Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 9


__ADS_3

"Udah selesai belum buk?" tanya Pak Sugi yang sudah berada di belakang Bu Ani.


"Bapak ini lho. Ngagetin Ibuk aja. Kalau Ibuk mati disini gara-gara kena serangan jantung gimana?" tanya Bu Ani kesal.


"Ya jangan dong Buk. Ntar Bapak tidur sama siapa kalau ga ada Ibuk?" ucap Pak Sugi memelas.


"Sama kucing atau tikus sana." kata Bu Ani sambil melangkah ke arah mobil. Pak Sugi hanya menghela nafasnya.


"Ini yang mana aja Nduk belanjaan kita?" tanya Pak Sugi pada Nisa dan Rika.


"Ini semua Pak." kata Rika.


"Semua? Yang bener aja Nduk?" tanya Pak Sugi terkejut.


"Iya Pak. Ini semua memang belanjaan kita." sahut Nisa.


"Terus gimana Bapak mau bawa kalau sebanyak ini?" kata Pak Sugi yang meraup wajahnya kasar.


"Kan ada kita Pak. Kita akan bantuin Bapak bawa ini ke mobil." ucap Nisa sambil menenteng beberapa kantung kresek berisi belanjaan.


"Lagian Bapak pakai ngagetin Ibuk segala sih. Ngambek lagi kan. Padahal baru aja akur." kata Rika.


"Kok kamu jadi nyalahin Bapak sih Nduk. Bapak kan ga maksud ngagetin Ibuk." sahut Pak Sugi.


"Kok malah jadi ribut di sini sih? Ayo pulang. Malu diliatin orang-orang yang pada belanja." ucap Nisa.


Mereka pun segera berjalan menuju mobil. Dari kejauhan mereka melihat Bu Ani sedang bersandar pada badan mobil.


"Lama banget kalian ini. Ibuk sampai kering di sini. Ayo cepetan pulang, kita harus masak banyak hari ini." kata Bu Ani.


"Kenapa Ibuk ga masuk mobil aja biar ga kepanasan." ucap Nisa sambil meletakkan belanjaannya di bagasi mobil.


"Gimana mau masuk Nduk kalau pintunya aja dikunci." gerutu Bu Ani.


"Kalau ga dikunci nanti ada maling gimana? Bapak lagi yang salah." kata Pak Sugi sembari menutup bagasi mobil.


"Udah lah Pak Buk. Jangan berantem terus. Malu ah." ucap Rika.


"Maaf ya Buk kalau Bapak tadi buat Ibuk kaget. Bapak ga sengaja." kata Pak Sugi pada Bu Ani saat baru duduk di kursi mobil.


"Iya Pak. Ibuk juga minta maaf, ga harusnya Ibuk marah-marah cuma karena hal sepele." sahut Bu Ani.


"Makasih ya Buk." ucap Pak Sugi sembari memeluk Bu Ani.


"Ehm. Ehm. Ehm. Kita kapan mau pulang ini kalau sopirnya malah sibuk sendiri?" tanya Rika sambil berdehem saat melihat orang tuanya mesra-mesraan didepannya.


Seketika Pak Sugi dan Bu Ani segera melepaskan pelukannya. Mereka duduk terdiam menghadap ke depan menahan malu pada anaknya. Nisa hanya tersenyum melihat tingkah mereka.


"Kok malah diam Pak. Ayo jalan sekarang. Keburu yang mau ngelamar Nisa datang. Makanan belum siap gimana?" kata Rika.


"Kok sekarang jadi kamu yang galak Nduk?" tanya Pak Sugi.


"Lagian udah pada tua tapi ga tau malu mesra-mesraan di depan anaknya." sahut Rika kesal.


"Ya maaf Nduk. Tadi itu reflek." ucap Bu Ani.


Pak Sugi pun segera menjalankan mobilnya menuju ke kontrakan. Sesampainya di kontrakan, mereka segera mengangkut semua belanjaan tadi. Nisa dan Rika bagian memotong sayuran. Sedangkan Bu Ani bagian meracik bumbu. Jangan lupakan Pak Sugi, dia bagian menata ruang tamu untuk acara nanti malam. Pak Sugi meminta bantuan tetangga kontrakan untuk mendekorasi ruang tamu. Meskipun hanya sederhana, tapi tidak mungkin bisa dilakukan sendiri.


