Haruskah Kamu?

Haruskah Kamu?
Bab 5


__ADS_3

"Kamu lebay banget sih. Kalo dia pangeran terus aku apaan?" kata Nisa.


"Kamu Upik abu. Haha." kata Rika.


"Kalo aku Upik abu berarti kamu abu gosok. Hahahaha." kata Nisa tertawa.


"Enak aja. Putih mulus gini di bilang abu gosok. Aku bilang Mas Bayu ntar, biar kamu di marahin." ucap Rika kesal.


"Bilangin aja sana. Aku juga bisa aduin kamu sama Mas Revan karena udah ngatain aku Upik abu. Welk." kata Nisa sembari menjulurkan lidahnya.


Mereka terus saja berdebat kecil hingga tanpa mereka sadari bahwa mereka sudah di depan kontrakan. Mereka segera masuk rumah.


"Rik. Aku mandi dulu ya. Nanti kalo Mas Revan dateng bilang aja aku lagi mandi gitu." ucap Nisa sambil melangkah menuju kamarnya.


"Emang kamu mau mandi berapa jam Nis?" tanya Rika.


"Aku mau mandi sambil tidur. Hehe." jawab Nisa tertawa.


"Dasar kebo." teriak Rika. Nisa yang sudah masuk ke kamarnya tidak menyahut.


Nisa meletakkan tas di meja lalu berbaring di atas kasurnya. Nisa memejamkan mata sejenak.


"Semoga ini yang terbaik. Mungkin sudah takdir dari Tuhan." gumam Nisa.


Nisa pun segera bangun dan berjalan menuju kamar mandi. Nisa mandi sembari bernyanyi bersama lantunan musik yang ia putar di ponselnya.


Setelah selesai mandi, Nisa keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuhnya. Nisa berjalan menuju almari pakaian dan mencari-cari pakaian yang pas untuk bertemu dengan Revan.


"Pake dress aja kali ya? Tapi kalo naik motor kan susah kalo pake dress. Atau pake celana? Tapi kalo pake celana kan ga manis. Gimana ya?" kata Nisa sambil membolak-balikkan baju yang ada di almari itu.


"Nah. Ini aja." ucap Nisa sembari merentangkan baju pilihannya.


Nisa segera memakai baju itu. Kemudian dia berjalan menuju meja rias. Nisa memakai bedak setipis mungkin agar terlihat natural. Dipadukan dengan lipstik berwarna pink. Nisa tidak memakai blush on, eyeliner dan teman-temannya. Karena memang dia tidak percaya diri dengan semua benda itu. Lalu Nisa menyisir rambutnya. Nisa mengambil beberapa helai rambut di samping pelipis kanan dan kiri lalu menariknya ke belerang kemudian mengikatnya dengan tali karet kecil. Nisa melirik jam dinding kamarnya. Pukul 16:50.


Nisa kemudian berdiri dan meraih tas kecil di atas meja. Nisa segera keluar kamar. Saat sampai di ruang tamu, Rika sudah duduk di sana bersama Revan. Rika dan Revan membulatkan matanya melihat penampilan Nisa. Revan bahkan sampai berdiri saat melihat kedatangan nisa.


Nisa menggunakan dress polos berwarna dusty pink serta flat shoes dengan warna senada. Rambut yang digerai serta riasan natural membuat Nisa begitu cantik.


Nisa yang merasa diperhatikan oleh Rika dan Revan pun merasa risih.


"Kamu cantik banget Nis hari ini." ucap Rika sambil menatap tubuh Nisa dari atas ke bawah.


"Emang kemarin-kemarin aku ga cantik gitu?" tanya Nisa kesal.


"Kamu selalu cantik Dek." ucap Revan tersenyum. Nisa yang mendengar kata-kata Revan pun tersipu malu.


"Mas Revan bisa aja." kata Nisa tersenyum malu.


"Heleeeeh. Pura-pura malu. Biasanya juga malu-maluin." ucap Rika.


"Rika mah gitu. Aku aduin Mas Bayu ya." ancam Nisa.


"Apaan sih dikit-dikit ngadu. Dasar anak kecil." kata Rika kesal.


