
"Permisi, Mas. Bisa Kita bicara sebentar." ucap sang dokter.
Revan menoleh ke arah dokter tersebut. Revan memejamkan mata sambil mengatur nafasnya. Lalu ia mengangguk pelan.
"Mari ikuti saya." ajak dokter tersebut.
Revan berjalan di belakang dokter itu. Pikirannya terus bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Dokter itu mengajak Revan ke ruangannya. Revan dipersilahkan untuk duduk.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Dok?" tanya Revan.
"Sebelumnya Kami minta maaf, karena kelalaian Kami peristiwa ini terjadi." ucap dokter tersebut.
Dokter itu menyerahkan ponselnya pada Revan. Revan yang tidak mengerti apa maksudnya pun menatap ke arah dokter itu.
"Lihatlah." lanjut dokter itu.
Revan menyaksikan video yang ada di ponsel itu. Revan menajamkan matanya untuk memastikan kebenarannya.
Deg.
Itu Nisa. Benar-benar Nisa. Istrinya. Nisa diculik. Revan kembali menatap dokter itu.
"Istri Anda diculik 15 menit sebelum saya masuk untuk memeriksa kondisinya. Penculiknya memakai seragam suster, jadi itu memudahkan mereka melewati pos keamanan. Tapi sayangnya, mereka tidak menyadari keberadaan cctv. Dan ini akan membantu Kita untuk menemukan istri Anda." jelas dokter itu.
Revan mengacak-acak rambutnya frustasi. Revan menyesali kepergiannya. Seharusnya Ia ada di samping Nisa. Maka ini semua tidak akan terjadi.
Revan mencoba menahan air matanya agar tidak mengalir.
"Dan tolong untuk menenangkan Nenek Anda terlebih dahulu. Beliau terlihat syok dan merasa bersalah dalam masalah ini. Karena beliau dalam posisi terlelap saat istri Anda di culik." lanjut dokter.
"Terima kasih dokter__"
"Andra." sahut dokter Andra.
"Terima kasih dokter Andra atas informasinya. Kalau begitu saya permisi dulu." ucap Revan berdiri.
"Sama-sama, Mas. Semoga istrinya segera ditemukan." sahut dokter Andra.
Revan mengangguk pelan dan pergi dari ruangan dokter Andra. Revan berjalan menghampiri neneknya. Nenek masih menangis di temani salah seorang suster.
Saat melihat Revan berjalan mendekatinya, Nenek segera bangkit.
"Gimana, Le? Nisa di mana?" tanya Nenek.
"Nenek tenang aja. Sekarang Revan antar Nenek pulang dulu." sahut Revan.
"Tapi Nenek mau ketemu sama Nisa dulu, Le. Nenek belum tenang kalau belum liat keadaan Nisa baik-baik aja." ucap Nenek.
"Revan janji sama Nenek, Revan akan segera membawa Nisa pulang." kata Revan sambil memeluk Nenek.
Tubuh Nenek terasa kaku.
"Maksud Kamu, Nisa di culik?" tanya Nenek.
"Iya, Nek." jawab Revan.
Revan tak mampu menahan air matanya. Revan dan Nenek pun menangis.
Tiba-tiba Nenek melepaskan pelukannya dan berhenti menangis. Nenek menatap Revan. Nenek mengingat sesuatu yang penting.
"Temukan Nisa secepatnya. Kamu bisa cari menggunakan GPS yang Nenek pasang di cincinnya." ucap Nenek sambil memegang bahu Revan.
__ADS_1
"Apa, Nek?" tanya Revan tidak percaya.
"Cepat cari Nisa sekarang. Nisa dalam bahaya." kata Nenek.
"Kalau begitu Revan antar Nenek pulang dulu." ucap Revan.
"Tidak perlu. Nenek bisa pulang sama sopir." sahut Nenek.
"Terima kasih, Nek." kata Revan yang langsung memeluk Nenek.
"Nanti aja peluknya. Kalau dalam waktu 10 jam Kamu belum bawa Nisa pulang, lebih baik jangan pulang sekalian." ancam Nenek.
"Revan akan membawa Nisa pulang sebelum 10 jam, Nek. Revan janji." ucap Nenek.
Revan segera pergi meninggalkan rumah sakit. Ia langsung menghubungi Adit untuk mencari tahu keberadaan Nisa. Tidak sampai 10 menit, Adit sudah mengetahui keberadaan Nisa.
Saat ini Revan dan Adit sudah dalam perjalanan di mana posisi Nisa berada. Revan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Nisa.
Nisa terbangun saat merasakan percikan air di wajahnya. Saat hendak mengusap wajahnya, Nisa merasakan tangannya sulit bergerak. Ternyata tangannya diikat ke belakang. Sementara mulutnya ditutup dengan kain.
Nisa melihat ke sekeliling ruangan di mana Ia disekap. Terlihat seorang wanita yang duduk membelakangi nya.
"Hem. Hem. Hem." Nisa berusaha untuk berbicara namun hanya suara itu yang keluar.
"Akhirnya Kamu sadar juga." ucap wanita itu dan langsung menghadap Nisa.
Nisa membelalakkan matanya terkejut saat melihat orang yang sedang berada di depannya.
Bella.
Adiknya sendiri yang menculiknya. Nisa mengerjapkan matanya dan melihat kembali wanita di depannya. Wanita itu tetap Bella.
"Haha. Kamu pasti bingung ya kenapa Kamu bisa ada di sini sama Aku?" tanya Bella.
"Ya. Aku yang sudah culik Kamu. Biar Kamu jauh dari Mas Revan. Mas Revan hanya akan jadi milikku. Bukan Kamu." ucap Bella.
Bella bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Nisa.