Sekarang sudah pukul 14:00, pekerjaan Pak Sugi sudah selesai. Pekerjaan di dapur juga sudah hampir selesai.


"Huh. Capek banget aku." ucap Nisa.


"Kamu istirahat di kamar saja Nduk. Biar Rika yang bantu Ibuk disini. Lagipula ini juga sudah mau selesai." kata Bu Ani pada Nisa.


"Tapi Buk," kata Nisa.


"Ga apa-apa Nduk. Udah kamu istirahat saja." sahut Bu Ani sambil mendorong tubuh Nisa agar segera pergi ke kamar. Nisa pun akhirnya menurut untuk istirahat di kamar.


"Aku juga capek Buk. Aku ga disuruh istirahat nih." kata Rika kemudian.


"Kalau kamu mau istirahat di kamar, suruh Bayu datang kesini bersama keluarganya untuk lamar kamu." ucap Bu Ani.


"Kok gitu sih Buk." kata Rika manyun.


"Tadi katanya capek. Ya udah istirahat sana. Tapi jangan lupa syarat Ibuk tadi." kata Bu Ani sambil mematikan kompor.


"Nisa aja boleh istirahat di kamar tanpa syarat, kok aku pake syarat segala?" tanya Rika.


"Kan Nisa nanti malam lamaran. Makanya dia ga boleh capek-capek. Lagian kamu ini jadi cewek kok lemah banget." ucap Bu Ani.


"Kayak Ibuk ga lemah aja." gerutu Rika.


"Apa kamu bilang?" tanya Bu Ani sambil menatap tajam ke arah Rika. Rika yang ditatap pun jadi gelagapan.


"Eh ga bilang apa-apa kok. Ini tadi aku cicipin masakan Ibuk enak banget." kata Rika tersenyum.


"Masakan Ibuk memang selalu enak." kata Bu Ani bangga.

__ADS_1


"Ini ditaruh dimana Buk?" tanya Rika sembari membawa mangkuk sop iga.


"Dimeja sana Nduk." ucap Bu Ani.


"Kita beresin ini semua dulu Nduk. Pusing Ibuk kalau liat dapur berantakan kayak gini." kata Bu Ani yang mulai membereskan peralatan dapur yang kotor lalu meletakkannya di wastafel.


Tok. Tok. Tok.


"Nduk kamu buka dulu itu pintunya. Kasihan tamunya nunggu lama." kata Bu Ani pada Rika.


"Iya Buk." sahut Rika sembari mencuci tangannya.


Rika segera berjalan menuju pintu depan. Saat pintu terbuka, Rika sedikit terkejut dengan siapa yang datang.


"Eh. Pak Harto sama Bu Endang. Mari silahkan masuk." kata Rika pada orang tua angkat Nisa.


"Iya Nduk. Terima kasih." sahut Bu Endang.


Orang tua Nisa pun segera masuk rumah dan duduk di ruang tamu.


"Nisa mana Nduk?" tanya Pak Harto.


"Ada Buk di kamar lagi istirahat. Sebentar ya saya panggil Nisa dulu." kata Rika sembari berjalan menuju kamar Nisa.


Tok. Tok. Tok.


"Nis. Bapak sama Ibuk kamu udah dateng tuh." ucap Rika.


"Iya Rik. Bentar lagi aku keluar." kata Nisa dari dalam kamar.


Rika segera menuju ke dapur hendak membuat minuman untuk orang tua Nisa.


"Siapa Nduk yang dateng?" tanya Bu Ani.


"Orang tua angkat Nisa Buk." kata Rika yang langsung membuat minuman.


"Alhamdulillah Nduk kalau mereka udah dateng." ucap Bu Ani.


"Iya Buk. Ya udah aku ke depan dulu mau ngasih minum ini sama mereka." kata Rika sambil melangkah menuju ruang tamu.


"Ini Pak, Buk. Silahkan di minum." ucap Rika.


"Makasih Nduk." kata Bu Endang.


"Sama-sama Buk. Kalau gitu saya tinggal beres-beres di dapur dulu." ucap Rika sembari melangkah pergi ke dapur.