"Biarin. Welk." ucap Nisa sembari menjulurkan lidahnya.


Revan hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum saat melihat perdebatan Nisa dan Rika.


"Kamu kok mau sih Van sama anak kecil ini?" tanya Rika sambil menunjuk Nisa.


"Aku bukan anak kecil tau." kata Nisa kesal.


"Cuma anak kecil yang suka ngadu itu." ucap Rika.


"Udah udah. Sesama anak kecil ga boleh ribut." kata Revan yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nisa dan Revan.


"Mas Revan ngatain aku anak kecil juga? Ya udah ga usah pergi. Ntar kamu malu kalau jalan sama anak kecil." ucap Nisa sembari berbalik hendak ke kamarnya.


"Tuh anak kecil ngambek. Haha." kata Rika meledek Nisa.


"Udah lah Dek. Kita pergi sekarang ya. Keburu kemalaman nanti pulangnya." ucap Revan sembari menahan tangan Nisa agar tidak pergi ke kamar.


"Hemm." sahut Nisa kesal.


"Kamu pergi sama aku aja Van. Jangan pergi sama anak kecil gitu." kata Rika tersenyum.


"Mau aku aduin Mas Bayu beneran nih?" tanya Nisa sambil tersenyum menggoda pada Rika.


"Coba aja kalo berani." kata Rika.


"Yakin nih? Oke kalau begitu." ucap Nisa sembari mengambil ponselnya. Rika masih memperhatikan gerak-gerik Nisa.


Nisa kemudian mencari kontak Bayu dan menekan tombol menelpon. Lalu Nisa memperlihatkan layar ponselnya pada Rika.


Rika yang melihatnya layar ponsel Nisa pun terkejut. Rika mencoba merebut ponsel Nisa untuk memutuskan telepon. Tapi Nisa lebih cepat menghindar.

__ADS_1


"Matiin Nis." teriak Rika.


"Katanya tadi disuruh coba. Ya aku cobalah. Eh udah diangkat nih sama Mas Bayu. Halo Mas ini lho Rika." kata Nisa menghentikan kata-katanya.


"Jangan Nis. Aku mohon. Aku janji ga ngatain kamu anak kecil lagi deh." ucap Rika memelas. Nisa hanya tersenyum.


"Ini lho Mas, Rika katanya kangen. Ya udah Mas aku matiin telponnya. Aku mau pergi dulu nih. Daa." kata Nisa sembari mematikan ponselnya lalu meletakkannya di tas.


"Makasih Nisa yang cantik." ucap Rika dengan senyum terpaksa.


"Nah gitu dong. Kan enak di dengarnya." kata Nisa.


"Udah yuk Dek. Kita pergi sekarang." kata Revan merangkul bahu Nisa.


"Ayo Mas. Biarin Rika kangen-kangenan sama pacarnya lewat telpon. Haha." kata Nisa tertawa.


"Jangan lupa oleh-olehnya ya Mas Revan ganteng." ucap Rika.


"Beres." sahut Revan.


Revan dan Nisa pun segera keluar dari kontrakan. Nisa melihat ke sana kemari mencari motor Revan.


"Kamu cari apaan Dek?" tanya Revan yang bingung melihat Nisa celingak-celinguk.


"Motor kamu mana Mas? Kok ga ada?" tanya Nisa polos. Revan tersenyum mendengar pertanyaan Nisa.


"Kita ga mungkin naik motor Dek. Kan kamu pake dress." ucap Revan sambil menunjuk dress Nisa.


"Terus kita jalan kaki gitu?" tanya Nisa lagi.


"Haha. Kamu ada-ada aja sih. Kita naik itu." jawab Revan sambil menunjuk sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilap di samping kontrakan Nisa. Nisa membulatkan matanya melihat mobil itu.


"Mobil siapa Mas itu? Bagus banget." kata Nisa tersenyum.


"Itu mobil nenekku. Aku cuma minjem." ucap Revan berbohong.


"Padahal tadi pakai motor juga ga apa-apa Mas. Aku udah pilih dress yang pas buat naik motor." kata Nisa.


