


"Tapi Ibuk capek, Pak." sahut Bu Ani.


"Biar Bapak yang kerja saja ya, Buk." kata Pak Sugi yang menghampiri Bu Ani.


"Terserah Bapak saja lah kalau begitu." ucap Bu Ani tersenyum.


Dan malam ini pun jadi malam yang panjang untuk Pak Sugi dan Bu Ani.


Keesokan paginya, Nisa keluar kamar sudah berpakaian rapi. Nisa hari ini akan membeli cincin pernikahan dan melakukan fitting baju pengantinnya.


"Rika mana, Nduk?" tanya Bu Ani pada Nisa yang baru saja duduk di meja makan.


"Ga tahu juga, Buk. Tadi aku lihat pintu kamarnya masih tertutup." jawab Nisa.


"Jangan-jangan belum bangun anak itu." ucap Bu Ani yang hendak berdiri untuk memanggil Rika.


"Aku sudah bangun, Buk. Tadi aku duduk di teras makanya pintu kamar aku tutup." kata Rika yang langsung duduk.


"Ngapain kamu di teras? Ga biasanya." ucap Nisa dengan wajah yang keheranan.


"Suka-suka aku lah. Dasar kepo." kata Rika pada Nisa.


"Kita sarapan dulu ya biar kalian kuat berantem. Berantemnya di lanjut setelah makan. Jangan sampai Ibuk ga nafsu makan gara-gara kalian." kata Bu Ani dengan nada mengancam.


Rika dan Nisa pun langsung terdiam. Mereka segera mengisi piring dengan nasi dan lauk yang ada di meja makan.


Ditengah-tengah mereka sedang makan, tiba-tiba ada suara seseorang sedang mengetuk pintu.


Tok. Tok. Tok.


"Kamu buka ya, Nduk. Mungkin Revan yang datang buat jemput kamu." ucap Bu Ani pada Nisa.


"Iya, Buk. Kalau begitu Nisa ke depan dulu bukain pintu buat Mas Revan." kata Nisa yang sudah berdiri dan berjalan menuju pintu depan.


"Eh, ada Bu Sari. Ada apa ya, Buk?" tanya Nisa pada Bu Sari, tetangga kontrakan.


"Ini, Nisa. Ada sedikit makanan untuk kalian. Syukuran karena anak saya sudah beli mobil baru. Bagus banget." ucap Bu Sari dengan wajah sumringah sambil memberikan sebuah bungkusan berisi makanan.


"Wah, terima kasih dan selamat ya, Bu. Memangnya mana mobilnya Buk? Kok ga ada di depan rumah Bu Sari?" tanya Nisa menerima bungkusan tersebut sambil melihat-lihat depan rumah Bu Sari.


"Mobilnya masih belum sampai rumah, Nduk. Ini anak Ibuk juga baru mau ambil di tokonya." kata Bu Sari dengan senyum berbinar.


"Oh begitu ya." kata Nisa.


"Iya, Nduk. Mungkin sebentar lagi sudah sampai di rumah, Nduk. Soalnya sudah lama banget dia perginya. Atau mungkin kena macet dia." ucap Bu Sari.


"Memangnya mobil seperti apa yang di beli sama anak Ibuk?" tanya Nisa penasaran.


"Yang gimana ya? Pokoknya bagus banget, Nduk. Ibuk ga sabar mau coba naik mobil baru. Tapi kok lama banget anak itu." kata Bu Sari yang nampak mulai kesal.


"Yang sabar, Bu. Mungkin sebentar lagi sudah sampai, jadi Bu Sari bisa langsung coba naik mobil baru." kata Nisa mencoba menenangkan hati Bu Sari.

__ADS_1


•••


__ADS_2