
Nisa hanya bisa pasrah saat ini. Tidak mungkin juga dia bisa menolak permintaan suaminya.
"Oke lah, Mas. Tapi jangan lama-lama ya mandinya, aku udah laper banget." ucap Nisa.
Revan tersenyum kegirangan.
"Siap, bos." sahut Revan.
Revan segera masuk ke dalam kamar mandi sambil menggendong tubuh Nisa. Lalu menutup pintu kamar mandi dengan kakinya.
Revan menurunkan Nisa dan segera menyalakan shower. Revan memeluk Nisa di bawah guyuran shower. Nisa pun membalas pelukan Revan.
Sungguh romantis. Sesekali tangan Revan mengusap-usap punggung Nisa. Revan mengecup bibir Nisa. Awalnya hanya sekilas. Namun lama-kelamaan kecupan tersebut berubah jadi pagutan yang dalam.
Mereka kembali memadu kasih di bawah guyuran air. Sungguh pagi yang indah untuk pasangan pengantin baru.
Tepat saat mereka selesai mandi, terdengar pintu diketuk. Revan segera berjalan menuju ke arah pintu dan membukanya.
Ternyata itu pegawai hotel hendak mengirim pesanan makanan mereka. Revan menerima makanan tersebut dan segera menutup pintu.
Revan berjalan mendekati Nisa yang sedang mengenakan baju handuknya.
"Ga usah dipakai, Dek." ucap Revan.
Revan meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja, lalu ia menghampiri Nisa sambil memeluknya dari belakang.
"Malu kalau cuma pakai pakaian yang kamu sediain, Mas. Semuanya kurang bahan." sahut Nisa.
Revan menciumi pipi Nisa dengan gemas.
"Lagian percuma juga ditutup, nanti juga aku buka lagi." kata Revan.
"Nanti ya nanti, Mas. Sekarang ayo makan dulu. Keburu aku pingsan gara-gara kelaparan." ucap Nisa.
Nisa melepaskan tangan Revan dan menggandengnya berjalan menuju sofa.
"Banyak banget makanannya, Mas?" tanya Nisa.
"Ga apa-apa, Dek. Biar nanti kalau laper pas kita abis buat bayi, kita bisa langsung makan buat isi tenaga yang hilang." jawab Revan sambil mencium pipi Nisa.
"Udah kali, Mas. Besok lagi aja ya. Ini aja kaki aku masih gemetaran lho." ucap Nisa.
Kaki Nisa memang gemetar. Bahkan cara jalannya pun jadi ngangkang.
"Hehe. Maaf ya, Dek. Abisnya kamu gemesin banget. Jadi pengen terus. Masih sakit ga, Dek?" tanya Revan.
Revan segera memeluk dan menciumi Nisa untuk meminta maaf. Ini pertama kalinya untuk Nisa, tapi Revan berlebihan meminta haknya sebagai suami. Dan itu menyakiti Nisa, meskipun Nisa berusaha menutupi rasa sakit itu agar Revan tidak khawatir.
"Masih sedikit, Mas." jawab Nisa.
"Ya udah kalau gitu. Kita makan dulu sekarang. Nanti aku pijitin kamu deh." kata Revan.
Mereka segera menyantap hidangan yang tersedia. Nisa makan dengan lahap nya. Di tidak menyadari kalau ada Revan disampingnya.
"Pelan-pelan aja, Dek. Makanannya masih banyak kok. Nanti kalau kurang biar aku pesenin lagi." ujar Revan.
Nisa hanya mengangguk pelan dan terus melanjutkan makannya. Revan geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.
Selesai makan, mereka berdua duduk di balkon menikmati semilir angin. Duduk di sebuah kursi, dengan tangan Revan yang melingkar di pundak Nisa.
"Mas." ucap Nisa.
"Hem." sahut Revan.
"Aku mau tanya sesuatu tapi kamu harus jawab jujur ya." kata Nisa.
Revan terdiam sejenak. Lalu ia menatap wajah Nisa sambil tersenyum.
"Emangnya kamu mau tanya apa sih, Dek? Kok kayaknya serius banget?" tanya Revan.
"Em. Tadi malem aku denger ada yang bilang kalau kamu adalah pengusaha muda. Apa itu benar, Mas?" tanya Nisa sedikit ragu.