"Aku ga mau bagian tubuh kamu dilihat orang lain saat naik motor Dek." sahut Revan.


"Apaan sih Mas." kata Nisa tersipu malu.


"Berangkat yuk Dek." ucap Revan sembari menggandeng tangan Nisa.


Mereka berjalan menuju mobil Revan. Revan membuka pintu mobil untuk Nisa. Setelah Nisa masuk, Revan segera menutup pintunya lalu berjalan kearah kemudi.


"Kita mau kemana Mas?" tanya Nisa ragu-ragu.


"Ke suatu tempat yang sangat indah dan kamu pasti suka." jawab Revan.


"Emang kemana sih Mas?" tanya Nisa penasaran.


"Nanti kamu juga tau kok." kata Revan tersenyum sambil mencolek dagu Nisa.


Nisa hanya menurut apa kata Revan.


Disepanjang perjalanan, Nisa hanya diam sambil menatap ke luar jendela mobil, dia masih memikirkan tentang keputusannya. Sesekali Revan memang mengajaknya bicara, lalu diam lagi. Nisa merasa canggung di dalam mobil berdua dengan Revan. Beda jika dia berdua diatas motor. Ada sedikit kekhawatiran di dalam benaknya.


Sekitar 25 menit kemudian, mereka tiba di sebuah pantai. Pantai itu sungguh cantik tapi sayangnya sepi pengunjung. Mungkin belum banyak yang tahu tentang pantai itu.


Revan menggandeng tangan Nisa hendak mengajaknya menyusuri pantai. Nisa pun tak menolak. Nisa takjub dengan keindahan pantai itu.


"Lepasin aja Dek sepatunya."ucap Revan yang juga mulai melepas sepatunya. Nisa pun ikut melepas sepatunya.


Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri tepi pantai.


"Cantik banget ya Mas pantainya." ucap Nisa sambil tersenyum.


"Masih cantik kamu Dek." sahut Revan.


"Apaan sih Mas. Gombal banget." kata Nisa tersipu malu.


"Beneran Dek. Kamu itu lebih cantik dari pantai ini." kata Revan sembari menatap wajah Nisa.


"Heleeeeh. Mas Revan tau dari mana pantai ini. Kayaknya belum terkenal ya, masih sepi pengunjung gini." kata Nisa.


"Aku tau dari temenku Dek. Tiap aku lagi badmood, pasti aku datang kesini." jawab Revan.


"Berarti sekarang kamu lagi badmood dong Mas?" tanya Nisa polos.


"Tadi emang badmood Dek. Tapi saat liat kamu, badmood nya langsung hilang. Ditambah lagi sekarang aku bisa berdua sama kamu di tempat yang indah ini." jelas Revan. Nisa hanya tersenyum.


"Kita duduk di sini ya Dek." kata Revan mengajak Nisa untuk duduk di tepi pantai.


"Dek." kata Revan sembari memegang tangan Nisa.

__ADS_1


"Iya Mas." sahut Nisa.


"Apa kamu sudah punya jawaban dengan pertanyaan ku yang kemarin?" kata Revan sambil menatap wajah Nisa.


"Emm. Tapi aku mohon Mas Revan jangan kecewa ya." ucap Nisa.


"Apapun jawaban kamu, aku akan terima dengan lapang dada." kata Revan.


"Aku sudah bertanya dengan orang tua ku Mas. Mereka setuju, tapi mereka tidak mau membiayai pernikahan kita. Dan setelah menikah nanti aku akan mencari kerja karena orang tua ku tidak mau membiayai kuliahku nanti." kata Nisa.


"Aku yang akan membiayai pernikahan kita dan pendidikan kamu. Karena setelah menikah, kamu adalah tanggung jawabku." ucap Revan.


"Tapi Mas. Aku ga mau ngerepotin kamu." kata Nisa menunduk.


"Aku ga ngerasa direpotin sama kamu Dek." ucap Revan sembari mengangkat dagu Nisa agar menghadapnya.


"Lalu bagaimana dengan kamu? Apa kamu mau menikah dengan aku?" tanya Revan. Nisa terdiam sejenak lalu menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Terima kasih sayang." ucap Revan sembari memeluk Nisa erat.