"Dari dulu Kamu sudah merebut semua milikku. Dari Bapak, Ibuk, teman-temanku, bahkan laki-laki yang aku sukai." kata Bella.
Nisa menangis. Dia tidak menyangka jika Bella akan merasa seperti itu. Padahal selama ini Dia selalu mengalah. Saat ibunya membeli mainan untuk Bella, sementara untuknya tidak pun dia hanya diam.
Saat Bella bisa makan ayam, sementara Dia hanya makan tempe pun Dia hanya diam. Itu karena Dia menyadari bahwa dirinya hanya anak angkat.
Tapi mengapa Bella merasa tersisihkan? Padahal Nisa lah yang tersisihkan disini.
"Dan sekarang Kamu malah menikah dengan orang yang Aku sukai. Kenapa harus Kamu yang bahagia?" tanya Bella sambil menjambak rambut Nisa.
Nisa menangis merasakan perih di kepalanya akibat tarikan Bella yang cukup keras. Tiba-tiba pintu terbuka dan muncullah seorang wanita paruh baya.
"Sudahlah, Nduk. Kamu mau apain dia?" tanya wanita tersebut pada Bella.
Nisa seperti tidak asing dengan suara itu. Perlahan Nisa membuka matanya. Dan benar, itu adalah Bu Endang. Ibu angkatnya.
"Aku kesal sama dia, Buk. Rasanya pengen Aku habiskan Dia sekarang." ucap Bella sambil melepaskan tangannya dari kepala Nisa.
"Jangan, Nduk. Ibuk ga mau Kamu dipenjara." sahut Bu Endang.
"Ga akan di penjara, Buk. Ibuk tenang aja. Nanti Kita buang Dia ke laut. Biar ikan-ikan yang habiskan Dia." kata Bella.
Nisa bergidik ngeri membayangkan jika dirinya benar-benar dibuang ke laut.
"Lalu Kamu mau apain dia sekarang? Ibuk ga mau urusin Dia. Merepotkan aja." ucap Bu Endang.
__ADS_1
"Aku juga belum tau, Buk. Yang penting sekarang Dia sudah sama Kita." kata Bella.
Bella kembali duduk di kursinya yang semula.
"Gara-gara Dia, Aku jadi dicari-cari orang. Untuk aja Kita langsung lari. Kalau tidak, Kita bisa di penjara sama Mas Revan." lanjut Bella.
"Lagian Kamu juga, sih. Ngapain coba pake neror Nisa segala?" tanya Bu Endang.
Kini Bu Endang sudah duduk di depan Bella.
"Apa? Jadi yang mengirim pesan itu Bella? Bagaimana Bella bisa tahu tentang masa lalu ku?" tanya Nisa dalam hati.
Hatinya benar-benar sakit mendengar perbincangan antara Bella dan Bu Endang. Sebegitu bencinya kah mereka pada Nisa. Hingga mereka terus mengusik kehidupan Nisa.
"Aku kan pengen buat mereka pisah secara halus, Buk. Tapi mereka ga pisah-pisah. Tapi ga mempan gara-gara ada Nenek tua itu." jelas Bella.
"Terus gimana nasib Bapak, Nduk? Ibuk khawatir sama Bapak." ucap Bu Endang menunduk.
"Biarin aja, Buk. Toh Bapak juga ga peduli sama Bella. Bapak sayangnya cuma sama Nisa." sahut Bella.
"Ada apa dengan bapak? Apa bapak baik-baik aja?" tanya Nisa dalam hati.
Nisa benar-benar khawatir dengan keadaan Pak Harto.
Bu Endang menunduk. Ia menahan air matanya agar tak keluar. Demi menuruti keinginan anaknya, Ia harus meninggalkan suaminya dalam keadaan kritis.
Nisa berusaha menggerak-gerakkan kepalanya agar kain yang menutupi mulutnya bisa terlepas. Dan setelah beberapa saat, kain itu pun bergerak turun.
"Tolong! Tolong! Tolong!" teriak Nisa.
Bella dan Bu Endang pun segera menoleh ke arah. Bella berlari menghampiri Nisa.
Plak.
Bella menampar pipi Nisa. Nisa meringis menahan sakit di bibirnya. Bahkan Ia juga merasakan ada darah yang mengalir di ujung bibirnya.
"Berani-beraninya Kamu teriak!" bentak Bella.
"Lepasin Aku, Bel." ucap Nisa pelan.
"Ga! Aku ga akan lepasin Kamu sebelum Mas Revan jadi milikku." sahut Bella kesal.
"Kamu masih muda, Bel. Kamu juga cantik. Kamu bisa dapatkan laki-laki yang lebih baik dari Mas Revan." kata Nisa.
"Tapi Aku mau Mas Revan. Hanya Mas Revan. Bukan yang lain." ucap Bella.
Bella berjalan menuju ke kursinya lagi.
"Tapi Mas Revan ga cinta sama Kamu, Bel. Kalaupun kalian nanti bersama, kalian tidak akan bahagia." teriak Nisa.
Bella berbalik dan berjalan mendekati Nisa. Bella menatap tajam Nisa.
Plak.
Plak.
Bella menampar pipi Nisa. Kini hidung Nisa pun ikut berdarah. Nisa menangis sesenggukan.
"Kalaupun Mas Revan ga cinta sama Aku, yang penting Dia jadi milikku." ucap Bella.
"Sudahlah, Nduk. Percuma Kamu ngomong sama Dia. Lebih baik Kita makan aja sekarang." kata Bu Endang sambil memegang tangan Bella.
"Kali ini Kamu selamat." ucap Bella sinis sambil memegang dagu Nisa dan menghempaskannya.
__ADS_1
•••