Revan sedikit terkejut dengan pertanyaan nisa. Namun ia segera tersenyum untuk menutupi keterkejutannya.
"Ya. Itu memang benar. Tapi aku hanya meneruskan perusahaan yang dirintis oleh Kakek. Sebelum Kakek meninggal, perusahaan itu sudah diserahkan pada papaku. Dan karena papa sekarang sudah ga ada, jadi ya aku yang nerusin." jawab Revan.
"Oh, ya?" tanya Nisa.
"Sebenarnya aku ga begitu berminat untuk memimpin perusahaan. Tapi ya mau bagaimana lagi. Aku adalah cucu satu-satunya di keluarga ini." lanjut Revan.
"Kenapa kamu ga bilang dari awal sih, Mas?" tanya Nisa.
"Aku mau memiliki kamu karena cinta, Dek. Bukan karena harta." sahut Revan.
"Aku cinta kamu karena hati ini sudah kamu curi, Mas. Kamulah laki-laki pertama yang dapat menyentuh hati ini. Tanpa harta kamu pun aku akan tetap di samping kamu." kata Nisa.
Revan memegangi kedua pipi Nisa. Mata mereka saling menatap seolah mencari kebohongan masing-masing. Namun yang mereka temukan sebuah ketulusan.
"Aku sungguh mencintaimu, sayang." ucap Revan.
"Aku juga mencintaimu, Mas." sahut Nisa.
Revan pun meraih bibir Nisa. Begitu lembut ia memperlakukan Nisa. Lidah mereka saling bersahutan.
Nisa sudah mulai bisa mengimbangi permainan Revan. Revan senang karena Nisa bisa belajar begitu cepat. Tangan kanannya memeluk pinggang Nisa, sedangkan tangan kirinya menekan tengkuk leher Nisa agar ciuman mereka lebih dalam.
Revan melepaskan ciumannya sejenak untuk mengambil nafas. Dan kembali ******* bibir Nisa.
Tangan kiri yang semula berada di tengkuk Nisa, kini sudah beralih menyusup ke dalam baju handuk yang dipakai Nisa.
__ADS_1
"Mas," ujar Nisa.
"Kita pindah ke dalam ya, Dek." kata Revan yang langsung mengangkat tubuh Nisa.
Mereka kembali melakukannya setelah mengisi ulang tenaga. Entah berapa lama mereka melakukannya.
"I love you, Nisa ku." ucap Revan.
"I love you too, Revan ku." sahut Nisa.
Mereka terlelap setelah melakukan pergulatan yang melelahkan hari ini.
Revan terbangun saat waktu menunjukkan pukul 14:00. Revan melirik Nisa yang masih tidur dalam pelukannya. Sungguh damai saat melihat wajah wanita yang dicintainya sejak kecil itu terlelap.
"Aku mencintaimu dari dulu, sekarang dan selamanya sayang. Hati ini hanya untuk kamu. Aku ga akan meninggalkan kamu lagi, Dek. Maafkan aku ga bisa temani kamu waktu itu. Tapi aku bersyukur kamu baik-baik aja. I love you Ica ku." kata Revan.
Revan mengecup kening Nisa pelan agar Nisa tidak terbangun. Revan masih belum puas memandangi wajah Nisa.
Nisa mulai membuka matanya perlahan. Dia sedikit terkejut saat melihat Revan sedang memandangnya.
"Mas Revan. Udah bangun dari tadi ya?" tanya Nisa.
"Baru aja kok, Dek." jawab Revan tersenyum.
"Mas Revan kenapa liatin aku? Aku kucel banget ya?" tanya Nisa sambil meraba wajahnya.
"Kamu cantik, sayang. Bahkan saat tidur pun kamu masih aja cantik." sahut Revan sambil mencolek hidung Nisa.
"Mas Revan gombal banget deh." kata Nisa.
Pipi Nisa terasa panas saat Revan berkata seperti itu. Revan tersenyum melihat Nisa yang malu-malu.
"Jam berapa ini, Mas? Aku kok udah laper lagi ya." tanya Nisa.
"Udah jam setengah 3, Dek." jawab Revan.
"Hah? Yang bener, Mas?" tanya Nisa lagi.
"Bener, sayang." sahut Revan.
"Pantas aja cacing ku udah pada demo." kata Nisa.