"Kamu kenapa Nis?" tanya Rika.


"Aku takut Rik." ucap Nisa.


"Ga usah takut. Kamu yakin aja kalau semua akan berjalan baik." kata Rika.


"Iya Rik. Makasih ya." kata Nisa tersenyum. Rika pun mengangguk.


"Sekarang kamu temui mereka. Kasihan udah nunggu lama." kata Rika. Nisa pun segera berjalan menuju ruang tamu untuk menemui orang tua angkatnya.


"Pak, Buk." sapa Nisa.


"Kamu apa kabar Nduk?" tanya Pak Harto sembari memeluk Nisa.


"Baik Pak. Ibuk baik juga kan." ucap Nisa sambil memeluk Bu Endang.


"Hemm." sahut Bu Endang sambil melepaskan pelukan Nisa.


"Kamu kok tiba-tiba udah mau nikah aja Nduk? Ga nanggung apa sama kuliah kamu? Udah mau selesai to?" tanya Pak Harto.


"Ga apa-apa Pak. Hal baik kan ga boleh ditunda-tunda." sahut Nisa.


"Hal baik itu buat orang baik-baik. Bukan buat orang yang tidak baik." kata Bu Endang ketus.


"Maksud Ibuk apa ya?" tanya Nisa yang tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Bu Endang.


"Buk. Ga boleh gitu." ucap Pak Harto.


"Biarin aja Pak. Dia itu wanita ga bener. Pasti dia minta nikah cepat-cepat juga karena udah hamil. Iya kan?" tanya Bu Endang sambil menatap wajah Nisa yang mulai meneteskan air matanya.


"Buk. Ga boleh ngomong gitu. Belum tentu semua itu benar. Kalau sampai itu tidak benar, berarti Ibuk sudah memfitnah Nisa. Dosa Buk." kata Pak Harto.


"Bukan fitnah Pak. Itu fakta." kata Bu Endang setengah teriak.


"Kamu ga apa-apa kan Nduk?" tanya Pak Harto sambil mendekati Nisa.


"Ga apa-apa kok Pak. Wajar kalau Ibuk ngomong gitu, karena memang ini semua dadakan." sahut Nisa sesenggukan.


"Tuh dia bilang apa. Ini semua dadakan. Udah pasti karena dia hamil sekarang." ucap Bu Endang.


"Udah lah Buk." kata Pak Harto.

__ADS_1


"Eh ada Pak Harto sama Bu Endang. Kapan datangnya Pak, Buk?" tanya Pak Sugi yang baru saja masuk rumah.


"Baru saja Pak. Belum ada setengah jam." jawab Pak Harto.


"Kalau begitu lebih baik istirahat dulu Pak dikamar. Pasti lelah setelah perjalanan jauh tadi. Mari saya antar ke kamar." kata Pak Sugi yang segera mengantarkan pak Harto dan Bu Endang ke kamarnya.


"Ini Pak kamarnya, tadi sudah saya bersihkan." ucap Pak Sugi sembari membuka pintu kamar.


"Terima kasih Pak. Kami malah merepotkan Pak Sugi." ucap Pak Harto.


"Tidak masalah Pak Harto. Kayak sama siapa aja. Ya udah kalau begitu selamat beristirahat. Saya tinggal dulu." kata Pak Sugi. Pak Harto pun tersenyum mengangguk.


Di ruang tamu, Nisa menangis tersedu-sedu mengingat apa yang dituduhkan oleh Bu Endang padanya.


"Nis. Kamu ga boleh nangis. Kan nanti mau lamaran. Malu dong kalau matanya sembab." kata Rika sambil memeluk Nisa. Nisa menangis di pelukan Rika.


"Aku ga apa-apa kok Rik. Aku cuma syok aja." ucap Nisa sambil mencoba untuk tersenyum.


"Kita ke kamar yuk buat siap-siap. Nanti aku dandanin kamu deh biar cantik." kata Rika.


Rika dan Nisa pun berjalan menuju kamar Nisa. Saat melewati kamar orang tua angkatnya Nisa mendengar pak Harto yang sedang memarahi Bu Endang.