Revan merasa bahagia saat Nisa mau menikah dengannya. Senyum menghiasi wajah mereka. Revan melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Nisa. Nisa menunduk malu. Revan merogoh saku celananya.


"Ini untuk kamu sayang." ucap Revan sembari membuka sebuah kotak kecil berisi cincin.


"Apa ini Mas?" tanya Nisa polos.


"Anggap aja ini cincin tunangan kita. Sekarang pake cincin ini dulu. Baru nanti kita akan adakan acara tunangan yang resmi. Ga apa-apa kan?" tanya Revan.


"Ga apa-apa Mas. Makasih ya. Kayaknya ini terlalu mahal buat aku." ucap Nisa.


"Ga mahal kok. Cuma KW ini." kata Revan berbohong. Dia tidak mau jika Nisa terlalu mempermasalahkan uang.


"Tapi kok cantik banget Mas." kata Nisa.


"Pasti cantik Dek, kan yang pake kamu. Wanita cantik." ucap Revan sembari memakaikan cincin tersebut di jari manis Nisa.


Tanpa sadar Nisa meneteskan air matanya. Nisa tak menyangka secepat ini ia akan menikah. Bahkan tanpa ada yang namanya pacaran. Nisa terus memandangi cincin yang tersemat di jarinya.


"Kok nangis Dek?" tanya Revan saat melihat Nisa menangis. Revan mengusap air mata di pipi Nisa.


"Aku terharu aja Mas." kata Nisa.


"Sini deh Dek." ucap Revan sembari merangkul pundak Nisa agar mereka bisa menghadap ke arah laut.


"Matahari nya udah mau hilang Mas." ucap Nisa memperhatikan matahari yang mulai tenggelam.


"Cantik banget kan Dek." ucap Revan.


"Iya Mas. Ini pertama kalinya aku liat sunset di pantai." sahut Nisa tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya. Revan menatap wajah Nisa dari samping lalu tersenyum.


"Makasih ya Dek udah mau kasih kesempatan buat aku di hidup kamu. Aku seneng banget kamu mau nikah sama aku." kata Revan sambil merangkul pinggang Nisa. Nisa pun menyandarkan kepalanya di bahu Revan. Mereka sama-sama melihat sunset yang indah.


"Aku juga seneng Mas bisa sama kamu. Tapi aku masih bingung." ucap Nisa.


"Kamu bingung kenapa Dek?" tanya Revan.


"Apa benar kamu cinta sama aku?" tanya Nisa.


"Kamu sudah tau jawabannya Dek." ucap Revan sembari menatap mata Nisa. Nisa menunduk.


"Maaf ya Mas. Aku sudah meragukan kamu." kata Nisa.


"Itu wajar Dek. Karena kita baru kenal berapa hari dan aku langsung ngajak kamu nikah. Hatiku udah milih kamu Dek." jelas Revan.


Nisa tak menyahut. Nisa kembali melihat matahari yang sudah tenggelam. Namun masih ada warna jingga di sana.


"Mas." ucap Nisa.


"Ya Dek." sahut Revan.


"Bisa fotoin aku ga? Itu bagus banget warnanya." kata Nisa sambil menunjuk warna jingga di langit.


"Ya udah kamu berdiri di sana. Aku foto sekarang." ucap Revan tersenyum sembari mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Nisa segera berlari ke arah yang dimaksud Revan.


Beberapa foto sudah diambil Revan. Kini Revan berjalan mendekati Nisa.


"Kita foto bareng ya sayang." ucap Revan. Nisa mengangguk.


Mereka pun berfoto ria dengan latar belakang sunset yang indah. Dan dengan status baru untuk mereka berdua.


"I love you Nisa manis." ucap Revan sembari mengecup kening Nisa lembut.


"I love you too Mas Revan ganteng." sahut Nisa.


Mereka pun berpelukan di tepi pantai sembari menikmati semilir angin. Saling memejamkan mata dan merasakan kehangatan yang tercipta. Suasana yang takkan terlupakan untuk mereka berdua.

__ADS_1


•••


__ADS_2