Nisa hendak berdiri namun diurungkannya saat menyadari bahwa dirinya kini memakai pakaian. Nisa duduk di atas kasur dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kok ga jadi, Dek?" tanya Revan.
Nisa menunjuk ke arah selimut yang melilit tubuhnya. Revan segera mengerti maksud Nisa. Revan segera memakai boxernya dan beranjak dari tempat tidur.
"Biar aku yang ambil makan. Kamu tunggu sebentar." kata Revan.
Tak lama kemudian Revan kembali dengan nampan berisi makanan serta minuman.
"Ga usah, Mas. Aku kan bukan anak kecil lagi." kata Nisa.
"Ga apa-apa lah, Dek. Biar romantis dikit." sahut Revan.
Revan mulai menyuapi Nisa. Meskipun awalnya menolak, tapi akhirnya Nisa mau disuapi Revan.
"Kamu mau punya anak berapa, Dek?" tanya Revan disela-sela menyuapi Nisa.
"Aku sih maunya 2 aja, Mas. Tapi ya sedikasihnya aja lah." jawab Nisa.
"Tapi aku pengennya punya anak 4 atau 5. Lebih juga ga apa-apa." sahut Revan.
Nisa membelalakkan matanya mendengar ucapan Revan.
"Sebanyak itu, Mas?" tanya Nisa terkejut.
"Iya, Dek. Biar rame nanti. Lagian ga enak kalau anak cuma 1. Ga ada temen cerita. Semuanya dilakukan sendiri. Papa anak tunggal. Mama juga anak tunggal. Dan aku anak tunggal. Saat Papa Mama meninggal, aku kan jadi sendirian. Ga ada temen." ucap Revan.
"Kan sekarang ada aku yang nemenin kamu, Mas. Kamu bisa cerita semuanya sama aku. Apapun itu. Kalau cerita bahagia, aku pasti ikut bahagia. Kalau cerita sedih, aku akan buat kamu ga bersedih lagi." kata Nisa sambil menggenggam tangan Revan.
"Sayang." ucap Revan.
"Iya, Mas." sahut Nisa.
"Jangan pernah tinggalkan aku ya. Aku ga bisa hidup tanpa kamu." kata Revan.
"Aku ga akan ninggalin kamu, Mas. Kita akan menua bersama dengan anak-anak kita nanti." sahut Nisa.
"Habis ini kita buat anak lagi ya, Dek." ucap Revan tersenyum.
"Hah? Lagi? Mas Revan Ga capek?" tanya Nisa.
"Iya, Dek. Ga ada kata capek untuk itu, sayang." jawab Revan.
Nisa menghela nafas berat tanpa menyahut kata-kata Revan.
"Ga boleh nolak suami lho, Dek." ucap Revan.
Nisa terhenyak mendengar ucapan Revan. Nisa pasrah jika mendengar Revan berkata seperti itu. Memang benar jika tidak boleh menolak keinginan suami.
"Iya, Mas. Aku mau kok. Tapi istirahat dulu ya." kata Nisa kemudian.
Revan tersenyum. Selesai mereka makan mereka berbincang-bincang di atas kasur dengan saling berpelukan.
"Nanti malem mau makan apa, Mas?" tanya Nisa.
"Kalau aku sih mau makan kamu aja, Dek." jawab Revan asal.
__ADS_1
"Kamu kayak harimau aja. Aku ga enak, Mas." kata Nisa polos.
"Siapa bilang ga enak?" tanya Revan.
"Aku lah." sahut Nisa.
"Kamu itu enak banget, Dek. Makanya aku jadi ketagihan terus. Apalagi kalau kamu mendesah. Uh, gemesin banget. Jadi pengen makan kamu sekarang." jelas Revan.
Nisa terkejut saat mengetahui apa yang dimaksud Revan dengan ingin memakannya. Nisa segera mencubit dada bidang Revan.
"Aku serius, Mas. Malah bahas kayak gituan." ucap Nisa kesal.
"Aku juga serius, Dek. Aku pengen makan kamu sekarang aja gimana?" tanya Revan.
"Nanti aja, Mas." jawab Nisa.
"Tapi dia udah bangun, sayang." ucap Revan sembari menunjuk bagian bawah tubuhnya.
Nisa mengikuti arah pandangan Revan.