"Lain kali kamu ga boleh ngomong kayak gitu sama Nisa Buk. Bagaimana pun juga Nisa itu anak kita." kata Pak Harto.


"Tapi dia cuma anak angkat Pak." sahut Bu Endang.


"Meskipun Nisa hanya anak angkat, tapi tanpa kehadirannya kita tidak akan memiliki Bella." ucap Pak Harto.


"Kita memiliki Bella itu sudah takdir Pak. Bukan karena Nisa." kata Bu Endang.


"Kita ke kamar sekarang Nis." ajak Rika.


Rika tidak ingin Nisa mendengar sesuatu hal yang lebih menyakitkan. Akhirnya Rika dan Nisa sudah masuk ke dalam kamar Nisa.


"Kamu jangan mikir yang aneh-aneh. Sekarang fokus ke acara lamaran kamu aja." kata Rika.


"Makasih ya Rik kamu selalu ada buat aku." ucap Nisa menunduk.


"Sama-sama Nis. Kita ini kan sahabat sekaligus saudara. Jadi ya harus saling menjaga. Sekarang kamu mandi dulu gih. Aku juga sekalian mau mandi di kamar. Nanti kalau aku udah selesai langsung ke kamar kamu buat dandanin kamu." kata Rika.


"Iya Rik." sahut Nisa.


Nisa pun segera masuk ke kamar mandi. Dan Rika, dia berjalan menuju ke kamarnya untuk mandi. Saat melewati kamar orang tua angkat Nisa, keadaan sudah sepi.


"Mungkin sedang beristirahat." gumam Rika.


Rika pun segera beranjak dari tempat itu menuju kamarnya. Rika segera masuk ke dalam kamar mandi. 20 menit kemudian, Rika keluar dari kamar mandi. Rika segera memakai pakaian lalu berjalan menuju kamar Nisa.


"Nis. Udah selesai belum mandinya?" tanya Rika saat berada di depan pintu kamar Nisa.


"Udah Rik. Masuk aja. Ga di kunci kok." sahut Nisa dari dalam kamar.


Rika pun segera masuk ke kamar Nisa. Dilihatnya Nisa tengah berbaring di atas kasur sambil memainkan ponselnya.


"Udah mau nikah aja masih nonton kartun kamu Nis." ucap Rika yang mengintip ponsel Nisa.


"Biarin aja. Daripada nonton film dewasa. Lagian aku kan ga ganggu kamu." kata Nisa.


"Terserah kamu lah Nis. Aku lagi males debat sama kamu hari ini." ucap Rika.


"Aku lebih males debat sama kamu. Aku ga mau kalau hari bahagia ku rusak gara-gara debat sama kamu." kata Nisa.


"Jadi didandani ga nih? Kalau ga ya aku mau keluar aja, mau bantuin Ibuk beres-beres." kata Rika manyun.


"Ya jadi dong Rik. Kan kamu yang nawarin tadi. Gimana sih." ucap Nisa.


"Ya udah cepetan kamu duduk di sini. Jangan buat aku nunggu lama." kata Rika sambil menunjuk meja rias.


"Iya Rika sayang. Bawel banget sih kamu. Kayak emak-emak aja." ucap Nisa sambil tersenyum.


"Eits. Jangan salah. Kamu kan calon emak-emak. Haha." kata Rika tertawa.


"Aku bilangin Ibuk ya biar kamu di marahin." ucap Nisa mengancam.


"Heleeeeh. Udah mau nikah masih aja jadi tukang ngadu." kata Rika sambil mendandani Nisa.


"Ya ga apa-apa. Mumpung ada Ibuk disini."sahut Nisa.


"Issh. Udah diem aja kamu. Jangan gerak-gerak terus. Ga akan selesai kalau ga diem." ucap Rika.


Nisa pun akhir memilih diam. Tak berapa lama kemudian, Rika sudah selesai merias wajah Nisa. Rambut Nisa juga sudah di sanggul modern. Rika membantu Nisa mengganti pakaiannya.


Sebuah dress panjang yang melekat sempurna di tubuh Nisa.


"Kamu cantik banget Nis pakai baju ini. Kayak model." kata Rika yang memperhatikan penampilan Nisa dari atas ke bawah.


•••

__ADS_1


__ADS_2