"Eh." kata Nisa terkejut.
Belum sempat ia berkata-kata, Revan sudah meraih bibir Nisa. Sore yang indah mereka hiasi dengan cinta kasih mereka di dalam kamar tersebut.
"Udah ya Mas buat hari ini. Kayaknya aku ga kuat jalan deh ini. Kaki ku kayak ga ada tulangnya." kata Nisa.
Revan tergelak mendengar ucapan Nisa. Mereka kini berbaring di kasur setelah menyelesaikan pergulatan yang menyenangkan.
"Iya, deh. Tapi aku ga janji ya." sahut Revan.
"Mas," rengek Nisa.
"Iya, sayang." kata Revan.
"Aku pengen makan ayam bakar." ucap Nisa.
"Oke. Mau berapa porsi?" tanya Revan.
"Terserah kamu aja, Mas." jawab Nisa.
"Oke. Mau apalagi nih? Biar sekalian pesennya." tanya Revan.
"Ga apa-apa nih kalau aku pesen banyak?" tanya Nisa.
"Ya ga apa-apa lah, Dek. Buat kamu apa sih yang ga? Lagian juga cuma makanan." sahut Revan.
"Em, aku mau nasi goreng, ayam goreng, sate, tumis kangkung, telur ceplok, mi goreng, sama bakwan jagung." kata Nisa.
"Kamu yakin bisa makan itu semua, Dek?" tanya Revan.
"Yakin lah, Mas. Aku kan capek habis kerja. Tenaga aku udah habis. Harus diisi ulang ini." jawab Nisa.
"Berarti kalau tenaganya udah penuh, bisa mulai lagi ya, Dek?" tanya Revan tersenyum menggoda Nisa.
"Eh. Bukan gitu maksudnya, Mas." kata Nisa gelagapan.
Revan tersenyum melihat wajah panik Nisa saat ini. Sungguh menggemaskan. Ingin sekali ia menyerang Nisa, namun ditahannya. Ia tidak tega melihat Nisa yang sudah kelelahan.
"Emang maksud kamu gimana, sayang?" tanya Revan.
Revan mendekatkan wajahnya ke arah Nisa. Nisa yang panik pun bergerak mundur.
"Kamu lucu Dek kalau lagi panik kayak gini." ucap Revan.
Revan mengecup kening Nisa sekilas lalu mengambil telepon yang ada di atas meja. Terdengar Revan yang memesan makanan sesuai permintaan Nisa.
Ada beberapa makanan tambahan serta minuman yang ia pesan untuknya sendiri. Setelah selesai memesan makanan, Revan segera meletakkan kembali telepon tersebut ke tempatnya.
Revan kembali mendekati Nisa.
"Sudah beres semuanya, sayang. Kita mandi dulu aja gimana?" tanya Revan.
"Mas Revan mandi duluan aja. Aku masih lemas ini. Aku mau tiduran sebentar." jawab Nisa.
Nisa meraih remot TV yang ada di atas meja. Lalu menyalakan TV yang berukuran sangat besar itu.
Nisa mencari acara yang enak ditonton. Namun tak kunjung ditemukannya.
"Kamu mau nonton apa sih, Dek? Dari tadi di ganti terus." tanya Revan.
"Aku mau cari acara yang seru, Mas. Tapi ini semuanya acara alay. Aku ga suka." jawab Nisa.
Nisa masih terus memencet remotnya.
"Gimana kalau kita buat acara sendiri aja? Pasti bakalan lebih seru?" tanya Revan.
Revan menatap Nisa dengan senyum sumringah. Nisa yang polos pun tidak mengerti apa maksud dari perkataan Revan.
"Emang acara apaan yang seru, Mas? Aku mau dong." tanya Nisa antusias.
Saking antusiasnya, bahkan Nisa meletakkan kembali remot TV ke atas meja yang ada di samping tempat tidur.
"Kamu beneran mau, Dek?" tanya Revan.
"Kalau emang lebih seru ya Nisa pasti mau, Mas." jawab Nisa.
Revan tersenyum penuh kemenangan.
"Oke. Tapi kamu janji ga boleh berhenti di tengah jalan ya. Kita harus selesaikan acara sampai selesai. Karena kalau ga selesai, ga akan seru." jelas Revan.
__ADS_1
•••